Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 11. Prosesi pernikahan.


__ADS_3

Andini sudah sampai lebih dulu di gedung yang akan menjadi tempat ijab qobul dan tempat foto usai menikah nanti.


Andini jujur belum siap dengan semua ini, tapi bayangan wanita lemah dengan kepala pelontos, tiap helai rambutnya rontok setiap hari hingga habis itu kembali menyayat hatinya.


Andini menarik nafas dalam-dalam dan memantapkan jalan yang telah ia pilih saat ini. "Ibu." Lirih Andini sambil menahan dadanya yang terasa sesak.


Sambil menunggu Arsena dan keluarganya datang Andini menunggu di ruangan khusus yang ada di gedung itu.


Andini menghubungi Andara lewat videocall, untuk meminta do,a restu Ibu dan neneknya yang kebetulan berkumpul di rumah sakit menunggu telepon dari Andini


Semua orang di rumah sakit menitikkan air mata, ia sedih melihat Andini harus berjuang sendirian demi keluarga dan hidupnya. Namun disisi lain ia juga terharu karena Andini terlihat cantik bagai bidadari, tak menyangka putri yang selalu kecil di matanya kini akan menikah.


"Ibu ... Do,akan Andini yah? Semoga semua lancar" Andini terlihat tegar dan selalu tersenyum


"Tentu cucuku, Nenek selalu do'akan yang terbaik buat kamu," ujar nenek dengan suara tuanya.


"Kalian semua harus bahagia ...." Pinta Andini.


"Tentu sayang, kami bahagia. Lihat sekarang ibu sedang tersenyum"


"Andini sayang kalian." kata Andini.


"Kami semua juga sayang Andini." balas mereka serempak.


"Daaa ... semuanya, Andini tutup dulu ya? Sepertinya calon suami Andini sudah datang."


Andini segera menutup teleponnya, setelah Mitha memberi kode kalau rombongan mempelai pria sudah datang.


Andini dan Mitha menyongsong rombongan itu di depan pintu.


Arsena berjalan memasuki gedung, jalannya tegap, ketampanannya terlihat begitu sempurna, kulitnya bersih dipadu dengan tuxedo hitam yang ia kenakan, hanya ada satu kata yang pantas untuk mewakili, yaitu "perveck" namun kesan cuek dan dingin tetap melekat sempurna hingga detik ini.


Di sebelah kirinya seorang wanita yang selalu menggandeng lengannya, wanita dengan raut wajah biasa, tak ada aura bahagia di dalamnya, dia adalah mama Rena. Dan disebelah kanan tentu sang Papa yang amat bahagia.


Setelah sampai di tempat ijab ia duduk bersimpuh disusul oleh semua anggota keluarganya juga ikut duduk bersimpuh di belakangnya.


Andini mengintip dari ruangan kecil tempat ia menunggu jantungnya berdendang kencang bak genderang di tabuh. Pria yang ia katai sombong, angkuh, dan kini malah menjadi takdirnya.


Ia bergumam di hatinya, " Ya Tuhan, dia tampan sekali? Bagaimana setiap hari aku menjalani hidup dengan makluk setampan itu, Aku pasti bagaikan si Upik jika di sebelahnya"


Mama Mitha menghampiri keberadaan Andini. "Andini ayo keluar! Sudah ditunggu" panggilnya.


Senyum dan perlakuan Mama Mitha yang mampu membuat Andini percaya diri hari ini. Wanita itu menggandeng Andini dengan penuh kasih.


Andini berjalan mendekati Arsena wajahnya tertunduk malu. Mama Mitha mempersilahkan duduk di samping calon suami dan mertuanya.


Andini kini duduk di sebelah Arsena, tanpa berani menoleh kearahnya sedikitpun. Begitu juga dengan Arsena, rasanya ia malas menoleh kearah calon istrinya, melihat fotonya saja waktu itu sudah menunjukkan kalau dia gadis kampung yang tak pernah mendapatkan sentuhan salon kecantikan.


Arsena juga heran kenapa juga bertemu kembali dengan wanita jelek, yang jarinya pernah lancang menyentuh pipinya tempo hari itu.


Arsena belum lupa semua itu, satu-satunya wanita yang berani mengatainya, mungkin seumur hidup ia lebih bahagia kalau tak pernah bertemu lagi. Namun justru takdir mengikat mereka berdua dalam sebuah pernikahan.


"Bagaimana? Apa bisa dimulai?" Tanya penghulu. Ketika mengamati semua orang sudah berkumpul, saksi dan wali juga sudah datang.


Mitha menutup puncak kepala pengantin dengan kerudung putih. Acara ijab qobul akan segera dimulai.


Rena hanya duduk disebelah Arsena tanpa melakukan Apapun ekspresinya tak jauh beda dengan putranya.


Arsena mengucapkan ucapan ijab dengan lancar namun ucapannya terhenti ketika ia lupa menanyakan nama calon istrinya pada papa.


"Ulangi lagi, bagaimana anda sampai lupa dengan nama calon istri anda?" Pak penghulu memberinya teguran.


"Siapa namamu?" Tanya Arsena. Bahkan suara terdengar amat dingin. Dan kepalanya tetap enggan menoleh.


"Andini Javarani," jawab Andini dengan bibir bergetar dan suaranya pelan.


Sena kemudian mengulangi lagi ucapan ijabnya, kali ini tak ada kesalahan lagi hingga harus perlu diulang.


"Gimana saksi sah?" Tanya penghulu pada beberapa gelintir orang yang hadir.


"Sah."

__ADS_1


"Sah"


"Alhamdulilah," ucap Pak Johan, dan Mita serempak. Rena hanya bisa menarik nafas dalam.


"Selamat Mbak Rena kau sekarang sudah memiliki menantu," ujar Mitha. Sambil mengulurkan tangannya pada madunya.


"Iya, terimakasih," jawab Rena ketus.


"Selamat, Nak!" Johan memeluk putranya bahagia. Arsena tak mengeluarkan sepatah katapun hanya ukiran senyum tipis yang dipaksakan.


"Selamat Andini. Kau sudah menjadi menantu pertama di keluarga kami, keluarga Johan Atmaja." ujar Johan bangga. Sambil memeluk menantunya.


"Terima kasih, Papa." ucap Andini lirih.


"Senyum dong, papa nggak suka kamu sedih."


"Iya pa," Andini tersenyum dan mencium tangan mertuanya dengan takzim.


Kini giliran Andini memeluk papanya sendiri, Antoni. Andini menangis tersedu, ia menempelkan kepala pada dada ayahnya.


"Ayah."


"Jangan menangis Nak. Mungkin Tuhan memberi kebahagiaan kamu lewat jalan ini, maafkan Papa, tak bisa jadi papa yang baik dan bertanggung jawab. ujar papa Antoni dengan sedih.


kini giliran Mama Ratih memberi ucapan selamat.


Andini sayang, maafkan sikap Mama ya, sayang, Andini mau kan? Mama hari itu tak bisa membantu kamu, karena kondisi mama juga lagi butuh banyak duit, mama senang kamu dapat suami kaya, kapan-kapan kamu transfer uang ke rekening mama ya, kalau udah banyak duit. Sekarang usaha papa kamu juga mengalami penurunan, Andini." Kata Mama sambil memeluk Andini dengan wajah menyesalnya.


"Andini mau kan maafkan Mama?" tanya Ratih lagi.


"Iya Ma." Dibalas anggukan oleh Andini. Andini lalu beralih memeluk Rena dan Mitha bergantian.


-


"Mama, ini bicara apa? Nggak pantas bicara seperti itu di pernikahan Andini."


"Emang mama ngomong apa? Mama nggak ngomong apa-apa!" Kata Ratih mungkir. Antoni hanya bisa mendesah kesal menghadapi sikap Istrinya.


"Andini sini, Nak." Panggil Johan. Ayo kamu cium juga donk tangan suami kamu.


"Ars?"


"Iya, Pa."


"ayo ulurkan tanganmu."


Arsena mengeluarkan tangannya yang sedari tadi dimasukkan ke dalam saku celananya.


Andini meraih tangan Sena dan menciumnya, buru-buru Sena menariknya.


-


"Kakak Sena selamat ya! Jangan lupa kakak buka hadiah dari Arini" gadis kecil memakai gaun pink itu tak mau kalah.


"Iya iya." Arsena mencubit pipi adiknya.


"Emang kamu kasih kakak hadiah apa?" Sena mengerutkan keningnya.


"Pokoknya rahasia, kakak buka di malam hari bersama kakak ipar okey?"


"Nggak janji."


"Kakak ipar, nanti kakak buka hadiahku bersama kakak Sena ya?" Pinta Arini pada Andini.


Andini tersenyum manis pada adiknya. "Siap sayang ... !"


"Kakak ternyata cantik, kelihatannya juga baik?. Aku suka sama kakak" Arini memeluk Andini tanpa merasa canggung.


Andini dan Arini lalu berpelukan.


Arsena terlihat hangat saat berbicara dengan adik satu-satunya, namun setelah Arini pergi Arsena kembali menjadi sosok yang dingin dan membingungkan.

__ADS_1


***


"Oke, sebaiknya acara foto kita mulai sekarang saja, gimana? Kalian siap?" Tanya Mitha semangat, pada Andini dan Arsena yang keduanya seperti patung tak mencerminkan seorang yang sedang berbahagia sedikitpun.


Keluarga sudah berkumpul di tempat yang sudah di dekor indah itu. Bunga anggrek dan sakura bergelantungan memanggil manggil mempelai agar segera duduk di singgasana ratu dan raja.


"Kalian foto aja sendiri, aku lagi malas" Arsena memilih pergi keluar gedung. Semua orang tampak kecewa dengan sikap Arsena.


"Arsena tunggu !"


"Kalian foto aja sendiri." Kata Sena sambil terus berlalu.


Andini pun kecewa. Namun apa yang bisa diperbuat selain hanya menghela nafas pasrah. ini baru awal, lalu bagaimana Sena akan memperlakukan Andini selanjutnya.


"Andini, Maaf," kata Johan.


"Nggak apa-apa, Ars mungkin masih butuh waktu, Pa"


-


"Andini, sebaiknya kita foto sendiri aja ya? Nggak apa kan kita tanpa Sena, kan ada yang lainnya?" Bujuk Mitha lagi.


"Oke, Ma."


Andini dan Mitha berjalan menuju pelaminan. Sambil mengangkat gaun panjangnya agar tak terinjak saat melangkah.


Akhirnya keluarga Johan berfoto tanpa Arsena dan mama Rena. Karena mama Rena juga pergi beberapa menit yang lalu, setelah Arsena pergi tadi.


***


Acara foto sudah selesai, mereka semua bersiap untuk pulang, Andini nampak murung. Ia kini sendiri setelah ayahnya pulang, Mitha segera menyadari hal itu.


"Kamu jangan sedih Ndin, Arsena pasti akan mencintaimu suatu hari nanti, setahuku dia pria baik, mungkin semua ini terlalu mengejutkan baginya," rayu Mitha.


Mitha kembali menghibur Andini. Tapi gadis itu bukanlah gadis bodoh, yang tak tau kalau Mama mertua dan suaminya tak menginginkan kehadirannya.


"Ma, apakah Andini akan pulang ke rumah Mama Mitha?" Tanya Andini polos.


"Tentu tidak sayang? Kamu akan pulang ke rumah baru kalian, donk," ujar Mita membantu Andini membuka gaunnya di ruang ganti.


Acara akad nikah sederhana sudah usai, Mitha Izin pada suaminya untuk pulang. Mitha sesungguhnya ingin Miko ikut hadir tadi, tapi pemuda itu sudah hilang sejak siang, entah kemana dia?


"Pa, mama duluan ya?" Ujar Mitha seraya mencium pipi kanan dan kiri suaminya.


"Hati hati sayang." Johan melambaikan tangan pada istrinya.


" Sampai ketemu nanti malam." Mitha mengingatkan kalau malam ini dia harus tidur di rumahnya, karena selama ini Mitha harus berbagi suami, sebulan bersama Rena dan sebulan dengan dirinya.


Johan tersenyum. "Istri yang selalu membuat jiwa ku selalu tenang" gumam Johan lirih.


Andini dan Johan meninggalkan gedung tempat ijab qobul tadi. Mereka langsung pulang saja, berharap Arsena dan Rena juga sudah menunggu di rumah baru mempelai. Tapi nyatanya mereka berdua belum ada yang sampai.


Terpaksa Johan yang mengenalkan Andini dengan para pembantu yang bekerja di rumah barunya nanti. Ada Bik Um yang menjadi tukang masak, Pak Karman tukang kebun yang biasa pulang setengah hari ketika pekerjaannya selesai.


****


Setelah selesai berkenalan dengan para Asisten. Kini Johan mengajak menantunya ke lantai atas. Ternyata lantai nomor dua di rumah itu juga tak kalah lengkap dengan lantai bawahnya. Johan ingin Andini segera mengetahui tempat yang akan menjadi tempat terindah baginya di rumah ini.


"Andini, mulai hari ini kamu bisa tidur di kamar ini, mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu, mungkin ada yang kurang kamu sukai, terserah kamu bagaimana mengaturnya," ujar Johan menjelaskan.


"Gimana? Kamu suka? Semoga nanti kamu dan Arsena akan betah tinggal di rumah ini."


Andini mengangguk tanda setuju. "Iya pa, semoga Ars akan menerima Andini."


"Berjuanglah nak, papa yakin Arsena akan mencintaimu." Johan tersenyum, sambil menepuk pundak menantunya sebelum pergi.


Setelah kepergian Johan, Andini membuka handle pintu dan masuk, kagum, heran, suka, itulah kesan Andini ketika netranya baru saja menelisik tiap sudut kamar barunya.


Tinggal di kamar mewah dan dilengkapi oleh interior menarik. Sungguh, membayangkan saja Andini tak pernah terbersit olehnya. Kamar bernuansa biru, ketika bangun pagi membuka tirai maka di depannya sudah disuguhi pemandangan matahari terbit serta kolam renang jernih nan airnya berwarna kebiruan. Bunga-bunga hias tumbuh terawat dan ada gazebo di sisi kanan kolam.


Andini menghempaskan bobot tubuhnya di atas ranjang big size dan hanya satu-satunya di kamar itu. Tubuhnya merasa terpesona hingga kantuk mulai menghinggapi. Sungguh empuk. Berbeda sekali dengan kasur spring bad tipis di rumahnya.

__ADS_1


Dengkuran halus mulai terdengar, Andini tak bisa mempertahankan matanya untuk tetap terjaga, mungkin karena ia juga lelah. Seharian tadi kepalanya membawa beban berat berupa mahkota dan gaun panjang yang ia kenakan.


"Bangun ...!!"


__ADS_2