
Satu persatu mata kancing terbuka. Dada sixpack milik kekasihnya mulai menggodanya, pahatan indah itu membuat imajinasinya semakin liar.
Arsena memang rajin olahraga tak mustahil kalau otot lengan dan perutnya terbentuk sempurna, Hem press body yang ia kenakan sudah pasti mencetak lekuk tubuh indahnya. Tentu saja pemandangan seperti itu sangat menarik bagi kaum hawa. Terutama mereka para wanita yang sekantor dengan Arsena. Terkadang mereka bergosip dan bercanda di sepanjang jalan masuk menuju ruangannya.
Tak terkecuali Liliana, wanita yang sudah lama mendapat gelar menjadi kekasihnya. Sering kali menelan saliva nya kala melihat itu semua.
"Arsena, sayangku .... " Tangan Liliana terus saja menggelitik pada dada bidang kekasihnya.
"Hm, baby .... sebaiknya kita harus segera berangkat, sebelum hari semakin larut." Arsena mulai sadar dari pengaruh minuman kaleng dosis ringan tadi. Kunang kunang dimatanya mulai menghilang.
"Oh ... Baiklah aku ambil tas dulu." Liliana menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih, sambil mendesah kesal, lagi-lagi ia harus menelan kenyataan kalau sang kekasih menolak bercinta dengannya.
Liliana mengambil handbag di atas nakas, tas branded warna merah itu kini sudah melingkar di lengannya. Mereka berdua berjalan bergandengan menuju pintu lift dan keluar setelah tiba di lantai paling bawah.
Arsena membukakan pintu untuk kekasihnya, kemudian ia segera memutar kemudinya menuju tempat hiburan paling ramai di tengah kota.
Diperjalanan Sena lebih banyak diam, seakan ia sedang memikirkan hal paling berat di hidupnya, bahkan ini lebih berat daripada setumpuk tugas di meja kerjanya.
"Sayang, kamu kenapa kok melamun aja sih?" tanya Liliana yang merasa sejak tadi dicuekin. Lengan Liliana terus saja melilit lengan Sena, membuat laki-laki itu hanya menyetir dengan satu tangan saja.
"Aku lagi ada masalah." ujarnya pendek. Arsena hanya sekilas menoleh ke arah kekasihnya.
"Cerita dong sayang?" Semakin mengeratkan lengannya. Dan kepalanya menempel di pundak Arsena, walaupun kurang nyaman dilakukan saat kondisi dijalan, tapi Liliana suka sekali melakukannya.
"Asal Kamu bisa janji nggak akan menjauh dariku?" Kata pria pemilik senyum penakluk hati itu.
"Tentu sayang, mana mungkin aku bisa jauh darimu, kamu taukan walaupun papa kamu nggak pernah suka sama aku, tapi hingga dua tahun ini aku tetap di sampingmu."
"Iya aku percaya?" Mengelus elus rambut coklat kekasihnya dengan lembut.
"Bagaimana kalau aku menikah dengan wanita lain?"
"Apa? ..." Liliana terkejut, seakan yang dikatakan kekasihnya itulah kenyataan." Aku akan bunuh diri." ujarnya sambil menyandarkan kepalanya manja.
"Kamu bercanda kan? Kamu tau sendiri aku sayangnya cuma sama kamu." Kata Liliana lagi.
"Iya aku tau" kini Arsena malah kesusahan membujuk Liliana yang tak suka dengan bercandanya. Arsena urung cerita yang sebenarnya.
"Yang. Kamu pasti nggak serius bujuk papa kamu, buktinya sudah dua tahun kita cuma seperti ini saja? Sayang nggak sih sama aku sebenarnya," Kemarahan nampak dari sorot mata indah wanita berbaju seksi itu, setelah itu ia menitikkan air matanya.
"Sayang dong."
__ADS_1
Arsena menangkupkan dua tangannya. Memandang lekat-lekat wajah kekasihnya. "Dengar baby, aku akan berusaha agar kita tetap akan menikah, apapun dan bagaimanapun caranya caranya" Arsena meyakinkan Liliana.
"Yakin ...?"
Menganggukkan kepala " Yakin."
Bibir Liliana kembali mengembang, ia begitu senang ketika mendengar kalau gadis yang dicintai Arsena hanyalah dirinya. Liliana yakin Arsena adalah pria setia yang sudah masuk dalam jerat cintanya.
Mereka berdua sudah sampai di sebuah club. Hingar-bingar suara musik sudah memenuhi seluruh ruangan, bahkan di luar ruangan suara berisik itu sudah terdengar begitu mengusik makhluk yang memiliki jiwa-jiwa kosong butuh sebuah hiburan.
Arsena dan Liliana mulai menjamahkan kakinya di ruang kerlap-kerlip yang tiada henti itu, mereka memesan minuman pada bartender yang sedang menuang ke dalam gelas-gelas kosong, sesekali menggoyangkan tubuhnya sambil menawarkan minuman pada pengunjung yang baru datang.
"Tambah lagi ,Tuan," tanya bartender.
"Iya aku mau minum yang banyak hari ini, beri yang paling nikmat untukku," rancaunya dengan mata memerah. Arsena sudah meneguk beberapa gelas, kesadarannya mulai memudar, akal sehatnya mulai gila, bibirnya tak berhenti merancau.
Berbeda dengan Liliana, ia hanya meminum sedikit tadi. Ia masih punya rencana yang belum tertuntaskan
"Kita gabung pada mereka yuk," ajaknya sambil menarik lengan Arsena yang mulai mabuk, mereka berdua bergabung dengan teman yang lainnya bergoyang dan berjoged sesuka hati di bawah lampu kelap-kelip nan suara alunan musik yang membuat tubuh tak berhenti bergeol.
Tiba-tiba Arsena tak kuat lagi menahan tubuhnya, minuman haram itu sudah menjalar menyusuri seluruh syarafnya. Liliana dengan sigap menggandeng dan membopong kekasihnya kedalam kamar yang ada di club itu. Dengan dibantu oleh penjaga club.
Liliana tersenyum, sepertinya malam ini adalah satu-satunya kesempatan yang ditunggu untuk mendapatkan sang penerus tahta seutuhnya. Arsena yang tengah mabuk berat pasti akan mudah sekali dikendalikan.
"Jangan pergi dariku Lili, Lili aku ingin kau ... " Arsena terus saja merancau Lili baginya adalah bidadari, karena setau Arsena ia gadis yang setia menemani hari harinya. Walaupun kadang ketika bersama menguras kantongnya, bagi Arsena asalkan kekasihnya itu bahagia, uang bukanlah apa-apa.
Arsena yang tak sadar ia mulai merebahkan kekasihnya dan menindihnya, hasrat yang selama ini ia lawan dengan segenap jiwanya akan luluh begitu saja. Liliana tentu saja dengan suka rela membiarkan Sena melakukan yang ia mau, tangan besarnya mulai bergerak nakal menelusuri leher jenjangnya.
"Lakukanlah Sayang ... " Kerongkongan lili tercekat menahan nafsu yang sudah menggebu. Nafas hangatnya mulai menyentuh pipi pria yang tengah gila itu.
"Aku milikmu, malam ini kita akan saling memiliki," imbuh Liliana lagi.
"Brak." Suara pintu dibuka paksa.
"Dua orang berbadan tegap berdiri di ambang pintu."
"Siapa kau! Kenapa kau seenaknya mengganggu kami?" Liliana segera mendorong tubuh Arsena kesamping dan merapikan bajunya yang berantakan.
Orang itu tak lain adalah Doni dan security yang tadi membantunya membopong kekamar ini.
"Maaf Nona, keluarga dari Tuan Muda Sena sedang mencarinya. Kami harus membawanya pulang sekarang, ini perintah dari majikan kami."
__ADS_1
"Kalian semua tak tau malu, setidaknya kalian bisa mengetuk pintu tadi, tingkah kalian memalukan." Tatapan Liliana nyalang pada dua pria didepannya, rasanya ia ingin mencabik wajahnya Doni dan security itu.
"Maaf Nona, tuan tadi mabuk berat pasti ia tak akan merespon ketukan pintu dari kami, lagipula saya tak ingin ada pihak lain yang memanfaatkan kondisinya saat ini," sindir Doni. Tersenyum sinis, penuh kemenangan.
Doni pengawal sekaligus sopir pribadi dari Pak Johan. Ia selalu mematuhi sekaligus membenarkan apapun yang jadi keputusan majikannya. Bahkan Doni sudah bekerja ketika baru berusia belasan, dan sampai saat ini ia masih membujang diusianya yang tak muda lagi.
"Bantu saya pak, saya harus segera membawa tuan saya pulang." Doni meminta bantuan pada security tadi untuk mengangkatnya, Tubuh Arsena berat sekali ketika mabuk. Doni menggandeng lengan kanannya dan lengan kiri di gandeng oleh security.
"Pelan pelan Pak, jangan sampai tubuhnya terbentur, saya tak mau kena marah ketika dia sadar besok pagi," ujar Doni mengingatkan.
Doni mulai meninggalkan kamar yang penuh butiran peluh manusia durjana yang butuh pelepasan itu, tinggal Liliana sendirian di dalam dengan kekecewaan. Ia ingin marah namun pada siapa? Siapa saat ini yang bisa jadi pelampiasan.
"Akkhhhhh ...." Tangan Liliana meremat seprei, menarik paksa dan mengacak acak benda yang ada di atas ranjang. Kurang ajar, aku benci pelayan bodoh itu, kau menggagalkan semuanya, aku tak bisa, aku tak bisa jika Arsena suatu saat akan dimiliki wanita lain. Aku! Hanya aku yang pantas disisinya. Aku tak rela berlianku jatuh pada orang lain."
Doni berhasil membawa Arsena sampai mobil berkat bantuan security tadi. Doni segera menidurkan Sena di kursi belakang. Setelah semua beres Doni mengucapkan terimakasih pada security.
"Terima kasih, Sobat ini buat teman begadang." Ujar Doni memberikan tip pada security. Oh ya titip motor, karena malam ini aku harus naik mobil milik tuanku.
"Wah rezeki nie, terimakasih, tenang saja sepeda akan aman, Sobat" Secutiry segera mengambil dari tangan Doni.
"Sama-sama." Doni segera meninggalkan parkiran clup malam. Tanpa memikirkan wanita yang hampir saja mengambil malam berharga tuannya itu. Untung saja ia tadi bergerak cepat. Kalau tidak pasti tuannya akan mendapat tuntutan di masa yang akan datang.
Jalanan malam mulai lengang,Doni mengendarai kendaraan tetap dengan kecepatan rendah, Doni segera merogoh ponselnya di saku celana dan menghubungi Pak Johan agar tak terlalu mengkhawatirkan keadaan putranya. Mengabarkan kalau dia sudah aman bersamanya walaupun kini tengah mabuk.
***
Doni sudah sampai di lokasi parkiran milik keluarga Johan. Rena dan Johan segera menghampiri mobil yang dipakai Arsena.
"Don, bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik saja?" Tanya Johan. Sambil berjalan mendekati mobil melihat kondisi putranya.
Rena dengan gusar ikut mendekat, Ia khawatir Arsena dalam masalah. Ia tak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya memaksakan kehendak seperti ini. Tentu Arsena yang selalu mendapatkan semuanya dengan mudah ia akan sangat frustasi.
"Papa, jika terjadi apa-apa dengan putraku, aku tak akan memaafkanmu." Ancam Rena sambil masuk kedalam mobil dan merangkul Arsena yang tengah berbicara dengan mata terpejam.
"Tuan Arsena hanya terlalu banyak minum saja, setelah memuntahkan cairan dari perutnya, pasti akan segera pulih, Nyonya tenang saja" jawab Doni dengan enteng.
Arsena segera dibawa ke kamar Bi Um segera membawakan sebaskom air hangat dan menyelupkan handuk kecil di dalamnya lalu menempelkan di kening Arsena.
Benar kata Doni, tak lama Arsena memuntahkan cairan berbau sangat menyengat. Kemudian ia bisa tertidur dengan pulas.
# Salam hangat dariku author remahan debu.
__ADS_1
# jangan lupa tinggalkan like dan komentar bawel kalian.