Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 121. Pencarian pertama.


__ADS_3

"Nggak apa-apa mesum sama istri sendiri, mau pagi siang, sore." Iya kan Bi?" Bantah Arsena.


"Iya nggak apa apa, Nona. Bibi dulu pas muda juga gitu,"


"Tu kan, kamu dengar, kata Bibi."


Andini yang tak mendapat dukungan dari siapapun, hanya mendengkus kesal.


"Ars, sebaiknya tunggu aja di meja makan, atau mandi dulu sana gih," perintah Andini.


"Iya iya sayang. Aku lagi pengen Deket kamu terus. karena mungkin entar malam aku nggak pulang, aku harus mencari dalang dari pria yang menabrak cintaku di supermarket kemarin." Kini Arsena yang terlihat manja kepada Andini.


"Itu sangat berbahaya Ars." Andini menghentikan aktivitasnya memasak ia membalikkan tubuhnya menghadap Arsena. Andini berat mengikhlaskan Arsena pada sebuah misi berbahaya yang akan dia kerjakan hari ini. "Ars, Bagaimana kalau polisi saja yang menangani semua kasus ini kamu tak perlu membahayakan jiwamu. Aku takut mereka merencanakan sesuatu yang lebih buruk."


"Polisi juga akan bekerja dalam hal ini, tapi aku tak bisa mengandalkan mereka saja, yang jadi ancaman ini kamu, dan calon bayi kita. Bagaimana aku bisa tenang." Arsena berkata dengan serius.


Andini memeluk Arsena dengan erat. Menjatuhkan kepalanya di dada suami sambil berkata lirih." Jika kamu pergi aku akan ikut, Aku janji aku tak akan merepotkan."


"Jika diantara kalian ada yang terluka aku akan langsung mengobatinya," mohon Andini dengan suara lirih. Andini tak rela melepas Arsena.


Arsena tertawa, mendengar kata Andini baru saja."Terima kasih kebaikannya, Sayang. Tapi kamu tidak akan kemana-mana, kamu di rumah saja." Arsena meraih tangan Andini dan mengecup jemari penuh cinta, tak lupa mengelus pipi yang mulus itu. "Aku butuh do'a. Jika penjahat itu tertangkap. Aku akan segera kembali. dan hari ini aku akan pergi sendiri saja."


Selesai mengumbar kemesraan di dapur. Arsena meninggalkan Andini kembali ke lantai atas. Hendak membersihkan diri. Andini yang sedang dirundung gelisah ia segera menyusul Arsena.


"Ars, Berapa lama kamu akan pergi," tanya Andini pada Arsena yang sedang mengemas beberapa potong baju dan memasukkan ke dalam ransel.


"Aku tidak tahu Sayang, kamu tenang saja aku akan sering memberi kabar." ujar Arsena.


Andini yang belum rela melepas kepergian suaminya, Iya terus mengekor di belakang, sesekali membantu Arsena menyiapkan barang yang perlu dibawa.


Saat kondisi Andini sedang dilanda gundah, mama Rena datang. "Ars, Mama kasih saran, lebih baik kita kirim Andini ke luar negeri saja, orang itu pasti tak akan bisa menemukan Andini. Jika mereka lelah mencari keberadaan istri mu mereka akan berhenti dan kita bisa kembali hidup dengan aman."


"Lalu sampai kapan Andini akan disana? Dan bagaimana jika orang itu tak pernah menyerah? Mengirim Andini ke luar negeri sama saja mama menggali kuburan untukku, Mama sendiri tahu aku tak bisa hidup tanpa Andini."

__ADS_1


"Tapi Ini cara terbaik menurut Mama. Kamu bisa sering mengunjungi Andini setiap yang kau inginkan."


"Andini demi kebaikan kita semua kamu pasti bersedia ,Kan?"


"Tidak ada yang akan pergi ke luar negeri, Andini akan tetap disini dan aku akan mencari orang itu sampai ketemu."


"Jika Mama masih ingin membuat aku dan Andini berjarak, dan mewujudkan janji Mama pada kawan Mama itu, sebaiknya menyerah saja. Karena siapapun yang tidak mendukung hubungan Andini dan aku mereka sebaiknya mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan."


"Ars, mama tak mungkin memisahkan kalian lagi, mama juga tau kalian sulit untuk dipisahkan. Apalagi Andini sudah mengandung bayi kembar, cucu Mama."


Rena menatap menantunya yang sedang menundukkan wajah, Andini bersyukur dalam hati mertuanya sudah bisa menerima kehadirannya.


Arsena pamit pada Andini dan dan Rena. Arsena juga menitipkan Andini pada wanita cantik dengan rambut yang selalu terikat agak tinggi dan rapi itu. Walaupun dia belum seratus persen menaruh kepercayaan pada mamanya sendiri, setidaknya Zara akan menjadi mata-mata yang bisa mengadukan orang orang yang berusaha menyakiti Andini kapanpun.


 


Arsena naik mobil menuju tempat kejadian tabrak lari waktu itu, dengan penampilan yang berbeda membuat Arsena tak lagi dikenali oleh siapapun. Celana jeans pendek dengan sobekan di bagian lutut dan paha layaknya anak jalanan, kaos hitam dengan topi yang sengaja di pakai terbalik membuat tak ada yang menyangka dirinya seorang Dirut perusahaan besar.


Arsena mulai meminta pihak supermarket untuk mengecek CCTV, Atasan pegawai supermarket dengan senang hati mengabulkan keinginan Arsena.


Setelah bayangan pria yang di cari nampak di layar monitor, Arsena segera meminta untuk memperbesar tampilan gambarnya,


Rupanya pegawai supermarket mengenali pria itu, dia kerap kali mengajak anak dan istrinya berbelanja di tempatnya. Bahkan rekamannya saat bersama istrinya masih tersimpan dengan jelas.


"Iya, dia pasti tinggal disekitar sini, tak mungkin anak istrinya ikut serta berbelanja di tempat yang jauh. Dia juga terlihat mengenakan baju santai." Kata Arsena berbicara dengan pegawai supermarket.


"Kalau anda sudi menunggu, setiap jam empat sore, istrinya akan berbelanja disini."


"Anda yakin?"


" Yakin tuan," kata pria itu.


"Terimakasih Tuan, atas kerja samanya."

__ADS_1


" Sama sama, Tuan," Arsena seketika terhenyak, kenapa dengan penampilannya seperti ini. Pria itu masih memanggilnya dengan nama kebesarannya.


"Jangan heran, seperti apapun anda merubah penampilan, mungkin orang orang akan tertipu, aku tetap mengenali Anda, Tuan."


" Terima kasih, aku baru ingat kau adalah ...." Arsena masih menggali memorinya yang terpendam.


"Aku Sandi, putra Pak Karman tukang kebun di rumah Anda, karena jasa keluarga anda yang besar aku bisa lulus perguruan tinggi." Kata pria itu dengan wajah sumringah.


"Iya aku ingat." Arsena baru ingat ketika sandi berbicara terang terangan.


"Jika anda dalam masalah dan membutuhkan bantuan, aku akan bersedia membantu, kapanpun."


"Terima kasih. Tapi aku akan berusaha mencari sendiri, kenapa dia ingin mencelakai istriku?dan siapa orang yang telah berdiri di belakangnya?"


Arsena pamit pada Sandi. Ia keluar dari lokasi perbelanjaan menuju halaman parkir, sebelum masuk di mobil sportnya, mobil yang pertama kali ia miliki ketika masih duduk di bangku kuliah. Arsena mengamati sekeliling.


Udara siang begitu menyengat, hiruk-pikuk kendaraan kota mulai menebarkan polusi, Arsena tak patah semangat, Iya kembali masuk ke dalam mobil dan mencari parkiran yang sejuk.


Menunggu, bagi pria yang bahagia karena menjadi calon papa itu sangat membosankan daripada mengerjakan setumpuk tugas kantor di meja kerjanya. Namun demi setitik harapan menemukan orang yang dicarinya, Arsena tetap bersabar.


Angin sore mulai berembus, semilir nya mendatangkan kantuk, Arsena berulang kali menguap, semalam dia tidur ketika malam telah larut, oleh sebab itu sore ini dia mengantuk. Arsena membuka handphonenya, membuka file yang terhubung langsung dengan kamera pengintai yang ia pasang di rumahnya.


Pertama kali Arsena melihat ruang pribadinya yaitu kamar mereka berdua. Arsena melihat Andini usai mandi, wanita hamil itu keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono. Sampai di depan kaca ia mengamati bayangan dirinya, memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Arsena menebak, Andini pasti sedang berfikir, kenapa perutnya belum juga buncit? Setelah berpose di depan kaca, Andini menjatuhkan kimono dan meraih baju ganti di dekatnya.


Arsena yang sedang mengintai istrinya sendiri seketika meneguk salivanya berulang kali, Pria itu sempat melihat tubuh seputih susu milik istri yang kian hari kian menggoda.


" Sayang, ceroboh sekali kamu .... " Arsena menggelengkan kepalanya, sambil senyum senyum sendiri di depan layar ponselnya.


Tuan, apa anda mencari saya? Sosok wanita memakai gamis sederhana mendekatinya.


Arsena tersadar dari aktivitasnya ketika seorang memanggil-manggil namanya dari luar kaca.

__ADS_1


__ADS_2