
Flashback on.
Tiga puluh dua tahun yang silam.
Rena dan Susan adalah teman masa kuliah, Susan senang sekali waktu itu bisa berteman dengan Rena yang notabene anak orang berada walau bukan kaya raya no satu di kota Surabaya.
Waktu itu banyak pria yang jatuh hati dan mengejar cinta Rena karena kecantikan yang dimiliki. Hampir setiap hari ada hati yang ia patahkan, lagi-lagi Rena harus menolak pria yang mengejarnya. Bagi Rena pria jual mahal lebih menarik untuk di dapatkan.
Hingga suatu hari Rena bertemu dengan Johan di sebuah perpustakaan. Rena tak sengaja berpapasan dengan pria tampan yang menjadi idola wanita waktu itu. Johan adalah satu satunya cowok yang selalu mengacuhkannya.
"Minggir! Aku mau ambil buku yang ada di dekatmu," Kata Johan dengan ketus.
"Ambil saja," kata Rena kesal dengan cowok belagu yang tak ada manis manisnya.
"Males banget ada Lo disitu."
Rena kesal dengan Johan, pria yang mampu menggetarkan hatinya ternyata begitu cuek dan angkuh. Rena merasa mungkin ini karma, dia telah menyakiti begitu banyak hati pria. kini dia harus diabaikan dengan pria yang ditaksir.
Hari demi hari Rena semakin terpesona oleh sosok makhluk yang bernama Johan, Johan selalu tampil perveck.
Johan hoby main basket, dulu saat ada pertandingan Basket, cewek cewek akan heboh dengan kehadirannya, mereka mengantri sekedar memberinya air mineral dan snack.
Rena ingin menjadi berarti untuk Johan. Dengan segala cara, Rena mulai memperjuangkan Johan agar menganggapnya ada, Tapi sayangnya waktu itu Johan sudah memiliki tambataan hati, bahkan dia sudah merencanakan pernikahan yang indah dengan kekasihnya. Rena tak mau itu terjadi, dia sangat mencintai Johan, dia sangat terpuruk waktu itu, cintanya yang besar membuat ia lupa kalau Mita juga sahabatnya.
Mita yang berasal dari keluarga sederhana, bisa mendapatkan cinta Johan seutuhnya, ia sangat bahagia tak terkira. Hari-hari Mita menjadi begitu indah dengan buaian cinta johan yang amat besar.
Johan mengajak Oma dan kakek ke rumah Mita, Johan ingin segera menjadikan Mita istri sahnya.
Acara tunangan diadakan secara sederhana saja. Karena keluarga Mita yang memintanya.
Keluarga Johan menyetujui, acara tunangan dihadiri oleh keluarga saja.
Mita mencurahkan kebahagiaannya pada Rena. Rena menjadi pendengar dan sahabat yang baik. Walau hatinya sedang dilanda cemburu yang membara, Rena berusaha menerima. Walau berat.
Susan sahabat Rena tak bisa melihat sahabatnya terus berada dalam kesedihan yang mendalam, Rena menjadi terpuruk semenjak mendengar Johan tunangan dengan wanita lain. Susan memberi sebuah ide briliantnya pada Rena.
Suatu hari Susan menghubungi Johan, meminta untuk jemput Rena yang ada di sebuah klub malam. Susan mengatakan kalau Rena dalam kondisi terpuruk karenanya.
Johan begitu terkejut mendengar Rena telah menyukainya. Johan yang tak bisa membiarkan wanita terluka dia datang membujuk Rena dan mengajak pulang, Johan malam itu mengantarkan Rena ke rumah. Waktu itu keluarga Rena sedang pergi keluar kota. Rumah dalam kondisi sepi hanya ada mereka bertiga.
Susan menjalankan rencana yang sudah disepakati dengan Rena. Susan membantu Rena membuat Johan lupa akan Mita, dia memasukkan banyak bubuk yang bisa memabukkan dan meningkatkan gairah bercinta ke dalam minuman Johan. Dan di hari seminggu sebelum pernikahan dengan Mita, kejadian na'as terjadi.
Johan meneguk minuman yang dibuatkan johan, hingga tandas tanpa rasa curiga. Ketika Johan sedang tak bisa lagi mengendalikan Diri Susan membimbing Johan agar berdua saja di kamar Rena.
Rena dan Johan melakukan sesuatu yang terlarang di malam itu Susan meninggalkan tanpa bertanggung jawab.
Keesokan harinya Johan dan Rena, terbangun, ia baru sadar kalau mereka sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang membalut tubuh. Bercak darah menempel di seprei warna pink bergambar boneka Teddy Bear. Johan sadar ia sudah membobol kegadisan Rena.
Rena menangis terisak dengan menarik selimut warna putih untuk menutupi tubuhnya. " kita harus menikah, aku sudah tak suci. hiks hiks hiks."
Johan sangat bingung ia segera mengenakan celana yang tadinya berserakan di lantai. Johan buru-buru menenangkan Rena "Tenang aku akan menikahi dirimu." ucapnya dengan nada frustasi.
__ADS_1
Pria gentle, dia benar-benar mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apalagi seminggu setelah malam terlarang itu, Rena merasakan mual dan muntah terus menerus, Rena sudah mengandung benih Johan di rahimnya.
Johan mulai mencintai Rena karena adanya seorang anak diantaranya. Johan menyayangi anaknya sejak dia dikandungan, walaupun Arsena sudah hadir tidak didasari cinta tapi Johan bertanggung jawab sebagai calon orang tua.
Lambat laun cinta Johan tumbuh dan bersemi untuk Rena, Mita yang patah hati tak pernah datang mengganggunya, membuat hubungan mereka makin dekat dan bahagia dengan seorang putra yang menjadi buah hatinya.
Ketika sedang sayang-sayangnya justru rencana Susan yang di setujui oleh Rena terbongkar. Johan tak bisa meninggalkan Rena tapi dia bersalah dengan Mita.
Johan meminta untuk tetap menikahi Mita yang tak bisa move-on darinya. Hingga Rena terpukul dengan kejadian itu.
Rena selalu mencurahkan semua keluh kesahnya pada Susan. Susan selalu ada untuknya ketika semua orang menjauhinya.
Rena dan Susan menjadi sahabat yang tak terpisahkan lagi. Hingga mereka merencanakan akan menyatukan anak anak mereka tanpa sepengetahuan Johan. Usai menikah Johan memboyong Rena dan Arsena di malang.
Susan dan Rena kembali bertemu, Susan menikah dengan pria berkelahiran Malang juga. Dan saat itu Oma belum pergi ke luar negeri.
Sesuai rencana, ternyata putra putri mereka begitu akrab dan akur. Rena yakin Arsena akan menerima Anita menjadi istrinya ketika dewasa. Namun semua dugaan itu salah. Arsena menganggap Anita tak lebih dari sahabat.
Saat Arsena beranjak dewasa, mereka kembali pindah ke Surabaya, Johan membuka usaha di Surabaya, dengan maksud sekalian bisa berbagi waktu dengan istri keduanya.
Ketika jauh dari Anita, Arsena memilih berpetualang mencari cinta yang lain hingga dia terjebak oleh pesona Lili. Lili yang berasal dari keluarga berada, membuat Rena tak keberatan Arsena mencintainya. Ia melupakan janjinya saat itu, selain mereka tinggal berjauhan, Rena berfikir Susan sudah lupa dengan janjinya waktu dulu.
Namun semua dugaan Rena salah, Susan tetap meminta Anita menikah dengan Arsena sesuai kesepakatan. Rena menyetujui karena Arsena dan Andini tak saling mencintai. Rena juga setuju memisahkan cinta Arsena dan Andini.
Disisi lain ada Johan. Karena kecurangan yang dilakukan Susan, Johan sudah terlanjur mengucap sumpah serapah, kalau dia tak ingin memiliki hubungan apapun dengan wanita seperti Susan apalagi berbesan. Johan juga tak akan pernah menikahkan putranya dengan putrinya. Kalau bisa hingga tujuh turunan mereka tak lagi memiliki hubungan. Oleh sebab itu Johan mencarikan jodoh wanita lain untuk menikah dengan Arsena.
Flash back of.
"Andini kita sebaiknya pergi sekarang, jika terlalu siang takutnya nanti panas, aku nggak mau kamu kepanasan Sayang." Kata Arsena sambil mengulurkan tangan tepat di depan Andini.
Andini menyambut tangan Arsena yang menggantung di udara. "Aku akan ikut kemanapun kau mengajakku pergi, Suamiku."
Security yang tadi sempat mematung, mulai membantu Arsena membawa koper besarnya keluar rumah.
"Ars, Mama mohon, berhenti !!" Rena mencekal tangan Arsena. Arsena menepis tangan Rena. Arsena kecewa memiliki Mama yang menghalalkan segala cara. Mungkin dengan menjaga jarak seperti ini semua akan menjadi lebih baik. Rena akan benar-benar menyadari kesalahannya.
"Ars, bukan kamu yang harus pergi, tapi biarkan mama kamu yang pergi dari rumah ini," ujar Oma dengan lelehan airmata.
"Benar, yang pergi harusnya Rena, bukan kamu dan Andini. Karena dia yang berbuat, dia harus yang bertanggung jawab." Kata Johan yang telah di kuasai amarah.
"Rena, kamu tak pernah berubah, selama ini aku kira Kamu sudah berubah, tapi apaaaa!! Apa?" Johan sudah mengepalkan tangannya. Urat urat dilehernya terlihat menonjol.
"Mas, jangan terlalu emosi, Mbak Rena sudah menyesal." Mita berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas.
"Wanita iblis itu tak akan pernah berubah, sekali saja aku dengar kau berbuat licik, sudah kupastikan kebersamaan diantara kita hanya sebatas kenangan."
"Mas, aku mohon maaf, aku melakukan semua ini karena aku ...."
"Ingin balas Budi iya?! Jangan pernah bermimpi menyatukan putraku dengan anak ular itu. Ular pasti akan melahirkan anak ular juga." Tegas Johan dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Mita Ambilkan suamimu minum! jangan biarkan Johan dikuasai amarah." Perintah Oma pada Mita yang berdiri didekat Johan.
Mita yang khawatir Johan akan menyakiti fisik Rena. Terpaksa meninggalkan semua orang mengambil minuman dingin di kulkas.
"Pa, tidak perlu memarahi Mama. Sebaiknya Arsena saja yang pergi, mungkin setelah Arsena dan Andini jauh dari kalian semua. Hidup mama akan bahagia." Ujar Arsena.
Arsena juga mengumpulkan kunci mobil dan black card diatas meja.
Air mata Rena runtuh semakin deras. Arsena yang ia besarkan dengan bergelimang harta ternyata demi Andini dia rela sengsara.
"Sayang, tunggu apa lagi? Buruan pamit sama Oma."
"Baiklah." Andini mengangguk patuh. Andini ragu bukan karena takut hidup susah.
Susah, dulu sudah menjadi makanannya sehari hari, Andini membayangkan Arsena bagaimana dia akan hidup tanpa kemewahan yang sudah melekat di dirinya sejak di kandungan.
Andini berjalan menghampiri Oma. Menyatukan telapaknya dan menciumnya. Air mata Oma menetes menjatuhi rambut Andini begitu pula tangan Oma basah oleh air mata Andini. "Oma maafkan Andini telah banyak salah."
"Kamu nggak salah, yang salah adalah mertua kamu. Jika Arsena bersikeras untuk pergi, Oma izinkan, namun hanya untuk menenangkan diri. Setelah amarah suami kamu sudah reda, tolong bujuk dia kembali untuk pulang.
"Iya Oma." Andini mengangguk.
"Ars, Mama sudah kalah, Mama menyerah kalah, tolong kembali." Rena histeris, namun teriakan Rena tak lagi di gubris.
Arsena pamit dengan semua anggota keluarganya. Dia keluar dari rumahnya sendiri melangkahlan kakinya tanpa sebuah kendaraan dan uang sepeserpun.
Keputusan Arsena membuat Rena terpukul. Bahkan dia tak sanggup berdiri lagi. Kaki rena lemas Rena duduk di lantai bersandar sofa. Rena hari ini mendapat pelajaran berharga. Ternyata sebuah keinginan yang dipaksakan akibatnya akan buruk. Buktinya dia kehilangan Arsena yang lebih memilih istrinya.
"Ars, sebaiknya jangan pergi, kasian Om Johan, jika kembali memegang perusahaan sebesar itu sendirian." ujar Mert.
" Jangan pernah merayuku, dia sudah pakarnya." Kata Arsena sambil menepuk pundak Mert.
Andini dan Arsena berjalan hingga pintu gerbang. Mereka menunggu sebuah taksi yang sudah di pesan secara online. Biasanya banyak sekali taxi yang akan lewat ketika masih pagi, hari ini kenapa lama. Mungkin Tuhan juga tak ingin Arsena pergi meninggalkan rumahnya.
"Ars, apa kamu yakin." Tanya Andini.
"Apa aku terlihat seperti sedang bermain main."
"Ars, demi aku kamu harus menderita."
" Itu salah, yang benar adalah, demi kebahagiaanku kamu sudah menderita, aku tak mau egois Andini. Jika kita masih disana, mama akan sulit sadar diri. Dia akan selalu pada jalannya yang salah.
Arsena dan Andini kini naik ke sebuah taksi, Zara duduk di depan di sebelah sopir, Andini dan Arsena duduk di belakang.
"Tujuan kemana ini, Mas?" Tanya sopir taksi.
"Kita kemana, Ars, tanya Andini."
"Kita ke mana ya?" Arsena terlihat sedang berfikir. Memikirkan tempat tinggal yang layak untuk ia singgahi.
"Pak tolong antarkan saya di desa Sukolilo."
__ADS_1
" Baiklah Mas. yang dekat dengan pesisir itu kan?"
" Ya."