Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 191. Universari kita.


__ADS_3

"Ratna jaga sikap kamu, kamu mau di pecat. lalu kita kembali sama papa kamu yang miskin itu? kalau mama sih ogah, mending ikut keluarga ningrat ini, kita bisa ikut makan enak. belum lagi kalau ketemu teman sosialita mama, mama nggak akan sanggup jadi bahan bulying. kamu juga kan, pasti malu kalau ketemu teman sekolah, iya kan?" lirih Ratih.


"Nggak sih ma. Ratna pasti malu banget, kalau sampe itu terjadi."


"Makanya jangan macam macam." Ratih berkata dengan pelan. Sambil berbisik gemas sama putrinya yang kadang bodoh minta ampun.


Excel tiba tiba menangis sambil menggeliatkan tubuhnya. " Oek! oek!"


"Kenapa lagi ni anak? Cup cup cup jangan nangis ya sayang, cucu eyang yang pintar ya." Ratih mencoba menepuk pinggul Excel dengan pelan-pelan. mengucapkan kalimat sayang hanya untuk cari muka.


"Ma, kok Ratna nyium bau nggak enak ya." Ratna mengendus-enduskan hidungnya


"Iya mama juga, baunya kok nggak enak banget." Ratih ikut mengendus-endus kan hidungnya menirukan Ratna.


"Jangan jangan!!" Ratna dan Ratih saling pandang.


" Jangan jangan Excel." Ratih segera membuka popok Excel. Aroma dari popok bayi itu semakin menusuk hidung.


" Dasar bocah, Kenapa sih kamu nggak mau lihat aku senang dikit aja. Baru mau lihat lihat barang bagus sudah buang puff." kesal Ratih. Namun, sialnya Dara mendengar itu semua.


"Kenapa kamu marahin keponakan Gue? Kamu nggak takut kalau aku akan merekam kegiatan kalian berdua. Dan tau sendiri kan. Papah ni bocah sebenarnya eneg banget sama kalian berdua dan Kak Arsena bisa lho buang kalian di tempat yang lebih baik dari pembuangan sampah."


"Dara, Dara, kamu jangan gitu Dong. Kasihani sedikit kami berdua, biar sekarang miskin begini kami ini orang tua kamu juga loh dan Ratna juga adik kamu." Ratih terlihat memelas.


"Apa? Orang tua. Kok aneh ya aku dengernya? Bukannya dulu nggak sudi kita panggil Mama?" Bukannya dulu kalian jijik banget sama kita berdua?" Dara tersenyum sinis. "Ya ya sayangnya aku malu tu punya orang tua seperti kalian, kalau mbak Andini sih dia emang baeknya kebangetan jadi betah sama kalian berdua. Tapi kalo aku, sorry." Dara tersenyum mengejek. Membuat hati Ratna nyeri, namun sebisa mungkin ditahannya.


"Oh iya setelah sekarang usaha papa bangkrut kalian memilih hidup sebagai jongos? Dan apa motif anda sebenarnya nyonya Ratih terhormat? Ya aku mikirnya aneh aja kok mau gitu, apa nggak takut ini bocor ke teman sosialita yang dulu sering mendengar omong besar kamu?"


"Dara mama mohon jangan lakukan apapun. Mama ke toilet dulu." Ratih memilih menghindari Dara


"Awas kalau kamu macam macam," Ancam Dara.


Melihat Dara memaki maki Ratih membuat yang lainnya datang. " Dara ada apa sayang? Kok kamu marah."


"Enggak Ma, ini Excel sedang buang puff dan Asisten kita malas mengganti popoknya." Adu Dara pada Mita.


"Astaga Excel kamu Eek, Sayang." Andini ingin segera ingin mengambil alih kereta Excel namun Ratih terlihat keberatan. Dia tentu ingin terlihat baik di mata keluarga.


"Andini biar Mama saja ya. Kamu teruskan belanjanya.


Ratih segera membawa Excel ke toilet yang kebetulan letaknya dekat dengan keberadaan sekarang, wanita itu membersihkan tubuh Excel dengan telaten. Usai di bersihkan dengan air, Ratih segera mengelap dengan tisu, tak lupa ya bubuhkan bedak dan minyak kayu putih. Dalam sekejap Excel sudah wangi lagi. Dia sudah nggak nangis. Bahkan mulai mendengkur.


Usai berbelanja banyak Mereka segera menuju tempat menyenangkan lainnya. Sekarang Excel dan Cello sudah di tangan Mama Rena dan Andini. Mama Ratih dan Ratna membawa belanjaan yang banyaknya saabrek membuat jari jarinya pegal.


"Ratna berat, bantuin mama donk."


"Mama nggak lihat! Ini Ratna lebih berat dari belanjaan yang dibawa Mama."


Aduh duh mereka belanja banyak amat sih, sengaja menghukum kita rupanya. Ma aku nggak kuat Ma, kalau mereka siksa kita terus seperti ini. Bukan hanya ragaku yang akan rusak, tapi hati ini, hidup mereka terlalu bahagia," kesal Ratna.


"Sudahlah kita nikmati saja perjalanannya, orang yang sabar akan dikasih Tuhan, percaya itu." Ratih menjitak kepala putrinya.


Usai belanja mereka semua segera menuju tempat untuk memanjakan diri. Para istri pengusaha sedang ingin merelaksasikan otot otot mereka yang terasa kaku. Rerutama Andini yang lupa caranya berdandan setelah melahirkan kedua putranya.

__ADS_1


Untung saja dia memiliki kecantikan alami yang tak pudar walaupun tanpa sentuhan sebuah alat makeup.


"Auh ... Sakit."Pekik Ratna.


"Kenapa? Kok mendadak sakit?" Tanya Andini tulus.


" Iya, aku harus istirahat Kak, bisa kan kita pulang sekarang. Besok saja ke spa, soalnya aku lihat Excel dan Cello juga waktunya tidur." Ratna beralasan.


Gimana ini, Andini menatap yang lainnya.


"Oh, kalau cucu Mama kelihatan capek kita pulang aja. Nanti kita panggil beauticiannya, biar mereka datang ke mansion." ujar Mama Rena menyetujui pulang.


Sampai di rumah Dara dan Zara langsung istirahat sedangkan Andini Oma dan Rena siap siap untuk melakukan ritual kecantikan yang ditangani langsung oleh ahlinya, sedangkan Mita kembali ke butik untuk bekerja.


Andini Oma dan Rena siap melakukan ritual message. Dia kebetulan ingin melakukannya di dekat kolam sambil menikmati indahnya pemandangan pantai.


Beautician bekerja dengan mengerahkan kemahirannya. Dia memijat dengan lembut dan terlatih membuat Andini merasakan tubuhnya segar dan pegalnya hilang. Tak lupa terapi mandi susu mandi sauna, mandi bunga. Semua sudah dia lalui, kini kulitnya sudah sangat lembut dan harum bagai seorang ratu


*****


Di kamar baby twins.


"Cello Excel kenapa kamu senyum- senyum lihatin mama? Kamu senang ya, kalau papa mau pulang? Atau kamu suka lihat Mama dandan seperti ini? Mama sengaja dandan seperti ini supaya papa senang, papa nggak genit lagi diluar sana, kamu tahu kan hari hari papa di kantor, dikelilingi sama wanita wanita cantik. Untung papa tipe setia dan cuek, tapi bukan itu saja, mama yakin papa setia juga karena sayang sama Excel dan Cello juga."Hati Andini juga bahagia membayangkan hari istimewa yang akan ia lalui hari ini.


Ranjang pengantinnya pun sudah di hias demikian indah oleh Andini sendiri ketika putranya tidur nyenyak, atau sedang bermain dengan Oma dan Mama di taman.


Cit !cit ! suara terdengar dari perut Cello. Baby bear itu tersenyum bahagia. Mengangkat kakinya tinggi lalu menjatuhkannya, gerakan tangannya pun sangat aktif. Cello yang mendengar suara dari perutnya dia terus mengulang lagi menepuk nepuk baju diperutnya menempel boneka pokemon itu dan Excel yang mendengar, mencari arah suara yang datang dari saudara kembarnya itu dan mulai menirukan gerakan saudaranya.


Sayang, kau sudah mulai bisa bermain." Andini mendekat ke arah ke dua putranya mencium, menggelitiki dengan gemas bergantian.


Cello dan Excel semakin lebar membuka senyumnya. seolah dia mengerti bahasa Andini.


"Cello dan Excel sedang bahagia rupanya." Mama tiba-tiba datang dari luar. Andini dan kedua anaknya serentak menoleh.


"Ndin kamu juga kok cantik amat?" Mama rupanya lebih tanggap dengan perubahan Andini. Makeup natural dan warna lipstik tak mencolok sudah cukup buat wanita berwajah kalem itu terlihat cantik elegant. Rambut yang dibuat curly lalu diikat keatas dan lebihnya dibiarkan menggantung.


"Oh mama tau ini ... Kamu sama Arsena sudah mau buatkan Cello dan Excel Adek lagi ya." Mama mengangkat alisnya berulang kali.


"Mama ... " Wajah Andini bersemu merah.


Iya kasian tu anak Mama, mama lihat kalau kalian semua sudah tidur dia gelisah melulu. Sampe kadang ke dapur sendiri buat kopi dan camilan. Kalau makan banyak mungkin bisa sedikit lupa ya sama keinginannya untuk main begituan."


" Entahlah Mam. Andini juga kadang kasian." jawab Andini singkat. Karena diluar pintu ada Bi Um dan seorang yang mengaku sebagai utusan Arsena.


"Nona Andini, ada utusan dari tuan Arsena," kata Bi Um


"Utusan?" Andini terlihat heran. Tak biasanya Arsena tak memberi tahu dulu.


"Iya, Nona, saya diutus untuk mengantarkan gaun ini, dan keluarga juga diharapkan untuk bersiap siap, karena dua mobil perusahaan sudah menjemput."


"Ada apa? Kenapa saya harus memakai gaun semewah ini? Dan ini hanya akan dipakai seorang mempelai, dan saya bukan seorang pengantin wanita?" Gumam Andini lirih. Namun masih bisa didengar oleh semua orang.


"Maaf, saya Rasa anda salah orang." Andini menyerahkan kembali gaun ke tangan utusan tadi.

__ADS_1


"Mana mungkin Nona, kalau anda tak yakin, bisa hubungi Tuan Presdir langsung.


Tak menunggu lama, Andini langsung menghubungi Arsena dia tak yakin dengan semua yang dilihatnya, mana bisa dia memakai gaun mahal hanya untuk melewati malam yang sudah bukan pertama lagi itu.


"Gimana Ndin?" Tanya Mama.


"Sibuk Ma. nggak dijawab."


"Kalau begitu pakai saja, siapa tahu Arsena ingin memberi surprise untuk kamu dan keluarga."


"Benar sekali Nona. Mertua Anda ternyata sangat peka, dia bisa tau isi hati putranya."


"Tapi Ma. Andini bukan gadis perawan lagi harus memakai gaun. Andini sudah beranak dua."


"Emang kenapa kamu cantik Kok? Nggak ada bedanya sama perawan, tubuh kamu juga nggak berubah, malah Mama lihat sekarang semakin ideal," puji Mama.


"Benar sekali Nona, anda sangat cantik, sama cantiknya seperti gaun yang dikirim suami Anda."


"Anda berlebihan memuji, bagaimana kalau kepala saya besar dan saya tak kuat lagi menyangganya."


"Tidak Nona, saya jujur. Nona waktu anda tak banyak. Sekarang juga anda ganti baju, dan soal makeup ternyata Anda sudah ahlinya. Tidak ada yang perlu diubah lagi."


"Baiklah." Andini menurut. Andini segera memakai baju pemberian Arsena yang dianggapnya berlebihan itu. Dia juga segera memakai highell yang senada dengan warna bajunya putih tulang.


Ayo Nona kita berangkat sekarang, keluarga Anda akan menyusulnya menggunakan mobil satunya. Jangan biarkan suami anda menunggu lebih lama lagi."


Setelah mematut dirinya di cermin semua terlihat sempurna, Andini menganggukkan kepala setuju.


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Tapi aku akan pergi dengan kedua putraku."


"Tidak Nona, Saran saya putra anda akan menyusul bersama keluarga nanti."


Sebelum pergi Andini mengecup pipi gembil putranya bergantian dengan berat hati dia terpaksa harus berangkat duluan sesuai perintah Arsena.


Sampai di tempat yang di tentukan Andini terkejut dengan keadaan gedung yang dihias begitu indah, para tamu sudah berdatangan, saat Andini tiba mereka semua sontak menoleh kearah yang sama.


Seolah Andini adalah satu satunya seseorang yang ditunggu demi berlangsungnya sebuah acara.


Para staf pria pun banyak yang hanya menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah datangnya Andini.


Dilihat dari ribuan makluk yang duduk berjajar di sebelah kiri dan kanan jalan masuk gedung, Andini merasa kikuk dengan dirinya, apa yang harus dilakukan. Ini sungguh mengejutkan. Sebelum dia tak mempersiapkan mentalnya sama sekali.


Suara dari dalam membuyarkan pandangan mereka. " Istriku memang cantik. Tapi dia pemalu. Jangan lihat dia seperti itu karena dia pasti akan memakiku di rumah nanti." Arsena tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Melangkah mendekati Andini lalu mengulurkan tangannya, Andini menyambut uluran tangan suaminya. Lalu mereka masuk sambil bergandengan.


"Kalian bisa nikmati hidangan yang sudah tersaji dan abaikan kita berdua," ujar Arsena lagi.


"Pak, pak istri anda sangat cantik, berposelah sedikit, aku ingin menyimpan foto kalian berdua di galeri ku nanti sebagai kenang kenangan.


Arsena dan Andini terpaksa harus melayani para karyawan yang ingin mengambil gambarnya saat masuk ke dalam gedung. Padahal acara sesungguhnya belum dimulai.


"Ars, apa ini resepsi pernikahan kita?"


"Anggap saja begitu, ini sebagai permintaan maaf ku karena telah meninggalkan dirimu di pernikahan kita. Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku dulu. Sayang," ujar Arsena lirih. Arsena mengecup kening Andini di depan seluruh karyawan. Yang lagi lagi Andini dibuat tersipu malu oleh tepuk tangan mereka.

__ADS_1


*Happy reading.


* Yang beruntung mendapat hadiah. besok akan saya umumkan. yang belum dapat rajin kasih Like, Komentar dan Vote ya nanti akan ada hadiah lagi di akhir cerita.


__ADS_2