Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 245. Kemelut


__ADS_3

" Masih sebatas rencana Nek, nikah aja belum." Davit kemudian menyeret koper di tangannya menuju kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.


Rencananya kamar paling depan akan dijadikan kamar untuk cinta pertamanya yaitu Nenek. Sebelahnya lagi, tepat didekat kamar nenek, akan dijadikan untuk kamar anak anaknya kelak.


Sedangkan kamar paling besar, di dekat ruang makan, yang memiliki jalan pintas untuk keluar menuju gazebo dan kolam renang akan menjadi kamar Davit dan istrinya nya. Tentunya di dalam setiap kamar sudah dilengkapi kamar mandi.


Sesungguhnya Davit regues kamar yang hampir milik dengan desain kamar Arsena karena unik dan terlihat nyaman.


Saat memindahkan baju nenek ke dalam lemari, ponsel Davit terus saja berdering.


David merogoh sakunya di mana benda pipihnya bersembunyi. Ia lihat panggilan masih dari Arini.


"Maaf, belum saatnya. Sepertinya hukuman untukmu belum berakhir Sayang."


Davit mengembalikan ponselnya ke saku. Kali ini ia masukkan ke dalam saku bajunya.


Ada puluhan chat suara dan ratusan pesan belum ia buka. Pengirimnya kini sedang mberengut kesal di kamarnya sendirian.


Usai menata baju Nenek, Davit melihat dapur kecil dan unik, diam diam ia membayangkan Arini sedang masak untuknya dan dia akan memeluknya dari belakang. Mencium tengkuknya. Pasti moment seperti itu akan sangat menyenangkan.


Tanpa sadar rupanya nenek sudah membuntuti Davit hingga dapur. "Vit ngebayangin Arini ya."


"Eh, nenek," Davit terkejut.


"Cepat bawa dia kesini Vit. Nenek sudah kangen sama calon istrimu itu."


"Iya nanti."


" Jika terlalu longgar memberi kesempatan, nenek takut dia akan diambil orang. Kamu akan salahkan siapa? Arini cantik, banyak cowok yang suka."


"Oke, nek. Pulang kerja besok aku akan ajak dia kesini." Davit berusaha mengabulkan setiap keinginan nenek.


Malam ini Davit memutuskan tidur di ranjang besar yang akan menjadi ranjang sakral untuk dia dan Arini nanti. Davit memeluk guling besar dan empuk itu, beberapa menit kemudian dia terlelap.


****


Pagi hari


"Vit bangun, katanya sekarang mau kerja kantoran, jam segini kok belum bangun?"


" Davit mengusap matanya yang masih lengket, semalam tadi dia susah tidur karena memikirkan Arini. Menjelang pagi dia baru bisa bangun.


" Iya, ini sudah bangun Nek."


Jujur Davit sangat rindu dengan Arini. Tak melihat wajahnya dua hari saja membuat dirinya dilanda gelisah.


"Cepat bangun, Nenek sudah masakkan kamu sarapan kesukaanmu, Vit. Nasi jagung dan oseng oseng ikan kelotok."


Mendengar teriakan Nenek, mata Davit seketika membola. Makanan yang tak pernah ia nikmati di rumah tuan mudanya itu kini sudah tersaji di meja.


"Iya Nek, Davit sudah bangun." Davit menyibak selimut yang menempel menghangatkan tubuhnya sejak semalam.


Bergegas mandi dan berdandan ala pegawai kantoran tak lupa dasi krem ia letakkan di lehernya kontras dengan dengan hem putih dengan garis samar warna krem yang kini melekat apik di tubuhnya, Davit masih kesulitan memakai dasi karena ini baru pertama kalinya, setelah Googling akhirnya dia bisa.


Nenek yang melihat David berseragam kantor nan rapi terlihat takjub.


" Kamu tampan Vit, pantes Arini sayang sama kamu."


" Nek, jangan terlalu memuji, nanti Davit nyungsep gara gara kebesaran kepala." Davit terkekeh sambil berjalan keluar kamar menghampiri meja makan. Nenek susah duduk lebih dulu.


Nenek dan Davit sarapan bersama, Davit menghabiskan dua piring nasi jagung. Selain doyan, rasa masakan nenek selalu berbeda di lidah Davit.

__ADS_1


Tring!


"Dirut bagian keuangan di kantor cabang sudah di pecat karena melakukan tindakan korupsi, sekarang dia berada di dalam jeruji. Perkenalkan dirimu disana menggantikan Dirut yang lama. Mobil kantor akan menjemputmu."


Pesan singkat dari Dirut utama pemegang banyak perusahaan segera Davit baca.


"Oke, Kak. Aku akan segera kesana sekarang juga."


Davit segera menegak segelas air putih yang ada di depannya lalu pamitan pada nenek.


Nek, berangkat dulu, do'akan hari ini kehadiran Davit di kantor cabang itu diterima oleh karyawan disana.


Tentu Vit, kamu jangan lupa untuk selalu rendah hati, jangan seperti taoge lupa asalnya." ujar Nenek sambil mengelus rambut Davit yang membungkuk mencium tangannya.


Davit segera berangkat kekantor, nggak nyangka dia terpilih bekerja disebuah cabang perusahaan besar setelah melewati beberapa test dan persaingan yang ketat dari beberapa karyawan yang ingin naik pangkat ataupun pelamar baru.


Sebelum ke kantor Davit mampir ke kampus tempat Arini menimba ilmu, yang kebetulan masih sejalan dengan arah kantor. Lama menunggu davit tak jua melihat gadisnya.


Davit segera bertanya ketika sosok tak asing lewat didepannya "Eh, Sal, Arini sudah berangkat belum?" Tanya Davit pada gadis sahabat Arini.


Ya Tuhan, Kak Davit! Aku kirain bos perusahaan mana gitu." Salsa ditanya apa jawabnya apa.


"Kerja di kantoran sekarang?" Salsa masih menatap dengan terkejut dan kagum.


Walaupun pakainan yang di kenakan Davit sederhana, tapi visualnya sejak lahir sangat mendukung tampilannya.


" iya, baru diterima kerja. masih hari pertama." ujar Davit jujur.


"Coba Salsa yang kenal Kak Davit lebih dulu, pasti salsa akan sayang banget sama Kakak, janji nggak bikin kecewa. Tapi sayang ...."


"Sala gue tanya apa jawab apa, Arini sudah masuk apa Belum?" Davit memperdalam kalimatnya.


Mendengar pengakuan sahabat kekasihnya itu, Davit seketika percaya, namun hati kecilnya menyadarkan, berusaha untuk tak menelan mentah omongan yang tak ada bukti.


Davit memutuskan untuk meninggalkan kampus, dia takut terlambat di hari pertama bekerja. Urusan Arini akan ia hempaskan sesaat, Davit tidak mau mencampur adukkan asmara dengan pekerjaan.


"Kak, bunganya boleh untuk saya?"


" Tidak, aku akan membuangnya saja." Davit melempar bunga di tangannya ke tong sampah. Lalu benar benar pergi diantar oleh sopir.


Salsa mengambil bunga kesukaan Arini yang tergeletak di tong sampah, merapikan sedikit saja sudah seperti sedia kala. Saat itu juga dia memiliki rencana untuk membuat Arini cemburu, salsa yang tak bisa memiliki Nathan karena selalu mengejar Arini, kini berniat mengambil Davit yang sudah ia beri sedikit racun cemburu baru saja.


"Habis Lo serakah sih ,Rin. Nathan elo embat, Davit juga. Bolehlah aku memiliki salah satunya," gumam salsa. sambil menciumi bunga ditangannya.


Mobil Nathan sudah terlihat, seperti dugaan salsa, Arini ada bersamanya.


"Pagi, Sal!" Sapa Arini berusaha bersikap baik baik saja.


"Pagi Rin." Salsa memamerkan bunga ditangannya pada Arini.


"Pagi sudah dapat bunga aja Lo, dari siapa?"


"Dari Kak Davit. Dia sengaja beliin buat gue."


"Kak Davit, pasti bunga itu untuk aku." Tanya Arini penuh percaya diri. berusaha merebut dari tangan Salsa.


Enak aja sudah jelas dia memberinya padaku, kalau buat elo dia pasti nungguin, kan bentar lagi kamu pasti datang.


Plakk! Arini dengan keras menampar pipi salsa. salsa memegangi pipinya yang perih.


"Sudah sudah Rin, ngapain sih, dilihat banyak orang nie."

__ADS_1


"Dasar loe, bibit pelakor, loe tau kan Kak Davit itu tunangan gue. mau gue gampar lagi?!"


"Tunangan? Tapi dia kok nggak pake cincinnya ya?" Salsa masih membantah saat pipinya sudah lebam.


"Dengar ya Rin, nggak akan ada laki laki serius sama kamu, karena kamu masih suka goda pacar orang," ketus salsa.


"Pacar orang ?" Arini tak mengerti. "Maksutnya kamu suka Nathan?"


"Iya, aku suka Nathan, karena kamu yang gatel dan kasih kesempatan dia, jadi dia nggak pernah lihat gue disisinya. Dan siap siap aja ya nangis bombay, kalau Sebentar lagi calon suami elo yang tampan itu akan jadi milik gue.


"Sinting Lo, Sal. Lo mau menghancurin rencana gue." Nathan terlihat murka.


"Arini, jangan percaya sama omongan nggak jelas dari dia, mana mungkin aku suka sama dia."


Gue nggak cemburu kok Nat, elo sama Salsa gue malah suka, aku sekarang sudah punya Kak Davit. Dan aku yakin kak Davit pasti di komporin sama dia sampai bunga mawar kuning itu deberikan pada dia, karena hanya Kak Davit yang tahu kesukaanku dan sering memberiku mawar kuning yang serupa dengan itu.


Arini kini berlari mencari taxi dia hendak mencari Davit yang menurut gondrong dan botak, dia telah bekerja di perusahaan cabang milik kakaknya. Arini yakin Davit ada di salah satu cabang yang baru diresmikan beberapa minggu itu.


Nathan berusaha mengejar Arini, tapi Salsa menahannya. Jadilah perang mulut Nathan dan Salsa. Nathan benci Salsa, wanita itu telah merusak rencana yang berjalan mulus beberapa hari ini.


Nathan dengan bringas menarik Salsa ke dalam mobil dan membawanya pergi entah kemana. Sedangkan Arini sudah memantapkan tekatnya untuk kembali mencari Davit yang sudah bebrapa hari ini membuatnya tak bisa tidur.


Davit baru saja memperkenalkan diri pada staf dan beberapa karyawan yang akan bekerja sama langsung dengannya. Usai perkenalan Davit segera memasuki ruang pribadinya yang terlihat mewah, ada sekretaris cantik yang duduk di depan ruangannya. Dia yang akan menemani Davit bekerja pagi hingga sore.


"Selamat pagi pak Davit." ujarnya ramah dan senyumnya manis.


Pagi!


" Em Pak Davit , karena masih baru kerja hari ini, barang kali butuh bantuan dari Gina, Gina siap membantu dengan senang hati."


Senyum mengembang dari bibir sekretaris David yang baru. Sekretaris baru itu berpakaian seksi dan terlihat piawai dalam menggoda atasannya. Wajahnya yang cantik dan didukung dengan tubuhnya yang seksi, selain itu ukuran dadanya yang besar menantang. Membuat mata pria hidung belang pasti akan sukar untuk berkedip.


Arsena pasti sengaja menempatkan berbagai cobaan untuk Davit di manapun ia bisa. Arsena ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu ketika dia sudah memiliki jabatan tinggi di perusahaan dan beberapa kemewahan.


"Oh, iya ini pengalaman kerja saya yang pertama, kalau Gina nggak keberatan bisa jelaskan sedikit tentang dokumen ini." Pinta Davit tanpa melihat body aduhai Gina.


"Iya pak, akan Gina jelaskan secara detail, tapi maaf aku harus berdiri didekat Pak Davit biar enak ngejelasinnya.


Davit menyetujui usulan Gina, karena laptopnya menghadap ke Davit. Kalau tidak berdekatan Gina akan kesulitan menjelaskan.


" Ya ampun direktur baru ini tampan banget, otot lengannya, gue pasti makin betah dikantor, seharian juga nggak apa apa deh, moga moga dia masih single, kalaupun sudah tak single aku juga rela jadi yang kedua dari pria perkasa ini. Oh pak Davit.


Usai menjelaskan pekerjaan utama Davit, Gina sengaja berlama lama supaya bisa di dekat Davit. Gadis yang sering main sama om om ini langsung jatuh cinta pada pria yang akan menjadi atasannya ini.


"Gin sudah selesai kan?"


" iya Pak, sudah, maaf." Gina kembali keluar dan duduk di kursi miliknya.


Davit mulai bekerja dengan serius. tak lama Gina dengan wajah kesal masuk lagi ke dalam ruangan Davit setelah mengetuknya.


"Pak Davit. Gadis ini memaksa masuk. Dia bahkan mengancam akan memecat saya." ujar Gina manja berusaha mengambil hati Davit.


" kalau nggak berbuat salah, perusahaan nggak akan memecat kamu Gin, aku akan membelamu." ujar Davit belum sempat menoleh.


" Kak Davit! jadi karena sekretaris ganjen ini. Kakak sudah lupakan Arini cepat?!"


"Arini !" Davit terkejut, ia segera menoleh ke arah pintu masuk, dimana dia wanita sedang berdiri menatapnya.


" Karena dia lebih mo*nt*k dan seksi, kakak kembalikan cincin tunangan kita?"


Arini kembali lepas kendali, tadinya dia ingin minta maaf, begitu lihat sekretaris seksi itu cemburunya kembali naik hingga ubun-ubun.

__ADS_1


__ADS_2