Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 38. Sang Malaikat tak bersayap.


__ADS_3

"Arsss angkat tolong, please !"


 


"Arsss, aku membutuhkanmu !"


 


"Lepaskan, Devan lepas ... !"


Plak!


Plak!


Andini mencoba memukul yang bisa ia pukul, mendorong Devan dengan sekuat tenaganya.


Andini terus memanggil nama Arsena dalam malam itu, memperjuangkan mahkotanya agar tetap utuh.


"Majikanmu tak akan datang! Apa kau mencintainya? Hingga kau mengharapkan dia yang datang menolongmu?


"Hiks .... Tolong lepaskan, aku tak bersalah." Andini menangis.


Berulangkali handpone Arsena berdering namun pria itu sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Dia lebih cepat tidur karena dua mangkuk bubur ayam memenuhi perutnya. Membuat kantuknya lebih cepat datang.


"Ars, tolong aku ... Aaaaarsss tolong !!" Suara Andini memohon pertolongan. Memanggil manggil nama orang yang paling ia sayangi.


Namun, sayang seribu sayang. Arsena sedang berada di alam mimpi. Jangankan mendengar nada dering telepon Andini yang lewat beberapa detik. Alarm yang mengingatkan gosok gigi dimalam hari pun ia tak terdengar oleh telinganya.


Hubungan mereka terlalu jauh untuk merasakan sebuah firasat, sebuah ikatan batin belum terbentuk diantara mereka berdua.


Andini yang sedang dalam bahaya besar, Arsena malah tidur di dalam selimut hangatnya.


"Ha ... ha ... ha ... Dia tak akan datang menolongmu, dan tak ada orang yang akan menolongmu di malam ini, malam ini sudah takdirnya kau jadi milikku Andini." Devan yang sudah lama terosebsi dengan kecantikan Andini, mengeluarkan suara tawa yang sangat menakutkan bagi gadis perawan di depannya itu.


Pria itu mengambil handpone Andini dan melempar keluar mobil, benda pipih itu hancur berkeping. Hilanglah sudah harapan Andini menginginkan pertolongan dari suaminya.


"Lepaskan aku Dev, kau tak bisa melakukan padaku, aku bersuami." Andini memohon untuk dilepaskan, ia mengiba dan airmatanya tak terbendung lagi.


"Suami? Hah kau pasti berbohong. Majikanmu bilang kau masih single, tak mungkin kau sudah bersuami, pria mana yang menjadi suamimu, hah?"


"Tolooooong! tolooooong! hap ...." Pria itu membungkam mulut Andini dengan telapaknya yang besar.


"Andini, jangan menolakku, kau beruntung aku menyukaimu, derajatmu hanya ART, banyak wanita diluar sana yang sukarela menghabiskan malam-malamnya denganku. Kau harusnya beruntung aku menginginkanmu."


Devan terus saja berusaha membuat Andini menyerah, ia tak ingin memaksa. Tapi Andini tak bisa diajak bekerja sama, dia terus menolak Devan dengan kasar mendorong dengan tangan dan kaki sebisanya.


"Akhhh ..." Andini kesakitan tangannya di cengkeram oleh Devan. Ia terus memberontak bersama sisa sisa tenaganya. Devan mengunci tubuh Andini dengan kasar, dan tangan yang lainnya mencengkeram rahangnya, membuat Andini hanya merasakan sakit, ruang gerak Andini semakin sempit, bahkan sangat sempit hanya sekedar untuk menarik nafas.


"Keputusan ada ditangan mu, layani aku dengan baik, atau aku yang akan mengambil semuanya dengan paksa ...." Devan tersenyum smirk melihat mangsanya sudah tak mungkin lagi bisa lari.


"Cih," Andini meludah diwajah pria itu.


Pria itu mengusap ludah Andini lalu tertawa sumbang. "ha ... ha ... ha ... Rupanya kau lebih suka kekerasan, Baby cute."


Pria itu membuka kaosnya dengan satu tangan dan menarik ikat pinggangnya. Ia gunakan ikat pinggang itu untuk mengikat tangan Andini dan tangannya mencari cari plaster diatas dashboard untuk membungkam mulut Andini.


Terlalu takut kesuciannya direnggut oleh Devan. Andini mencoba sekuat tenaga untuk meronta. bahkan Andini sudah menggigit pundak si pria . Namun tenaga Andini tak berarti apa-apa di hadapan pria bertubuh tinggi kekar itu.


Mendapatkan perlawanan dari Andini membuat pria itu menjadi semakin tega memaksakan kehendaknya. Klakuannya tak seperti manusia. Entah iblis mana yang sudah merasuki


Tekanan yang kuat dari tubuh Andini membuat pintu terbuka, pengait pintu mobil itu telah rusak. Andini terjatuh keluar mobil, sekuatnya.


Andini berhasil keluar dari mobil namun lututnya berdarah dan tangannya terluka.


"Andini, jangan lari." Pria itu berusaha turun setelah merapikan celananya yang telah poranda.


"Hei jangan Lari," Teriaknya lagi.


Andini berlari dengan sisa tenaganya menyelinap di balik pohon yang besar.


Devan masih celingukan mencari Andini dibalik gelapnya malam.


Andini menahan nafasnya sebisa mungkin ketika pria itu lewat didepannya.


"Akkkhh ... Bisa bisanya dia lolos." Pria itu berteriak geram.


"Aku pasti menemukanmu."

__ADS_1


Ketika Devan menjauh dari persembunyian Andini. Gadis itu segera menyelinap ke pohon yang satunya, yang lebih jauh dari keberadaan Devan. Namun sayang sekali pergerakan Andini diketahui oleh Devan. Dan pria itu berhasil menangkap Andini yang kedua kalinya.


"Hei ! jangan kabur."


"Sttttt ...." Secepat kilat, Andini sudah berada di dekapan Devan. Pria itu berhasil menangkap Andini lagi.


Tubuh Andini yang sudah penuh luka dan noda darah di bajunya kini pasrah, ia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan pria binatang itu. Menangis dan hanya menangis.


"Menyerah lah, Andini. Jadilah milikku." Devan mengusap darah segar yang mengalir dari pelipis Andini. Dan mengusap sudut bibirnya.


Andini menggelengkan kepala, ia sangat jijik oleh sentuhan itu.


"Jangan Dev, jangan lakukan ...!" Tak henti menggelengkan kepala.


Gelengan kepala Andini tak berarti apa- apa untuk Devan.


Devan mulai merobek baju Andini dengan paksa, hingga ia bisa melihat tubuh Andini bagian atas. Dan tangan besarnya mengusap rambutnya yang harum dan hitam lurus. Usapannya semakin turun ke bawah dan hampir saja menyentuh dua buah yang ia bungkus dengan perisai itu.


"Jangan, aku mohon."


Andini memejamkan mata, lelehan air mata terus saja membanjiri pipinya. Andaikan bisa saat ini ia akan lebih memilih mati daripada kegadisannya akan direnggut secara paksa seperti ini.


"Tuan, lepaskan aku. Apa salahku pada anda tuan!" Suara Andini kini mulai lirih penuh permohonan.


Ia pasrah, jika takdirnya memang harus mati setalah ternoda. Andini akan mengakhiri hidupnya, jika devan berhasil menodainya.


"Salah kamu adalah, kamu terlalu cantik, Andini. Aku ingin memilikimu. Aku ingin memiliki tubuh indah ini seutuhnya. Devan mulai menciumi rambut leher dan merambat ke pipi dengan bringas.


Andini tak sanggup menolak lagi sekujur tubuhnya terasa sakit. Tangan yang masih ter ikat, membuat ia semakin lemah.


"Lepaskan dia !!!" Suara serak dari arah belakang terdengar menggema, mengagetkan pria yang sudah dipenuhi nafsu itu. Ia segera berbalik dan melihat siapa yang sudah mengganggu kesenangannya.


Saat membalikkan tubuh, belum juga tau rupa siapa yang datang, Devan sudah menerima satu tonjokan keras di hidungnya, tonjokan itu sudah dipastikan membuat tulang hidungnya patah. Darah segar mulai merembes dari kedua lubang nya


.


"Berani sekali kau menyentuhnya ! Kurang ajar terima ini!" Pria itu kembali memukul rahangnya yang tegas hingga keluar dari sudut bibirnya.


"Akkkkhhh !" Devan mencoba membalas pukulan yang membabi buta, pria itu dengan lihai menangkis, Devan masih kalah dalam keahlian berduel dibandingkan pria itu.


"Ahhhkk !!" Devan memekik kesakitan, ketika satu pukulan lagi mengenai perutnya.


Devan mengerang kesakitan akibat tendangan beruntun oleh Miko. Walaupun telah terluka. Devan sekuat tenaga masih tak berhenti melawan pria yang membuatnya babak belur. Karena kesakitan pukulan Devan makin melemah dan dia ambruk, Devan tak sadarkan diri.


Andini yang mendapatkan pertolongan, segera berlari kepelukan sang malaikat.


"Miko, hiks ... hiks ... hiks"


"Tenang, sudah ada aku disini, kamu akan baik baik saja, Girl."


"Aku takut Miko, aku takut " Andini terisak di dada bidang pria itu.


Miko membalas pelukan Andini dengan penuh kehangatan.


"Kamu terluka."


"Ini luka kecil, tak sebanding dengan luka yang aku peroleh jika kamu tak datang menolongku." Andini kembali menjatuhkan kepalanya di dada Miko.


Miko menatap Andini dengan tatapan tak tega. Wanita yang dicintai terluka sedemikian rupa.


Melihat luka ditubuh Andini, membuat Miko semakin geram ingin segera membunuh pria itu saja. Namun Andini mencegahnya.


"Jangan lakukan Miko, jangan kotori tanganmu, aku tak mau kamu mendekam di penjara karena membunuh." Andini terus memohon pada Miko.


Miko ingin rasanya kembali menghajar pria itu hingga tak berbentuk lagi, tapi Andini terus saja melarangnya. Ia takut ke belakangnya akan semakin rumit.


"Girl, mulai sekarang berhati-hatilah dengan pria, seorang pria tak akan bisa jika tak jatuh hati padamu." Kata Miko sambil mengusap wajah Andini dengan lembut. Andini mendongakkan kepala membalas dengan seulas senyum.


Miko mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Dan membersihkan luka yang ada di sudut bibir Andini


Miko kasihan dengan Andini yang tak pernah mendapat kebahagiaan seusai pernikahannya.


"Miko darimana kau tau, aku sedang dalam bahaya? Apa kau ini malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolongku?" Tanya Andini ketika Miko membersihkan lukanya, dua makluk itu kini duduk di kursi kayu yang sudah usang di tepian jalan. Miko menyalakan senter di hpnya, ia banyak menemukan luka goresan dan memar di wajah dan leher Andini.


"Kamu berlebihan Andini, aku datang karena Asistenku yang menginformasikan semua, dia tadi melihatmu keluar dari club dengan pria itu."


"Apa Asistenmu itu pekerjaannya mengawasi ku."

__ADS_1


"Andini, aku menginginkanmu, aku tak akan membiarkan gadisku terluka," Miko mengelus pipi Andini dengan ibu jarinya. Andini membalas menjatuhkan tubuhnya di dada pria itu.


Andini dan Miko mereka bersaudara, tapi rasa yang ada di hati Miko lebih dari itu.


"Andini peluk aku selalu seperti ini, dengarkan jantungku berdetak sangat kencang. Aku takut cinta ini akan semakin besar ketika belum waktunya. Aku takut dia akan meledak."


Miko menangkupkan wajah Andini sesaat mengamati lekat biar puas. Lalu pria itu menggendongnya, membawa masuk ke mobil dengan hati-hati.


****


Miko dan Andini kini berada satu mobil. Miko segera mengemudikan mobilnya membawa Andini pergi.


Sedangkan Miko mengisyaratkan anak buahnya supaya mengamankan Devan. Miko memerintahkan para pengawal untuk menyeret Devan, mengikat tangan dan kakinya lalu memasukkan ke dalam mobil.


"Miko kita akan kemana?"


"Andini, aku ingin kamu tinggal di rumah yang akan menjadi milikmu sendiri, aku tak mau kau tinggal bersama pria tak bertanggung jawab itu."


"Tapi Miko, aku tak bisa."


"Bisa Andini, aku akan membuat semuanya baik baik saja. Aku akan membuat papa membatalkan semuanya." Kata Miko sambil terus mengemudi. Hanya sesekali saja menoleh ke arah Andini.


Andini percaya dengan Miko sepenuh hati. Miko dan Andini, semakin hari semakin menemukan kenyamanan satu sama lain.


Miko menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di rumah mewah berlantai dua. Rumah bercat gold dengan halaman luas itu membuat Andini seketika terpana. Rumah itu memiliki pagar tinggi dan diujung pagarnya menancap kaca runcing, memastikan pemiliknya akan aman berada di dalamnya.


"Rumah siapa ini Miko?" Andini heran.


"Ini rumah peninggalan kekek. Rumah ini untuk kita nanti."


Tapi aku rasa kau sudah membutuhkannya sekarang. Sebagai calon istriku kau bisa menempatinya sekarang.


"Prok ! prok !" Miko memberi sebuah kode. satu asisten wanita dan dua security mendekat.


"Tolong layani Nona Andini dengan baik, jangan sampai kekurangan satu apapun." Kata Miko terlihat tegas.


Sisi Miko yang selalu tersenyum dan menghibur tak terlihat lagi.


"Andini kamu tinggal disini, aku pasti akan sering mengunjungimu,"


"Miko tapi aku khawatir Arsena akan marah jika aku tak pulang."


"Andini pikirkan yang perlu saja. Pria itu yang telah kau hubungi pertama kali, kau harapkan dia datang menolongmu, apakah dia datang? Kalau aku terlambat sedikit saja, aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi denganmu.


Lupakan pria tak berguna itu."


Mendengar kata-kata Miko. Andini memilih diam, yang dikatakan pria itu semua benar, Arsena tak datang saat ia sudah berulang kali menghubunginya dengan panggilan cepat secara otomatis tadi


Miko beranjak pergi mengisyaratkan palayannya untuk membawa Andini masuk.


Sedangkan ia hendak pergi karena masih ada urusan lagi. Miko tak tinggal di mansion itu. Dulu, ia hanya mengunjungi satu bulan sekali, entah sekarang kalau ada Andini yang menepati.


"Miko mau kemana?"


Tenang kau aman disini.


"Miko, apakah aku boleh tetap bekerja, nantinya?"


"Buat apa, Girl? Pikirkan kesehatanmu dulu, Kamu bisa belanjakan card ini sepuasmu." Miko menyerahkan kartu ATM dari sakunya.


"Maaf Miko, aku masih punya uang, aku ingin ilmu yang aku dapat selama ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan."


"Keinginan yang mulia, kau menolak card ini, Girl. Kamu memang wanita unik, baiklah aku mengizinkan kau bekerja, kau seorang dokter, sudah sepantasnya menolong mereka yang membutuhkan, tapi ingat kau harus tetap hati-hati saat aku tak bersamamu.


Andini mengangguk.


Miko tersenyum.


"Bi, tolong besok temani Andini. kemanapun ia pergi."


"Baik Tuan." Para pelayan muda itu mengangguk hormat.


Miko mengisyaratkan pada mereka agar membawa Andini masuk.


"Mari Nona, kita masuk ke dalam. Kita bersihkan luka tubuh Nona sebelum semua semakin parah." Kata pelayan itu sambil menggandeng tubuh Andini masuk dengan hati hati.


Dua pelayan itu mengantarkan Andini pada salah satu kamar di rumah besar itu. Kamar yang paling besar dan mewah. Pemilik rumah sepertinya sudah tau selera orang yang akan tinggal di dalamnya. Kamar dengan interior unik dan aneka hiasan. Serta aroma wangi khas farfum mahal.

__ADS_1


__ADS_2