Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 246. Pakai Cincinnya.


__ADS_3

"Gina, tolong tinggalkan kami berdua, dia adik pemilik perusahaan ini." Davit mengambil keputusan terbaik, kasihan juga kalau wanita tak bersalah harus menjadi korban cemburunya Arini lagi untuk yang kesekian kali.


"Iya, Pak." Gina patuh setelah mendengar siapa Arini sebenarnya, dan betapa besar kekuasaannya.


" Saya tunangannya, Mbak, jangan berani goda calon suami saya, kalau masih mau kerja disini." Ketus Arini yang tak puas dengan penjelasan Davit tentang siapa dirinya.


"Tidak Nona." Gina memilih menunggu di kursi kerjanya, sambil memeriksa


"Sayang, dia nggak menggoda, sejak tadi dia cuma melakukan tugasnya." Davit berkata lemah lembut. Mencoba memahami di posisi Arini. Pria itu menggandeng Arini supaya duduk di kursi empuknya. " Maunya kayak gimana sih?"


"Nikahin Arini! aku mau kita cepat-cepat nikah, biar aku nggak darah tinggi harus cemburu pada wanita wanita yang dekat dengan kakak." Arini berkata dengan tegas dan serius. Sesekali mendongak melihat kearah Davit yang berdiri di sebelahnya.


"Bukannya kamu yang minta kita nikah pas liburan semester, biar bisa bulan madu ke siangapore, kok sekarang berubah?"


"Karena wanita yang tergoda sama Kakak makin banyak, dan Arini nggak mau ambil resiko kehilangan Kak Davit."


"Terlanjur sayang banget ya?" Davit menutup laptopnya. lalu berdiri.


"Enggak."


" Bohong. Aku tahu, keputusanmu waktu itu mematikan ponsel, justru semakin membuat dirimu tak tenang hingga kau mencariku sampai kesini."


" Enggak, biar status kita jelas aja,"


Davit menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan. " Cemburu yang kemaren gimana kelanjutannya?


"Aku sudah maafin Kak Davit."


" Dimana salahku." Davit membela diri.


Arini kalah telak. "Ya udah kalau begitu aku yang minta maaf, aku minta maaf telah cemburu pada masa lalu kakak."


Tapi aku belum bisa maafin. Kamu mematikan telepon, hal itu sangat menyakiti aku dan nenek, yang kedua kamu sudah berani keluar dengan pria lain tanpa izin, sedangkan sejak malam itu kamu sudah sah menjadi tunanganku, dan sebagai calon suami aku harus memastikan calon isteri ku tak berhubungan dengan pria lain. Dan ketiga kamu sudah membuat nenek bersedih.


"Apa permintaan maaf Arini belum cukup menebus kesalahanku Kak?"


"Bukan tak cukup, tapi aku masih ragu, apa setelah minta maaf kamu akan mengulangi kesalahan dengan tak percaya padaku seperti tempo hari? Kamu sudah meragukan ketulusanku, sedangkan kamu terus berduaan dengan orang yang menghancurkan acara tunangan kita."


"Maksudnya?"


"Dirimu pasti tak percaya kalau yang menukar beberapa foto itu adalah ulah Nathan."


"Kak Davit, berhenti menuduh Nathan," Arini terkejut dengan tuduhan Davit. Dia menggelengkan kepalanya sambil berdiri dari kursinya menghampiri Davit.


"Sudah kuduga pasti tidak akan percaya." Raut kecewa terlihat di wajah Davit.


" Tapi aku kenal Nathan, dia tak pernah curang." Arini dalam dilema.


Davit tersenyum. " Sudah ku duga, dirimu pasti menganggap aku bohong. Dan jika tidak ada kepercayaan diantara kita, Artinya kita belum layak melangkah ke jenjang berikutnya."


Arini diam, dia berjalan menuju jendela, netranya menerawang jauh pada cakrawala. Dia menyadari satu hal, betapa dewasanya pria di depannya. Dan betapa kekanakan dirinya. Masalah seperti ini saja dia harus kesulitan


"Aku akan percaya pada Kak Davit selamanya, jika kali ini Kak Davit bisa membuktikan kalau Nathan memang pria yang telah sengaja mengacaukan acara tunangan kita." Akhirnya Arini mengambil keputusan


"Duduklah kembali aku akan tunjukan semuanya." Pinta Davit.


Arini menurut, dia duduk kembali di kursi Davit. Sedangkan Davit mengambil.kursi lain dan menariknya di dekat Arini lalu mereka duduk bersebelahan.


Davit menunjukkan sebuah Arloji merk terkenal, beberapa hari dia melihat Nathan memakainya.


"Aku menemukan benda ini di kamarku." ujar Davit. Kening Arini mengkerut. Davit tahu bukti ini belum cukup kuat, itu artinya Arini masih belum percaya, Davit kini menunjukkan lagi bukti kedua. Flashdisk


" Masih belum percaya" tanya Davit lagi bergaya polisi muda.


Arini terdiam seribu bahasa, dia sangat malu dengan kelakuannya beberapa hari ini.


Arini berlari memeluk Davit dengan ketat, rasa bersalah dan malu sudah menjadi satu.

__ADS_1


"Nggak dilihat dulu rekamannya," tanya Davit. Dia tak membalas memeluk Arini. Rasa kecewa Davit masih terlalu dalam.


"Tidak aku sekarang percaya apapun yang dikatakan calon suamiku, aku akan mempercayainya seperti pada diriku sendiri."


"Apa kau juga akan percaya kalau aku hanya mencintaimu? Aku akan setia selamanya?" tanya Davit dengan sorot mata serius.


"Iya, Aku akan percaya, Arini semakin mempererat pelukannya. Davit memebalas memeluk Arini.


" Dicemburui itu rasanya sakit, jangan pernah cemburui aku lagi."


Arini menggelengkan kepalanya. "Maaf."


"Bagaimana jika sekarang aku cemburu denganmu? Kau dan Nathan?"


"Aku minta maaf, aku akan traktir kakak makan siang di cave depan perusahaan." Arini mengalihkan topik pembicaraan.


" Aku karyawan disini. Aku harus kerja, sebaiknya kembalilah ke kampus, walau tak bisa ikut pelajaran pertama, masih ada pelajaran kedua dan berikutnya."


"Tapi aku tadi belum sarapan."Rengek Arini manja.


Davit mengacak rambut Arini gemas. _Oke setelah sarapan janji mau balik kekampus ya? Aku akan menjemputmu nanti."


"Siap komandan."


Davit tersenyum melihat Arini bercanda, mencubit hidung kekasihnya dengan gemas.


Arini dan Davit keluar dari ruangan pribadinya, Gina sang sekretaris mengacuhkan mereka berdua, sekretaris itu sudah patah hati di hari pertama. Apalagi melihat hari ini yang sengaja memamerkan kemesraan di depannya. Arini menggamit pinggang David, dengan sengaja menempelkan kepalanya di bahu sang kekasih.


Sampai di cafe pun beberapa karyawati rupanya lagi asyik membicarakan direktur baru itu.


"Gila direktur baru cakep abis masih muda lagi."


"Iya, kalau dilihat dari penampilannya sih sepertinya dia masih perjaka." Salah seorang menimpali.


" Bener nggak sih dia masih muda banget?"


"Gimana kalau kita berlomba jadi kekasihnya."


"Pagi Pak" Sapa salah seorang karyawati. Davit tersenyum.


"Eh udah agak siang, siang pak!"


"Siang" David tersenyum ramah.Dia menoleh kearah Arini yang sedang telepon meminta izin kepada dosennya.


Bukan apa-apa tapi takut karyawan yang menyapanya akan menjadi sasaran empuk seperti Gina tadi pagi.


Davit kini duduk di nomor meja yang berbeda. Disebelah karyawan yang kini tengah sibuk memandanginya. Bahkan ada yang sengaja melempar senyum termanisnya.


Davit berusaha ramah membalas senyumnya. Sebagai direktur baru dia tak mau dikenal sebagai sosok yang sombong.


"Kak Davit!" Panggil Arini yang datang dari arah samping. Lalu duduk di depan Davit. Bibirnya sudah mengerucut melihat para karyawati mencari perhatian pada kekasihnya.


"Sudah teleponnya, Sayang."


"Sudah!" Ketus Arini. Davit menyodorkan buku menu di depan Arini.


"Kak, mana tangannya!"


" Buat apa sih."


" Udah buruan, mana tangannya?"


Davit mengalah kini memberikan tangan kanannya pada Arini.


Arini menyusupkan cincinnya. " Kak cincin tunangan ini jangan pernah terlepas dari jemari Kakak. Biar mereka pada tahu kalau kakak sudah akan ada yang memiliki." Arini berkata suaranya agak dibuat tinggi. Sengaja didengarkan oleh karyawan yang terus menatapnya sinis. Karena beruntung bisa dekat dekat dengan Direktur keuangan yang baru.


"Yang, pesan aja sekarang mau menu apa?"

__ADS_1


" Kak Davit, pelupa banget sih. Sudah tau aku suka lobster, nanti siapin aku ya, ambilkan dagingnya dari cangkangnya."


"Iya iya." Davit menjawab dengan suara lirih.


Arini tak kehabisan akal dia masih ingin membuat karyawati yang masih bertahan di sebelahnya risih. "Kak Davit bisa lihat sesuatu di pipi Arini nggak? Rasanya entah kenapa seperti ada yang nempel."


Davit mengelus pipi Arini. "Nggak ada apa apa, coba lihat aja pake cermin."


"Nggak aku mau tangan Kak Davit disini. "Arini tersenyum merasakan telapak tangan Davit mengelus pipinya. Dia merasakan sebuah ketenangan.


Rencana Arini berhasil, para karyawati itu pergi setelah dia tahu kenyataan direkturnya sudah tak sendiri lagi.


Arini tersenyum senang bisa menunjukkan pada semua orang kalau Davit hanyalah miliknya seorang.


_____


"Beraninya Elo hancurin rencana gue. Gue Pastikan elo menyesal."


"Lepasin gue Nat, apa salah gue mengatakan pada Arini kalau sayang sama Elo, elo juga tau kan semenjak elo datang ke kampus gue udah sayang sama elo."


" Benar elo sayang sama gue? Kalau elo sayang sama gue berarti elo mau kan ngenengin gue hari ini." Nathan berkata dengan emosi membuncah. Matanya merah seperti kerasukan.


"Jangan Nat, elo gila ya ...."


"Elo yang gila, elo sudah ngehancurin rencana gue, sekarang gue nggak punya kesempatan lagi buat deketin Arini."


Arini memang nggak pernah sayang sama Lo, dia anggap Lo cuma sebagai sahabat." Salsa menjawab dengan suara tertekan.


"Arini hampir bisa gue dapatin tapi karena elo, dia nggak akan pernah mau lagi sama gue." pria itu mendorong Salsa ke pintu yang sudah terkunci.


Nathan mulai memaksakan kehendaknya pada Salsa, Gadis itu tak bisa menyelamatkan dirinya karena Nathan sudah mengunci setiap pintu. Nathan mengubah kursi kursi di dalam mobilnya menjadi datar, pria itu melampiaskan hasrat setannya kepada Salsa.


"Elo harus bayar semuanya, biar kita sama sama menderita. Sal." Senyum smirk keluar dari bibir Nathan yang puas merenggut kegadisan salsa. Noda merah menetes di jok mobilnya, rupanya Salsa benar-benar masih virgin.


Usai melampiaskan hasratnya Nathan mencampakkan salsa begitu saja. pria itu tanpa dosa memakai bajunya lagi.


"Turun elo sekarang dari mobil gue." bentaknya. Salsa hanya bisa menangis meratapi kemalangan nasibnya.


"Bentar Nat, sakit banget tau. Elo jahat banget ternyata, gue nyesel udah sayang sama elo. Padahal gue yakin kemaren kemaren elo pria yang baik. Tapi aku ternyata salah."


"Gue nggak peduli, turun elo." Nathan membentak Salsa yang masih merapikan bajunya.


"Setelah Salsa turun, Nathan segera melajukan mobilnya dengan kencang. Gadis itu hanya bisa meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya.


Salsa bingung ingin meminta bantuan pada siapa, akhirnya ia terpaksa menghubungi Arini, teman yang sudah ia khianati.


 


Arini yang sedang menikmati lembutnya daging lobster langsung dari tangan sang kekasih, merasa terganggu oleh dering panggilan dari Salsa.


"Ngapain ni pelakor?" Sungut Arini.


"Siapa, Yang?" Tanya Davit.


"Yang tadi pagi habis Kakak kasih bunga?"


" Bunga?" Davit bingung.


"Iya, bunga Mawar Kuning."


" Siapa yang ngasih? dia yang meminta, tapi nggak aku kasih. Apa mungkin dia mengambil di tong?" Davit berkata sambil tersenyum.


"Bener bener si Salsa," desah Arini, membiarkan ponsel berdering begitu saja.


"Angkat sayang, siapa tahu penting." Kata Davit lagi.


Arini sebenarnya malas, tapi dia terpaksa harus belajar patuh dengan sang kekasih, akhirnya ia ambil ponselnya dan menempelkan di telinga sambil terus mengunyah daging lobster.

__ADS_1


"Ada apa telepon gue?" Ujar Arini dengan nada sengit.


R


__ADS_2