Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 286. kondisi Arsena.


__ADS_3

Vanya mengemudi dengan tangan bergetar, dia tak kuasa melihat tubuh sahabatnya penuh luka terutama lutut dan tangannya. Vanya berusaha membangunkan Andini tapi tak berhasil.


 Andini memiliki riwayat penyakit lemah jantung yang suka kambuh ketika dia sedang dalam kondisi tidak menyenangkan. Itulah penyebab ketakutan utama Vanya.


"Ndin bangun, kamu nggak boleh gini. Ingat anak-anak masih membutuhkan dirimu." Vanya berbicara sambil menatap Andini iba. 


Belum sampai di Hospital, Vanya sudah memerintahkan perawat dan petugas penjemput pasien untuk standby di tempatnya masing masing. Kabar Andini dan Arsena mengalami kecelakaan menjadi kabar menyedihkan untuk khalayak rumah sakit.


Johan dan Rena sudah tak bisa berpikir jernih, hanya ada kepanikan dan khawatir berlebihan. Menyalahkan Davit dan Arini yang tak tau apa apa. Anak-anak yang mulai mengerti kepanikan orang tua mulai ikut sedih dan menangis bersama. 


"Cepat bawa ke UGD dan lakukan penanganan terbaik, jangan sampai terjadi apa apa pada Dokter Andini. Atau kita semua kehilangan pekerjaan ini." Vanya memerintahkan asistennya untuk bekerja maksimal. 


Perawat segera bekerja dengan cekatan, memasang selang infus dan nebulizer dengan sempurna. Tak lama layar EKG pun mulai berdentang sesuai detak jantungnya. 


Vanya memandangi Andini sambil menggigit bibirnya, tangannya kanannya terlipat di perut dan tangan kirinya bersandar di dagu. Memikirkan kenapa Andini belum siuman juga. Apakah benturan yang ia alami sangat keras. 


Vanya teringat kalau Andini sedang hamil. tapi dia bukan ahli kandungan, tak mungkin bisa melakukan pemeriksaan yang tak sesuai dengan keahliannya.


Vanya akhirnya memerintahkan seorang perawat untuk memanggil Namira dan Vano secepatnya. Walaupun dia sendiri sebenarnya malas bertemu muka dengan dua orang yang berhasil mengacaukan hatinya itu. 


"Van apa yang terjadi dengan Dokter Andini?" Tanya Dr. Namira masuk ke dalam ruang UGD dengan tergopoh. 


"Kemungkinan dia didorong dari mobil, dia juga mengalami Vasovagal sinkop. Tapi justru yang paling saya khawatirkan adalah janin yang ada di kandunganya. Vano, Namira, kamu ahlinya tolong selamatkan dia." Vanya menangkupkan tangannya pada dua orang yang kini berdiri di depannya, layaknya orang lain yang tak saling kenal. 


"Vanya, tak perlu memohon seperti itu, kita sama sama Dokter disini, ini sudah tugasku." Namira terlihat bersikap begitu lembut di depan Vanya ketika ada Vano. 


Vanya hanya tersenyum lalu menjauh, Vano menahan lengan Vanya, dia sepertinya ingin berbicara sesuatu pada istri Ken dengan sangat manis, pria itu pasti belum tahu perihal pernikahan yang dilangsungkan kemarin malam. Yang ia tahu Ken sudah dia enyahkan sejak malam itu. "Lepaskan tanganku, ada wanitamu disini."


"Lakukan pemeriksaan untuk Andini sekarang Mir, aku ingin tahu kondisi janinnya." Perintah Vanya, sambil menghempaskan lengan Vano.

__ADS_1


"Siap Dokter Vanya." Namira menatap Vanya dan Vano bergantian.


Vanya sedikit heran, seperti apa hubungan sebenarnya antara wanita itu dan Vano. Kenapa di depan Namira, Vano bersikap demikian. Tidakkah dia menjaga hati wanitanya itu. Bukankah demi wanita itu Vano rela berkhianat dibelakangnya. 


Vanya memilih tak memikirkan hal itu lagi, Vanya memastikan Namira memeriksa kondisi Andini dengan benar, dia tidak akan meninggalkan sahabatnya itu. Ia abaikan Vano yang sejak tadi berusaha mengambil simpatinya.


"Yang dilihat Andini terlalu menyakitkan, dia masih ingin tidur, dia akan kembali siuman setelah hatinya sedikit tenang." ujar Vanya. 


Vanya segera keluar dengan Aura kembali sedih melihat sahabatnya yang tak baik baik saja, dia tadi hanya berusaha tersenyum di depan orang yang tak pantas untuk melihat kesedihannya. 


Vanya menghubungi Polisi yang sedang melakukan pencarian untuk Arsena. Rupanya Miko dan Davit sudah tiba di lokasi kejadian, sedangkan Johan dan Rena beserta anak anak dalam perjalanan menuju rumah sakit. 


****


Mobil Arsena sudah rusak terbakar, warna cantik merah kini sudah berubah menjadi merah tua dan hitam pekat di bagian tertentu.


Tim SAR berusaha membuka bagian kemudi mobil, dia lega setelah tak ada orang di dalamnya, andaikan ada pasti dia sudah tak ada harapan hidup, di sebabkan oleh ledakan mobil yang ia lihat tadi terlalu besar. 


"Tuan, Tuan, biarkan kami bekerja." Salah satu petugas mengingatkan.


"Biarkan kami membantu, kakak saya lebih cepat ditemukan, akan lebih baik," bantah Miko keras kepala.


Anggota polisi tak bisa memaksa, dia sudah tau pria itu adalah keluarganya. Terlihat dari sikap keras kepala dan wajahnya yang tak jauh berbeda. 


Tebing yang terjal dan kondisi lahan yang tak rata mempersulit pencarian. Miko berharap tubuh Arsena tak tergelincir jatuh ke sungai yang tak jauh dari lokasi jatuhnya mobil. Andaikan itu terjadi, tubuh Arsena pasti sudah terseret arus. 


Miko mengedarkan pandangan sekitar lokasi, dia melihat ada tubuh meringkuk di bawah pohon pisang, dan tertutup tingginya daun ilalang, Miko segera berlari menghampiri tubuh itu. " Kak Arsen!" Miko berlari sambil memekik. 


 Semua wajah menoleh ke arah Miko. Mikolah yang menemukan Kakaknya lebih dulu. "Davit, ini tubuh kakakku!!"

__ADS_1


Davit dan Miko segera membalik tubuh Arsena yang tak sadarkan diri. Tim SAR segera membawa tandu untuk menggotong tubuh Arsena. Kondisinya sangat memprihatinkan, luka luka terlihat disekujur tubuhnya.


"Kak! Kak! Kau harus hidup, kau tak akan membuat Andini sedih Kan?" 


Miko mengejar tubuh Kakaknya yang ada di atas tandu. Davit terlihat banyak berdoa daripada menunjukkan kepanikannya. 


Davit segera menghubungi Vanya agar megosongkan satu UGD lagi. Vanya segera memberi tempat untuk Arsen di sebelah Andini. Sepertinya dua sejoli akan lebih baik di rawat di kamar yang sama daripada dipisahkan. 


Ambulance dan iringan mobil polisi serta beberapa mobil pribadi segera bergerak menguasai jalanan membawa tubuh Arsena menuju rumah sakit.


Kabar duka segera terdengar kepada orang orang yang ia sayangi, Warga yang menyayanginya, dan anak yatim yang sering dia kunjungi tiada henti henti melakukan doa bersama. Mereka berharap Arsena akan tetap hidup dan dia akan mendapatkan banyak hadiah dan baju baru. 


Pintu UGD kembali terbuka, Vanya segera memberi instruktur pada perawat agar menempatkan Arsena di sampihg Andini. Semua dokter ahli di bidangnya segera berkumpul dan bekerja dengan skil hebat yang ia miliki. 


Miko yang hampir tak pernah menangis, sore ini dia terisak isak. Davit yang berada di koridor pundaknya juga naik turun, dia pasti juga menangis. 


Dua orang yang ia sayangi harus mengalami kejadian mengerikan disaat dia bahagia di mansion miliknya. Jika sampai terjadi apa apa dengan Andini dan Arsena Miko akan mengutuk dirinya sendiri yang bodoh.


"Kak Miko, Semua akan baik baik saja. Mbak Andini wanita kuat, Kak Arsen apalagi." Dara berusaha menghibur suaminya. Dia hanya pura pura tegar saja. Padahal dirinya sendiri juga berat menghadapi semua ini. 


Ana entah berapa kali pingsan sadar dan pingsan lagi, putri yang memiliki hati selembut sutra, pemaaf dan hampir tak pernah melihatnya marah itu harus terkulai lemah. 


Ruang UGD tertutup sudah satu jam lalu, dokter di dalam tak ada satupun yang keluar, jendela pengintai pun ditutup rapat. 


Keluarga makin gelisah dan was was. Mereka duduk di depan ruang UGD sambil membaca doa.


 Miko mondar-mandir tak tenang di depan pintu, beruntung ada Dara dan Mida yang bisa menjadi penyejuk hatinya.


Miko tak kuasa bila harus menemui para pencari warta yang berharap mendapat kabar terbaru tentang pemilik PT Wilmart yang sedang mengalami musibah, hingga meregang nyawa.

__ADS_1


Miko menyerahkan pekerjaan ini pada Davit, pria itu terlihat lebih tegar saat menghadapi beberapa wartawan yang menerobos masuk halaman Hospital.


__ADS_2