
"Andini ... !"
"Andini ... !"
Arsena mencari Andini kekamar, ke dapur hingga ke kamar mandi namun Andini tak ada dimanapun.
Pria itu mencari Andini karena baju yang akan ia pakai ke kantor belum siap, air untuk mandi hangat belum ada. Ruang kerjanya juga masih berantakan. ia tak menemukan Andini di manapun.
"Den ... Non Andini semalam belum pulang." Kata bibi dengan raut wajah takut. Ia takut Andini akan mendapat amarah ketika pulang nanti. "Mungkin tadi malam kemalaman, Jadi dia memilih tidur di rumah temannya."
"Andini ... !!"
Arsena merasa kecewa, ini sudah kedua kalinya wanita itu tak pulang. Kalau sampai dia pulang Arsena sudah menyiapkan hukuman yang berat buat Andini, biar dia mulai mengerti artinya tepat waktu buat Arsena.
Arsena mencoba menghubungi ponsel Andini. Ponsel itu berdering tapi tak kunjung ada yang menerima panggilannya. Membuat Arsena semakin geram. Merasa dipermainkan.
"Pak Doni, semalam Andini belum pulang, tolong cari informasi tentang dia, bersama siapa dan apa saja yang dilakukan di malam itu."
Baik, Den. Doni segera meluncur ke jalanan dengan mobil pribadinya. Dia melacak semua cctv yang ada dijalanan, mulai dari depan rumah hingga tempat club yang ia datangi.
Arsena mondar-mandir di dalam ruang tamu, ia gelisah marah dan panik.
Arsena mencoba berprasangka baik pada Andini. Ia duduk di sofa sambil mengurut keningnya yang terasa pusing.
*****
Triiing!!
Ponsel berbunyi satu kali.
Secepat kilat Arsena menggeser layar ponselnya.
"Katakan Pak Doni. Berita penting apa yang sudah kamu dapatkan?"
Nona Andini datang ke clup bertiga, tapi ia keluar sendiri dengan seorang pria, ketika malam tengah larut.
"Pria? Apa dia Si Bren*sek, Miko?"
"Bukan dia bukan Den Miko, Dia kakak dari Nona Liliana."
"Devan?"
"Anda benar, Den. Nona Andini menuju parkir dan mereka berdua"
"Kurang ajar, berani sekali mengganggu istriku, sudah kubilang aku tak mengizinkan dia untuk mengganggu Andini, masih saja keras kepala. Dan kenapa Andini juga mudah sekali mengikuti, bukankah dia baru saja kenal."
"Arggggg." Arsena semakin marah, benda-benda di dekatnya menjadi sasaran. Arsena takut Andini di jatuh kepelukan Devan. Sesama pria Arsena bisa membaca kalau Devan sepertinya pria yang berpengalaman merayu wanita.
"Den, pengecekan CCTV sebaiknya di lanjutkan atau kita langsung kerumah pria yang membawa Nona Andini.
"Oke kita langsung keapartement Devan saja. Jika aku menemukan Andini bersama pria itu, aku akan langsung ceraikan dia hari ini juga."
"Mohon jangan buru buru Den, setahuku Nona Andini tak seperti itu. Dia gadis yang baik dan tulus."
__ADS_1
"Aku tak perlu pendapat darimu, Pak Doni."
"Maaf, Den." Yang diseberang hanya bisa menarik nafas, pendapatnya tak dihargai sedikitpun.
Arsena segera menutup panggilan dari Doni, ia tak sabar menunggu Doni untuk menjemputnya, akhirnya ia memakai mobil yang lainnya dan segera meluncur ke arah apartement Devan.
Sampai di basement Apartement, Arsena segera memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia berlari menuju lift nomor delapan, dia sudah tahu tempat tinggal pria itu karena Devan tinggal di lantai yang sama dengan Lili.
"Tok ... tok ... tok ... "
"Buka pintunya !!" Arsena sudah tak sabar ingin memergoki Andini dan Devan di apartement. Jika semua itu terjadi Arsena akan memberi hukuman yang berat buat Andini yang telah berani berselingkuh.
Pria dengan luka di tubuhnya berjalan sempoyongan membukakan pintu. Devan hampir saja mati di tangan anak buah Miko. Pria itu mempunyai pengawal tersembunyi yang bisa muncul setia saat.
Untung Devan bisa menghubungi sahabatnya, ia datang sebagai polisi untuk menyelamatkan jiwanya, yang terancam mati di tangan anak buah Miko. Polisi, sahabat Devan segera membawanya pulang dan akhirnya ia selamat.
Devan membuka pintu Apartement dengan segera, setelah mengintip dari balik jendela kaca tadi. Ternyata yang datang adalah rival kerjanya, bukan Miko atau anak buahnya yang mengancam akan membunuhnya.
Devan menunjukkan wajahnya yang babak belur di hadapan Arsena.
Namun, sejak datang tadi Arsena sudah menampakkan wajah yang tak bersahabat.
"Dimana Andini?" Kata Arsena dengan suara baritonnya. Tanpa basa-basi lagi.
"Dimana kau sembunyikan dia?" Arsena meraih kerah baju Devan. "Jawab!!" Sentaknya.
Arsena melepaskan kerah Devan, berjalan masuk tanpa permisi mencari keruangan yang lain, tapi tak ada Andini di apartement itu.
"Siapa yang kau cari? Apa ART mu itu?" Kata Devan terus mengikuti Arsena menelusuri tiap ruangan apartemennya.
"Apa kau pikir aku meniduri ART mu itu?"
"Sampai disini, aku curiga jadinya? Apakah wanita itu ART dirumahku atau dia sebenarnya wanita simpananmu." Kata Devan berbalik tanya. Devan mulai curiga dengan Arsena yang mengkhawatirkan Andini berlebihan.
"Jangan khawatir. Dia Andini, ART ku Devan. Aku tak mau dia lepas tanggung jawab dari pekerjaannya." kata Arsena yang mulai sadar kalau Devan mulai mencurigainya, karena sikapnya baru saja semua orang pasti akan merasa kalau yang hilang adalah wanita pujaannya
"Oh, kukira kau telah mengkhianati Adikku." Kata Devan mulai duduk di sofa.
Arsena pun ikut duduk di sofa yang lainnya. Kini mereka berdua berhadapan. 'Katakan Dimana Andini, Aku membutuhkannya sekarang, dia tak boleh meninggalkan tanggung jawabnya, Karena di rumah banyak pekerjaan menantinya.
"Asal kamu tau, ART itu kurang ajar sekali, dia telah mencoba merayuku." Jelas Devan memutar balikkan fakta, Cara bicaranya di buat semenyakinkan mungkin.
"Merayumu?" Arsena tak yakin dengan kata kata Devan. Ia menyipitkan satu matanya.
"Apa kau tidak percaya?" Devan melihat aura wajah Arsena yang terlihat tak begitu saja mempercayai ucapannya, sepertinya dia harus berusaha semaksimal mungkin dengan rangkaian kata kebohongan lainnya.
Devan tak akan melepaskan Andini, yang menolak bercinta dengannya, karena dia tubuhnya kini babak belur. karena dia ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Devan ingin membalas semua luka yang kini ada ditubuhnya.
"Dia mendatangiku, saat aku sedang duduk di salah satu kursi yang ada di club, dia menawarkan dirinya untuk bermalam denganku, kau tau dia terus menggodaku, walaupun aku katakan aku sedang tak ingin bercinta dengan wanita."
Deg, jantung Arsena seakan berhenti berdetak, amarah kecewa, bercampur menjadi satu. Ia tak menyangka Andini yang dilihatnya lugu berani menggoda pria lebih dulu.
Tidak mungkin, Andini seperti itu, papa memilih Andini pasti karena dia gadis baik baik. Batin Arsena.
__ADS_1
"Apa kau bisa mempertanggungjawabkan kata katamu itu? Kau tak lagi mengfitnah Andini, kan? Jangan-jangan kau babak belur karena ditolak oleh dia?"
"Ha ... ha ... ha ....Adik ipar, apa aku ini tak cukup tampan, kenapa kau berfikir aku ini serendah itu, biar begini aku lulusan LN, aku pengusaha muda dan tampan aku bisa dapat wanita seperti yang kuinginkan." Devan berkata penuh percaya diri, gerakan tangannya mengekspresikan kalau dia benar benar na'if mendekati wanita rendah seperti Andini.
"Kenapa sekarang kau babak belur?" Tanya Arsena lagi masih berusaha mencari kebenaran pada diri Devan.
"Ya, karena aku menolaknya, dia dan teman temannya memukuliku." Jawab Devan asal namun penuh tipu daya.
"Andini, apa benar kau wanita seperti itu. Andini aku kecewa denganmu."
Arsena berdiri meninggalkan ruang tamu. Ternyata Doni menunggunya di luar pintu. Pria itu mencuri dengar pembicaraan mereka.
Arsena keluar dari apartement Devan dengan hati yang terluka, Arsena tak pernah merasakan sakit hati seperti sekarang yang ia alami. Mungkinkah cinta di hati Arsena mulai tumbuh, walau sebesar biji kedelai?
Arsena turun kembali dari lantai delapan menuju basement.
Arsena menginginkan Doni untuk mencari Andini ke tempat yang mungkin ia datangi.
Doni pergi lebih dahulu meninggalkan basement, Arsena masih berfikir, kemana dia akan mencari Andini selanjutnya.
Arsena bimbang, akankah yang diucapkan Devan itu benar?
Tapi mengapa Andini tak pernah merayunya ketika tinggal bersama.
Arsena tak percaya begitu saja, ia masih harus mencari kebenarannya.
Andini kenapa kau merepotkan ku sekali, sejak kehadiranmu, hidupku menjadi tak tenang seperti ini.
Arsena menyandarkan kepalanya sesaat, ia tak perduli dengan tempat parkir yang mulai panas. Arsena sejak pagi juga belum meneguk setetes air pun kedalam kerongkongannya.
Merasa perutnya sangat lapar, ia akhirnya memarkirkan mobilnya di salah satu restaurant yang menjual aneka menu ikan penyet dan lalapan.
Pria itu memesan ikan gurami penyet satu porsi, ia mulai menikmati sarapannya, dalam keadaan perut yang lapar seharusnya ia bisa menikmati sarapannya, tapi entah kenapa lidahnya merasakan kalau masakan restaurant ini tak seenak gurami penyet bikinan Andini.
Arsena terpaksa hari ini libur ke kantor, ia menginginkan Galang menghandle semua pekerjaannya. Ia juga menanyakan Miko, apakah dia datang ke kantor atau libur. Kalau libur, dia yakin pasti Andini sedang bersamanya.
Namun Galang menginformasikan kalau Miko ternyata ke kantor, bahkan ia sangat bersemangat dengan pekerjaannya.
*****
Devan yang mulai curiga dengan Arsena ia menghubungi Lili. Ia menceritakan semua tentang kekhawatiran Arsena dengan wanita yang diyakini menjadi ART dirumahnya itu.
Lili yang mendengar itu semua ia sangat marah. Namun sayangnya kontrak ekslusif dengan stasiun televisi di luar negeri sudah ditandatangani. Jika ia tak menyelesaikan maka denda sangat besar yang harus dibayar.
Arsena bisa saja memberinya uang untuk membayar denda itu, tapi baru saja dua Minggu yang lalu ia meminta mobil senilai Milyaran.
Yah, Lili harus bisa menahan diri sedikit lagi. sebelum statusnya menjadi Nyonya Arsena Atmaja sepenuhnya.
*happy reading
* Don forget
Like
__ADS_1
vote
komen