
"Andini berani sekali kau datang di acara pesta ini bersama Miko, rupanya kau selama ini selingkuh." Tangan Arsena mengepal tiba-tiba saja ia tak bisa mengontrol emosi jiwanya.
"Kau selingkuh dengan Miko bajingan itu." Geramnya lagi.
Arsena terus saja mengawasi Andini yang kini tengah bermain sandiwara. Andini pura pura tak melihat Arsena yang raut wajahnya sudah berubah merah mirip kepiting rebus.
Andini berhasil membuatnya semakin meradang, andai ia ikut audisi dalam dunia akting pasti akan menempati urutan pertama. Yang aneh disini kenapa Arsena harus marah? Bukankah ia sekarang juga tengah ditemani wanita cantik.
"Andini apakah malam ini kamu senang?" Tanya Miko. Senyum terus saja terukir di bibir pria itu. Pesta dansa malam ini membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Tentu, terima kasih Miko. Kamu sudah mengajakku, aku yang seharusnya telah tidur nyenyak memeluk guling meratapi nasip burukku, Kini aku bisa merasakan berkumpul dengan orang-orang menyenangkan disini," kata Andini sambil terus saja menikmati dansanya, jari jari Andini masih nyaman di pundak Miko.
"Andini, kasian sekali kamu. Aku akan segera membebaskanmu dari perjanjian konyol itu." Kata Miko sambil menyibak anak rambut Andini yang jatuh menutupi wajahnya. Perhatian Miko semakin hari semakin besar, pria itu sungguh ingin menjadikan Andini pujaan hatinya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku Miko, biarkan aku melalui ini semua. Ini takdirku. Aku yakin pasti ada hikmah di balik semua ini."
Arsena mengatupkan bibirnya rapat rapat, tangannya mengepal semakin keras. mendengar mereka berdua begitu nyaman satu sama lain. Andaikan ini bukan di khalayak ramai Arsena ingin sekali mematahkan buku-buku jari Miko yang berani menyentuh bagian tubuh Andini.
Apakah Arsena mencintai Andini? Tentu tidak, pria itu hanya tak ingin Miko mengambil apa yang menjadi miliknya, Dendam yang ada dihati Rena mengalir juga di darah Arsena.
Berulang kali lili mencoba mengalihkan pandangan Arsena agar hanya dirinya seorang yang dilihat. Namun Arsena malam ini begitu keras kepala.
"Sreeet"
Miko terkejut, Arsena menarik lengan Andini dengan paksa.
Tiba-tiba Arsena meminta bertukar pasangan dansa. Andini kini sudah ada di dekapan Arsena, dan Lili bersama Miko.
"Wanita murahan, bisa bisanya pergi dengan pria lain?" Arsena mengumpat tepat di telinga Andini.
"Kenapa kamu marah ? Karena aku datang ke pesta teman kamu dan berdansa dengan adikmu? Lalu kamu ... Kamu bersama kekasihmu dan meninggalkan Istri ... Upssss maaf aku bukan istri, tapi Babu."
Andini tak menghentikan kata katanya, walau ia sedang kesakitan karena Arsena mencengram pinggang dengan kuku jari jarinya.
"Andini ternyata benar dugaan ku, kamu wanita murahan, kamu ini sudah bersuami tapi kamu membiarkan tubuhmu di disentuh pria lain!" Kata Sena dengan amarah yang sengaja ia tahan hingga urat urat di kepalanya begitu terlihat. Arsena memutar tubuh Andini dengan kencang. Membuat ia terpelanting. Menarik lengannya dengan kasar hingga jatuh kembali dipelukannya. Andini seperti boneka yang ditarik ulur oleh Arsena sesuka hatinya"Akkkhhhh ...."
"Lepas ...."
"Kenapa? Pria itu tadi menyentuhmu kamu nyaman saja? Kenapa suamimu baru memeluk seperti ini kamu sudah menolaknya .... hah."
"Lepaskan Ars." Arsena mengeratkan pelukannya. Andini semakin tak bisa bergerak.
"Kamu sudah gila ya?" Andini menggigit lengan Arsena. Pria itu kesakitan dan melepaskan pelukannya pada tubuh Andini.
Andini tersenyum sinis, "mungkin ini karma suamiku yang telah menyia nyiakan istrinya."
"Cukup Andini! Ayo kita pulang sekarang!"
"Tidak, aku tak akan pulang aku sedang ingin bersenang-senang malam ini. Oh iya? Kenapa kau tiba-tiba peduli denganku? Emangnya aku ini siapanya kamu?"
"Terserah kalau itu maumu." Arsena mengakhiri dansanya, ia memutar tubuh Andini dengan kencang. Membuat ia terpelanting keluar lokasi dansa sekali lagi. Andini hampir saja terjatuh. Kalau tak sigap memeluk kursi didekatnya.
Miko dan Lili juga sudah tak melanjutkan dansanya lagi. Dua makluk itu juga terlihat begitu asing. Entah asing atau memang ada sesuatu diantaranya. Miko memilih kembali duduk di kursinya. Sedangkan Lili menyongsong Arsena yang sudah mengakhiri dansa nya dengan Andini.
"Beb, ayo kita pergi aku jadi tak berselera lama-lama disini, karena dua makhluk ini." Arsena menggandeng tubuh Lili dengan mesra sambil keduanya tersenyum sinis ke arah Andini. Setelah itu Arsena mengecup rambut Lili, hal serupa ia lakukan berulang kali.
Andini melihat keduanya berpelukan begitu mesra, ada rasa nyeri membalut di ulu hatinya. Andini yang diam-diam telah mencintainya kembali terluka oleh sikap Arsena.
Andini yang bodoh, ia merasa menjadi makluk terbodoh karena mencintai pria yang tak pernah menghargai perasaannya.
Andini meraih minuman dalam gelas yang berjajar rapi di dekatnya.
Tak lama minuman dengan alkohol sedang itu telah beraksi pada tubuh mungilnya. Tubuh yang sebelumnya murni, tak pernah meneguk minuman memabukkan walau setetes, Tubuh Andini berlahan mulai sempoyongan, mata besar nan indah telah berubah memerah.
"Andini apa yang kamu lakukan?" Miko merebut gelas ke lima yang berhasil Andini kosongkan. Wanita malang itu mulai merancau tak karuan. Tubuhnya mulai memanas.
Andini, berhenti!! Apa karena pria tak tau diuntung itu kamu melakukan ini semua!!" ucap Miko pada Andini yang mulai kehilangan akal sehatnya. Miko kini membopong tubuh Andini ke mobil sebelum keadaannya semakin parah.
"Miko, apa aku salah jika mencintai suamiku? Katakan Miko dimana salahku?" Rancau Andini yang sudah mulai mabuk.
"Tidak Andini kau tak salah. Baiklah kita pulang. Maafkan aku mengajakmu kesini. Karena aku kau jadi seperti ini."
"Miko, menurutmu aku cantik nggak?"
"Cantik, kamu cantik, Girl."
"Miko kenapa dia tak mau denganku hah ... Dia nggak tau kalau aku cantik ya, gadis itu jelek kan ... Mikooo!!"
__ADS_1
"Iya tenang Girl, kamu diam dulu kita pulang ...!"
Miko memasangkan sabuk pengaman untuk Andini. Pria itu mulai menjalankan mobilnya pelan.
"Miko, kamu suka nggak sama aku ...."
" Ha ... ha ... ha .... Kita pacaran yuk Miko, Mau kan jadi pacar aku."
Andini berbicara ngawur tanpa di filter karena sedang mabuk berat. Tapi Miko sedang sadar seratus persen. Mendengar ungkapan hati Andini tiba-tiba ia yakin kalau itu pasti dari lubuk hatinya.
Miko, mau kan jadi pacar aku? Andini menempelkan kepalanya di sandaran mobil, dan keadaannya semakin kacau. Kekecewaan di wajahnya begitu terlihat.
Miko menenangkan Andini dengan meraih tubuhnya dan mendekap dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya fokus mengemudi.
Miko kembali membawa Andini ke apartemennya. Jika ia membawa ke rumahnya, Miko yakin Arsena tak akan merawat dengan baik. Ia terlalu bodoh untuk memahami seorang wanita.
Miko merebahkan tubuh Andini di ranjang big size miliknya. Ia melihat wanita itu begitu menderita. Keringat mulai bercucuran di dahinya, Andini terus merancau tak bisa diam.
"Miko ... Kamu aja yang jadi pacar aku
Dia jahat Miko. Dia pria jahat ...."
"Iya, iya ... Aku ada untukmu Girl."
Miko dengan telaten menyeka keringat Andini yang terus bercucuran.
Andaikan kau berkata semua ini dalam keadaan sadar Andini, aku akan sangat senang. Sayang sekali kau hanya berkata disaat kau tak bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu.
Perut Andini mulai bergejolak, Dia memuntahkan cairan dengan aroma sangat menyengat khas bau alkohol..
"Hoek ! Hoek !"
Miko memijat tengkuk Andini pelan-pelan. Tanpa merasa jijik sedikitpun.
"Andini kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini, kau ini lucu tak pernah minum saja sok sok'an minum banysk." Gumam Miko.
"Andini aku sepertinya harus mengganti bajumu, kau pasti tak nyaman memakai baju basah seperti ini."
Miko mengambil kunci motor yang ada di gantungan dinding dan segera menuju parkir untuk mengambil Motor.
Di tengah malam ia membangunkan Mama untuk meminta kunci butik.
"Buat siapa, Miko?" Kata Mitha sambil senyum-senyum.
"Buat temen, Ma."
"Temen apa demen nie, syukur kalau kamu udah ada demenan, biar cepet nyusul kakak kamu?"
Mitha memberi Miko satu stell gaun tidur berbahan dasar halus.
"Ni berikan buat calon mantu Mama, tapi awas kalau macam-macam sebelum nikah!!" Ancam Mita.
"Apa'an sih, Mama nie." Miko tersipu malu. Miko merahasiakan jika Andini yang bersamanya ia tak mau jika mamanya mengira telah menyembunyikan istri kakaknya.
Miko telah mendapatkan yang dicari, ia segera balik ke apartement. Miko kini bingung kembali, mencari cara bagaimana membuka gaun dari tubuh Andini.
-
-
Miko lega setelah menyelesaikan semuanya. Selesai muntah tadi Andini juga tertidur dengan pulas.
Miko duduk di sofa sambil menatap wajah Andini dari kejauhan, wajah manis yang terlihat semakin polos mirip boneka Barbie ketika tertidur.
****
Pagi hari
"Tidur dimana aku!?" Andini mengamati kamar besar yang belum pernah dilihat sebelumnya. "Ini bukan kamar Arsena. Lalu siapa pria di sofa itu."
"Baju siapa yang kupakai ... Semalam aku kan mabuk. Jangan jangan pria itu sudah menggantinya.
Andini segera turun dari ranjang dan mendekati pria yang bergelung dengan selimut di sofa. Pria itu tertidur sangat pulas hingga mendengkur.
"Miko ...!'
"Jangan-jangan Miko sudah mengganti bajuku, tidak, ini tidak mungkin..." Andini menatap dirinya sendiri dengan tatapan risih. Mengamati gaun yang dipakainya telah teronggok di pinggir ranjang, lenyap berganti dengan baju tidur.
__ADS_1
Andini mundur beberapa langkah, kemudian berlari meninggalkan apartement Miko dengan menggunakan baju tidur sambil menangis.
"Tidak! tidak! mungkin Miko melakukan semuanya sendiri. Tapi tak ada orang selain dia disana."
Andini berlari keluar basement ia hendak mencari angkot. kini Andini sedang dalam keadaan yang terpuruk. Memikirkan semalam, memikirkan Arsena.
Andini berdoa dalam hati semoga Arsena tak kecewa dengan kelakuannya yang tak pulang semalaman.
_
_
Ceklek Andini membuka pintu depan, jantungnya dag, dig, dug, Namun ia yakin lelaki pemalas itu pasti masih tidur.
Ploook ! Ploook ! Ploook ! (Suara tepuk tangan)
"Bagus, Andini. Bagus .... " kata Arsena dengan senyum dinginnya. "Istri Marcello Arsena Atmaja baru pulang, lihatlah dia!!" ujar Sena dengan nada mengejek.
"Ars ... " Menggelengkan kepala. Andini tersudut oleh kenyataan yang ada didepannya.
"Papa?"
Kapan papa datang? Kapan Mama sudah pulang. Akh ... Andini sangat takut bahkan tubuhnya telah menghangat dengan kaki yang bergetar.
"Dari mana kamu? Kenapa sepagi ini baru pulang?" Mama juga sama kecewanya dengan Arsena.
Andini mendekati keberadaan Mama, wajahnya tertunduk, apa yang akan dijelaskan pada mertuanya, tak mungkin ia merangkai sebuah kebohongan, sedangkan Arsena semalam melihat sendiri ia telah datang dan pulang bersama Miko.
"Maafkan Andini Ma." Tubuh Andini gemetar. Dia sangat takut pada tiga orang yang menatapnya dengan penuh tanya.
Yang lebih mengejutkan bagi Andini. Tak menyangka mereka telah menunggunya di ruang tamu sepagi ini
Arsena mendekati Andini menempelkan hidungnya di telinga Andini sambil membisikkan kata yang membuat Andini semakin hancur.
"Semalam kau pasti sudah tidur dengannya?" Arsena mencengkeram pinggang Andini. Ia ingat betul adik tirinya yang tak pernah care dengannya menyentuh pinggang istrinya itu, Baju yang berbeda dengan yang semalam ia pakai membuat Arsena semakin yakin diantara mereka berdua pasti sudah terjadi sesuatu.
"Tidak Ars ... Kami tidur di tempat yang berbeda."
"Bohong." Suara Arsena terlalu pelan untuk di dengar oleh mereka, Andini kini melihat sisi terburuk suaminya, tatapan memangsa dan raut wajah merah padam.
"mana kau tau kalau dia telah menidurimu, kau kan mabok di malam itu."
Tersenyum sinis sambil menatap jijik "Murahan? Tetap saja murahan. Aku lebih tau siapa pria brengsek itu dibandingkan kamu."
.
Arsena kemudian pergi setelah menatap Andini dengan muak. Kepergian Arsena disusul oleh kepergian Mama. Mereka berdua sama sama meninggalkan ruang tamu.
Pagi ini mama baru pulang dari LN dan papa menjemput dari bandara. Mereka sudah datang sejak tadi malam, dan memutuskan untuk bermalam di rumah putranya.
Mereka mengira hubungan Andini dengan Arsena sudah ada kemajuan, namun yang terlihat malah kebalikannya. Arsena nyaman dengan dunianya bersama Lili dan Andini malah membuat jarak mereka semakin jauh.
"Tunggu, Andini akan jelaskan." Andini menahan langkah mereka.
"Papa, Andini bisa jelaskan," Andini menatap wajah Johan yang juga terlihat kecewa.
"Cukup Andini, papa mungkin bisa mengerti, tapi tidak dengan Arsena. Dia pasti akan semakin sulit membuka hati untukmu." kata papa berfikir realistis.
"Mama ... Ini tak benar."
"Ha ... ha ... Andini dimana-mana kalau maling juga nggak akan ngaku. Lagian papa sih main jodohkan saja, Arsena itu sudah cocok sama Lili, wanita yang paling pantas menemaninya itu Lili."
Andini yang tak mendapat pembelaan memilih mendekati Arsena. Andini tak kuasa jika Arsena semakin membencinya.
"Ars, aku akan jelaskan."
"Jangan mendekat Andini, Aku benci kamu," Arsena kini pergi kelantai dua. Pasti ke kamarnya
Sedangkan Andini juga menuju ke kamarnya. Entah kenapa amarah Arsena begitu menyakiti hatinya, terasa ada yang sesak di rongga dadanya.
Sesungguhnya semalam tak ada yang ingin Andini tunjukkan, hanya rasa cemburu saja yang menguasai hati dan pikirannya.
"Kenapa jadi begini,kenapa aku tak ingat apapun yang terjadi semalam."
Andini melampiaskan amarahnya di kamar mandi ia membuka paksa baju yang menempel di tubuhnya dan membuang ke pembuangan air. Baju itu seakan membawa bencana untuknya, hingga menyisakan baju dalamnya saja.
"Hiks ... hiks ... hiks ..."
__ADS_1
Andini duduk sambil memeluk lututnya membiarkan air shower terus membasahi sekujur tubuhnya.