Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 135. Kembali ke rumah besar.


__ADS_3

Anita memandang kepergian Arsena dan Andini dengan hati yang mengepul, niatnya ingin membuat wanita yang dicemburui kebakaran jenggot, malah dia yang mendapatkan semprot kata-kata pedas dari Andini.


"Huff .... " Anita menghembuskan nafas kasar, langkah kakinya di hentak-hentakkan menuju parkiran mobil.


"Andini beruntung sekali sih hidup elo, cowok yang gue sayangi sejak kecil malah sekarang jatuhnya ke pelukan elo. Dengan mudah elo bisa memiliki semua kekayaan dia, Sedang gue yang selama ini bermimpi harus merana kayak gini." Anita mulai menyalakan mesin mobilnya dan memutar keluar gerbang rumah sakit dengan kencang layaknya sedang kesetanan.


Sedangkan Arini dan Zara menjaga Mama Rena. Mereka bertiga tadinya keruang Mama, tapi ternyata Arsena tak ada di ruang rawat Mama. Andini bertanya pada petugas kebersihan dengan menyebutkan ciri ciri suaminya, dia bilang sedang pergi ke taman dengan seorang wanita.


Andini segera bergerak cepat, alhasil dia memergoki suaminya dipeluk Anita.


 


Wanita hamil itu berjalan masih dengan posisi menggandeng lengan suaminya. Namun langkahnya yang tergesa membuat sang suami curiga, Andini terlihat seperti orang sedang marah.


"Ars, ikut aku keruanganku sekarang," ucap Andini diktator.


"Iya, ini juga sudah mau kesana."


Andini membuka ruang pribadinya yang kembali terkunci, Zara dan Arini rupanya masih ada di ruangan Mama dirawat..


"Sayang, ada apa kok buru buru? Pelan pelan aja jalannya."


"Sudah, diam!." Andini menjawab dengan nada ketus


Setelah sampai di ruang pribadinya, Andini mendorong tubuh Arsena, Arsena yang tak siap dengan gerakan refleks dari Andini, tubuhnya hampir saja terjengkang, Untung ada meja kerja dibelakangnya yang menahan tubuhnya, hingga ia duduk diatas meja yang biasa digunakan Andini bekerja.


"Ada apa? kok tiba-tiba galak gini." Arsena heran namun juga tersenyum.


Andini mendekatkan tubuhnya, menghimpit tubuh Arsena. " Pikir sendiri ada apa tadi?"


"Hei Nona, kamu tadi di depan Anita baik- baik saja, kenapa sekarang aku disiksa begini? Sayang, kau cemburu ya?" Tanya Arsena lagi.


"Enggak siapa yang cemburu." Andini memalingkan wajahnya.


"Aku cuma nggak suka aja ada bekas cewek lain tubuh suamiku." Andini mulai membuka kancing Arsena paling atas.


"Bekas apa sih? Nggak ada, cuma peluknya dari belakang aja.aku juga nggak ngerasain apa-apa.


"Emang mau ngerasain apa!? Dasar pria dimana mana sama aja, Mentang-mentang istri lagi gendut begini diem aja di peluk yang masih cantik masih gadis, nggak ada niat buat nolak iya!? Ayo jawab!"


Gadis darimana, pa*tat aja udah melorot semua," ledek Arsena. Justru ucapannya membuat Andini makin naik pitam.


"Arsenaaaaa !!"


"Iya Sayang, kok makin marah sih, wanita hamil kalau cemburu kok serem ya!"


"Emang darimana kok tau pant*at Anita udah melorot. Pasti ...." Andini memukul dada bidang Arsena ia sudah berprasangka buruk sebelum Arsena menjelaskan.


"No no no ! Jangan mikir aneh-aneh. Anita dan aku nggak ada yang spesial, kita cuma teman." Arsena menahan pukulan Andini yang bertubi tubi dengan telapak tangannya.


"Buka bajunya, aku nggak rela ada bekas lotion Anita nempel di hem, kamu."

__ADS_1


"Sayang, kalau baju ini dilepas, telanjang donk, nggak ah ... malu kalau kepergok Zara dan Arini nanti. Dia belum cukup usia untuk melihat dada six pack milikku" Arsena menyilangkan lengannya di depan dada seolah takut teraniaya.


"Ars, aku minta mandi sekarang! dan aku akan mencuci bajunya." Andini memaksa membuka hem warna hitam milik Arsena.


"Oke oke aku nyerah, aku buka bajunya dan aku akan mandi."


"Cowok, ganjen banget," eluh Andini.


Arsena hanya menarik nafas dalam dan mengalah.


Diam-diam ia kasihan juga melihat Andini buang buang energinya hanya untuk cemburu. Padahal seujung kuku pun, Arsena tak memiliki ketertarikan pada wanita lain selain dirinya.


Andini mengayunkan kaki hendak pergi ke kamar mandi untuk mencuci bajunya, rencananya akan dikeringkan dengan kipas angin. Atau Davit saja disuruh ke supermarket untuk membeli yang baru.


"Andini!" Arsena memanggil Andini. Wanita sedang dilanda gundah karena cemburu itu seketika menoleh.


Arsena menarik lengan istrinya penuh kelembutan, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.


"Sayang," ucap Arsena dengan mesra.


Belum sempat menjawab Arsena sudah merengkuh pinggangnya. Dan mendudukkan di pangkuan.


"Please, jangan buang energimu untuk cemburu. Cukup untuk menyayangiku, dan melayaniku saja."


"Aku milikmu, tak ada manusia yang memiliki hak lebih besar, selain dirimu. Aku mencintaimu." Arsena menggigit telinga Andini dan membisikkan kalimat bernada sayang itu. Membuat hati Andini yang sempat hangat kini menjadi sejuk kembali bak disiram air es.


" Kamu bisa dipercaya?"


"Andini melengkungkan bibirnya, mengukir sebuah senyum dan terlihatlah lesung di pipinya."


"Kalau begini kan cantik, yang lihat juga senang." Arsena mencubit hidung Andini gemas.


"Sayang, lihatlah, betapa mama kamu takut ditinggal sama, Papa. Dia ternyata sangat pencemburu." Arsena membalikkan tubuh Andini dan menyapa bayi kembarnya.


"Cemburu itu, karena sayang." kata Andini masih nggak mau kalah.


"Iya, iya percaya, kalau sayang banget ke aku."


"Ars, aku mandi dulu, habis itu kita kembali ke ruangan Mama." Andini merasa tubuhnya lengket, semenjak hamil dia cepat sekali berkeringat.


"Ya kamu duluan, aku tunggu baju dari Davit, yang itu buang aja, daripada bikin kamu keinget terus sama kejadian tadi."


"Biar aku cuci saja, ya. Sayang, bajunya baru dipake sekali."


"Terserah, kalau itu mau kamu."


Andini masuk kamar mandi, ia mulai mencuci baju Arsena dan sekalian mandi. Sedangkan Arsena duduk di kursi kerja Andini tanpa memakai hem.


"Ada ada saja. Andini ini." Arsena geleng geleng kepala. heran dengan sikap istrinya yang berlebihan.


Arsena kini bersandar sambil memutar kursi goyangnya. Saat sendiri kembali ia teringat tentang mama yang belum juga siuman.

__ADS_1


******


"Tok tok tok!"


"Vit!"


"Iya tuan ini saya," ujar Davit dari luar pintu.


Arsena segera membuka pintu setelah diketahui yang mengetuk pintu adalah Davit. "Mana bajunya."


"Ini Tuan, Kalau boleh tahu emang baju Tuan ada dimana?" Tanya Davit yang melihat Arsena sedang tak memakai baju, terlihat wajahnya menahan senyum.


"Kenapa senyum?"


" Nggak, aku lihat badan Tuan muda bagus, Pantes aja cewe cewe banyak yang naksir, Tuan."


"Davit menyerahkan dua stel hem baru kepada Arsena, walau harganya murah tapi Arsena yakin Davit bisa dipercaya memilihkan baju yang nyaman dipakai.


Arsena memerhatikan hem yang masih berada di gantungan dengan teliti, selera Davit lumayan juga menurut Arsena, tapi rupanya Hem yang satunya Arsena kurang menyukai karena warnanya. Akhirnya pria itu memberikan satu Hem yang berwarna coklat kepada Davit dan dirinya memakai biru laut.


"Ni, uang ganti untuk kedua Hem ini, semoga cukup, soalnya aku nggak bawa uang banyak." Arsena menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Cukup Tuan. Oh iya, Tuan. Tadi Pak Johan, nitip ini untuk diberikan kepada anda."


Arsena melihat black card yang ada ditangan Davit.


"Anda jangan salah paham, beliau menitipkan kepada saya, supaya anda tak bisa menolaknya."


Arsena tak segera mengambil card di tangan Davit, Arsena masih bimbang. Namun David memaksa, Dia memasukkan cart itu ke saku celana Arsena. " Maaf Tuan, kalau saya lancang."


Arsena kembali menarik nafasnya panjang. Memakai semua fasilitas mewah, sama artinya dengan kembali mengemban tanggung jawab menjadi seorang Dirut.


"Baiklah aku terima."


Terima kasih Tuan, anda mempermudah pekerjaan saya.


"Ya, sekarang pulanglah, ini juga sudah malam. Tapi sebelumnya tolong antarkan Andini dan Arini pulang, biar Para laki-laki saja yang menjaga Mama disini."


Siap Tuan, aku tunggu para Nona di mobil. " Davit melenggang pergi. Arsena mengamati pria itu dari belakang. Sepertinya dia suka cara kerja Davit. Arsena memiliki ide untuk meminta pada Miko agar Davit bekerja padanya saja sebagai pengganti pak Doni.


Arsena merasa canggung jika menjadikan Papa mertuanya seorang sopir. Di satu sisi ibu Ana juga membutuhkan partner kerja di usaha restaurant yang kian hari makin ramai. Mama juga butuh teman yang bisa antar belanja.


Miko juga sudah sembuh, pria itu tak suka naik mobil, dia lebih suka naik motor besarnya. Jadi dia juga tak begitu membutuhkan tenaga Davit.


Selesai acara mandi Andini kembali mengunjungi Mama. tubuhnya sudah segar dan wangi. Andini berdiri di samping mama dan kembali bersedih melihatnya belum juga siuman.


"Mama Andini pulang ke rumah dulu ya, Mama cepat pulih, Mama nggak boleh lama-lama sakitnya, kasian Papa, Papa sangat sedih. Dan mama apa nggak ingin melihat cucu pertama Mama lahir?"


"Mama kemaren ingin mengelusnya kan. ini pegang Ma, dia sudah mulai bergerak. iya kan Ma, Mama pasti bisa merasakan." Andini menempelkan telapak tangan mama pada perutnya.


Semua orang yang melihat Andini terus berbicara dengan Mama nampak sedih. Tak menyangka menantu yang ia benci tak memiliki sedikitpun rasa benci, apalagi ingin balas dendam.

__ADS_1


__ADS_2