Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 144. Miko kembali.


__ADS_3

Oma kini berpindah duduk di sebelah Zara, ia memeluk Zara yang masih terlihat linglung. Sedangkan Andini berada di sisi yang satunya.


"Zara, Mert adalah cucuku yang sangat baik, dia terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan, jika dia melakukan semuanya karena mencintaimu, semoga kedepan kalian akan bahagia." Do' a Oma untuk Zara.


Zara yang masih menundukkan wajahnya, ia mengangguk pelan. " Amin, Oma."


"Sebaiknya kita berkumpul di ruang keluarga saja, jika akad jadi dilakukan besok, setidaknya kedua mempelai harus berbicara lebih dulu, bagaimana pernikahan nanti dilaksanakan." usul Arsena yang bersandar di ambang pintu


"Arsena benar, Ndin. Zara kita berkumpul di ruang keluarga sebentar ya Nak, sudah bisa berjalan kan? Pelan-pelan saja."


"Biar Arini yang akan gandeng Zara keluar Oma," ujar Arini. Walau ia lebih muda tapi Zara pernah meminta Arini untuk memanggil dengan nama saja. Biar lebih akrab katanya.


Andini yang tadinya begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa asistennya, kini lama-lama mulai bisa mengendalikan keadaan.


Wanita yang makin hari perutnya makin besar itu terus berada di samping Zara.


Sedangkan Arsena masih dengan caranya yang kasar membawa Mert dihadapan keluarga.


"Mert, lihatlah apa yang kamu lakukan sangat menyakiti istriku, dia harus menangisi Zara hingga sedemikian rupa." ucap Arsena masih dengan nada Ancaman.


Mert lagi lagi hanya diam, ia menurut Arsena membawanya kemana.


"Duduk breng*ek !!" Arsena melepaskan kaos Mert, mendorong hingga tubuh atletis itu terjatuh di kursi.


"Ars, jangan terlalu kasar, kamu apakan saja Mert sampai babak belur seperti ini." Oma tak tega melihat wajah Mert lebam di sana sini.


" Iya Ars, besok dia akan jadi pengantin, apa kata orang nanti kalau babak belur begini." Rena ikut menimpali.


"Hah, ini belum pantas untuk menghukum perbuatannya Ma, untuk pria sebr*ngsek dia dia harusnya dapat hukum kebiri dan mendekam dua puluh tahun dipenjara."


"Kak Mert, kenapa sih harus lakukan itu pada Zara, Kak Mert nggak tau ya hukumannya sangat berat." Arini ikut ambil kesempatan bicara.


Zara ikut mendongak mendengar Arsena dan Arini berujar demikian. Terlihat Zara tak rela kalau Mert sampai menjalani hukuman itu.


"Zara, putuskan sekarang! Kau menghukum dia, atau kalian menikah." Tanya Arsena yang tak mau duduk dia hanya berdiri disebelah istrinya dengan melipat tangannya di dada.


Zara kembali menundukkan wajahnya, memejamkan matanya sesaat, bersama dengan jatuhnya tetes air mata.


"Zara memutuskan ingin membina rumah tangga dengan Tuan Mert."


"Syukurlah." Oma tersenyum bahagia


Mert juga bahagia ia terlihat mengusapkan kedua telapak tangan di wajahnya.


"Mert, sekarang juga berbicaralah empat mata dengan Zara, sepertinya kalian berdua harus belanja baju untuk pernikahan." ucap Oma mengingatkan.


"Iya, Oma. Nanti akan belanja di butik bibi Mita saja. Bajunya selain bagus, wajah Mert juga bonyok begini." Mert meringis merasakan pukulan Arsena di pelipisnya baru saja.


"Siip lah, kalau begitu. Oma juga akan mempersiapkan seserahan yang akan kita bawa kerumah Zara besok."


"Baiklah Zara karena kamu memutuskan menikah. Sebaiknya hari ini kamu pulang, nanti biar diantar sopir, besok ketika kami kesana orang tuamu tidak akan terkejut dengan kedatangan kami." ujar Oma panjang lebar.


"Soal ukuran baju, nanti bisa diukur sesuai tubuh Arini saja. Kalian juga hampir sama."


Dibalas anggukan oleh Zara." Iya Oma."


 


Zara siap-siap untuk pulang. Dia akan diantar oleh sopir Davit sampai rumahnya.


"Zara, jangan lupa besok kita menikah, kesempatan ini gunakan untuk menjelaskan apa yang terjadi diantara kita pada Davit." Mert membantu Zara memasukkan barang barangnya kedalam tas.


Zara hanya diam, bahkan ia menarik tasnya menjauh dari Mert.


Mert menerima diamnya Zara, Zara berhak marah pada Mert, pria itu sudah cukup memiliki kebahagiaan dengan menjadi istri wanita idamannya besok. Mert yakin Zara juga memiliki cinta untuknya, hanya saja Zara belum bisa memaafkan kejadian malam itu.


Mert kembali keluar dari kamar Zara , dia harus segera mengurus semua surat yang akan dikirim di KUA. Mert berharap pihak KUA bisa diajak bekerja sama, menyelesaikan dengan cepat. Mengetahui Mert adalah keluarga ningrat Atmaja. Berkas yang dibutuhkan pun jadi dalam semalam.

__ADS_1


Zara dan Davit segera menuju kediaman orang tua Zara. Benar dugaan Zara, Davit belum tau apa-apa soal kejadian semalam.


"Zara, kita kan sudah sepasang kekasih kenapa kamu di belakang dan aku di depan."


"Maaf Kak Davit, Zara tidak bisa lagi menjadi kekasih buat kakak, besok Zara akan menikah dengan tuan Mert. Dan hari ini Zara akan memberitahu Mamak dan Bapak di kampung." ujar Zara panjang lebar.


"Zara, sedang bercanda ya, nggak lucu ah." Kata Davit sambil tersenyum.


"Tidak bercanda Kak, Zara baru sadar kalau Tuan Mert adalah pria yang Zara cintai, Tuan Mert baik dan bisa menjanjikan Zara sebuah kebahagiaan."


Degg


Aliran darah menuju jantung Davit seakan tersumbat. Terasa nyeri seperti ditusuk belati.


Davit menghentikan mobilnya mendadak, untung jalanan menuju kampung Zara tergolong sepi hanya ada satu dua kendaraan bermotor yang mendahuluinya


"Zara kamu sadar yang kamu katakan itu menyakiti hatiku." Davit berbalik menghadap kebelakang, setelah memposisikan mobilnya di tepi jalan, hanya sebelah ban mobil saja yang menginjak jalanan hitam.


"Maaf Kak Davit, Zara kemaren telah salah memilih Kak Davit, Zara sadar kalau Zara butuh banyak uang, butuh orang kaya yang bisa mengubah hidup Zara yang susah ini. Zara tak mau selamanya hidup susah kak David."


Davit hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak percaya, gadis selugu Dara bisa berucap demikian menusuk. Zara wanita baik tak mungkin dia menyakiti dirinya hingga sesakit yang dirasakan saat ini.


"Kak Davit. Maafkan Zara."


"Zara, kamu bercanda kan?" Davit memegang kedua pundak Zara. Mencari kebenaran ucapan gadis yang dicintai itu dari kedua sudut matanya.


Suasana sesaat menjadi pilu, Zara sengaja melukai hati Davit agar pria itu mudah melupakannya.


Davit menitikkan air matanya. "Sesakit ini Zara rasanya kau permainkan, semalam kau bilang menerima aku, sekarang kau akan menikah. Kenapa tidak kau bunuh saja aku."


"Maafkan Zara, Kak. Maaf, Zara sudah nyaman dengan Tuan Mert."


"Aku mengerti Zara, aku paham, semoga kau bahagia." Davit berbalik menghadap ke depan kembali. Menyeka air mata dengan lengannya, seragam putih yang ia pakai mendadak jadi kusut oleh air matanya.


"Mungkin ini sudah takdir aku, menjadi pria miskin," lirih Davit.


Davit mulai menyalakan mobilnya kembali, Berlama lama di dalam mobil bersama Zara membuat luka di hatinya semakin perih saja. Davit tidak membenci Zara, Zara benar menurut Davit, kalau ada pria kaya yang mau mencintainya, kenapa harus memilih yang miskin. Davit merasa dia yang salah menempatkan cintanya yang terlalu besar untuk Zara.


"Kak Davit jangan membenci Zara."


" Zara, kenapa aku harus membenci kamu." Kata Davit lagi berusaha tegar.


"Aku tak mungkin memaksa orang lain untuk mencintaiku. Aku yang salah, aku terlalu percaya diri, ingin memiliki dirimu."


Kak Davit kau begitu dewasa dan kuat, andaikan semua ini tak terjadi padaku, tentu aku akan selamanya hanya mencintaimu. Aku rela hidup sederhana asal bersama dengan lelaki seperti Kakak. Tapi tak mungkin aku yang sudah ternoda ini, masih miliki mimpi bersama Kakak. Aku sudah ternoda oleh Tuan Mert. Aku hanya bisa menikah dengan tuan Mert.


Sepanjang perjalanan suasana menjadi hening, hanya ada isakan yang tertahan dari bibir Zara. Davit sebisa mungkin menahan air matanya, dia tak ingin menumpahkan semuanya didepan Zara.


 


Mobil Johan sudah sampai di halaman mansion. Para asistent kecuali Zara sudah berbaris untuk menyambut kedatangan Miko dan Dara ala regu paduan suara.


Mereka berbaris dari ujung pintu hingga tempat mobil berhenti, Miko membawa oleh-oleh sangat banyak, mereka akan bergantian membawanya masuk.


Andini, Arsena, Oma, semua ikut berbaris. Rena diurutan paling terakhir dengan duduk diatas kursi roda.


Johan turun terlebih dulu, disusul oleh Mita. sedangkan Dara dan Miko keluar paling belakang.


"Hallo semuanya," Miko menghampiri Oma mencium pipi Oma kanan dan kiri. Lalu mencium Arini dan semuanya kecuali Andini. Baru saja ingin menjabat tangan Andini, Arsena sudah menyerobot mengulurkan tangannya menyambut tangan Miko.


Pak Karman dan Bi Um sibuk membawa masuk oleh-oleh dan baju baju Miko.


Melihat cucunya pulang dengan selamat Oma segera memeluk Miko dengan bahagia. "Cucu Oma tambah ganteng aja, Oma sudah kangen banget sama kalian, Miko, Dara."


Arsena memalingkan wajah."Dilihat dari sudut manapun, ya gantengan akulah." Arsena merapikan rambutnya dengan percaya diri.


Andini yang mendengar suaminya menggerutu. Ia hanya tersenyum.

__ADS_1


"Iya lah, suamiku paling ganteng." puji Andini lalu melingkarkan lengannya di pinggang suami.


"Oke, para tuan muda yang ganteng-ganteng rupanya sudah berkumpul, sepertinya sebentar lagi akan ada lomba pasangan paling romantis nie."


"Sayang, menurutmu aku romantis nggak?" Arsena bertanya pada Andini.


"Menurutku sih romantis, kalau yang lain lebih romantis, aku nggak tau, kan nggak pernah di gombalin sama mereka."


"Mert mana?" Miko menanyakan Mert yang tak terlihat.


"Mert keluar, besok dia akan menikah. Ada berkas yang harus diselesaikan sekarang," tutur Oma.


"Menikah ... Gila juga tu anak, udah dapat aja. Padahal baru sebulan lho tinggal disini."


Arini yang sejak tadi di cuekin akhirnya angkat bicara. "Oleh-olehnya buat Arin mana Kak? Tanya Arini.


"Ada, banyak sekali oleh-oleh buat kalian semua." kata Miko mengacak rambut Arini dengan gemas.


"Oh iya gimana? Aku penasaran apa kalian sudah berhasil" Arsena memasang tampang congkaknya.


"Belum Kak Arsen. Masih harus bersabar lagi" Dara yang disebelah Miko segera menjawab.


"Gimana sih Miko, udah ke Turkie juga masih Zonk aja. Lo serius bikin, apa nggak sih disana?" Kata Arsena sengaja menguji kesabaran Miko.


"Ars, mau nggak aku masakin yang pedas." Andini melotot. " Biar berhenti bicara ngawurnya."


"Jangan kaget Andini, kucing dan tikus itu selamanya akan menjadi musuh," ujar Oma sambil tertawa.


"Kita ke kamar dulu ya, Oma, semuanya." Pamit Miko. hanya sekilas saja melirik ke Andini.


"Kak Andini, Dara pamit ya."


"Iya, istirahat aja, Dek. Kalian berdua pasti capek." ujar Andini yang terlihat pegal, ia sejak tadi memegangi perutnya. " Nanti kakak buatkan minuman segar, biar lelahnya cepat hilang."


" Terima kasih, Dara akan membuat sendiri, Kak."


 


Mereka berdua masuk ke kamar dan melepaskan lelahnya, lelah habis perjalanan jauh, lelah harus menanggapi celoteh Arsena yang memang selalu benar.


"Dara sudah telat, belum? Tanggal berapa biasanya tamu bulanan datang." Tanya Miko sambil melepaskan kemeja dan celananya, hingga tinggal memakai celana kolor dan kaos.


"Sepertinya beberapa hari lagi tamu bulanan Dara akan datang, Kak."


Miko menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Miko melihat Andini sudah banyak berubah, perutnya membuncit dan wajahnya semakin segar dan cantik saja. Sedangkan Dara sampai saat ini belum diberi kepercayaan.


Miko menarik tubuh Dara yang ada di sisi ranjang. Membuat istri kecil Miko tidur diatas dada bidangnya.


"Kak Miko, sabar ya."


" Kak Arsena memang suka bercanda. Dia seperti itu karena Kak Andini hamil kembar, mungkin terlalu bahagia. Tapi Dara yakin kalau Dara akan cepat nyusul," hibur Dara.


Miko mematikan Acnya lalu membuka jendela kaca, berharap angin alami akan mengisi kamarnya yang lama tak berpenghuni.


Baru saja ingin memejamkan Mata, Miko mendengar suara seseorang di sebelah mansion sedang tertawa dengan bahagia.


"Kenapa berisik sekali. Siapa sih?" Gerutu Miko, ia bangkit dari ranjang ingin melihat siapa pengganggu tidur siangnya. Dara ikut bangun dan ingin menyaksikan pemandangan yang sama dengan apa yang sedang dilihat Miko.


Miko melihat seorang wanita sedang dalam posisi membelakanginya. Ia duduk di bangku sambil tertawa melihat Arsena menangkap kupu kupu. Berlarian kesana kemari seperti anak kecil.


" Ars, ayo tangkap kupu yang paling cantik, anak kita ingin warna yang paling indah." pekik Andini bahagia.


"Sayang aku capai, kenapa nggak ngidam yang lain aja sih, kenapa harus menangkap kupu kupu."


"Tapi aku pengen kupu kupu itu, kalau nggak mau, apa kamu rela anakmu nanti suka ngiler."


"Iya iya, ini aku masih berusaha," cetus Arsena.

__ADS_1


Dara dan Miko ingin tertawa sekeras kerasnya menertawakan Arsena. Namun mereka tak mau kehilangan pemandangan lucu di depannya itu. Miko dengan usil meraih handpone dan merekam secara diam diam, siapa tahu ini akan berguna suatu hari nanti.


__ADS_2