Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 168. Cinta mulai mengakar.


__ADS_3

"Iya! Dasar nenek lampir, galak, jutek, bisa bisanya mereka semua punya nasib mujur. Giliran gue. Mengenaskan begini." Gerutu Ratna sambil menuruni anak tangga.


Ratna berlari mencari Mama Ratih, ternyata mama Ratih sedang sibuk menjemur baju dibawah terik matahari "Mama! Ratna nggak mau bersihin WC. gimana pangeran di rumah ini ada yang tertarik sama Ratna nanti kalau kerjanya bersihin tempat jorok seperti itu," adu Ratih.


"Ratna, kamu nggak lihat! Mama menjemur baju di bawah matahari begini! Cepat bantu Mama.!'


"Lama- lama wajah mama bisa merah lalu menghitam, haduh .... Kalau begini caranya, Tuan Johan pasti akan semakin sulit dijangkau sama mama." Ratih menjemur baju dengan satu tangan. Dan tangan satunya menutupi wajahnya dari sinar matahari.


"Maaf Ma, nggak bisa, Ratna mau bersih-bersih yang lain saja." Ratih pergi lagi.


"Huh, dasar anak tak tau diuntung." Gerutu Ratih pada putrinya.


Dara bisa menikmati pertengkaran anak dan ibu itu dengan sangat baik. Dara cukup melihat aktifitas mereka di balik jendela kaca yang selalu tertutup oleh tirai di dapur.


"Dasar wanita licik. Mungkin ibu dulu wanita yang sangat baik seperti kak Andini. Sehingga mudah sekali tertipu. Tapi tidak dengan Andara. Aku akan membalas semua penderitaan ibu selama ini."


Ratna berlari masuk rumah lewat pintu belakang. Dara segera meraih lengannya. Dua wanita hanya selisih satu tahun itu saling menatap tajam.


"Ratna, udara sangat panas sekali, tolong buatkan minuman yang segar dong, dua ya. Antar ke kamarku."


"Apa??"


"Iya, minuman segar, sebelum kau membersihkan kamar mandi yang ada di rumah ini. Aku jijik jika tanganmu sudah menyentuh benda penuh kuman itu. Mumpung kamu belum melakukannya.


Ratna menatap Dara dengan sorot mata tajam. Dara melepas cekalan tangannya dengan tersenyum penuh kemenangan. " Awas berani macam macam memasukkan obat ke dalam minumanku, aku akan menuntut mu," ancam Dara dengan aura wajah serius.


Dara lalu pergi dengan gaya arogannya. Ratna hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. Lalu membuatkan Dara minuman jus sirsak kesukaannya dan satu lagi untuk Miko.


Menurut Ratna, Miko juga sangat tampan lebih muda di banding dengan Arsena. Tapi Dara terlihat lebih menakutkan dibandingkan Andini. Membuat nyali Ratna menciut jika ingin menaklukkan si Miko. Takut habis dihajar oleh Dara yang terkenal tanpa belas kasih itu. Dara juga terkenal pemberani ketika di kampus.


 


"Kak!"


"Hemmm." Miko menatap kedatangan Dara dari luar. Sedangkan dirinya sendiri sibuk mainkan gawainya. Begitu dara datang Miko menaruh benda persegi itu diatas meja dan merentangkan satu tangannya di sandaran sofa.

__ADS_1


"Ada apa Litlle? mau hajar aku lagi kayak kemaren?" Ujar Miko sambil mengerlingkan matanya. Mengingatkan kebuasan Dara saat dalam pengaruh obat.


"Kak Miko, Dara waktu itu ... Yang dara lakukan seperti diluar kendali Dara."


"Nggak usah malu, Kakak bahkan sangat suka kok. Pengen lagi." Miko menempelkan hidung bangir miliknya pada hidung istrinya yang sama-sama runcing.


"Kakak jadi pengen." Miko menelusupkan lengannya di punggung dan kaki Dara membuat Miko sangat mudah mengangkat tubuh Dara yang terlihat lebih berisi. Dara yang kecil kini semakin anggun dan matang setelah menjadi istri Miko.


Dara berteriak keras saat Miko mengangkat tubuhnya dengan tiba tiba, walaupun Miko tak jarang melakukannya, tapi semua itu tetap membuatnya terkejut.


Miko mengungkung tubuh Dara sedangkan dara di bawahnya nafasnya sudah naik turun tak beraturan wajahnya sudah memerah bagai kepiting rebus.


"Maaf aku mengganggu kalian." Ratna membawa dua jus sirsak di atas nampan. gadis itu nyelonong masuk dengan tak tahu malu.


"Tolong kamu taruh diatas nakas." Perintah Miko yang membalikkan tubuhnya melihat pelayan baru itu sekilas. Setelah bayangan Ratna hilang dari balik pintu. Miko segera mengunci pintu lagi.


Mereka ingin sekali kembali meneguk manisnya malam yang baru ia lalui penuh kehangatan.


Tiba-tiba Dara mendorong tubuh Miko. "Kak, belum mandi ya? Mandi dulu baru peluk Dara," ujar Dara tanpa ragu. Entah kenapa Dara mendadak tak suka aroma tubuh Miko.


"Bau banget ya? Padahal pulang kantor kakak sudah mandi." Miko mencium ketiak dua duanya masih tercium wangi.


Selesai mandi Miko sengaja hanya memakai kain persegi yang dililitkan di pinggangnya.


Tubuh sikpacknya tercetak jelas, ada lima kotak kotak yang mirip roti sobek kesukaannya, saat jajan di kampus.


Miko segera memakai deodorant dan farfum ditubuhnya, biar Dara tak lagi berkomentar pada tubuhnya. Padahal sebelum mandi tadi masih wangi. Sekarang pasti lebih wangi lagi.


Miko kembali mengungkung Dara yang masih setia menunggu nya kembali dari kamar mandi.


"Little, Kakak sudah selesai mandi. Bagaimana kalau kita sekarang mulai lagi." Miko membelai rambut Dara penuh percaya Diri. menciumi kening dan pipi tanpa jeda. Miko mulai ritual wajib yang selalu dilakukan sebelum


"Kak, kenapa masih bau? Huek huek ... " Dara berlari ke kamar mandi. Tubuh Miko tetap bau walau sudah selesai mandi.


Yang bener? Aku kenapa mendadak bau di depan Dara? Perasaan hari ini aku sangat wangi. Apa aku salah makan? aku juga sudah tak pernah minum alkohol. Miko menyemprotkan aroma mulutnya pada telapak tangan. Dia berfikir jangan-jangan nafasnya yang bau.

__ADS_1


" Litlle, sebenarnya apa yang terjadi?" Miko menyusul Dara ke kamar mandi.


"Jangan mendekat, aku nggak tahan dengan bau tubuh Kakak. Huek ... huek ...."


Miko menghembuskan nafasnya kasar. Menyerah dengan Dara yang tak bisa di dekati hari ini. Miko akhirnya memakai baju dan kaosnya lalu keluar kamar lagi setelah duduk sebentar di sofa.


Rasa percaya diri dan maskulin mendadak hilang dari dirinya.


Miko ingin menangkan diri, dengan menyesap sebatang rokok di halaman belakang sambil menikmati udara pantai yang berhembus sepoi.


Disana juga terlihat Mert yang sedang gelisah berulang kali dia meremas rambutnya frustasi. Melihat Mert gelisah Miko seperti memiliki seorang teman. Dia tak sendiri melewati kegelisahan hari ini.


"Hei Mert!" Sapa Miko.


" Hei ...." Mert terkejut, segera membalikkan badan ketika ada lengan besar mendarat di punggungnya


"Napa Lo?" Tanya Miko lagi.


" Lo sendiri Napa? Kucel banget?" Mert malah bertanya balik.


" Entahlah wanita gue hari ini aneh. Dia nggak mau dekat-dekat sama gue. Padahal aku sudah mandi lagi demi dia," curhat Miko layaknya pria patah hati.


mereka berdua kini berdiri, dengan menyandarkan tubuhnya di pagar teralis besi yang ada di lantai dua.


" Kenapa bisa sama? Zara hari ini juga marah marah. Apapun yang aku lakukan selalu salah Dimata Dia, bahkan dia mengusir ku dari kamar karena aku sangat mengganggunya.


" Entahlah, mungkin mereka lagi mau dapet kali," terka Miko yang pandangannya tengah menerawang pada pantai nan jauh. Namun terlihat dekat itu.


"Ya, bisa saja. Wanita memang makluk unik." Kata Mert sambil meneguk air dalam gelas yang sejak tadi berada di genggamannya.


"Apa mungkin gaji yang aku kirim masih kurang ya?" Mert menerka-nerka.


"Aku rasa bukan pada gaji yang kurang. Jangan jangan Dara selingkuh? Jadi dia punya alasan untuk menghindar dari gue."


"Nggak, aku nggak akan biarin Dara selingkuh. jika semua itu terjadi aku tak akan pernah memaafkan dia seumur hidupku. Aku benci perselingkuhan." kata Miko sambil mengeratkan rahangnya.

__ADS_1


Miko mengepalkan tangannya dan memukul besi teralis. " Siapapun pria berani menyentuh istri Miko Atmaja, Dia pasti sudah bosan hidup."


*happy reading.


__ADS_2