
Johan House
"Tidak mungkin' Pa. Arsena menikahi gadis jelek, kampungan, bisa bisa reputasi Sena akan jatuh sejatuhnya jika menikahi wanita macam itu" ujar pria tampan nan rupawan walaupun tengah lelah itu, Shena baru saja pulang dari kantor kemudian duduk di sofa ruang tamu, tiba-tiba Papa sudah menyerahkan ponselnya, menunjukkan foto Andini yang sedang duduk di rumahnya tadi.
"Asal papa tau, gadis yang lebih cantik seratus kali dari ini saja Sena belum tentu mau, kekasih Sena jauh lebih cantik, Pa." Sena menatap lekat foto gadis paling kampungan menurutnya. Bahkan di kantor saja hampir semuanya berpenampilan cantik dan seksi.
"Reputasi yang mana yang kau maksud!" Bentak Johan dengan tatapan membunuhnya.
"Jangan mimpi Sena, satu saja keinginan papa kamu tidak bisa kabulkan. Bagaimana Papa bisa memenuhi keinginan kamu menjadi direktur utama?"
"Kalau kamu membangkang keinginan papa, maka terpaksa direktur utama akan jatuh ke tangan adik kamu."
"Apa?" Melotot tak terima.
"Aturan macam apa ini pa? Dimana mana anak pertama pasti memiliki jabatan paling tinggi, lagian Miko mana mampu dia mengelola perusahaan sebesar itu, Dia pemalas," kata Sena mulai emosi.
"Ya terserah, yang jelas papa seperti ini ingin yang terbaik buat kamu." ujar Johan santai. Merebahkan tubuhnya di sandaran sofa, sesekali menyemburkan asap rokoknya ke atas.
Johan sangat menyayangi putra sulungnya yaitu Arsena, membuat pria itu memikirkan masak tentang masa depan putranya. Johan tidak ingin putranya senasip dengannya. Johan ingin Arsena bahagia dengan satu istri saja, itulah sebabnya ia memilihkan istri yang sekiranya bisa menyayanginya dengan tulus.
"Sena, sebaiknya kamu turutin saja papa kamu, toh setelah menikah kamu bisa ceraikan dia dan kembali dengan Liliana, cerdas sedikit kenapa sih," bisik Mama di telinga Sena.
"Tapi Ma, sama saja Sena mempermainkan pernikahan?" Sena terlihat keberatan dengan cara mama.
"Semua demi kebaikan kamu, masa depan kamu, mama nggak mau perusahaan jatuh ke tangan Miko, anak pelakor itu."
"Baiklah kalau menurut mama itu yang terbaik." Sena yang seharusnya tumbuh menjadi pria baik, karena mama sering kali meracuni otaknya membuat ia sedikit banyak terpengaruh.
"Oke, papa bisa atur semuanya, kapan saya menikahi gadis kampung itu." Tantang Sena dengan seringai licik.
"Besok, sepertinya semakin cepat akan lebih baik." Johan kini lega putranya mau menikahi wanita pilihannya.
Sebelum Sena berubah pikiran lagi Johan segera menghubungi tokoh-tokoh yang akan berperan penting dalam pernikahan putra kesayangannya besok.
Johan segera menelepon Dekorator ruangan, Desainer baju terkenal dan juga Katering ternama. Mereka pagi sekali harus mendekor sebuah gedung kosong miliknya. Desainer pagi sekali harus melakukan pengukuran untuk Arsena dan dihari itu juga harus selesai karena malamnya jas dan kemejanya akan dipakai. Soal katering menu apapun Johan tak ambil pusing ia menyerahkan masalah makanan pada istrinya saja.
Walaupun pernikahan ini hanya akan dihadiri oleh keluarga saja, Namun Johan ingin pernikahan ini tetap meninggalkan sebuah kenangan yang indah nantinya. Ada foto pengantin, ada pertemuan pertama mereka. Walaupun Sena tak mengharapkan itu semua, Namun Johan yakin Andini akan membutuhkan kenangan itu suatu hari nanti.
Sena, papa harap kamu tak salah paham dengan maksud papa, papa yakin suatu saat kamu akan sangat berterima kasih dengan Papa, karena papa telah memilihkan istri yang tepat untukmu." Batin Johan.
"Istri yang tepat buat Sena itu gadis pilihan Sena sendiri Pa, Bukan dijodohkan seperti ini," ujar Sena dengan nada suara kesal
"Ma, Pa, Sena mau ke keluar dulu, Sena ingin bersenang senang sebelum masa lajang Sena hilang besok." Sena berdiri meninggalkan kedua orang tuanya. Namun sebelum bayangannya hilang di balik pintu ia mendekati mama dan mengecup kedua pipinya.
__ADS_1
"Iya sayang, hati hati ya, jangan ngebut." Pesan Mama.
"Nggak janji, Ma."
"Sena Mama mohon ... !" Rena menggelengkan kepalanya.
"Daaa ... Mama." Sena melambaikan tangan malam ini ia ingin bersenang-senang. Sena benar-benar shok dengan permintaan papa yang mendadak sekali menurutnya.
"Papa Sih, sudah tau Sena sudah punya kekasih main carikan istri segala, kurang kerjaan," Mama memberi pembelaan ketika bayangan Sena sudah hilang.
"Emang kenapa? Kan baru kekasih. Belum jadi istri, kan?"
"Tapi Mama pengen Liliana yang jadi menantu kita Pa, bukan gadis yang miskin dan kampungan, Liliana kurang apa coba?" Rena terus saja berdecak kesal. "Asal papa tau Liliana itu selain dia cantik, dia juga cerdas calon pengusaha muda dikeluarganya. Pasti anak kita akan bahagia. Mama juga bangga punya menantu seperti dia nanti, mama akan bangga sekali mengenalkan mereka pada teman arisan mama. Kalau gadis pilihan papa itu, cocoknya jadi pembantu dirumah kita."
"Cukup Ma, papa nggak mau dengar alasan apapun, Andini pilihan papa titik !! Papa capek dengernya, mending Papa pergi sekalian." Jogan beranjak pergi.
"Papa mau kemana? Jangan bilang papa mau ke rumah istri muda papa.
Rena masih saja cemburu ketika Johan mengunjungi istri mudanya, Rena dulu adalah sahabat Mitha. Mereka sangat dekat dan akrab. Persahabatan mereka seakan tak terpisahkan lagi.
Hingga suatu hari Johan akan menikahi Mitha, namun karena akal bulus Rena akhirnya Johan kehilangan Mitha disaat hari pernikahannya. Rena berhasil membuat Mitha pergi dengan sebuah cerita palsu antara dirinya dan Johan. Hingga akhirnya Rena berhasil menjadi pengantin dimalam itu.
Dua tahun kemudian Mitha kembali, semua yang terjadi di masa lalu terungkap. Akhirnya Mitha dan Johan bersatu, namun dengan syarat tak menceraikan Rena.
***
"Baiklah, kali ini kamu ada benarnya." Johan kembali duduk dan mulai membicarakan hal penting ini secara masak dengan sang istri.
Arsena kini berada dalam perjalanan menuju tempat hiburan, tak lupa ia menghubungi kekasihnya. Arsena ingin mengajak Liliana bersenang senang malam ini.
Liliana yang kini sedang bermalas malasan diatas kasur segera menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang. Ketika mendengar ponselnya berdering ia segera mengusap layar handphonenya. Ternyata Arsena sedang melakukan Video calling terhadapnya.
Arsena: "Beb cepat siapkan dirimu, aku akan menjemputmu sekarang."
Liliana: "Sayang, kamu serius? Bukannya papa lagi kasih kamu kerjaan yang banyak?"
Arsena: "Serius beb, malam ini kita akan senang senang sepuasnya."
Liliana: "Oke, kamu mau aku pake baju warna apa, Yang?"
Arsena:{ "terserah kamu aja pake yang mana aja, kekasihku akan tetap paling cantik walaupun memakai baju apapun"}
Liliana: {"Gombal banget sih Yang. Kalau lingeri boleh."}
__ADS_1
Arsena {"Bercanda aja sih Beb, pakai lingeri besok aja kalau kita udah nikah."}
Liliana segera turun dari ranjang dan memilih-milih baju yang akan dipakai hari ini. Kali ini ia sudah menemukan gaun yang menurutnya menarik, Liliana memakai gaun press body diatas lutut. Dan belahan dada terbuka lebar. Gaun tanpa lengan itu melekat ketat ditubuhnya yang ramping. Warna gaun merah menyala itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.
"Baby," panggil Arsena manja. Tiba-tiba Arsena sudah di dalam apartemen sambil menatap Liliana dengan tatapan terpana.
"Syang, cepet banget sih nyampenya." Liliana segera berlari menuju pintu apartement menghampiri sang kekasih dan memeluknya erat.
"Sayang aku rindu." Liliana masih terus mengeratkan pelukannya dan menempelkan kepala pada dada bidang kekasih.
" Aku juga," ujar Arsena sambil mengurai pelukannya.
Liliana sedikit kecewa, rasanya ia masih ingin lebih lama mencium aromaterapi dari tubuh kekasihnya itu. "Tunggu sebentar ya aku ingin memakai makeup dulu."
Liliana segera mengambilkan Arsena minuman kaleng dari kulkas kemudian melanjutkan memakai makeup di kamarnya.
Arsena segera meneguk habis minuman kaleng mengandung alkohol rendah itu. Pikirannya sangat kacau. Disisi lain ia tak ingin jika papanya kecewa, disatu sisi ia tak ingin jauh dari wanita cantik yang melebihi segalanya baginya itu.
Arsena sudah lama duduk sendiri di ruang tamu, Liliana kali ini dandannya lama sekali. Membuat Arsena ingin menyusulnya.
Ternyata Liliana sengaja membuat Arsena menunggu. Jika lelah pria itu pasti akan menghampirinya ke kamar.
Kepala Arsena mulai sedikit pening, ia berjalan masuk sambil memanggil manggil nama kekasihnya.
"Sayang aku disini." Panggil Liliana dengan gaya menggodanya.
"Cantikku ... " Arsena terbelalak. Ia kembali dikejutkan oleh kekasihnya yang selesai berdandan cantik dan gaun seksi.
Liliana mendekat dan melingkarkan lengannya di tengkuk kekasih, Liliana mencium bibirnya, memancing agar pria tampan di depannya itu melakukan hal lebih pada dirinya, Liliana diam-diam ingin merasakan kehangatan sentuhan Arsena lebih dari sekedar mencium pipi dan bibir.
"Sayang," panggil Liliana. Iris wanita itu terus menatap lekat mata sang kekasih yang mulai terbawa suasana.
Melihat kekasihnya mulai menatapnya dengan tatapan sayu Liliana mulai membuka kemeja putih motif garis yang melekat di tubuh Arsena.
Hati Liliana bersorak, sebentar lagi Arsena pasti akan menjadi miliknya seutuhnya. Kalau ia berhasil menaklukkan pria didepannya kali ini.
Pasti pria tampan nan kaya raya ini akan segera menikahinya. Menjadi miliknya seutuhnya, ucapan cinta Arsena selama ini tak menjamin hubungannya akan abadi, karena nyatanya Arsena tak mau menyentuhnya lebih layaknya pria pengusaha lain yang selalu menghabiskan malamnya dengan kekasih.
"Sayang .... "
"Baby .... " Pandangan Arsena berkunang kunang.
"I love you ...." ujar Lili
__ADS_1
"Love you to ..." Balas Arsena.
"Malam ini aku milikmu .... " Suara Liliana mulai serak, nafasnya menggebu bagai deru mesin. Liliana menarik tubuh Arsena Akhirnya mereka berdua jatuh diranjang bersamaan.