
"Nona masuklah ini kamar anda sekarang."
Wanita yang ditugaskan untuk menjaga Andini, membukakan kamar paling besar dan mewah di rumah itu.
Andini masuk, netranya menelisik setiap ruangan, rumah yang sama megahnya dengan istana yang ia tinggali bersama Arsena.
Pelayan itu membantu Andini berbaring di ranjang yang amat besar. Melihat Andini yang banyak luka ditubuhnya membuat ia sesekali mengerang kesakitan.
Pelayan itu membawakan kotak obat dan air hangat untuk membersihkan luka Andini.
"Nona, tahan sedikit, saat membersihkan luka ini rasanya akan perih." ujar pelayan mulai menyentuh luka Andini dengan kain yang sudah diberi air hangat.
Andini sebisa mungkin berusaha menahan sakit. Namun ia mengkhawatirkan kepergian Miko yang buru buru tadi, tak biasa ia bersikap demikian. Andini khawatir dia akan melukai pria yang mencoba memerkosanya melampui batas. Bagaimanapun pria itu masih saudara kandung Lili, dia tak mau kalau terjadi masalah baru yang akan memperkeruh hubungan Lili dengan dirinya.
Terlihat pelayan itu sudah selesai membersihkan luka Andini di lutut dan sekitarnya, ia juga membersihkan sudut bibir Andini yang terdapat memar. Andini merasakan kalau pelayan ini bukanlah pelayan biasa. Andini bisa merasakan dia telah mahir dalam merawatnya.
Andini memandang pelayan itu dari atas hingga bawah. Karena merasa Nona didepannya sedang menelisik dirinya, pelayan itu segera memperkenalkan diri. "Saya Ambar, Nona. Saya bekerja merawat dan membersihkan rumah ini, sudah enam bulan saya bekerja disini, untuk tuan Miko."
"Oh ... Lumayan lama ya." kata Andini menahan sakitnya.
Ambar mengangguk sopan sambil membawa semua perlengkapan yang digunakan untuk merawat luka Andini ke belakang.
Andini merebahkan tubuhnya, ia hanya bisa merasakan perih di setiap lukanya. Mata yang susah tertidur walaupun hari sudah tengah malam.
Arsena apakah dia akan mengkawatirkanku.
"Nona, saya akan menggantikan baju anda sekarang." Ambar kembali lagi, kini ia menghampiri lemari besar dan membukanya. Ternyata lemari besar itu isinya beraneka ragam gaun dan baju wanita yang semuanya serba mahal. Ketika dibuka saja lemari itu mengeluarkan aroma yang sangat harum.
"Nona Andini, anda bisa memilih baju yang ingin anda pakai hari ini." Kata pelayan itu lagi.
"Maaf, baju siapakah ini? Aku tak bisa memakai baju yang bukan milikku," tolak Andini.
Pelayan itu tersenyum. "Beberapa hari yang lalu tuan Miko membelinya sendiri, dan saya yang menatanya. tuan Miko bilang kalau tak lama pasti dia akan membawa kekasihnya kesini. Jadi persiapan ini semua dia sendiri yang lakukan.
"Kekasih?"
"Iya Nona. Anda orangnya."
"Tuan Miko banyak berubah ketika mengenal anda, dia dulu pendiam dan pemarah tapi sekarang ia berubah lebih humoris dan penuh cinta.
Andini duduk, ia tak jadi memilih baju yang ada di lemari itu. Andini bingung, bagaimana kalau yang dikatakan pelayan itu benar. Miko menganggap dirinya kekasih, kata kata yang dikira Andini hanya bualan itu memang benar. Bagaimana dengan pernikahannya? Bagaimana kalau Miko akan terluka jika ia nanti akan lebih memilih suaminya.
"Nona, sebaiknya anda jangan mengecewakan tuan Miko, dia pasti akan sangat senang kalau anda menerima pemberiannya."
"Oh iya Keluarlah Bi, saya akan memilihnya sendiri." Andini tersadar dari lamunannya, Ambar seakan bisa membaca yang sedang ia pikirkan.
Ambar menuruti kata kata majikan barunya, ia sekarang meninggalkan Andini seorang diri.
Selesai memilih satu gaun tidur dan memakainya, Andini mencari benda pintarnya, ia ingin menghubungi Miko, ia masih tak tenang jika belum mengetahui yang dilakukan pria itu.
__ADS_1
Andini mencari di dalam tas dan sakunya. Beberapa saat Ia baru ingat kalau handpone itu sudah hancur. Tadi saat di mobil Devan merebut dan melempar benda pipih itu ke jalanan semaunya.
Merasa tak ada yang bisa dilakukan, Andini akhirnya tidur. Bayangan pemerkosaan itu kembali terlintas, wanita itu meringkuk ketakutan sambil memeluk guling dan kembali menangis, hingga tak tahu pukul berapa telah lelap di alam mimpi.
*Pagi hari*
"Selamat pagi, Girl ... " Seorang pria sudah berdiri menyenderkan tubuhnya di ambang pintu dengan kedua lengannya terlipat di bawah dada. Dia menghadiahi Andini dengan senyum termanisnya.
"Pagi juga Mik." Andini yang sudah bangun beberapa menit lalu ia mendudukkan diri dan menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang.
"Bagaimana semalam? Apakah tidurnya nyenyak, Girl?"
"Tentu Miko, kamar seindah ini pasti penghuninya akan nyaman" Andini berbicara bohong. Semalaman sekujur tubuhnya terasa sakit. Luka-lukanya begitu perih.
Miko mendekat, ia kini duduk di sisi ranjang, menghadap ke arah Andini. Mengamati dalam setiap ukiran indah di wajah wanita pujaannya itu. "Luka mu lumayan juga, sepertinya dokter harus datang untuk memeriksanya, aku khawatir akan ada infeksi."
Miko sudah mengeluarkan ponselnya "Tidak perlu Miko. Aku akan baik saja. Apa aku bisa pulang sekarang?"
"Maafkan aku Girl, aku tak bisa menuruti keinginanmu yang satu itu, kau masih sakit. Beristirahatlah beberapa hari lagi agar kondisimu pulih." Kata Miko sambil mengelus sudut bibir dan pipi Andini yang terdapat luka lebam.
Andini tak bisa berbuat nekat selain hanya menuruti Miko. Benar juga kata pria itu, ia masih sakit tak mungkin ia bisa kembali bekerja untuk Arsena. Andini memutuskan untuk pulang ketika kondisinya sudah pulih dan luka biru diwajahnya mulai memudar.
"Pagi tuan Miko." Sapa Ambar pada Miko yang baru keluar dari kamar Andini.
Makanan apa yang kau bawakan untuk Andini?
"Andini ku harus makan yang lebih banyak gizinya, dari yang kau bawa itu."
"Apa ini kurang bergizi, Tuan?"
cari menu makanan yang memiliki gizi lebih tinggi dari itu."
"Baik Tuan." Ambar kembali ke dapur, segera membuatkan makanan yang mengandung gizi lengkap. Kemahirannya dalam memasak membuat Ambar tak kesulitan membuat aneka makanan restaurant. Cukup menghabiskan waktu tiga puluh menit. Pizza mini dengan rasa paling nikmat serta kandungan gizi tinggi sudah tersaji di dalam piring besar.
Nina segera menyerahkan makanan hangat buatannya pada Miko, yang sedari tadi sudah menunggu di meja makan.
"Tuan apakah menu seperti ini yang anda inginkan?"
Nina mendekatkan nampan berisi sepiring pizza yang menggugah selera serta dua gelas juice avocado.
"Iya, ini lumayan daripada tadi."
Miko mengambil alih nampan dari Ambar. Ia sendiri membawakan sarapan ke kamar Andini.
"Girl, sarapan lah dahulu, kamu pasti lapar. Semalam kamu belum makan apapun." Kata Miko sambil memotong pizza menjadi enam bagian, lalu ia mengambil satu potong dengan tangannya, dan diulurkan ke depan bibir Andini." Buka mulutmu, biar aku suapi."
"Miko, aku bisa ..." Andini mengambil pizza dari tangan Miko.
Miko menjauhkan tangannya. Dan menggenggam tangan Andini "Bisa sendiri, itu kan yang ingin kau ucapkan? aku sudah tau, tapi aku ingin kamu merasa selalu istimewa ketika bersamaku?"
__ADS_1
"Miko, aku tak pantas kau perlakukan seperti itu?" Andini tak mau membuka mulutnya. Kini ia memalingkan wajahnya dari Miko.
Miko menarik wajah Andini dengan pelan, membuat Wanita itu kembali menatapnya. "Kenapa, Dokter Andini? Dokter muda yang sangat berbakat"
Andini tersenyum. "Benarkah. Kau berlebihan Tuan Miko, Aku tak sehebat itu."
Miko mengangguk. "Benar, sekarang buka mulutmu!"
Andini membuka mulutnya, menggigit pizza dari tangan Miko.
"Kau sepertinya juga harus sarapan, kau harus bekerja setelah ini, Kan?" Andini membalas menyuapi Miko.
Miko dan Andini pagi ini sarapan bersama. Canda dan tawa terdengar menggema dari kamar Andini. Miko sesekali menggigit tangan Andini ketika menyuapinya.
Andini merasakan Miko menggigit jarinya, ia memekik kesakitan dalam tawanya.
Selesai sarapan Miko berangkat ke kantor, ingin rasanya ia bisa mengecup kening Andini layaknya suami istri, namun Andini menolaknya.
"Maaf Miko, Andini menjauhkan kepalanya dari Miko."
"Baiklah Girl, aku tau kamu masih menghindariku karena hubunganmu itu."
Andini berterima kasih Miko mengerti keadaan dirinya.
Miko hanya melambaikan tangan dan cium jauh pada Andini.
Dibalas lambaian tangan oleh Andini. "Hati-hati, Miko."
"Tentu, Girl."
Miko terlihat begitu bahagia, tak ada hari yang lebih membahagiakan selain hari ini.
Andini adalah sumber kebahagiaan Miko. Karena Andini Miko begitu bahagia melewati hari-harinya.
Miko kini mengemudi mobil menuruni perbukitan. Senyum tak henti hentinya tersungging di bibir. Bersama wanita yang disayangi hidupnya terasa begitu indah.
Dalam hati ia terus bergumam. I will fight for my love. The woman i love must be happy, i will not let you be unhappy with a man who never loved you. I believe you are my destiny.
*jangan lupa dukung terus dengan kasih
like
komen
vote
favoritkan, biar ada notifikasi dari noveltoon ketika update bab terbaru.
*happy reading.
__ADS_1