
Siapa yang pingsan?" Arsena berlari menghampiri orang-orang yang sedang berkerumun, membelah para tamu yang sedang berdesakan,banyak orang penasaran dengan wanita yang sedang pingsan ketika naik ke atas pelaminan.
Banyak diantara mereka menduga yang pingsan adalah mempelai wanita. Namun, setelah beberapa orang memastikan ternyata bukan. Melainkan yang pingsan adalah kakak mempelai wanita.
"Minggir, kalian semua! Beri aku jalan, Aku ingin tahu siapa yang pingsan."
Arsena mendapati Miko sedang menahan kepala Andini agar tak menyentuh lantai, Dara yang ribet dengan kebaya yang dipakai ia panik mencoba menghirupkan minyak kayu putih pada hidung Andini.
"Kak, bangun kak. Kakak jangan seperti ini, Dara khawatir Kak." Isak tangis dara tak bisa tertahan lagi mendapati kakaknya membujur kaku.
Miko tak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menatap wajah Andini yang mirip orang tidur.
Setiap menatap wajah Andini, aku merasa kita sangat dekat, tapi kenyataan dia bukanlah wanita yang pantas untuk aku dekati. kakak ipar.
Miko memejamkan matanya, mencoba menggali semua ingatan tentang Andini. Bayangan dirinya menyelamatkan Andini berkelebat di benak Miko, pertarungan dengan Devan, dan akhirnya membawa Andini kesebuah mansion untuk menyembunyikan keberadaannya pada dunia.
"Ndin, bangun, kamu kenapa kok tiba-tiba pingsan seperti ini. Kalau kamu kurang sehat, harusnya bilang ke ibu, biar kamu bisa istirahat saja." Khawatir Ana.
Arsena yang melihat Andini lemah di pangkuan Miko, ia segera mengambil alih tubuh istrinya.
"Terima kasih." Kata Arsena pada Miko, meski kedengarannya tulus, tapi Arsena tak suka Miko selalu menjadi orang nomor satu yang selalu ada disisi Andini. Arsena dengan cepat mengambil alih tubuh Andini dan menggendongnya ke mobil.
Arsena juga melarang keluarga untuk ikut. Dia membawa Andini sendiri menuju RS, ia juga meminta pihak keluarga agar tak panik dan tetap meneruskan serangkaian prosesi pernikahan selanjutnya.
"Ars, bagaimana ini?" Johan bingung antara ikut atau tatap tinggal.
"Papa, disini saja, Andini pasti akan baik saja, dia sudah cukup denganku saja."
"Pak Doni, tolong segera antarkan kami ke rumah sakit." Titah Arsena pada Doni.
"Siap, Den." Doni segera mengantar Arsena dan Andini menuju rumah sakit miliknya. Disana dokter Namira segera meminta pada perawat agar segera menyiapkan ruang VVIP untuk Nona pemilik rumah sakit.
Tak sedetikpun Arsena meninggalkan istrinya selama Namira belum datang memeriksanya.
"Andini, tolong jangan lemah seperti ini, kamu adalah sumber kekuatanku, jika terjadi apa-apa dengan dirimu, aku juga akan rapuh." Kata Arsena sambil memeluk tubuh Andini dan terus memberikan aroma minyak pada hidung istrinya.
Usaha Arsena sepertinya membuahkan hasil, Andini mulai menggeliat, membuka matanya pelan. Tangannya respect memegang kepalanya yang pusing.
"Aku kenapa, Ars,"
"Aku juga nggak tau, Sayang. Saat kami sedang makan bersama beberapa orang penting di perusahaan, tiba-tiba beberapa orang berteriak histeris, dan aku melihat dirimu sudah pingsan."
"Kamu pasti malu punya istri lemah sepertiku, kenapa juga aku pingsan di tempat pernikahan Dara." Sesal Andini.
"Sttt ... Siapa yang malu? Apa terlihat di wajahku ada rasa malu?" Arsena menyentuhkan telunjuknya pada bibir Andini.
"Tidak Ars." Andini menggelengkan kepala.
Arsena kasian dengan wajah pucat istrinya, ia kembali mengecup kening Andini yang tepat berada di pangkuannya. "Aku justru sangat panik. Ndin."
Mobil yang dinaiki mereka bertiga sudah sampai di pelataran rumah sakit, Arsena membantu Andini turun dan kembali membopongnya, membantu berbaring di atas brankar yang sudah di siapkan oleh perawat. Pria itu tak mengizinkan Doni menggendong Andini atau menyentuh kulitnya..
__ADS_1
Andini segera diperiksa oleh Dokter Namira di UGD, setelah pemeriksaan selesai, Andini dipindahkan ke dalam ruang rawat inap.
Arsena mondar mandir dalam ruangan, Andini bisa melihat kepanikan suaminya akan kondisi dirinya.
Andini sekarang tak menemukan lagi sosok Arsena yang dulu yang cuek, dingin dan bermulut pedas, dia hanya menemukan sosok suami yang sangat mencintai dan melindungi.
Begitu bayangan Namira terlihat lewat masuk ke dalam ruang kerjanya, Arsena segera mengejar Namira.
"Namira apa Andiniku baik baik saja? Apa dia sedang hamil anak kami? Jika dia hamil berapa usia kandungan calon bayi kami?" Tanya Arsena tak sabar, dia sudah banyak bertanya sebelum menghempaskan pantatnya di kursi.
"Ars, dia belum hamil." Namira membawa selembar kartu putih yang dimasukkan ke dalam map, lalu memberikan pada Arsena.
"Belum hamil? Kamu yakin? Kamu pasti sedang bercanda Namira! Lalu Andini kenapa kalau dia tak hamil?" Cecar Arsena yang mulai meragukan kemampuan Namira. Pria itu menatap Namira dengan tatapan intimidasi.
Setelah melihat Namira tak berani berkutik, Arsena mengalihkan pandangannya pada Map, yang berisi data pemeriksaan pada tubuh Andini. Namun semua data itu kosong.
"Bersabarlah Ars, Tunggu hasil lab keluar besok, walaupun aku mencurigai Andini telah mengidap suatu penyakit. Namun, sebelum hasil dari test itu keluar, Aku belum berani memutuskan," terang Namira.
"Baiklah, lakukan pemeriksaan dengan benar, karena aku sudah tak sabar menunggu hasil test itu." Arsena kembali keluar dengan hati kacau.
Dia duduk di sebuah kursi tunggu yang biasa digunakan keluarga pasien untuk menghirup udara bebas.
"Andini seharusnya sudah mengandung anakku, aku sudah melakukan tugasku sebagai suami, tapi kenapa mimpi itu belum terwujud. Dan apa maksud Namira, tadi."
Arsena mulai gusar dengan pikirannya sendiri tadinya ia berharap mendengar wanitanya pingsan karena sedang mengandung benih-benih cintanya. Namun melihat penjelasan Namira tadi, Andini seolah menderita penyakit lainnya.
Andini di dalam kamar VVIP ia nampak sedih, ia berharap sakitnya hari ini bukan hal serius. Selain kepalanya pusing, Andini juga merasakan nyeri di perutnya.
Arsena membuka pintu dan masuk menghampiri Andini.
"Ars," Andini segera menggeser tubuhnya, menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang.
"Jangan terlalu banyak bergerak, jika menimbulkan sakit pada tubuhmu." Arsena segera mendekat. Dan duduk di kursi kecil di sebelah ranjang.
"Andini apa kau sedang memikirkan sesuatu, hingga kau bisa sakit seperti ini."
"Apa yang aku pikirkan? Tidak ada Ars, mungkin tensiku sedang turun." Jawab Andini enteng.
"Ars, maafkan aku, aku belum bisa ...." Andini mulai tahu apa yang diinginkan oleh Arsena.
"Jangan dipikirkan, masih banyak waktu untuk kita mencobanya lagi." Jawab Arsena berlapang dada, tangannya terulur membelai rambut hitam lurus Andini. "Dengan atau tanpa buah hati, tak akan mengubah apapun diantara kita."
-------
Tring tring!
"Siapa?" Tanya Arsena
"Ibu," ujar Andini dengan suara lemah.
__ADS_1
"Biar aku yang bicara." Arsena mengambil alih ponsel Andini.
"Andini, apa yang terjadi Nak? Kenapa kamu pingsan. Andini apakah kamu menutupi sesuatu pada ibu."
"Andini baik saja, Bu. Jangan khawatir," kata Arsena.
"Ars, rupanya handpone Andini ada di kamu, apakah kondisi Andini ada yang di khawatirkan."
"Ibu tenang saja, Andini hanya sedang lelah, dia baik saja." Kata Arsena, yang diikuti anggukan kepala Andini. Andini dan Arsena sama-sama tak ingin Ana khawatir.
Pagi sekali Arsena sudah membantu Andini mandi, usai mandi langsung menyuapi dengan bubur sum-sum yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Arsena selain telaten dia juga tulus. Andini sekali lagi dibuat terharu oleh sikap suaminya. Andaikan Mama Rena sebaik suaminya, sepertinya hidup ini akan sangat indah dirasakan Andini.
"Cepet sembuh, Ndin. Aku akan ambil hasil pemeriksaan laboratorium kemaren, kamu nggak apa-apa kan disini sendirian." ucapnya selesai menyuapi Andini dan memberikan minum.
"Tidak, Ars. Aku bukan anak kecil yang takut di tinggal sendirian, di siang bolong," canda Andini sebelum suaminya benar-benar pergi.
Arsena mengambil hasil tes, langsung di ruang dokter Namira saja, kebetulan pintu Dokter itu terbuka separuh Arsena langsung bisa masuk.
"Hasil pemeriksaan Andini ya? Sebentar aku ambilkan."
Namira segera mengambil hasil lab, yang ia simpan sendiri di laci. Lalu menyerahkan pada Arsena.
"Tolong bacakan, aku tak bisa membacanya dengan benar, karena aku bukan dokter."
Baiklah, Aku hampir melupakan sesuatu, kau bukan dokter, tapi kau adalah pengusaha muda yang sukses." Namira duduk manis dan mulai membaca satu persatu hasil pemeriksaan pada Andini. Deret atas hingga bawah menunjukkan hasil pemeriksaan yang bagus, tak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan. Namun di hasil pemeriksaan paling terakhir membuat tubuh Arsena sekejap terasa kaku.
Yah, Namira menjelaskan ada kelainan pada rahim Andini, Andini mengalami Endometriosis, salah satu penyakit pada rahim yang akan membuat Andini susah memiliki keturunan.
"Apa kamu yakin tak ada yang salah dalam pemeriksaan ini?"
"Jika ada keraguan, bisa lakukan tes lagi, tapi aku khawatir kamu semakin terluka, menerima kenyataannya," ucap Namira.
"Mira, tolong rahasiakan semua ini dari Andini dan siapapun, aku tak bisa memberitahu hal ini pada, Andini dan keluarga. Andini pasti akan sangat sedih."
"Ars, cintamu sangat besar untuknya, sejak kapan kau sangat mencintai dia?" Tanya Namira.
"Entah sejak kapan, yang jelas saat ini, aku hanya ingin bersamanya. Apapun resikonya, aku tak ingin dia bersedih karena hal ini, jika dunia tau Andini susah memiliki keturunan, Mama pasti akan memaksa wanita lain untuk menjadi istriku."
"Aku tak siap melihat Andini terluka." Arsena berkata dengan hati yang amat pedih.
"Tapi jika Andini benar-benar mandul, bukankah kamu membutuhkan seorang pewaris untuk meneruskan perusahaan keluarga kalian."
"Mandul!"
"Tidak! aku dan Andini pasti memiliki keturunan, aku tak mau kau mengucap kata buruk itu untuk istriku."
"Maaf." Namira menundukkan kepala, saat marah seorang sahabat ternyata tak ada artinya Dimata pria itu. "Andini beruntung memiliki pria. Sepertimu Ars,"
__ADS_1
"Aku lebih beruntung, memiliki istri seperti dia. Satu kata saja berani merendahkan Andiniku, sudah pasti dia akan menyesali kata-katanya seumur hidup. mengerti!"
"Mengerti Ars. Maaf jika aku salah bicara." kepala Namira tertunduk tanpa berani menatap sorot mata tajam milik Arsena.