Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 159. Babi Twins akan launcing.


__ADS_3

Setengah jam kemudian Andini kembali merasakan perutnya sakit.


Andini kembali membangunkan suaminya. Menggoyang goyang tubuhnya pelan."Ars perutku sakit lagi."


Arsena mengerjapkan matanya. Bangun, tidur, bangun, tidur, berulang kali membuat kepalanya pusing." Ada apa lagi sih, sayang? Katanya tadi sakitnya sudah hilang," gerutunya. Sambil menguap. Arsena terlihat lelah dan capek.


"Entahlah, sakitnya datang lagi." Kata Andini memegangi perut bawahnya, Sambil menahan sakit Andini bangkit dari tidurnya dan bersandar.


"Ya udah, aku gosok pake minyak hangat ya? Siapa tahu bisa sedikit membantu." Dengan sempoyongan Arsena menuju laci berharap menemukan minyak kayu putih yang ia cari.


Nasib baik. Dalam kondisi ngantuk, Arsena menemukan botol kecil itu.


Arsena segera mendekati istrinya, menyingkap baju tidur yang dipakai Andini. Arsenal segera membalur perut dan punggung Andini dengan minyak hangat secara merata.


"Maaf ya, merepotkan." Andini menatap kasihan pada suaminya yang sudah setia melayani semenjak awal kehamilan.


" Enggak kok, cuma lagi ngantuk aja. Sekarang luruskan kakinya, biar aku pijitin," pinta Arsena.


Arsena mulai memijit kaki Andini pelan-pelan. Arsena kasian melihat kaki Andini sedikit membengkak. setelah ditanya Andini bilang itu semua wajar. jadi Arsena bisa sedikit tenang.


"Duh kasian gara-gara menggendong dua anakku, kakinya jadi membengkak begini." kata Arsena yang tubuhnya terayun ayun menekan pelan-pelan kaki Andini.


"Ars, sakitnya datang lagi. Sepertinya aku mau buang puff deh." Andini turun dari ranjang, berjalan tertatih sambil merambat pada nakas dan dinding.


"Sayang, katakan padaku jika kamu butuh bantuan. Aku siap membantu." Arsena berjalan mengekor di belakang Andini. Arsena siap siaga saat terjadi apa-apa dengan Andini secara mendadak.


"Ars, diluar saja. Aku malu jika kamu ikut masuk."


"Nggak apa-apa, Sayang"


"Keluaaar! Nalu ah, mau buang puff, juga." Andini memanyunkan bibirnya sambil mengunci pintu kamar mandi.


Arsena terpaksa mengalah, Ia memilih menunggu Andini di depan pintu.


Dua puluh menit Andini berlalu, Andini berada di kamar mandi tanpa ada suara gayung. Membuat Arsena kembali gelisah


"Yang, kok lama sih, lagi ngapain aja?"


Andini kembali membuka pintu. Dia masih memegangi pinggangnya. Aku nggak jadi buang puff, sepertinya aku mau melahirkan Ars."


"Yang benar sayang, jangan-jangan itu cuma kontraksi seperti tadi pagi Namira bilang, masih dua bulan lagi."


Arsena menggandeng Andini, membimbing duduk di sebuah kursi empuk, Arsena kemudian duduk di sebelahnya.


Arsena mengusap bintik-bintik keringat yang ada di kening Andini. "Sakit banget ya? Maaf sudah membuat kamu menderita dengan dua bayiku, sekaligus. Mereka pasti nanti akan bangga memiliki ibu kuat dan secantik dirimu, " ujar Arsena dengan lembut, dan tentunya sangat menghibur Andini.

__ADS_1


Andini tak menjawab apapun , selain menjatuhkan kepalanya semakin ketat di dada suaminya.


"Tidur lagi, aku gendong ke ranjang ya," tawarnya. Tak tega melihat Andini terus saja mengelus perutnya, wajahnya meringis menahan sakit yang datang dan hilang. Bahkan frekuensinya semakin cepat. Tadinya lima belas menit sekali, sekarang menjadi sepuluh menit.


Arsena segera menggendong Andini keranjang. Dia tak sengaja menyentuh baju Andini bagian belakang yang sudah basah.


"Sayang kamu pipis di celana ya, aku baru saja menyentuh celana belakang kamu basah."


"Benarkah? Air ketubanku udah merembes!" Andini ikut menyentuh bokongnya.


"Ars, antarkan aku kerumah bersalin sekarang, aku ingin melahirkan," pinta Andini yang langsung mendapat persetujuan dari Arsena.


"Baiklah sayang, tahan sebentar aku akan mempersiapkan keberangkatan kita." Diberitahu ingin melahirkan Arsena semakin panik. Dia segera menelepon Davit yang sedang tidur di kamar lain.


"Vit, ayo segera siapkan mobil sekarang juga. Nona mau melahirkan."


"Melahirkan, Tuan!"


"Iya benar! Cepat siapkan mobilnya sekarang," ucap Arsena ketus dan segera mematikan ponselnya.


Arsena segera


Mengetuk pintu kamar orang tua Andini berulang kali hingga Ana dan Doni terkejut.


"Aa, siapa?"


Doni dengan wajah terkantuk-kantuk segera membukakan pintu untuk Arsena. Dia juga memasang wajah heran kenapa membangunkan selarut ini.


Doni hafal pada mantan majikannya, kalau bukan hal penting tidak mungkin dia akan datang menemuinya.


"Ada apa Den? Pasti sangat penting?"


Pak! Andini merasakan sakit di perutnya, aku minta izin untuk mengantarnya sekarang juga.


"Melahirkan? Baiklah pergilah sekarang juga, bawa Nona. Aku akan menyusul." Doni yang hanya memakai sarung itu kembali menutup pintunya. Dan Arsena pun pergi.


"Sayang, aku akan segera membawamu ke rumah bersalin. Tenang ya!" begitu kata Arsena ketika telah kembali.


Ningsih yang mendengar ada ribut di kamar tamu, diapun ikut bangun dan membantu menyiapkan sesuatu yang akan dibutuhkan oleh Andini termasuk baju ganti untuk Andini dan sedikit baju bayi yang dibeli Ana untuk cucunya.


"Nona, minum susu dan vitamin, biar nona bertenaga, saat mengejan nanti," kata Ningsih.


"Terimakasih Mbak." Andini menurut, dia meminum susu buatan Ningsih.


"Tuan ganteng bolehkah Ningsih ikut?"

__ADS_1


"Tidak perlu, tidurlah lagi ini sudah malam." ujar Arsena.


" Oh, Tuan ganteng, Anda rupanya sangat pengertian sama Ningsih." Ningsih pun kembali ke kamarnya.


Arsena yang selalu memiliki pandangan teduh pada Andini. Kini menggendongnya dengan hati-hati menuju nobil yang sudah bertengger di halaman, dengan kondisi mesin terus menyala


"Ars sakit ...." Rintih Andini yang berada di gendongan Arsena. merasakan sakit di perutnya yang frekuensinya semakin sering dengan tingkat sakit yang semakin bertambah.


"Sabar Sayang, tahan dulu, kita ke rumah sakit sekarang"


"Nggak bisa ditahan, sakitnya terus datang hilang sendiri ... aaaaa, sakit." Andini merangkul tengkuk Arsena kuat kuat.


"Iya Kita akan segera menuju rumah bersalin." Rasa ngantuk yang tadi menguasai Arsena kini berubah menjadi panik, khawatir dan juga siaga.


"Vit, cepat sedikit lagi! Nona sudah kesakitan!" Perintahnya pada Davit


"I-iya, Tuan."


Davit menambah kecepatan mobilnya, untung jalanan tengah malam begitu lengang, sehingga tak terlalu sering mengerem mobil mendadak yang membuat tubuh Andini makin terguncang.


Sampai di jalan Arsena segera meminta sahabatnya Namira untuk siaga. Menyiapkan kamar VVIP untuk istrinya.


Namira beserta perawat sif malam segera menyiapkan alat yang mungkin dibutuhkan oleh pasien. Apalagi istri pemilik rumah sakit yang bertandang datang. Ia tidak mau Arsena menilai ada kecacatan dalam kinerja tim Dokter bersalin di RS miliknya.


Andini yang merasakan pinggangnya ingin patah dan sakit diperutnya semakin menggila terus saja minta perutnya dibelai oleh sentuhan tangan lembut Arsena. Belaian tangan suaminya seakan menjadi kekuatan Andini untuk terus berjuang melahirkan baby bear untuk papa bear yang sudah jinak itu.


Sampai di halaman rumah sakit Arsena tanpa menunggu lama segera membopong tubuh Andini menuju ruang VVIP khusus berasalin yang lumayan menguras keringat dan tenaganya.


Arsena mengikuti kemanapun Andini dibawa.


Tiba tiba seorang perawat menahan Arsena agar menunggunya diluar untuk sementara. Karena Andini akan melewati masa pengecekan kondisi tubuhnya. Apakah memungkinkan untuk melahirkan normal seperti yang diinginkan oleh Andini sendiri.


Arsena melepas genggaman tangan Andini yang seakan ia menaruh harapan dan hidupnya pada wanita yang dulu sangat di benci itu.


"Sayang kamu pasti kuat, kamu bisa! " Arsena memberi semangat untuk Andini sebelum genggaman tangan mereka benar benar terlepas.


Arsena segera berlari menuju kaca pengintai. Andini juga menatap Arsena lewat kaca itu. Senyum sesekali terukir dari bibir Andini untuk suaminya. Sambil meringis menahan sakitnya.


Ana dan Doni tiba-tiba sudah ada di belakang Arsena. Doni menepuk pundak Arsena, membuatnya terjengkit kaget.


"Kita bantu Do,a supaya Andini memiliki tenaga ekstra untuk melahirkan dua bayi kembarnya," ucap Doni.


"Pak, Buk." Arsena menoleh dan melontarkan senyum cemasnya.


Mereka bertiga kini berdoa untuk keselamatan Andini dan bayinya.

__ADS_1


'Aku yakin Andini ku akan kuat. Andini ku, dia wanita hebat.'


__ADS_2