
Musik masih mengalun merdu sepanjang acara. Tak lama pranata cara naik membacakan serentetan acara yang sudah tersusun rapi di malam ini.
Acara pertama sudah akan dimulai. Kali ini Davit naik ke podium lewat anak tangga sebelah kiri , Arini di dampingi Papa Johan lewat tangga sebelah kanan.
Khalayak yang datang bertepuk tangan sebentar, selang beberapa menit tiba-tiba suasana menjadi hening
Pranatacara menyerahkan mikrofon pada Davit. Mereka semua ingin mendengar ungkapan cinta Davit pada Arini. Kedua muda-mudi itu nampak malu-malu
Davit mencoba microphon nya , setelah dirasa tak ada masalah dengan microphone di genggamannya, satu tangan Davit mulai meraih jemari Arini.
Sorak sorai kembali bergemuruh Musik kembali mengalun merdu namun kali ini dengan volume yang lebih kecil.
Davit mulai merayu Arini walau dengan gayanya yang garing, percayalah dia sudah nervous banget di panggung.
" Hai Nona yang cantik kenalkan daku adalah Davit Handaru, daku kesini ingin mempersunting dikau yang jelita ini. Sudikah kiranya dikau menerima Akak hanya seorang sopir? Akak kesini tadi hanya membawa nenek tersayang dan ketulusan cinta. Sekali lagi aku bertanya. Nona Arini yang cantik, akankah cintaku ini diterima?"
Dengan malu malu Arini menjawab ungkapan cinta Davit yang menggunakan mikrofon juga. Dia pun berkata dengan senyumnya yang lebar. "Akak Davit, terima kasih sudah hadir dalam hidup Arini, cinta dan ketulusan yang kau bawa aku terima dengan kedua tanganku, sungguh cintaku tak pernah memandang kasta, Aku mencintaimu tulus dari hatiku yang paling dalam, segala yang ada pada dirimu aku menyukainya, Aku hanya ingin dirimu, Kak Davit."
"Syukurlah." Davit menangkupkan sebelah tangannya ke wajahnya. Arini tersenyum malu malu sambil menyerahkan mikrofon ke tangan pranata cara.
Davit dan Arini sama sama tak membawa mikrofon di tangannya. Kini Davit terlihat sedang serius, dia menurunkan satu lututnya hingga menyentuh lantai dan satu kakinya menyangga tubuhnya.
Davit mengeluarkan kotak berisi cincin dari sakunya dan segera membuka dengan sangat hati-hati. Nenek dan Oma saling pandang dan melempar senyum. Sementara Arsena menggendong Excel dan Cello yang rewel karena bangun tidur. Sedangkan Andini menatap Davit dan Arini hingga tanpa berkedip. Maklum dulu Arsena tak melamarnya lebih dulu.
Cincin terbuat dari berlian dengan satu mata kecil dari mutiara asli itu ia ambil dari kotaknya.
"Sayang, berikan tanganmu padaku." Davit meraih jari Arini dan mengecupnya sesaat sebelum menyisipkan ke jari manis Arini. Kepalanya mendongak keatas, seakan yang berdiri didekatnya adalah sosok bidadari yang baru saja turun dari langit ketujuh.
Nathan tak kuat melihat semua ini, matanya merah menahan cemburu, Jemarinya menggenggam gelas didepannya hingga retak.
"Mau kemana kamu?" Papa Nathan menahan lengan putranya yang hendak beranjak.
__ADS_1
Nathan menghentakkan lengannya, hingga genggaman sang papa terlepas. "Semua ini terjadi karena Papa, Papa terlalu lemah, atau mungkin aku memang bukan anak kandung anda."
Tanpa ada yang tahu Nathan pergi dari acara tunangan Davit dan Arini sebelum acara selesai.
Papa Nathan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, melihat tingkah arogant putranya.
Awalnya Nathan merelakan Arini dengan Davit, tetapi setelah ia sadari Arini akan menjadi milik Davit untuk selamanya, dan dia tak akan pernah memiliki waktu berdua seperti dulu, timbul sebuah penyesalan yang dalam.
Nathan mengepalkan tangannya keras dan ia pukulkan pada kemudi mobil. Setelah itu ia menghilang pergi entah kemana, bersama dengan mobil sporty miliknya.
Davit terpana, Arini tersenyum anggun. Usai mengecup jemarinya kini Davit menyisipkan cincin berlian itu dengan hati hati, tepuk tangan tak terelakkan lagi.
"Peluk! peluk! peluk!" Salsa dan kawan kawan Arini bertepuk tangan paling kencang di antara tamu undangan lainnya.
Davit dan Arini terlihat semakin canggung. Dia hanya bisa menunduk malu-malu.
"Cium donk, ah nggak seru kak Davit ini." Salsa heboh sendiri.
Davit dan Arini saling memandang. Akhirnya Davit memberanikan diri memeluk Arini di depan umum.
Papa dan Mama hanya geleng kepala, melihat kawan Arini paling heboh diantara tamu yang lainnya.
Davit kini melepaskan pelukannya, Arini mengambil cincin satu lagi di kotak merah yang ada ditangan Davit. Arini meraih jemari Davit yang sudah terulur dengan manja minta segera di sambut.
Arini segera menyisipkan cincin yang sama dengan miliknya itu di jari manis Davit.
" Kak jangan pernah lepas cincin ini apapun alasannya, kak Davit harus selalu memakai setiap hari. Kalau kakak lepas berarti udah nggak sayang lagi sama Arini," pintanya.
"Tentu tidak, aku janji akan selalu memakainya, tapi ada yang harus di ingat, cintaku padamu tak pernah tergantung pada cincin ini, Sayang. Kalaupun cincin ini hilang, aku akan terus menyayangimu sama seperti hari ini."
"Cup" bibir Davit mendarat juga di kening Arini. Pipi Arini seketika merona. Diperlakukan Davit demikian mesra di depan teman-temannya.
__ADS_1
"Hiii ... sweet banget sih mereka" Salsa menggigit ujung jarinya sendiri.
Andini beserta Arsena yang menggendong Excel dan Cello segera berlari naik di podium ia peluk calon keluarga besarnya dengan hangat, disusul Mama dan Papa serta Oma dan Nenek.
Sedangkan Miko dan Mert cukup tepuk tangan di bawah sambil merengkuh pundak istrinya masing-masing.
"Kak, Davit ternyata sweet banget, setelah mereka menikah nanti pasti akan lebih romantis. Nggak seperti Kak Miko," cibir Dara.
" Apa kamu juga ingin menikah dengan Davit juga hah?" Miko malah menanggapi kata kata Dara dengan cemburu.
Bukan ingin menikah dengan Davit, tapi ingin punya suami yang romantis dan menggemaskan seperti dia, bukan cuek seperti kakak begini."
"Davit kan cuma ada satu, yang seperti dia tentu sudah tak ada lagi. kalau suka sama dia tentu nggak ada kesempatan lagi, " Miko makin kesal.
Dara melirik Miko. " Ya beginilah nasib wanita yang menjadi pelarian semata, ingin perhatian suami saja harus seperti pengemis.
"Pelarian? Jadi maksutmu selama ini aku masih menyukai Andini? Aku nggak nyangka ya kamu masih memikirkan masalalu itu." Miko berbicara dengan wajahnya yang kesal
"Kak, tapi aku kan bercanda." Dara akhirnya mengalah. Dia mengelus perutnya membuat Miko yang sempat emosi akhirnya hatinya melunak.
Miko merengkuh pundak Dara dan mengecup keningnya. "Aku janji akan seromantis mungkin denganmu mulai hari ini. tapi jangan bandingkan aku dengan siapapun, karena aku punya cara sendiri untuk menyayangimu, Dara istriku."
Mert dan Zara yang mendengar gombalan Miko kepada istrinya hanya tersenyum. Mereka hampir bosan melihat Dara yang pencemburu dan Miko yang kadang pemarah.
Usai tukar cincin dan foto bersama keluarga serta handai taulan, kini pranatacara menyampaikan acara terakhir yaitu tentang memutar ulang sebuah moment moment terindah kebersamaan Arini dan Davit. Selain sebuah Foto ada juga beberapa video berdurasi pendek.
Davit dan Arini turun dari podium panggung. Davit turun lebih dulu sambil membantu Arini turun menapaki tangga dengan hati-hati. Genggaman tangan mereka tak pernah terlepas hingga sampai disebuah kursi yang disediakan khusus untuk berdua.
Sedangkan Andini turun disambut oleh Arsena dengan rikuh, karena Arsena menggendong dua bayinya yang sudah mulai bisa berbicara menyebut beberapa kata.
Saat semua sudah duduk dengan rapi, cahaya proyektor mulai menerpa layar lebar yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Senyum tak henti-hentinya menghiasi bibir Arini dan Davit. Tangan yang terus bertautan dan sebuah rasa damai. Selangkah lagi mereka akan saling memiliki.
* Happy reading.