
" sudahlah, sekarang sudah terlanjur. Lebih baik kita belajar dari pengalaman hari ini." Andini masih terus memeluk adik iparnya sambil mengelus punggungnya.
Arsena melihat Arini dengan tatapan kasihan namun juga kecewa. Bagaimana bisa dia memiliki adik sebodoh dia, namun monolog itu segera ia sadari. Kalau dirinya dulu juga amat bodoh. Memilih mencintai Lili daripada Andini hingga mereka semua harus terluka. Terutama Miko yang paling menderita. Tertembak dan koma.
"Arini, kakak bersyukur kau telah pulih dengan cepat. Tapi kau harus bertanggung jawab telah membuat Davit terluka. Dia harus terjebak dalam kehidupan bodohmu."
"Maksud kakak? Apa yang bisa Arini lakukan? Arini bukan Dokter."
"Davit terluka parah, kamu harus bertanggung jawab merawat dia, memberi dia semangat agar cepat sembuh. Andai neneknya di kampung tau dia tak akan memaafkanmu, dan dia juga sahabat Miko. Tentu Miko akan kecewa padamu."
"Iya Kak." Arini mengangguk dengan wajahnya yang tertunduk.
"Apa aku bisa melihat kondisi kak Davit sekarang?" lirih Arini yang semakin merasa bersalah.
"Belum bisa, kita tunggu sampai operasinya selesai." Arsena kembali memasang wajah sendu. Lalu keluar ruangan Arini. Dia kembali menunggu Davit di depan ruang operasi. ini pertama kalinya dia amat mengkhawatirkan nasib seorang bawahannya.
Mama Rena menarik nafas dalam-dalam." Arini mama juga kecewa sama kamu. Teman seperti apa ada di sekelilingmu. Pengkhianat itu bukan teman,"ujar Mama. Mama juga pergi meninggalkan Arini. Dia lega putrinya tak luka sedikitpun. Namun tetap ingin memberi hukuman agar kesalahan fatal tak terulang lagi.
"Mbak apa Willy dan temannya yang sudah membuat kak David terluka semuanya sudah ditangkap?" tanya Arini.
"Ya, mereka sudah ditangkap. itu yang aku dengar saat Ken berbicara tadi."
Tinggal Andini seorang yang menemani Arini. Arini terlihat ingin berbicara banyak pada Andini. kakaknya sungguh tak bisa menjadi teman curhat. Apalagi Mama, di hidupnya hanya ada Excel dan Cello saja.
"Kak, mereka semua marah sama Arini. Apa kesalahan Arini tak bisa dimaafkan?"
"Mereka tidak Marah. Sayang. Mereka ingin kamu lebih dewasa dan hati-hati lagi. Kita semua tidak bisa mengawasimu seperti seorang bayi terus-menerus" ujar Andini sambil membelai rambut Arini yang tergerai berantakan.
Arini kembali menganggukkan kepalanya. Angannya hanya tertuju pada Davit. Bagaimana kalau Davit meninggal sebelum dia mengucapkan minta maaf? Bagaimana kalau Davit akan cacat seumur hidup?
"Kak, antarkan Arini ke ruangan kak Davit. Arini tak bisa menunggu disini, nanti Arini tidak tahu kalau kak Davit sudah selesai di operasi."
Baru tenang sebentar Arini kembali panik. Emosinya masih sangat labil, apalagi sikap keluarga yang cenderung menyalahkan dirinya.
" Arini tenang. Davit sedang ditangani dokter, kalau kamu kesana sekarang juga percuma. Dokter nggak akan izinkan. Kehadiranmu akan mengganggu Dokter yang sedang bekerja," tutur Andini lemah lembut.
Arini akhirnya menurut, dia mengambil obat yang ada ditangan Andini dan memasukkan ke dalam mulutnya disusul segelas air yang diambilkan Andini juga. Setelah selesai meminum obat Andini menyuapai Arini dengan bubur.
__ADS_1
Perutnya sudah kenyang, kantuk kembali menyerang, Arini terpaksa harus tidur lagi.
"Tidurlah, setelah lebih baik nanti. kita jenguk Davit bersama-sama." Andini menyelimuti tubuh Arini hingga sebatas Dada. Arini segera pulas.
******
Tidur nyenyak Arini kembali harus terganggu. Gadis pemilik lesung di pipi itu mendengar suara sayup sayup seseorang sedang merintih. Arini mencari asal suara ternyata dari ruang sebelah.
Arini berjalan mendekati pasien yang sedang sendirian berjuang melawan hidup dan mati itu. Tubuhnya berkeringat kepanasan mungkin karena efek obat yang di berikan. Pria itu terus saja merintih kesakitan berguling ke kanan dan ke kiri dengan pelan, semua usahanya tak membantu mengurangi rasa sakitnya.
"Kak! Kak Davit!" Panggil Arini dengan matanya mulai berkaca kaca. Pemandangan di depannya begitu memilukan. Tubuh pria itu lebam semua, dadanya gosong oleh bekas sepatu, di lempeng perutnya ada bekas tusukan yang sudah dibalut kapas tebal namun darahnya masih tetap merembes. Membuat semakin sempurna sudah penderitaannya.
Mendengar ada yang memanggilnya pria itu membuka mata, sambil meringis menahan sakit. Davit menoleh ke arah Arini yang berdiri mematung di sebelahnya. Arini tak berani mendekat.
"Kak Davit," lirih Arini yang membungkam mulut dengan kedua tangannya. Airmata semakin deras dari kedua pelupuk.
"Nona, aku tak kuat lagi, ini terlalu sakit Nona." Erang Davit yang menatap Arini dengan kepedihan.
"Maafkan aku Kak. Aku tak bisa berbuat apa apa."
"Nona, aku tak sanggup lagi. Aku ingin mati saja. Bunuh aku Nona. Biar ini cepat berakhir."
"Nona. Kau jangan menangis. Aku bahagia pernah berguna untukmu. Aku bahagia bisa datang tepat pada waktunya. Pria breng*sek itu tak berhasil merenggut kehormatanmu. Andaikan itu terjadi aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Nona." ujar Davit menatap Arini dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Davit mengulurkan tangannya, Arini tak mengerti maksud Davit. Arini tetap menyambut uluran tangan itu. "Nona sebelum pergi aku ingin mengatakan satu hal. Apa aku masih memberiku izin untuk bicara, Nona."
"Tentu Kak Davit, kau bicaralah, katakan apa saja yang kau inginkan. Aku pasti akan mendengar," ujar Arini dengan bibir bergetar. Bibirnya basah oleh air mata, bahkan sebagian ada yang masuk ke mulut menyentuh lidahnya.
"Nona ... Kau boleh katakan aku sopir yang tak tau diri atau apa terserah, sebelum pergi aku ingin kau tau bahwa aku menyimpan kekaguman pada mu. Ya ... Aku mengagumi dirimu yang tercipta begitu indah ini Nona."
"Sebelum aku pergi untuk selamanya aku ingin kau tahu." Davit mengulangi kata katanya.
" Bodoh sekali bukan? Aku berani menaruh hati pada majikanmu. Betapa tak tahu dirinya aku." Davit tersenyum namun tatapannya telah kosong. Davit terlihat tak bersemangat.
Arini menggelengkan kepala. " Kak Davit jahat, kenapa kau berkata demikian jika ingin pergi. Aku tak ingin tahu semuanya."
"Buat apa? Jika aku tahu lalu kita akan berpisah? Kau hanya akan membuat aku merasakan perasaan ini sendiri, aku bisa mati." Arini semakin histeris sendiri.
__ADS_1
Davit menarik jemari Arini lalu mengecupnya. Davit tersenyum, wajah tampannya tetap terlihat meskipun sedikit pucat. Arini tak menolak Davit bersikap demikian.
"Selamat tinggal Nona. Aku ingin tidur. Aku sudah tak kuat lagi."
"Tidak, Kak Davit jangan pergi. Kak Davit harus hidup. Kau tak boleh mati, apa kau tak ingin mendengar jawaban dariku atas pernyataan cintamu?"
" Aku sudah tau jawabannya? Aku sopir yang tak tahu diri, berani sekali mencintaimu. Itu kan yang ingin kau katakan? Jujur Nona. Walaupun kau jutek. Justru aku semakin cinta dan sayang." Suara Davit mulai tersengal.
" Maaf Nona, aku benar-benar harus pergi." Genggaman tangan Davit semakin melemah dan akhirnya denyut di tangan Davit pun menghilang. Saat nyawa keluar dari raga melalui ubun ubun, bagian tubuh yang ditinggalkannya berubah menjadi dingin.
Layar EKG pun menunjukkan garis lurus. Menandakan jantung Davit juga kehilangan fungsi.
Arini lemas seketika, kedua kakinya telah kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Suster dan Dokter berhamburan mendekat tanpa memedulikan Arini yang lunglai di dekatnya. " Kak Davit, kau tak boleh pergi. Jangan pergi. Siapa yang akan melindungi ku jika aku dalam bahaya," rancau Arini yang begitu terpukul.
Dokter Vano segera menggunakan alat bantu defibrillator untuk membantu mengembalikan detak jantung Davit yang terhenti. Dan Dokter Vanya mengatur besar kecilnya tekanan listrik yang harus diberikan.
Dokter Vano menyatukan defibrillator dan memutarnya siap untuk di sentuhkan pada dada Davit.
" Dokter Vanya, mulai dari seratus lima puluh volt." Perintah Dokter Vano yang sudah dimengerti oleh Dokter Vanya."
"Siap Dokter."
Vano berulang kali memberikan rangsangan agar jantung Davit kembali bekerja, namun hasilnya belum juga terlihat.
"Dokter Vanya, naikkan lagi hingga tekanan dua ratus Volt," perintah Dokter Vano lagi.
"Siap Dokter." Vanya patuh. Dengan cekatan dia segera menaikkan tekanan arus listrik pada defibrillator hingga mencapai dua ratus Volt. Namun tak ada hasil yang di dapat.
"Pasien sudah tak bisa diselamatkan. Dia sudah sangat lelah," ujar Dokter Vano kembali meletakkan alat-alatnya.
"Sayang sekali dia harus pergi ketika usianya masih sangat muda."
Dokter menutup sekujur tubuh Davit dengan kain putih pemberian perawat, menutup tubuh Davit yang sudah terkapar tak bernyawa.
" Tidaaaak." Arini tak terima dokter berkata Davit sudah pergi, dia membuka kembali kain yang menutup wajah Davit.
" Tidak mungkin kak Davit matu. Kak Davit harus hidup. Tidaaak!! huhuhu." Arini tergugu sambil membenamkan kepalanya di dada Davit.
__ADS_1
*Happy reading.
* jangan lupa bagi-bagi votenya. Like dan komen sangat ditunggu.