
"Mbak, hamil ya perutnya agak besaran?" Tanya Arini saat menikmati salad buah di ruangan Andini. Ia memperhatikan penampilan Andini juga berubah, ia suka memakai baju longgar.
"Iya, usia kehamilan Mbak baru mau menginjak tiga bulan, tapi perut Mbak lebih besaran, soalnya dedek yang ada di dalam sini kembar," jelas Andini sambil mengelus perutnya bahagia.
" Hebat banget Mbak Andini ini, sekali hamil dedeknya langsung ada dua. Arini boleh pegang ya, Mbak. Pengen elus." ujar Arini setelah menghabiskan satu cup salad buah.
"Bolehlah dia pasti senang banget di elus sama tantenya yang cantik ini." Andini menyentuhkan tangan Arini ke perutnya.
"Dia nanti pasti lucu-lucu ya, Mbak. Aku pengennya, satu laki-laki satunya lagi perempuan. Tapi kalau dia lahir cewek semua juga nggak papa. Kalau kak Arsena pengennya cewek apa cowok?"
"Kak Arsena? Belum pernah bilang ke Mbak. Maunya dia sih yang penting dua-duanya sehat."
"Benar itu Nona, mau cewek atau cowok yang penting sehat," ujar Zara menimpali ketika dirinya lewat disebelah Andini dan Arini. Zara hendak membuang wadah salad buah yang telah kosong.
"Iya deh, Arini kan cuma request, siapa tahu didengarkan oleh Tuhan, dan dia mengabulkan keinginan Arini."
" Iya boleh, Tuhan pasti mendengar, tapi kalau sudah dikabulkan Tuhan, janji dedeknya harus disayang ya ." Andini mengelus rambut Arini yang lembut.
"Pasti dong Mbak, dia akan jadi keponakanku yang paling terlope sekarang aja dah gak sabar nunggu dedeknya lahir."
kesedihan Arini setidaknya mendapat sedikit obat, tatkala mendengar kakak iparnya hamil. Andini dan Arini bisa tersenyum sesaat.
_______
"Arini mau minta tolong sama Mbak Andini, tolong bicara ke kakak Arsena ya!
Supaya mau pulang lagi ke rumah, Mama sakit pasti karena Kak Ars pergi.
"Iya Sayangku, Mbak akan bicara sama Kakak Arsena nanti."
" Makasih, Mbak Andini. Hanya Mbak, yang bisa buat Kakak beruang kutup itu merubah keputusannya. Aku berharap banyak dari Mbak."
Arini kemudian merebahkan tubuhnya dibantalan sofa, ia sedang sedih memikirkan Mama belum juga siuman. Sedangkan dirinya sedang menghadapi ujian akhir semester.
"Pah, jika Papa capek istirahat dulu, nanti kita gantian yang jaga Mama." ujar Arsena yang melihat papa beberapa kali menguap.
"Papa belum ingin tidur Ars, papa takut terjadi apa-apa sama mama. Mama begini pasti karena Papa juga." Kata Johan dengan wajahnya yang sendu, ada setitik penyesalan di hatinya. Jika saja dia tidak mengancam akan menceraikan Rena, mungkin Rena tak akan mendadak drop seperti hari ini.
"Papa, bersalah pada Mama, mama mengancam akan menceraikannya jika kamu tak kembali. Papa kecewa berat waktu itu, papa hanya berharap kondisi mama segera pulih."
"Mama pasti akan cepat bangun Pa, mama hanya tidur," ucap Arsena menenangkan papanya. Arsena membantu Johan berdiri dan pindah ke sofa panjang. Arsena berharap saat tiduran papanya akan benar-benar terpejam.
__ADS_1
Benar dugaan Arsena, Johan sangat lelah. Baru saja menempelkan kepalanya di sofa, dia langsung terpejam, mata tuanya tak mampu lagi terjaga. Arsena meletakkan selimut diatas tubuh Johan dengan hati-hati. Tak rela jika tidur Papa terusik.
Arsena kembali mendekati Mama. Sekarang giliran membenarkan selimut Mama, lalu kembali duduk di kursi yang digunakan oleh Johan tadi.
"Ma, Arsena sayang sama, Mama. Mama cepet buka mata ya? Cepat bangun, Kalau mama bangun Arsena janji akan pulang lagi."
"Tapi Arsena juga minta sama Mama, terima Andini apa adanya, dia sumber kebahagiaan Arsena." Arsena membeo layaknya anak kecil. Dia yakin kalau Mama Rena pasti mendengar suaranya.
Air mata yang sejak tadi berusaha di bendung kini berlahan menetes membasahi pipi, Arsena mengecup tangan Mama dengan lembut.
"Mama mau kan? Ini semua untuk kebaikan kita berdua, Ma."
Arsena, meletakkan keningnya di punggung tangan mama hingga lama sekali, sambil memejamkan mata. Arsena berharap Mama segera mengalami perubahan.
Derap langkah kaki seseorang mengagetkan Arsena kembali, Arsena mendongakkan kepalanya.
"Ars, yang sabar ya, aku ikut sedih dengan peristiwa yang menimpa Tante," ujar wanita itu.
Arsena menoleh menelisik wanita yang tiba-tiba datang dan berdiri di sebelahnya. "Terima kasih, siapa yang memberitahumu?"
"Aku tahu dari bibi di rumah. Sebenarnya tadi aku ingin bertemu Tante. Tapi malah mendengar kabar buruk ini." Anita memasang wajah sedih, dia ikut prihatin dengan sesuatu yang menimpa Rena."
"Terima kasih sudah datang," lirih Arsena. Dia khawatir suaranya akan mengganggu papa.
"Tante cepat sembuh ya, Tan" Anita menggenggam tangan Rena.
"Kalau Tante sembuh, kita akan jalan-jalan kemanapun yang Tante mau, Anita akan temenin. Liburan, belanja."
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Arsena.
"Aku sendiri, mama ku juga sudah aku kabari, tadi banyak pelanggan yang nungguin. Mungkin besok pagi-pagi sekali mama akan datang "
"Anita, ini sudah malam, sebaiknya pulanglah. sebelum larut," perintah Arsena.
"Aku mau disini, aku menunggu Tante." Anita kekeuh, masih keras kepala.
"Sudah ada aku dan papa yang menunggu, aku tak ingin merepotkan orang lain."
"Aku bukan orang lain. Bagiku Tante Rena dia sudah seperti Mama ku sendiri. Begitu pula dengan Tante Rena, dia sudah menganggapku seperti putrinya." Anita melengkungkan bibirnya.
"Terserahlah, hubungan kalian seperti apa." Arsena hendak pergi keluar membeli minum, Namun Anita menahan lengannya.
"Baiklah aku akan pulang. Antar aku sampai taman ya please!" Pinta Anita dengan wajah memelas.
__ADS_1
Daripada wanita itu terus di dalam ruangan dan membuat suasana canggung, Arsena menuruti keinginan Anita, "Baiklah."
Arsena melangkahkan kaki keluar Anita berada dibelakangnya menyusuri sepanjang koridor rumah sakit.
Tak lama mereka berdua sudah berada di sebuah taman. Taman nampak sepi hanya satu dua orang yang lalu lalang.
Anita dengan tergesa mengejar langkah Arsena, wanita tak punya malu itu memeluk Arsena dari belakang.
Dia menangis terisak Isak isak. Mencurahkan kesedihannya " Ars, izinkan aku memelukmu yang terakhir kali, aku sangat sedih, aku tak tau pada siapa lagi berbagi cerita ini.
"Anita lepaskan!" Arsena menghentikan langkahnya. "Kenapa kau tiba-tiba melow seperti ini."
Arsena, aku mohon sebentar saja, aku merasa sedikit tenang bisa memelukmu seperti ini. Aku sedang dalam masalah besar, tak tau lagi dengan siapa lagi aku berbagi kesedihan.
"Apa yang sedang terjadi. Masalah apa?" Melihat wanita menangis Arsena menjadi bersimpati.
"Aku, hancur ..." Anita masih memeluk Arsena dari belakang menyandarkan kepalanya. Dia menemukan sedikit ketenangan. Namun, Anita jadi ragu akan menceritakan hari kelamnya ketika tidur dengan Mert.
Saat Anita memeluknya Arsena melihat sepasang mata menatapnya dengan kecewa.
"Anita lepaskan!" Arsena menghentakkan lengan Anita.
Anita segera menjauhkan kepala dan melepas pelukannya. "Andini."
Bagus, Andini melihat aku memeluk suaminya, sepertinya ini akan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Ayolah Andini, cemburu, aku suka kamu cemburu.
"Ars, sedang apa disini?" Andini melihat suaminya dengan tatapan tajam. Mungkin ini pertamanya tatapan Istri yang membuat Arsena merasa gemetar. Bukan karena merasa bersalah, karena dia memang tak memeluk Anita, tapi dia takut terkena amukan
"Aku mengantar Anita, dia habis membesuk mama."
Bukannya marah, tapi Andini justru memeluk suaminya dari arah depan, mengecup bibirnya manja. "Sayang, sekarang sudah selesai mengantarnya kan? Mari kita masuk. Kata penjaga taman tadi ... disini banyak sekali ular yang berbisa."
"Benarkah?" Arsena menahan tawanya. Ia tahu apa maksud istrinya.
"Iyaaa, kita harus cepat masuk, sebelum dia menggigitku, karena aku sedang hamil anak kita. Ibu hamil resikonya lebih besar jika terkena bisa ular." Andini melepas pelukannya, kemudian melingkarkan tangannya di lengan Arsena.
"Ayo, Ars, kita pergi dari sini." Andini menarik lengan suaminya pergi, sambil menatap tajam ke arah Anita.
Huh, sial gue dibilang ular, sama wanita kampungan ini.
"Anita, maaf kita masuk dulu." ucap Andini lagi.
"I-iya." Anita wajahnya sudah merah padam menahan malu. Setidaknya julukan ular itu ngena banget di ulu hatinya.
__ADS_1