
"Zara, aku tunggu di tempat biasa kita bertemu."
" Maaf Kak Davit, aku lelah. Aku mengantuk." ujar Dara dengan suaranya yang lemah.
" Tolong Zara sebentar saja, aku janji nggak akan menahan dirimu lama disini." Suara Davit terdengar memelas di seberang sana.
Baiklah, " Zara akhirnya bangkit dari duduknya, dia menyeret kakinya yang lelah karena seharian telah bekerja.
Zara kembali membuka tirai yang ada di jendela dapur. Ia melihat Davit sudah menunggu dengan memakai pakaian yang rapi. Zara segera membuka pintu belakang dan keluar mendekati Davit.
"Kak Davit !" Suara Zara mengejutkan Davit yang sedang berada dalam lamunan.
"Zara, kau akhirnya datang juga." Davit bahagia melihat Zara datang.
"Ada apa memanggilku kesini?" Tanya Zara sambil berulang kali mengerjabkan matanya. Penuh tanda tanya.
"Zara aku hanya pengen mengucapkan selamat ulang tahun, ujar Davit. Masih sama sama berdiri.
"Duduklah!" Davit menarik satu kursi kecil untuk Zara. Sedangkan Davit sendiri mengambil satu kursi dan duduk didepan Zara.
"Ulang tahun? Kak Davit tau dari mana kalau aku sedang ulang tahun hari ini? Aku saja lupa," tanya Zara.
"ini. Tertinggal di mobil. Maaf aku sengaja buka, hanya pengen tahu ulang tahun kamu saja."Davit menyerahkan dompet bergambar karakter lucu pada pemiliknya.
"Jadi ini jatuh di mobil. Tuhan, aku belum sadar sampai sekarang. Makasi kak Davit." Zara senang tanpa sadar ia menggenggam punggung tangan Davit.
"Sama-sama. Sekarang kita rayain ulang tahunnya. Bentar biar aku nyalakan dulu lilinnya." Davit terlihat begitu semangat. Mengambil korek di sakunya lalu menyalakan
"Kak Davit, seharusnya nggak perlu repot beli kue tart segala, Jadi ngehabisin uang kakak, kan."
"Zara, berapa sih harga kue tart, aku bisa beli, tapi jujur bukan itu yang sedang aku pikirkan, aku takut kamu pergi dan memilih pria lain."
"Zara, dengarlah detak jantung ini." Davit meraih jemari Zara dan menempelkan di dadanya. "Setiap detakan yang terus berlalu, hanya ada namamu yang terus ku sebut."
Zara terkesima melihat Davit berkata sedemikian tulus, tak ada sorot mata yang dibuat buat, tatapan teduh masih bersemayam di sana.
Kak Davit berasal dari keluarga sederhana, aku yakin setidaknya dia lebih mengerti akan diriku. Dia tidak akan mengecewakan aku nantinya. " Batin Zara.
Dengan banyak pertimbangan Zara sudah memutuskan siapa yang akan ia pilih menjadi kekasihnya, ia berharap dilema ini akan segera berakhir. Dicintai dengan tulus adalah sebuah keberuntungan bagi wanita, namun jika cinta itu lebih dari satu secara bersamaan, maka diantaranya pasti akan ada yang terluka.
"Malah melamun, Zara, ayo ditiup lilinnya." Davit menggoyangkan telapaknya di depan wajah Zara yang pikirannya sedang melayang-layang di udara.
"Baiklah Kak Davit, sebelumnya aku mau berdo'a dulu.semoga apa yang Zara inginkan didengar oleh Tuhan." Davit dan Zara sama sama memejamkan mata. Mereka berdoa dengan keinginan dan harapan masing-masing.
Membuka mata pun hampir bersama. Davit membuka mata sambil tersenyum. " Tau nggak apa yang aku minta baru saja?"
Zara menggeleng pelan. "Emang aku cenayang,harus bisa baca kata hati," candanya sambil melengkungkan bibirnya.
"Semoga kita berjodoh." Davit tersenyum simpul, kembali menggenggam tangan Zara.
Zara ikut tersenyum.senyum Zara kali ini sangat manis. Bahkan ia terlihat makin cantik.
" Amin." Zara dan Davit meraupkan telapak tangan ke wajahnya. Doanya diaminkan Zara seakan dia mendapat nitrogen begitu banyak hingga tubuhnya terasa begitu sejuk
"Zara potong kuenya sekarang," ujar Davit tak sabar.
" Baiklah, Kakak buka mulutnya sekarang yah." Zara memotong sedikit lalu menusuk bagian kue yang terpotong.
__ADS_1
Davit membuka mulutnya sesuai perintah Zara
" Ayo kak ... umm. Gimana enak nggak?" Zara reflek ikut membuka mulutnya saat menyuapi Davit. Davit menelan kue yang ia beli dengan pelan-pelan.
"Enak. Kok jadinya aku yang makan duluan. Kamu juga dong. Giliran kakak yang suapin." Davit mengambil alih pisau dari tangan Zara. Memotong, menusuk, meniru seperti yang dilakukan Zara tadi.
"Ummmm" Zara menerima suapan dari Davit.
Tak terasa sambil menikmati malam yang begitu indah bersama purnama. Mereka berdua hampir menghabiskan satu kue tart ukuran sedang.
"Kakak mau nambah lagi?" Zara belum bosan menyuapi Davit, sambil diselingi tertawa bersama.
Malam ini mereka begitu bahagia. Bersama Davit Andini lebih enjoy, seakan bisa berbicara dari hati ke hati.
"Sudah buat kamu saja." Davit memberikan suapan terakhirnya untuk Zara.
"Kak Davit ..."
" Hu'um. Apa?"
" Aku ingin katakan sesuatu."
"Bicaralah, aku akan mendengarnya dengan baik. Alan aku pasang telingaku sangat lebar." kelakar Davit.
"Aku terima cinta, Kak Davit."
"Zara aku tak sedang salah dengar?" Mata Davit seketika berbinar-binar.
"Tidak salah. Aku terima cinta, Kak Davit."
"Aku diterima, wanita cantik ini menerima cintaku, aku sekarang ingin berterima kasih padamu Tuhan !!." Davit berkata hingga setengah berteriak. Seakan ia ingin menunjukkan pada dunia. Kalau perjuangannya tidak sia-sia.
" Zara kau tidak main main dengan ucapanmu kan?"
Zara menggelengkan kepala. "Tidak, Kak."
"Sekarang kita resmi sepasang kekasih?"
Dara mengangguk." Iya."
Terima kasih Zara, terima kasih. Davit berdiri dari duduknya Zara juga berdiri. Davit memegang kedua lengan Zara. Sorot bahagia terpancar begitu jelas dimata pria itu.
"Kak Davit apakah aku boleh pergi? Aku takut terlalu lama disini. Nona Andini akan mencariku."
"Baiklah masuklah terlebih dulu, aku masih ingin disini dulu "
Zara pamit kepada Davit, dia mengelus kepala Zara yang tertutup hijab. Zara meninggalkan senyum yang manis untuk Davit.
Zara segera pergi, dan masuk kembali dari pintu yang sama ia lewati saat keluar tadi. Ia membuka pelan-pelan takut akan mengganggu yang lainnya. Walaupun hal itu tak mungkin terjadi. Rumah Arsena tak sekecil itu hingga suaranya langkah kakinya mengganggu orang lain
Dapur sangat sepi, Zara dengan hati tenang masuk kembali ke kamarnya dan segera mengunci dari dalam. Ia bahagia sudah bisa mengambil keputusan.
Tuan Mert akan mengetahui semuanya besok pagi, Zara berencana akan menceritakan semuanya usai sarapan. Walau berat dia harus memilih, dia tak mau menjadi wanita yang serakah akan cinta.
Zara yakin tuan Mert bisa menerima keputusannya dengan mudah, karena dia pria kaya, melupakan Zara bukan hal yang sulit.
__ADS_1
Zara berulang kali menyalakan lampu di kamarnya yang tiba-tiba padam.
Clik, clik, clik
Berulang kali Zara memencet tombol on off, yang ada di dinding.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang menarik kunci dari lubangnya..
"Si-siapa kau?!" Suara Zara tergagap.
"Siapa kau!" Zara mengulanginya lagi.
Zara semakin bersemangat memencet tombol on, off. Akan tetapi sepertinya seseorang telah sengaja memutus sambungan lampu di kamarnya.
Zara panik, ingin rasanya berteriak sekeras mungkin. Na'as, Lengan kekar berhasil membekap mulut Zara dan membuatnya mendadak gagap tak bisa berteriak lagi.
Zara juga merasakan pria itu menyuntikkan sesuatu di lehernya, membuat ototnya serasa kaku untuk bergerak, apalagi untuk berteriak.
Zara bisa merasakan apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Tubuh besar itu berhasil melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya.
Tubuh besar itu mulai melakukan apa yang tak pernah Zara bayangkan sebelumnya. Pria itu merenggut kegadisan Zara dengan lembut dan tenang. Dia seolah yakin tak ada satupun orang yang akan mengganggunya.
Hanya bulir kristal yang mengalir dari sudut netra Zara, tubuhnya tanpa kuasa menolak sentuhan menjijikkan yang telah pria itu berikan.
Air mata semakin deras mengalir ketika Zara merasakan pria itu berhasil merobek selaput dara yang ia jaga seumur hidupnya.
Setelah lama pria itu bermain-main diatas tubuh Zara, Zara merasakan ada cairan hangat yang terasa telah mengisi rahimnya.
Berulang kali kata maaf terus keluar dari sudut bibir pria itu, dia melakukan semua karena tak merelakan dirinya dimiliki pria lain.
Pria itu sudah melihat semua kejadian di taman belakang tadi. Otak setannya merasuki dirinya begitu saja hingga dia berbuat khilaf.
"Maafkan aku Zara, maafkan aku, aku tau sebenarnya kamu juga mencintaiku."
"Zara besok pagi aku akan mengatakan semua yang kita lakukan malam ini, aku akan menikahi mu dihari itu juga," bisik pria itu dengan penuh penyesalan.
"Aku tak bisa melihatmu memilih pria lain, maafkan aku telah egois, aku berjanji akan membuatmu bahagia," ujarnya lagi di telinga Zara.
Zara hanya memejamkan mata merasakan pria itu turun dari atas tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu berbaring di sampingnya.
Satu-satunya yang bisa Zara lakukan hanya meloloskan ribuan bulir kristal dari sudut netranya, bahkan mata indah Zara sekarang bisa dipastikan sudah membengkak.
Pria itu kembali mengecup kening Zara lalu berbaring disebelah Zara hingga esok tiba.
Entah pagi pukul berapa pria itu telah pergi. Karena terlalu banyak menangis semalam Zara tertidur pulas. Atau mungkin itu juga bagian dari efek samping suntikan racun di lehernya semalam.
Pagi hari
Zara merasakan otot otot tubuhnya sudah bisa bergerak normal.
Zara berharap yang ia alami semalam hanyalah sebuah mimpi belaka. Namun, tidak.
Zara merasakan area intinya begitu sakit saat ia menggeser tubuhnya, bahkan Zara tak mampu hanya untuk sekedar turun ranjang.
Bercak darah segar terlihat membasahi seprei warna biru laut yang menjadi alasnya semalam.
Zara meratapi kemalangan yang menimpa nasibnya. dia menjatuhkan tubuhnya dan bersandar di sisi ranjang. Ia kembali menangis tergugu sambil meremas bercak noda merah itu. Zara sadar betul yang telah hilang tak mungkin bisa dikembalikan lagi.
__ADS_1
Zara tak melihat siapa pria semalam yang telah merenggut kesuciannya, tapi dia bisa hafal siapa pemilik nafas beraroma mint itu.