
"Kakak terima kasih untuk semuanya."
"Kakak ibu akhirnya sembuh."
"Kakak ibu besok pulang."
Beberapa pesan suara dari Dara masuk ke gawai Andini yang tergeletak di ruang tengah. Sedangkan sang pemilik sedang sibuk menjemur baju di belakang.
"Hei ... ponsel kamu bunyi ... " Teriak Arsena dari pintu belakang.
"Iya bentar." Andini masih tetap meneruskan menjemur pakaiannya.
hei hei seperti aku nggak punya nama saja. batin Andini.
Arsena masuk kembali, terlihat ia sedang mengambil minum di dapur. Tak lama ia duduk kembali di ruang tengah sambil melihat acara Holywood kesukaannya.
Selesai menjemur Andini dengan langkah buru buru mengambil gawainya yang keberadaannya tak jauh dari Arsena duduk. Namun kakinya yang basah membuat ia terpeleset.
"Auwww ...." Pekik Andini reflek.
Arsena yang menyadari kedatangan Andini dengan sigap menarik Andini ke dalam dekapannya. Namun usaha itu gagal, kini ia malah ikut terjengkang jatuh, untung posisi tubuhnya ada dibawah dan tubuh mungil Andini ada diatas. Bibir mereka bertemu dalam ketidak sengajaan itu. Sesaat suasana menjadi hening dan tegang.
Andini dan Arsena sama-sama melotot saling pandang dan saling diam. Setelah beberapa detik mereka segera mengkondisikan diri masing masing.
Andini bisa merasakan detak jantung Arsena berdetak kencang. Mungkin getak refleknya melihat Andini yang hampir terjatuh membuat degupan jantungnya lebih nyaring dari biasanya
"Sengaja ya!" Tanya Arsena.
"Enggak sumpah." Andini membantah tuduhan Arsena. Sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya
"Lain kali hati, hati. Untung ada aku." Kata Arsena sambil melepaskan Andini dari dekapannya. Dengan susah payah Andini bangkit dan Arsena merasakan sedikit nyeri di pantatnya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Andini khawatir.
"Tidak. Aku baik baik saja." Kata Arsena memindahkan tubuhnya ke sofa.
"Terimakasih, Ars." Setelah berujar Andini meraih gawainya lalu pergi dari hadapan Arsena. Degupan Jantungnya tak kalah kencangnya. Andini menyembunyikan semuanya, dari pandangan pria itu. Andini memejamkan matanya sambil tersenyum tak jelas. Sentuhan bibir Arsena serasa masih terasa begitu nyata.
"Ngapain disitu?"
"Eh, Ars aku sedang, sedang membaca pesan."
"Dari siapa?" Rupanya Sena mulai memperhatikan kehidupan pribadi Andini.
"Ibu, dia pulang hari ini aku ingin menjemputnya ke bandara."
"Oh ..." Arsena hanya ber oh ria lalu pergi.
Andini menatap kepergian Arsena dengan ukiran senyum di bibir, sepertinya hari ini adalah hari paling mujur sepanjang hidupnya, di peluk dengan pria yang dicintai, merasakan aroma harum tubuhnya. Sentuhan hangat bibirnya.
Andini segera kembali ke kamarnya kabar kepulangan ibu adalah kabar yang sangat membahagiakan. Membayangkan ibu akan kembali sembuh, ibunya akan sehat dan beraktifitas seperti sediakala.
Andini segera mandi dan ganti pakaian. Andini memakai jeans dan t-shirt warna putih serta bolero berwarna biru langit. Tas selempang kecil berisi handpone dan sedikit uang tak pernah ketinggalan.
Andini turun ke lantai bawah hendak pamit kepada Bibi. Namun sebelum sampai di bawah tadi ia melihat Arsena juga turun dengan dandanan rapi sambil memainkan kunci mobil ditangannya.
Andini tak perduli, bukankah pria itu tak pernah ingin dicampuri urusannya. Dan ia tak mau lagi mendapat malu dengan selalu menanyakan hal yang tak ingin ia jawab.
Apalagi kesepakatan yang sudah ia ambil, sepertinya saling menjauh akan lebih bagus buat hubungan kedepannya.
Andini segera berangkat, seperti biasa ia harus menunggu di depan gang yang tak jauh dari rumah. Taksi online yang ia pesan belum juga datang. Sedangkan perjalanan ke bandara Djuanda membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, handpone terus saja berbunyi Andini melihat sekilas Andara sudah mengirimkan pesan berulang kali.
Andini mengamati jalanan, taxi yang di pesan masih belum sampai karena bannya kempes. Sementara hari makin panas, ia mulai bosan menunggu.
__ADS_1
Mobil Lamborghini berhenti tepat di depannya. Sang pemilik membuka kaca depan dan menyembulkan kepalanya memanggil Andini
"Ayo masuk."
"Maaf aku nggak ikut, mungkin tujuan kita kali ini berbeda!" jawab Andini tak yakin kalau pria di depannya sedang ingin membantu.
"Ayo masuk Andini, kenapa kamu keras kepala sih?"
"Bukan keras kepala, tapi yang pernah terjadi, takut terulang kembali," kata Andini setengah mengingatkan dan mengacuhkan, sesekali menoleh kearah datangnya taxi yang ia pesan.
Arsena turun menarik lengan Andini, sambil satu tangannya melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Walaupun hari masih terbilang pagi, cuaca hari ini memang panas sekali.
Mendengar Andini kesal, Arsena malah tersenyum." Kamu masih marah rupanya Ndin soal di pertigaan kemaren?"
Andini memilih acuh.
"Taxi," panggil Andini, taksi pesanannya rupanya sudah datang.
"Ars, rupanya taxi pesanku sudah datang." Andini buru-buru membenarkan tasnya dan hendak lari mendekat, tapi Arsena menahannya.
"Tunggu disini." Perintahnya tak ingin dibantah.
Kini Arsena malah mendekati taxi itu dan entah apa yang ia bicarakan, kemudian taxi malah pergi lagi.
"Eeeh kok pergi sih ... Ck" Andini berdecak kesal bibirnya maju lima mili gara gara taxi pesanannya pergi begitu saja.
"Andini, sekarang taxi pesanan kamu sudah pergi, jadi tak ada alasan kamu menolakku lagi."
Andini yang kesal ia menurut saja Arsena meraih pergelangan tangannya. Dan membukakan pintu depan.
"Apa dia tadi salah minum vitamin? Kenapa mendadak berubah? Apakah ini benar suamiku? Dia yang bilang aku tak pernah pantas disisinya. Yang selalu menganggap aku pembantu? Kenapa dia? Baru saja tadi bilang tak ingin terjadi apa apa diantara kita, kenapa dia mulai baik-baik denganku.
Batin Andini terus saja berkecamuk tak menentu sambil terus memandangi Arsena. Sedikit saja mendapat perhatian dari si pria pemilik hidung runcing dan dagu terbelah itu hatinya sudah melayang bagai di awang awang.
Pria itu mulai menyalakan mesin mobilnya lalu mengendalikan kemudi dengan lihai menyusuri jalanan. Sedangkan Andini masih terdiam karena heran sekaligus tak percaya.
"Kenapa? Kau suka sekali diam-diam memperhatikanku? Apa karena aku tampan?" Tanya Sena menggoda. Sambil menoleh ke arah Andini sesaat.
"Eh ... Nggaaaak!" Jawab Andini tergagap.
"Kenapa wajahmu berubah merona? Ada yang ketahuan bohong rupanya."
"Enggaaak ... PD amat sih!" Kata Andini sambil menoleh ke arah lain. Mengalihkan pandangannya, kini ia mengamati kendaraan yang berlomba mendahuluinya.
Setelah itu sudah tak ada obrolan lagi Andini fokus dengan pesan dari Dara. Ia sudah tak berani lagi walau hanya sekedar melirik suaminya.
Arsena kini menyalakan musik kesukaannya sekedar untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.
Sepertinya sangat menikmati musik yang diputarnya hingga kepalanya ikut mengangguk angguk.
Setengah jam berlalu begitu singkat, kini mereka telah tiba di bandara. Andini segera turun dari mobil dan mencari Dara di tengah kerumunan.
Karena pesawat baru saja landing, jadi kondisi bandara penuh, mereka juga sama dengan Andini mencari keluarganya yang tentunya amat dirindukan.
"Kakak ... !!" panggil gadis remaja dari kejauhan
"Dara! ibu ... !"
Andini berlari kearah suara yang sejak tadi memanggil sambil melambaikan tangan. Menyibak beberapa orang yang lalu lalang menghalangi jalannya .
"Ibu !!" Andini memeluk dan menagis di pangkuan ibu yang sedang duduk di atas kursi roda. Andini terharu, tak percaya Ibu akan sembuh secepat ini. Ibu mengelus rambut Andini penuh kasih.
"ibu ... Maafkan Andini tak bisa menemani ibu." ujar Andini sambil mendongakkan wajahnya memandangi ibu yang mulai terlihat lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Andara yang sejak tadi memegang gagang kursi roda pun ikut menagis haru.
"Andini, ibu malah berterima kasih sekali sama kamu, karena pengorbanan kamu ibu mendapat perawatan terbaik. Ibu sembuh Nak." Senyum merekah pada bibir ibu yang kering. Kulit ibu juga mengelupas berganti dengan kulit yang baru. Mungkin sakit yang diderita selama ini sudah benar benar pergi, dan akan berganti dengan kehidupan baru mungkin cinta yang baru.
"Ehm ... " Doni berdehem. karena sejak tadi merasa diabaikan.
Moment ini memang mengharukan sekali buat Andini. Ibu sudah lama memimpikan kesembuhan ini, karena sakit yang diderita ia kehilangan semangatnya dan sosok suami.
"Pak Doni, terima kasih, bapak sudah menemani ibu selama berobat."
"Sama-sama, Nona Andini, perintah Pak Johan adalah amanah bagi saya." jawab Doni dengan tenang.
"Andini, ibu belum kamu kenalkan sama suami kamu? Kamu tadi sama dia kan?" Ibu memandangi arah dimana Andini datang tadi. Namun tak melihat ada seorang yang menyusulnya.
"Iya Bu, dia sedang menunggu kita di Mobil."Mari kita kesana." Kini giliran Andini yang mendorong kursi ibu, mengambil alih posisi Dara, gadis itu terlihat begitu letih. Bahkan dia mual saat di pesawat tadi.
Selama di rumah sakit dia juga kurang tidur. Dara sudah lama merindukan tidur di kasurnya sendiri walau sudah usang akan tetap saja ranjang sendiri terasa seperti di pulau awan.
"Mana suamimu Ndin, ibu tak sabar ingin bertemu?" Ibu terus bertanya.
"Tadi disini, Bu." Andini mencari keberadaan mobil Arsena. Tempat dimana tadi pria itu memarkirkan mobil.
"Bentar Nona biar saya telepon, Tuan Muda pasti sedang mencari minum atau ada keperluan di sekitar sini." Kata Doni sambil mengeluarkan handpone dari saku celananya.
Doni segera mencari Nomor majikannya di daftar kontak, dan meneleponnya.
"Gimana Pak?"
"Belum nyambung Non."
Kalau gitu kita tunggu sebentar disini ya, Pak. Soalnya saya khawatir nanti dia mencari saya disini, malah dah nggak ada."
"Iya Non, sebaiknya kita tunggu." Doni berdiri di sebelah Ana, si bujang lapuk begitu sabar dengan menunggui wanita sakit itu. Bahkan ia juga melayani segala kebutuhannya ketika di negeri asing.
"Ibu nggak apa-apa kan kita tunggu sebentar."
"Nggak, apa-apa Ndin, ibu juga pengen ketemu sama mantu ibu."
"Andini beli minum dulu ya, Bu."
Andini kini menuju mesin penjual minum otomatis, memasukkan uang pas sepuluh ribu dan memencet tombol beli, keluarlah sebotol air mineral.
Setelah selesai Andini segera berbalik. Namun ada suatu hal yang mengejutkan dirinya. Arsena sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita. Yah siapa lagi kalau bukan kekasihnya.
Ia bergandengan tangan sangat mesra dan membawakan koper besar miliknya.
Andini tau sekarang, kenapa pria itu tadi kekeuh mengantarkan ke bandara, ternyata ada tujuan lain yang jadi tujuan utamanya.
Andini yang baru saja merasa di awang- awang kini, terhempas dan bagaikan jatuh kembali di kubangan lumpur.
Beb, aku nggak telat kan jemput kamu? Kata Arsena penuh cinta.
"Makasi sayang?" Jawab Liliana sambil mengeratkan tangannya di pinggang Arsena usai mencium pipinya. "Haus Yang, kita beli minum dulu yah."
"Baiklah." Arsena berhenti dan mengamati lokasi mesin penjual minuman.
Andini yang mendengarnya buru-buru pergi ia tak mau Arsena dan Lili melihatnya. Takut ibu juga akan mendengar perbincangan mereka nanti.
Liliana ternyata lebih cepat mengenali Andini. Ia bisa mengenali Andini yang sudah pergi agak jauh membelakanginya .
"Yang, kamu tadi kesini sama dia? Pembantu kamu?" Lili mulai membombardir Arsena dengan banyak pertanyaan.
Arsena belum sempat jawab Lili sudah memanggilnya.
__ADS_1
"Andini !! Berhenti !!"