
Dara duduk di sebuah sofa, dia sedang memikirkan ucapan David. Benarkah Miko mulai suka dirinya? Jika iya kenapa justru sikap pemarahnya semakin menjadi? Bukankah kalau cinta itu dia akan
"Dara? Maafkan aku jika aku sudah menyakiti hatimu." Kata Miko saat menemukan Dara di ruang tamu.
Setelah berujar demikian Miko masuk ke kamar. Miko bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, tujuannya minta maaf, malah menambah kesalahan baru. Ia berharap dengan permintaan maafnya Dara bisa memaklumi keadaan dirinya.
Miko melepas jas mahalnya lalu melempar diatas sandaran kursi, pria itu membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ada rasa menyesal dengan apa yang dilakukan pada Dara tadi. Tak seharusnya dirinya marah. Bukankah mereka hanya duduk berhadapan?
Dara tak bersalah, pria itu yang salah telah menatap istri orang dengan berlebihan seperti tadi. Ah, membayangkan semuanya Miko ingin sekali mencolok kedua mata pria muda itu.
Miko merasakan suhu tubuhnya naik kepalanya pening waktunya makan siang terlewati begitu saja, dia bahkan juga lupa minum obat.
Miko membiarkan sepatu dan baju yang dipakai saat kerja masih melekat di badan. matanya susah terpejam merasakan yang terjadi pada tubuhnya.
Ceklek!
Dara membuka handle pintu. Dara berani masuk karena Miko sudah minta maaf, dia yakin suaminya tak akan marah lagi.
"Kak." Panggil Dara dengan suara pelan.
Miko tidak menjawab, dia telah mengelabui istri kecilnya dengan pura pura memejamkan matanya. Dara mengira Miko sudah lelap.
Dara pelan-pelan mendekat. Dia ingin melepas sepatu yang melekat di kaki Miko. Dan memindahkan kaki yang menggantung, ke atas ranjang. Dara tak bisa membiarkan Miko tidur dengan posisi seperti itu.
Miko merasakan tangan Dara melepas sepatu, menyentuh kakinya dengan tulus. Susah payah menggeser kedua kakinya hingga terlentang sempurna diatas ranjang. Tak lupa Dara juga menarik selimut hingga menutupi tubuh Miko sebatas leher.
"Kak, jika Dara melakukan kesalahan, Dara juga minta maaf." Dara berkata lirih. Pria itu pasti sedang di alam mimpi, tak mungkin bisa mendengar suaranya.
Selesai membenarkan tubuh Miko, Dara ingin meneruskan aktifitasnya sendiri. Sejak pulang kuliah dia belum mandi tubuhnya terasa lengket.
Dara melangkahkan kakinya pergi.
"Dara disini saja, temani aku." Suara Miko lembut, tak seperti biasa.
" Aku ingin mandi, Kak."
" Sudah mandinya entar saja."
Pria itu dengan sigap meraih pergelangan tangan Dara. Membuat Dara jatuh terjerembab ke pelukan Miko.
"Disini saja sebentar lagi." Mohon Miko.
"Aku ingin mandi." Dara mengulang kalimatnya dengan memberontak. "Aku malu dekat kakak, tubuhku bau."
" Tidak bau, kamu masih wangi."
Dara takut dengan pelukan Miko yang semakin erat. Membuat Dara meringkuk tak berani bergerak. Namun Dara merasakan tubuh Miko lebih panas dari suhu manusia normal.
"Kakak sedang sakit. Ini pasti karena kakak melewatkan makan siang tadi." Dara menyentuh kening Miko dan kedua pipinya.
"Aku nggak apa-apa, entar juga baik sendiri, aku hanya ingin tidur sekarang."
"Tidak bisa kak, aku takut ini ada hubungannya dengan luka kakak yang ada di kepala. Aku harus menghubungi kak Andini sekarang." Dara bangkit dari sisi Miko.
"Dara, berhenti mengkhawatirkan ku"
"Tidak bisa kakak, aku harus mengkhawatirkanmu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ke-ke-ke napa ya? Karena ibu ingin aku menjaga kakak dengan baik."
"Huff, yakin kamu bisa menjagaku dengan baik" Miko membuang nafas kasar. Kenapa gadis itu harus melakukan karena ibunya, Miko berharap Dara akan bilang karena dirinya adalah suaminya.
"Kakak mau kemana?"
"Ke kamar mandi." Jawab Miko dengan kesal.
"Biar aku bantu."
"Tidak perlu, aku bisa."
"Kakak jangan keras kepala." Dara menyiapkan dirinya memapah tubuh Miko. Walaupun tubuh Dara kecil dia mampu membantu Miko berjalan ke kamar mandi. Panggilan alam tak mampu membuat Miko harus menahan walau sebentar lagi
.
"Tunggu disini." Miko meminta Dara menunggu di tempat yang agak jauh, Miko malu kalau sampai Dara mendengar bunyi aneh yang timbul dari tubuhnya, atau bau yang kurang enak.
"Baiklah, kakak yakin bisa sendiri?"
"Iya aku tidak sedang parah."
"Panggil aku jika kakak butuh sesuatu."
" Ya, aku sedang tak butuh apapun, pergilah."
Ketika Miko berada di kamar mandi, Dara tetap nekat menghubungi Andini. Ia menelepon dengan panik, Andini menyarankan agar Miko opname saja. Mendapatkan tambahan cairan infus pada tubuhnya, akan membantu meringankan sakitnya. Namun Dara berhasil meyakinkan Andini kalau Miko tak mau opname dia hanya butuh diperiksa karena sakitnya sakitnya tergolong ringan.
Andini setuju untuk datang sekalian menjenguk keadaan Dara, Andini sudah merindukan Ibu dan Dara, hanya saja ia belum sempat menjenguk.
Setelah selesai memenuhi panggilan alam, Miko segera keluar. Ia sangat kaget Dara sudah menunggu tepat di depan pintu.
"Kak."
"Dia pasti mendengar suara terompet tadi, bikin malu saja."
"Aku khawatir dengan Kakak."
"Sudah ku bilang aku baik-baik saja."
"Kalau baik tubuh kakak tak tak akan panas. Aku bisa merasakan."
"Terserak kamu saja." Miko malas berdebat
Dara kembali merelakan pinggangnya dipeluk oleh Miko, Mereka berjalan kembali ke ranjang dengan pelan-pelan.
Ketika tubuh mereka dekat seperti sekarang ini, hidung Miko mencium aroma harum dan lembut .Miko mulai mengendus endus, aroma itu ternyata berasal dari rambut Dara. Pria itu mulai menyukai aroma wanginya.
Saat tubuh mereka berada di jarak sedekat ini Mik9 kembali merasakan miliknya yang ada di balik cerlana kembali berdiri, ini kedua kalinya juniornya bisa bangkit setelah kejadian jatuh di ruang tamu kemarin.
"Akhh sial, apa aku sekarang sudah gila, kenapa otakku menjadi mesum begini, padahal Dara itu sudah ku anggap adik, bagaimana aku bisa seperti ini."
"Kak, kita sudah sampai, kakak mau tidur atau duduk-duduk dulu." Tanya Dara pada Miko yang mulai kehilangan konsentrasi.
Miko berusaha menutupi miliknya yang bangkit, dia takut Dara bisa melihat tonjolan itu.
"Dara tinggalkan aku saja, aku akan tidur. Tolong biarkan aku sendiri." Miko menutup perutnya dengan selimut. Ia berkata dengan cepat seolah keinginannya tak bisa di tolak.
"Baiklah' Kak."
__ADS_1
Dara pergi meninggalkan Miko, gadis itu menuruti perintah pria aneh itu. Dia keluar kamar dan menutup pintu kembali..
"Huff." Miko lega Dara segera pergi darinya.
Setelah kepergian Dara, Miko melihat juniornya sudah kembali mengecil ke bentuk semula. Miko merasakan di dekat Dara kini seperti menerima sebuah hukuman.
Miko yang sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tak akan menyentuh istri kecil yang tak dicintainya itu, sepertinya ia akan mengingkari. Bagaimana ia bisa mengendalikan semua itu, jika si junior terus bangkit jika Dara ada di dekatnya.
"Apakah Dara mau? Bagaimana aku membujuknya, jika berdekatan denganku saja dia sangat takut."
Miko mulai membuka ponselnya, dia mencari solusi dengan masalah yang sedang di hadapi. Bagaimana caranya mencintai gadis dengan usia jauh dibawahnya.
Selama ini Miko menyukai gadis-gadis dewasa, gadis kecil terlalu merepotkan baginya, selain belum memiliki pengalaman dalam berpacaran pasti akan sangat manja.
Namun, Miko melihat Dara berbeda, Miko tak melihat gadis itu manja padanya, justru dia bisa mempersiapkan kebutuhan sehari hari dengan baik.
"Kak Miko, aku siapkan bubur ayam. Sementara kakak harus makan bubur lagi." Kata Dara yang tak lama meninggalkan Miko kini sudah kembali lagi dari dapur.
"Taruh di meja." kata Miko cuek.
"Tapi Kakak harus makan sekarang. Kak Miko tinggal duduk dan menerima suapan dari dara, apa kakak nggak mau sembuh?"
"Kalau begitu bawa kesini! Biar aku makan sendiri." Miko meminta mangkuknya dan mulai menyuapkan bubur ke mulutnya. Miko terlihat tenang ada istri yang perhatian duduk di samping
"Gimana Kak enak?" Tanya Dara menunggu komentar dari Miko.
"Hm ... Lumayan. Aku kasih nilai enam puluh." Miko berujar sambil mengelus kepala Dara.
"Dara mengerucutkan bibirnya. "Kenapa hanya enam puluh, Kakak pelit, ah. Padahal Dara sudah membuatnya dengan sepenuh hati."
"Coba aja David yang makan, paling tidak dia akan kasih nilai sembilan puluh lima"
"Apa jadi mulai sekarang kamu lebih suka masak buat David."
"Bukan itu maksud Dara, Kak."
"Itu tadi? aku belum tuli Dara.
"Oke, karena kamu sudah berani memuji pria lain di depan suami, sekarang harus dihukum. Sekarang juga pejamkan mata, dan jika hukuman pertama gagal maka akan ada hukuman berikutnya," kata Miko modus.
"Di hukum? Dara cuma melakukan kesalahan kecil kenapa di hukum?"
"Nggak ada yang bisa menolak."
" Baiklah, cuma pejamkan Mata, itu kecil."
Dara menurut, akhirnya ia memejamkan mata. Menunggu Miko memberi hukuman untuknya.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi Miko segera mengecup bibir Dara.
Membuat Dara sontak langsung membuka Mata." Kakak mau manfaatin Dara ya? Mencari kesempitan dalam kesempatan.
"Kebalik Dara."
"Sama saja kak, Kak Miko curang."
"Curang? Itu hukuman Dara, dan kamu sudah setuju. Dan perjanjian kita tadi jika hukuman pertama gagal maka akan ada hukuman selanjutnya.
"Dan hukuman itu aku anggap gagal karena kamu telah membuka mata sebelum waktunya," tegas Miko.
__ADS_1