
Acara syukuran sudah usai, Namun, malam belum terlalu larut, jam juga baru menunjukkan pukul delapan. Mereka semua masih bercengkrama di ruang tamu. Termasuk Andini dan Arsena. Excel ada dipangkuan Johan dan Cello sedang tidur di pelukan Rena, Arini yang jahil sesekali mentowel pipinya yang gembul.
Bayi mungil yang menjadi pusat perhatian sudah lelap. Kini keluarga mulai menjadikan Miko topik utama. Zara dan Mert lebih banyak diam. Sedangkan Davit selalu menghindar dari semua orang.
"Miko, bagaimana? Apa Miko junior sudah OTW?" Tanya Johan.
"Belum, Pa." Kata Miko lesu.
"Yang lebih semangat lagi donk. Absennya kalau tanggal merah saja, Dijamin bakal langsung jadi," celetuk Arsena.
"Tu, yang sudah terbukti hasilnya. Arsena keren kan, sekali jadi langsung dua," imbuh Johan lagi.
"Kurma muda dari mama juga jangan di anggurin, itu dari tanah Arab lho, Mik, sudah terbukti khasiatnya."
"iya, kurma dari mama sudah habis. Kalau mama sudah kebelet pengen punya cucu, putranya kak Arsena kan juga cucu Mama," kata Miko sambil menikmati cemilan di depannya. Miko memang ingin seorang putra juga. tapi menurutnya masih banyak waktu. kalau sudah tiba waktunya pasti juga Dara akan hamil.
"Iya, mama kalau pengen gendong cucu sepuasnya, bawa aja, Excel atau Cello pulang, kan sama saja. Mbak Andini nggak akan ngelarang kok," kata Dara.
"Kalian berdua, emang kurang getol usahanya. padahal, Mama sudah lamaaaaa banget pengen cucu." ucap Mita sambil mengelus rambut Dara yang ada di sebelahnya. membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum
"Enak aja, nggak boleh. Masih kecil Excel dan Cello nya, harus stay di rumah," canda Rena.
"Kamu dengar sendiri kan? Miko. Mama juga pengen cucu dari kamu.
"Oke Ma, oke. Anak itu bukan Miko yang nyiptain, Miko cuma sarana dan prasarana saja. Minta sana sama Tuhan sana, biar cepat dikabulkan.."
"Oke sayang oke, mama akan minta sama Tuhan, tapi kamu harus berusaha donk."
"Dara kamu biasanya datang bulan tanggal berapa?" Tanya Mama Mita.
Dara terkejut dengan pertanyaan Mama yang terlalu fulgar menurutnya, karena di dengar oleh semua orang. Termasuk pasangan muda Mert dan Zara. Sedangkan Arini sudah pergi ke kamar, karena ada mata kuliah yang harus dipelajari.
"Pertengahan bulan, Ma." Jawab Dara malu malu.
"Sekarang akhir bulan, Artinya kamu sedang masa subur donk, Iya kan Andini? Seorang dokter pasti tau lah," Mita mulai menghitung mundur kalender.
" Kalau satu Minggu setelah datang bulan sih iya, Ma. Dara seharusnya lagi masa subur," jawab Andini. Sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. Yakin kalau jawabannya sudah betul.
"Jadi kemungkinan bulan ini Dara bisa hamil, Donk?" Tebak Mira. Mira tertawa riang seakan dia memiliki ide briliant buat Dara dan Miko.
"Zara, kamu bantu Tante ya," pinta Mita kemudian pada Zara.
"Minta tolong apa Nyonya?"
"Rahasia, kamu nanti akan tau." kata Mita setengah berbisik.
"Baiklah, nyonya."Zara mengangguk.
"Mama, jangan bilang sedang ngerencanain sesuatu ya." Kata Miko sambil mengernyitkan dahinya.
"Enggak, mama nggak ngerencanain sesuatu, Mama cuma ada sedikit urusan dengan, Zara."
Andini dan Arsena saling memandang. Sesaat saling melempar senyum. Belum ada yang tau apa rencana Mita. Tapi yang jelas.mereka curiga. Pasti mau bikin Dara cepat hamil.
________
Malam semakin larut Andini dan Arsena pamit ke kamar untuk menidurkan Excel dan Cello di kamarnya. Andini berjalan di depan dengan pelan-pelan. Arsena mengekor di belakangnya.
"Sayang pasti sakit banget ya? Kalau dibuat jalan?"
"Banget, sih enggak. Cuma sedikit nyeri saja. soalnya kan baru beberapa hari." kata Andini pada Arsena yang merasa iba pada istrinya.
Pelan-pelan akhirnya mereka telah sampai di kamar baby twins. Andini menaruh Excel di bok A. Dan Arsena menaruh Cello di bok B.
Setelah memberi selimut pada bayinya Arsena segera membantu Andini. Pria itu mengangkat tubuh istrinya diatas ranjang dan menurunkan pelan-pelan. Lalu meluruskan kaki Andini dan menarik selimut hingga sebatas perut.
"Terima kasih, suamiku!" tersenyum manis.
__ADS_1
"Sama-sama sayang." Sambil mengecup kening.
"Istirahatlah, besok kerja kan?" Andini menjatuhkan tangannya di punggung suaminya yang sedang membungkuk, merapikan selimut.
"Belum terlalu ngantuk." Jawab Arsena. Lalu mengambil duduk di tengah ranjang. "Aku pijitin kakinya pelan pelan ya, pasti pegal ini, ototnya sampe tegang begini?" Tawar Arsena. menekan nekan kaki istrinya yang terlihat sedikit membengkak.
"Em, besok aja aku panggil tukang pijit, sudahlah papanya baby twins, tidur saja." Entah kenapa Andini masih malu diperhatikan suaminya sedemikian besar. Selain itu dia juga kasihan Arsena seharian cukup sibuk.
Arsena tersenyum istrinya memanggil seperti itu, dia tetap keras kepala, Arsena mulai memijit kaki Andini pelan-pelan sebagai ungkapan sayangnya.
Arsena sepertinya sudah tak ingin lagi memiliki anak, dua saja sudah cukup, melihat perjuangan wanita melahirkan, sungguh dia tak tega. Andaikan bisa tergantikan maka dia akan meminta yang merasakan semuanya sendiri.
Merasakan sentuhan lembut tangan suaminya di kedua kakinya, Andini jadi mengantuk, kini ia tertidur dengan posisinya yang tengah bersandar, kepalanya menempel di sisi ranjang.
"Baru dipijitin bentar, sudah tidur. capek banget ya,"lirih Arsena. Sambil meneruskan pijatannya pelan pelan hingga diapun menguap beberapa kali, merasa kantuk sudah menghampirinya juga.
Akhirnya mereka berempat tidur di kamar baby twins. Karena si kembar juga pulas, kesempatan Arsena untuk ikut pulas menikmati malamnya.
Arsena tidur disamping Andini sambil tangannya memeluk pinggang sang istri tanpa ada *****. bersama keluarganya seperti hari ini, dia merasa menjadi orang paling bahagia.
"Good Night, Mommy" ucapnya dengan terkantuk-kantuk.
"Night too. Papa," balas Andini seperti ngigau
________
Miko dan Dara masih menonton acara TV di ruang keluarga. Bersama Johan dan Rena. Tentu hal itu membuat Mita gemas. hingga membuat wanita yang menjadi istri kedua Johan itu merencanakan sesuatu.
'Malam ini masa subur untuk Dara, kesempatan emas yang harusnya dimanfaatkam sebaik mungkin. Mereka malah cuma menghabiskan waktunya hanya nonton TV. ' batin Mita yang sedang lihat TV pula
Zara datang ke dapur, karena Mita l sudah mengirimnya sebuah pesan. Mita segera membuat empat minuman untuk mereka.
"Zara, minuman ini antarkan pada empat orang yang sedang lihat TV itu. Tapi ingat jangan sampai ketuker. Gelas yang kiri, buat Miko dan dara, yang kanan buat Nyonya Rena dan Tuan Johan.".
"Siap, Nyonya." Zara pun mengangguk, lagian niat Mita juga baik, ingin Miko dan Dara malam ini semakin bergairah, mereka sudah lama menikah tapi tak kunjung hamil. Mita jadi takut kalau Miko dan Dara tak serius dalam rumah tangga mereka.
Zara mendekati mereka berempat sambil tersenyum dengan manis. "Tuan, Nyonya. Ini saya bawakan minuman hangat, pas untuk teman nonton," kata Zara basa basi sambil menaruh sepiring sandwich di samping minuman.
"Ah, Dara ini bisa aja, dihabiskan ya, mumpung masih anget. Pas banget untuk cuaca dingin begini.
Usai melakukan perintah Mita, Zara dan Mita kini mengintip mereka dari dapur. Mita berharap Miko dan Dara segera meneguk minuman yang sudah dibubuhi obat penghangat tubuh yang akan membuat selera bercinta semakin bergairah itu.
"Kesel sama Miko, kok nggak diminum sih," gerutu Mita yang tak sabar. dengan menghentakkan kakinya.
"Sabar Nyonya, lihat! Dara mulai meminumnya."
"Oh bener kamu, Zara. Kamu yakin nggak keliru kan?" Mita tersenyum bahagia.
"Enggaklah, Nyonya. Zara sudah sangat hati hati tadi," kata Zara berbisik-bisik.
"Bagus kalau begitu kita lihat reaksinya. Ayo Miko cepat minum. Zara sudah masuk perangkap, tinggal kamu." Mita makin gemas sama putranya.
Dara mulai terlihat kepanasan. Dia mulai gelisah sendiri. udara dingin di ruang itu tak mampu meredam panas tubuhnya.
"Kak, aku kenapa ya?"
"Kenapa memang? Nggak kenapa-napa." Miko menatap Dara yang menurutnya baik baik saja. hanya sedikit berkeringat di keningnya.
Miko akhirnya ikut meneguk minuman di depannya. Terasa menghangatkan tubuh dan nikmat.
"Ayo Pa, diminum dulu. Sayang kalau di anggurin." kata Miko.
"Enak ya Mik."
"Iya, enak kok Pa, manisnya juga pas."
Miko akhirnya meneguk semuanya hingga tandas. Gelas milik Miko sudah kosong. Milik Dara masih separuh. Sedangkan Rena tak menyentuh sama sekali karena tak haus.
__ADS_1
"Kak Miko," Dara mulai menatap Miko dengan tatapan yang diselimuti gairah. " Ikut Dara ya?"
Miko heran kenapa Dara tiba-tiba agresif. Padahal mereka sedang lihat film titanic maraton kesukaannya.
Buru-buru Dara menarik Miko masuk ke kamar.
"Kalian mau kemana?" tanya Rena.
" Kami ke kamar duluan Ma, udah ngantuk." jawab Dara dengan jantung sudah dag dig dug.
Dara tanpa malu-malu menarik Miko ke kamarnya. Sampai di kamar Dara segera mengunci pintunya rapat dan mendorong tubuh Miko kuat, hingga Miko terjengkang diatas ranjang.
"Litlle, kamu kenapa? Tadi minta nonton TV, kenapa sekarang kamu tiba tiba jadi pengen?"
"Kak Miko, tampan banget, Dara jadi makin sayang." Dara menciumi wajah Miko dan menyesap bibir Miko dengan rakus.
Miko pun membalas Meng*lum bibir Dara dengan rakus pula. Walau merasa aneh Dara yang suka malu malu kucing saat diranjang kenapa tiba-tiba berubah drastis. hal itu jadi tanda tanya besar di benak Miko.
Dara dengan agresif membuka seluruh baju Miko dengan kadar lalu melemparnya ke sembarang arah. Melihat suaminya tak menolak Zara segera duduk dipangkuan Miko dan mulai bermain-main dengan lidah Miko, sesekali cumbuannya turun keleher dan dada Miko. Zara tak sungkan lagi membuat beberapa tato berwarna merah di dada Miko.
Mendapat perlakuan lembut istrinya, Miko pun membalasnya dengan agresif pula. Diperlakukan sedemikian rupa oleh Dara, jiwa laki lakinya mulai bangkit dan dan tentu tak ada penolakan sedikit pun.
Miko mulai melucuti semua baju yang menempel di tubuh Dara. termasuk kacamata besar yang melindungi kedua buah pir fresh itu.
Miko dan Dara mulai bermain-main dengan akgresif layaknya kesurupan, mereka berdua mengulangi permainanya hingga berulang kali dan berbagai gaya.
"Baru pertama ini Miko merasa kuwalahan meladeni Dara. Miko tak percaya Dara bisa seagresif malam ini." Mereka tumbang ketika hari sudah pagi.
Sedangkan Zara dan Mert mereka malakukan sewajarnya saja. Hanya satu kali di malam ini.
Namun, tak disangka, semalam Zara telah melakukan kesalahan fatal. minuman yang sudah dimasuki obat oleh Mita, ternyata yang satunya dia berikan kepada Johan.
Malam ini adalah malam terpanas bagi tiga pasang suami istri di Mansion. sedangkan Arsena cukup meringkuk kedinginan di pelukan Andini.
*happy reading.
* Selamat pagi semuanya.
* Buat teman-teman yang sudah setia ngikutin cerita receh ini, saya ucapkan banyak terima kasih.
* Buat yang rajin ngasih Vote dan kasih gif hadiah. ada hadiahnya lho!
* Pemberi Vote tertinggi
juara 1. Pulsa senilai 30rb.
juara2. pulsa 20rb.
juara2.pilsa 20rb.
* Pemberi hadiah gift tertinggi
juara 1. Pulsa senilai 30rb.
juara2.Pulsa senilai 20rb.
juara3.Pulsa senilai20 rb.
* Komentar terpanjang.
juara1. 20 rb.
juara2. 20rb.
*Yang belum kasih hadiah dan Vote. masih ada kesempatan hingga cerbung ini tamat ya. buruan!
* Hadiahnya kecil, Thor? iya. Do'akan ya Mamak, dapat rezeki lebih banyak. biar bisa kasih hadiah lebih besar lagi.
__ADS_1
* Salam rasa sayang dariku buat Readers semuanya.
* jika ingin kenalan dengan Mamak othor yang pemalu ini. Add akunku dengan nama (FB: Ari sandi), (IG. Isti ari sandi.)