Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part.174 Percayalah padaku, Nona.


__ADS_3

Senyum mengembang di bibir Davit. Melihat wajah Arini bersemu merah karena malu. Arini hendak membuang ice cream coklat yang tinggal seuprit dan kerupuknya itu.


Davit segera menahan tangan Arini. "jangan dibuang, tidak baik membuang makanan jika masih layak untuk dimakan."


Davit mengambil kerupuk ice cream dari tangan Arini lalu memakannya.


"Tapi ... ada bekas gigitan ku tadi." Arini hendak merebut tapi kerupuk sudah sepenuhnya masuk ke mulut Davit.


" Oh iya, gimana ini aku terlanjur menelannya."


Davit memegangi lehernya seakan makanan itu menyumbat kerongkongannya " Gimana ini aku takut ada Bisa di dalam makanan tadi," canda Davit.


"Kak Davit, emang kakak pikir Arini ini apa? Emang kalajengking memiliki Bisa." Arini mencebikkan bibirnya lalu mendorong tubuh Davit menjauh dari pintu, segera menutup pintu mobil dengan kasar.


Davit tersenyum. Gadis kecil di depannya memang sering kali ketus terhadap dirinya, namun dia tetap menggemaskan seperti kelinci.


Davit segera melajukan mobilnya ke arah pulang. Di tengah jalan Arini meminta Davit menghentikan mobilnya. Dia ingin membeli baju untuk dipake di sebuah acara nanti malam.


Karena dia mendadak dapat pesan singkat dari Willy, supaya nanti malam menghadiri pesta yang akan diadakan untuk keluarganya.


"Antar aku ke Mall sebentar."


" Siap, Nona."


Davit segera memutar kemudi menuju Mall yang tak jauh dari keberadaannya sekarang.


Arini segera membuka pintu mobil sendiri tanpa menunggu Davit membukakan pintu. Arini ogah jika Davit selalu membantunya.


Davit melihat Arini masuk Mall, setelah beberapa detik dia membuntutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Arini. Sesuai tugasnya. Arsena sudah memberikan mandat untuk menjaga dan melindungi adiknya seperti seorang kakak.


Arini terlihat berjalan menuju tempat pakaian wanita. Arini memilih pakaian dalam yang lucu lucu membuat Davit tersenyum geli.


Arini membolak balikan celana kecil bergambar karakter yang lucu dan kacamata kuda yang sudah menjadi setelannya.


Davit jadi membayangkan saat tubuh Arini memakainya. 'Mikir apa sih aku, aku nggak boleh berfikir mesum.' naluri baik Davit mengingatkan. Davit segera menyadarkan dirinya.


"Mbak tolong bantu ambil ini tiga setel, aku suka semua warna dan motifnya"


Pegawai wanita pun ikut membantu Arini melepas dari manekin dan memasukkan ke dalam troli


Selain pakaian dalam Arini juga mengambil satu gaun yang lumayan harganya. Warnanya biru langit panjangnya selutut memiliki belahan dada sedikit terbuka. Setelah beberapa kali minta pendapat dari pegawai akhirnya Arini memutuskan untuk membeli tanpa mencoba. Arini sudah yakin itu sudah cocok.


"Cewek lama banget sih belanjanya." Gerutu Davit yang lelah menjadi mata-mata.


Arini kini menuju tempat kosmetik, dia membeli banyak handbody, lulur, farfum, bedak dan sebangsanya.

__ADS_1


Karena Arini lama di tempat kosmetik, Davit akhirnya meninggalkan Nona mudanya sebentar untuk memilih hem.


Saat di tempar baju pria Davit melihat Willy bergandengan dengan seorang cewek, dia terlihat mesra layaknya seorang kekasih.


"Dasar buaya buntung," geram Davit.


Davit sedikit mendekat dengan menenggelamkan topinya. Dia ingin mendengarkan obrolan mereka berdua dulu. Davit tak mau gegabah.Jika seorang kekasih dan kakak-adik pasti gaya bahasa dan bicaranya akan berbeda. Davit mencoba mencari kebenarannya terlebih dulu.


"Sayang aku ingin malam nanti kamu pakai baju ini, pasti akan tampan sekali."


"Tentu sayang baju ini bagus dan mahal. Orang jelek sekalipun yang memakainya pasti akan tetap tampan," percakapan mereka terdengar oleh Davit dengan jelas saat memegangi baju dengan harga jutaan itu.


"Kamu kan sekarang sudah punya pohon uang, si bodoh itu. Tinggal alasan dikit saja dia pasti akan kasih kamu banyak uang," ucap si wanita sambil menempelkan kepalanya di bahu si pria.


'Dasar laki laki breng*ek, bisa bisanya dia miliki niat sepicik itu.'geram Davit.


"Sayang, aku juga mau gaun warna yang sama, nanti kita couple."


"Pilih yang kamu suka, sayang," ujar Willy sambil mengecup kening gadis yang dipanggil Sayang itu.


"Makasi tapi bagaimana kita bisa memakai bersama di acara keluarga kamu nanti." Keluh Rossa kesal.


"Bisa, Kita kasih saja Arini obat tidur, dia pasti akan pulas semalaman. ha ha."


" Cerdik sekali sih, pacarku ini. Aku makin cinta. Tapi awas ya kalau kamu nanti suka beneran sama dia. So dia juga imut dan cantik."


Meskipun kelakuan Willy bejat, dia tentu menginginkan istri yang baik untuk anak anaknya kelak.


Pria itu akhirnya menelepon Arini dia beralasan kalau sedang habis kerampokan, ATM dan uangnya raib. Sekarang dia butuh uang secepatnya untuk memperbaiki kaca mobil dan ban depan belakang yang ditembak oleh perampok.


Dari suaranya Arini terlihat panik, Arini khawatir Willy sedang terluka. Dia pun buru buru ingin tahu dimana kekasihnya sekarang, dan buru-buru ingin mentransfer uang pada Willy. Namun Davit berhasil menghubungi Arsena untuk membekukan card Arini untuk sementara waktu. Berhasil, card Arini sudah dibekukan hanya hitungan detik.


Arini yang panik, dia segera menemui kasir agar membantu mentransfer sejumlah uang.


"Maaf Nona, sepertinya card milik Anda sedang kosong."


"Kosong!!" Arini terbelalak. Coba sekali lagi, tak mungkin Card ini kosong, kakakku baru saja mentransfer dengan nominal besar di dalam Card ini." Arini mendesak pelayan itu agar mengulanginya beberapa kali.


"Maaf Nona card ini memang kosong, untuk membayar belanjaan sebaiknya anda pakai uang cas saja."


Arini terlihat panik dia menepuk jidatnya yang terasa pusing, seperti kena serangan migran dadakan itu. " Aku harus telepon Kakak."


Arini mengeluarkan ponselnya langsung memencet nomor panggilan cepat, hanya dengan menekan angka dua, panggilan langsung tertuju kepada ponsel Arsena. Karena nomor satu, khusus untuk panggilan cepat pada Papa.


Arsena sengaja mematikan ponselnya. Dia sudah ada firasat kalau Arini bakal merengek manja minta uang, dia paling tak bisa mendengar rengekan adik satu satunya itu.

__ADS_1


Kaaak!! Kenapa harus dimati' in sih, ini pasti Kak Arsena yang sudah membekukan ATM Arini, tapi kenapa coba? Arini kan nggak melakukan kesalahan." Gadis pemilik lesung pipi itu ngedumel sendiri sambil memencet-mencet tombol ponsel dengan kasar.


"Kenapa Nona?" Davit datang dari arah yang tak diketahui Arini. .


" Kak Davit, bisa tolong Arini nggak?"


" Apa Nona? Katakan saja."


"Kak, pinjem uang lima belas juta."


"Banyak amat, Non? Saya mana punya uang sebanyak itu." Davit merogoh sakunya mengambil dompet lalu mengeluarkan card-nya. Ini paling isinya dua juta, terus yang cas juga cuma ada sejuta.


"Yah, kalau itu cuma cukub bayar baju ini, terus Willy gimana dong."


"Mana saya tau. Emang pacar non minta duit? Berapa? Katanya tajir masa duit minta pacarnya." Davit tertawa meledek.


"Eits ... jangan salah paham ya, dia memang sedang ada masalah, biasanya juga nggak pernah Kok." Arini menutupi kenyataan takut Davit lapor pada kakaknya.


" Nggak pernah apa sering?" Davit menarik dagu Arini menatap mata teduh dan bibir merah ranum milik Arini. "Non Andaikan Willy selama ini bohong dan dia memiliki wanita lain, apa Non akan tetap sayang sama dia?"


"Nggak mungkin, Dia baik banget dia sayang sama aku, nggak mungkin dia bohong." Netra Arini sudah berkaca kaca. Membayangkan diselingkuhi saja rasanya Arini sudah sakit. Apalagi itu benar. Arini menepis tangan Davit


Davit menghembuskan nafas kasar, baru saja ingin menunjukkan kebenarannya, Arini sudah demikian sedih.


"Beruntung sekali cowok gila itu mendapat kasih sayang dan kepercayaan, Non. Padahal dia sekarang sedang bersama wanita lain."


"Apa ? Kak Davit barusan bilang apa? Bersama wanita lain."


"Iya, dia ada di Mall ini juga."


"Mana mungkin dia ada di sini? Dia sedang ada dalam masalah. Dia dirampok Kak Davit." Tatapan tajam Arini pada Davit menunjukkan kalau dia sama sekali tak percaya kata- kata Davit.


"Tapi aku tadi lihat dia, aku lihat dia membeli baju hem di pojok sana, saat aku juga memilih hem ini. Dia bersama seorang wanita, ah kenapa aku lupa harusnya tadi aku rekam saja, biar Non percaya."


"Kak Davit benar lihat dia ada disana? Baiklah kita kesana sekarang. Aku yakin ini pasti rencana Kak Davit ingin menjelekkan Willy saja."


Arini dan Davit segera menuju tempat Willy berada tadi dengan langkah tergesa, berharap pria itu masih ada disana.


"Mana kak! Mana ada Willy! Kenapa sih kak Davit nggak berhenti jelekin dia!" Kali ini Arini terlihat benar benar marah sama Davit. Menatap Davit dengan nyalang.


Padahal yang dilihat Davit memang benar Willy, dia memang baru saja keluar lima menit yang lalu, secara sembunyi-sembunyi saat dia melihat Davit dan Arini berdebat tadi. Melihat kejadian tadi, Willy semakin murka. Rasanya sopir Davit lah yang akan menjadi penghalang dirinya untuk memiliki Arini.


" Kak Davit tolong mulai hari ini berhenti ikut campur urusan saya. Kak Davit harusnya tau Diri. siapa diri kakak sebenarnya!" Arini mendorong tubuh Davit dengan telunjuknya. membuat pria itu diam mematung oleh kata kata Arini.


Oke, aku akan tunjukkan kebenarannya, tapi aku berharap kau tak akan menangis saat kebenaran itu terungkap. Merasakan sakitnya dikhianati teman dan kekasih sekaligus, aku sudah merasakan sendiri. Sakit sekali Arini.

__ADS_1


"Ya anggap tadi aku salah, karena aku tak memiliki bukti," ucap Davit tanpa menoleh pada Arini yang sudah pergi. Entah gadis itu masih mendengar atau tidak.


__ADS_2