Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 217. Reaksi keluarga.


__ADS_3

"Sayang lepaskan !" Lirih Davit sambil membiarkan tangannya menggantung. Sedangkan Arini makin memperkuat pelukannya.


"Andini lepaskan Davit dulu ya."


"Arini pindah ke pelukan Andini. " Aku tadi takut banget Kak Davit kenapa kenapa Kak.


Tenang adikku sayang, biarkan Davit memberi keterangan pada polisi dulu." Andini mengelus punggung Arini yang masih terlihat ketakutan.


"Arini, kamu bisa jelaskan pada Mama!" Mama meraih pergelangan tangan Arini.


Arini menatap Davit sekilas. Dibalas anggukan kepala oleh pria itu.


Davit dibawa polisi untuk dimintai keterangan, Jack dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan Lili dibawa oleh pria misterius yang tak dikenal.


"Pak dia hanya membela diri, sesungguhnya senjata itu milik pria itu. Dan dia tadinya ingin melakukan penembakan pada saya dan adik saya, beruntung Davit mengetahuinya." Andini mencoba memberi keterangan dengan apa yang di lihat.


"Nona, biarkan kami bawa saudara Davit untuk dimintai keterangan."


"Pak aku mohon bebaskan dia, dia melakukan semua karena ingin melindungi kami."


Davit terlihat tenang, kini malah Andini yang panik. "Tenang Nona, Tuan Arsena pasti akan membantu saya "


Davit membiarkan tangannya di borgol oleh petugas kepolisian dan dia ikut saja polisi membawanya pergi.


"Sayang kau baik baik saja?" Arsena yang baru datang segera memegang kedua pundak Andini menelisik istrinya dari ujung kepala hingga kaki. Arsena lega tak ada sedikitpun luka gores ditubuh Andini.


Aku baik Ars, aku tadi sempat takut sekali, Davit yang menyelamatkan kita semua. Tapi polisi akan membawa Davit, pria itu tidak bersalah sama sekali. Dia hanya bekerja sesuai keinginanmu, dia bertanggung jawab dengan tugasnya." Tatapan Andini pada Arsena tersirat sebuah permohonan.


"Sttt tenang, ya. Aku pastikan Davit tak akan menemui kesulitan sama sekali. Maafkan aku sayang." Arsena memeluk Andini, usai menempelkan telunjuknya di bibir sang istri. Rindu didada sedikit terobati, andinipun sedikit lebih tenang.


Miko hanya melihat dari kejauhan, ucapan Arsena supaya tak pernah ikut campur dengan keluarga kecilnya masih selalu terngiang. Demi menjaga hati Arsena dan istri yang sekarang sedang mengandung benih cintanya Miko melakukan selalu melakukan yang terbaik. Setelah melihat semua teratasi, Miko pun memohon diri untuk kembali ke Surabaya.


"Kak aku pamit dulu ya, perkiraan dokter Minggu ini Dara akan melahirkan, dan itu kemungkinan masih bisa mundur atau maju, aku harus selalu ada bersamanya.


"Oke, hati hati adikku, semoga bayimu akan lahir dengan selamat dan sehat, potong kuku istrimu sebelum melahirkan." Pesan Arsena.


"Siap Kak." Miko tersenyum menampilkan senyumnya yang manis.


"Aku kembali dulu, Ndin." Miko hendak bersalaman dengan Andini.


Namun Arsena menarik tubuh Miko ke pelukannya. " Pergilah, hati-hati."


"Iya Miko, jaga Dara semampu yang kau bisa, kami juga akan segera pulang untuk melihat bayimu lahir ke dunia." Andini tersenyum dari jarak jauh.


Miko mengangguk. "Terimakasih girl, eh Ndin."

__ADS_1


"Apa kamu bilang?" Arsena melotot.


" Terima kasih Ndin, do'anya. Miko meralat dengan cepat. Arsena dan Andini tertawa bersama. Miko juga ikut tertawa sebelum dia benar benar pergi.


******


Andini dan Arsena bergabung pada Mama dan papa di sebuah ruangan khusus yang disiapkan oleh hotel. Mereka akan menginterogasi Arini yang telah ketahuan memeluk Davit dengan erat, dan menangis berlebihan dipelukan pria itu, seperti yang disaksikan semua orang tadi.


Seluruh Anggota berkumpul, mereka duduk di sebuah kursi yang memutari sebuah meja, Situasi sangat tegang sudah mirip dengan konferensi meja bundar.


"Arini beri penjelasan pada Mama, dengan apa yang kamu lakukan baru saja kepada Davit." ujar Mama Rena sambil memangku Excel yang mulai bisa memegang mainan sendiri.


"Ma, Arini_" Kata kata Arini tertahan, dia menatap satu persatu orang yang ada didepannya. Mereka mendadak menjadi menyeramkan. Apalagi kakak tertuanya.


Semua orang menatap dengan wajah serius, dan jarang berkesip, membuat jantung Arini terpacu sangat cepat


"Ma, Arini sudah lama mengagumi Kak Davit."


"Kagum sama Davit? Apa yang kamu kagumi dari dia?" Mama terlihat makin terkejut. Suaranya terdengar nyaring membuat Excel yang duduk di pangkuannya menoleh ke atas mengamati wajah oma yang sibuk berbicara.


"Kamu kaget ya sayang, maaf Oma lagi nggak ngerti sama Tante kamu, kok bisa suka sama Davit sopir keluarga kita." Rena memeluk Excel dan menciumi cucunya, menghirup aroma wangi bedaknya.


" Kagum gimana maksut kamu Arini? Masa kagum kok kamu sampai peluk peluk, sampai nangis nangis gitu." Mama Rena masih mendesak Arini yang belum sepenuhnya jujur.


"Apa? Kamu nggak salah minum obat kan Rin?"


" Nggak Ma, Pa. Arini sudah lama suka sama Kak Davit."


"Weleh weleh, gimana anak gadis kita kok udah kebelet nikah, padahal dia harusnya konsentrasi kuliah dulu. Arsena gimana ini ? Kasih sopir yang cakep sih. Adik kamu jadinya kesemsem sama sopir tampan itu." Papa ikut bicara.


"Kamu benar Arin, sayang sama Davit." Arsena bertanya dengan aura wajahnya yang serius. Tak ada sedikitpun canda'an seperti biasa


"Nggak benar gimana Ars, lha tadi kita udah lihat dia nangis sambil meluk Davit gitu, dianya yang mepet terus padahal davitnya malu kita lihatin dari kejauhan."Mama ikut berbicara.


"Benar Arini, kamu peluk peluk Davit?"Arsena bertanya pada Arini dengan wajah makin serius, sorot matanya lurus menatap ke arah Arini seorang.


Arini menunduk takut. " Iya Kak. Habisnya takut kak Davit kenapa napa, Pria itu membawa pistol, Arini takut kak Davit akan tertembak dan mati."


Arsena menarik nafas dan menghembuskan pelan. " Iya kakak mengerti. Sekali lagi Davit telah berjasa pada keluarga kita. "


-


"Hadeh anak muda, kalau dah sama sama cinta nempel aja, kok Papa jadi khawatir sekarang pada Arini."


"Papa khawatir soal apa? Kalau Davit sepertinya anak baik, cuma kalau Arini yang ngedeketin jadinya takut imannya nggak kuat. Apalagi usia Davit juga sudah cukup matang untuk membina rumah tangga." Imbuh Arsen lagi sambil mengambil Baby Cello di pangkuan papa.

__ADS_1


Jujur kalau belum punya pacar papa pengennya sama Nathan, anak temen Papa, kalau nggak salah sahabatnya Arini juga dia.


"Pa, Arini dan Nathan itu sahabat. Arini nggak cinta sama dia."


Johan hanya bisa menghela nafas, "Mau gimana lagi, Arini sudah terlanjur cinta sama Davit, selain itu Davit juga kelihatan baik, tak ada alasan lagi untuk tak menerima sopir tampan itu.


"Benar pa? Jadi Papa setuju kalau Arini pacaran sama Kak Davit." Seperti mendapat sebuah lampu hijau Arini langsung memeluk tubuh Papanya.


" Bukan pacaran, tapi kalian nikah aja. Lebih baik langsung nikah. Mumpung papa juga masih sehat, masih kuat gendong cucu papa nantinya.


"Tapi Pa," Rena keberatan.


"Nggak ada tapi tapian Ma, sudah pacaran ya berarti pengen nikah, ya mending Papa nikahin." Johan berkata lebih serius.


Arini mengerucutkan bibirnya. " Papa, tapi Arini mau nikahnya tahun depan."


" Hadeh, kelamaan Arin. Lagian nikah juga makin bagus Kok, kalian sama Davit kan selalu berduaan, jadi kalau ngapa ngapain bisa nambah pahala.


" Papa, Arini malu jangan bahas begituan kenapa."


" Bukan bikin malu, papa ini bicara benar. Nggak percaya tanya aja sama kakak kamu Arsena, Mbak Andini juga. Mereka lebih bahagia setelah menikah.


"Pa, maaf Arsena pergi sebentar sama Andini, kita mau temui Davit dulu di kepolisian."


Usai mendapat pesan dari kepolisian, Arsena segera pamit dari rapat pleno baru saja. Davit rupanya sedang butuh saksi untuk menjelaskan semua duduk perkara yang sebenarnya. Dan saksi yang tepat adalah Arini dan Andini.


"Kak aku ikut!" Arini beranjak sari duduknya segera mengekor Arsena yang baru saja berjalan beberapa langkah menggandeng Andini.


"Sayang, bolehkah dia ikut kita?" Goda Andini.


Baiklah, kita ajak calon istri Davit." jawab Arsena menggoda.


Mereka bertiga pun beranjak ke kantor polisi menemui Davit. Selama di perjalanan, Arini tak henti berdoa dalam hati supaya Davit tak diberi hukuman yang berat.


Andini dan Arsena yang melihat tingkah Arini hanya berpandangan dan saling melempar senyum. " Do' a yang bener, biar Do'i nggak jadi di hukum. Biar bisa nikah cepat."


" Siapa yang mau nikah cepat, yang mau pernikahan dipercepat kan, Papa," ketus Arini.


" Yang senang kan, Kamu." Arsena tak mau kalah.


" Kalian ini, selalu berdebat, Aku heran deh." Andini menggelengkan kepala, pusing mendengar perdebatan yang tiada akhir.


Andini memilih berjalan cepat meninggalkan Arini dan suami menuju taxi online yang sudah menunggu sejak beberapa menit tadi.


* happy reading.

__ADS_1


__ADS_2