Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 155. Kontraksi


__ADS_3

Arsena segera memakai calana, celana slimfit kesukaannya warna hitam yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Andini sejak sejam lalu.


Awalnya Karena sebuah telepon dari Galang sangat mengganggu dipagi ini. Membuat Arsena berbicara ditelepon sambil berjalan menuju ruang makan dan berkumpul bersama yang lain. Akhirnya mereka sarapan pagi bersama dan melupakan soal belum memakai celana.


" Itu karma, buat orang yang suka menzhalimi adiknya ha ha," ujar Arini tertawa meledek karena kesal. Karena rencananya jalan jalan bersama Andini harus kandas.


" Bodo amat, mau karma, mau kutukan apapun terserah, yang jelas gue nggak mau anak anakku kenapa napa. Arin, Kakak memohon kerjasamanya." Terakhir kali wajah Arsena memohon dengan serius.


Arsena selalu was-was melepas Andini kemanapun sendirian jika tanpa ditemani dirinya sendiri. Sebelum lili berhasil ditemukan.


"Vit, tolong siapkan mobilnya, aku harus berangkat lebih pagi." Arsena memberi titah pada davit. ia melihat arlojinya hingga beberapa kali takut terlambat.


" Siap, Tuan."Davit segera mematuhi perintah majikannya. Selama bersama Arsena dia bekerja sangat baik. Bahkan satu kesalahan pun belum pernah dia lakukan.


Sebelum benar benar pergi Davit mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu. Dia tak melihat Mert dan Zara pagi ini.


'Aakkh mereka pasti kesiangan. Semalam mereka sangat romantis pasti semalam mereka sudah melakukan pergulatan yang hebat.' Hati Davit terasa semakin perih mengenang semuanya.


"Vit, kenapa melamun." Arsena menepuk pundak Davit, Davit tergagap.


"Tuan, aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak penting. Mari kita berangkat." Davit gerusaha menyembunyikan luka dihatinya. Membantu Arsena membawa tas kerja dan menjinjing dengan hati hati layaknya barang paling berharga di dunia.


"Sabar Bro, Aku mengerti, yang kau alami memang sangat menyakitkan. Tapi sebaiknya merelakan itu sudah pilihan yang terbaik. Dia bukan jodoh kamu" Arsena berusaha menenangkan hati Davit yang terlihat begitu patah.


"Iya tuan. Tapi sepertinya saya terlalu bodoh menunggu mereka tak bahagia lalu bercerai. Ini buruk sekali bukan, aku terlihat seperti pecundang saja." Senyum kepedihan terlihat dari bibir Davit.


"Percayalah, jodohmu sudah disiapkan tuhan. Mungkin dia sedang menanti untuk kau jemput"


"Haha, benar juga tuan, kalau dia bukan jodohku, kenapa aku tak berusaha mencari yang menjadi jodohku saja."


"Bagus itu baru Davit yang hebat."


Arsena memberi semangat pada Davit.


-


-


Tiba tiba Arsena teringat dia masih memiliki musuh yang sampai saat ini belum ditemukan, Arsena khawatir musuh akan menyerang balik tanpa kita-kira.


"Vit, selama kamu berjaga, diluar mansion apakah kamu pernah menemui ada seseorang datang dengan gerak gerik mencurigakan?"


"Tidak tuan. Sepertinya semuanya sudah aman. Musuh besar sudah tak berani mendekat. Saya yakin mereka akan berfikir seribu kali untuk melakukannya." Kata Davit percaya Diri.


"Semoga kamu benar, aku tak bisa melihat Andini celaka. Selama ini benar kata Arin aku hanya memberi kehidupan menyedihkan saja buat dia. Hampir setengah tahun aku mengurungnya di rumah."


"Tidak Tuan, nona Andini akan mengerti, dia wanita yang pengertian."


"Kamu benar, istriku memang yang terbaik."


"Tuan, terlihat sangat mencintai Nona."


"Aku mencintai dia sama seperti aku menjaga nyawaku. Jika dia pergi aku pasti akan mati."


"Kau pasti akan mengerti, bagaimana rasanya setelah menikah nanti."


"Ketika aku beristri nanti Semoga aku bisa membahagiakannya seperti yang Tuan lakukan."


Arsena bahkan membawa saputangan pemberian Andini kemanapun.


"Davit kau tahu, ada yang lebih membahagiakan lagi buatku. Anak anakku sudah bergerak, aku bisa merasakan tendangan kakinya menyembul perutku setiap hari. Andai bisa aku hanya ingin menemani hari harinya."


"Tapi itu tak mungkin bukan."


"Beruntungnya Nona mendapat suami seperti anda, Tuan."


" Aku lebih diuntungkan, dia setia dan menyenangkan."


 *******


Oma, udara sejuk banget ya! Kata Andini yang sedang berkeliling mansion ditemani oma dan Mama.


Iya, jadi betah disini. Oma." Andini merentangkan tangannya.


"Aku tak melihat Zara dan Mert Oma." Tiba- tiba dia teringat Zara yang selalu menemaninya.

__ADS_1


"Andini kamu nggak tau aja. Dia pengantin baru." Oma mengedipkan mata.


Benar, saya senang ada perkembangan lebih baik lagi di hubungan mereka.


Tring! tring!


"Hai sayang, lagi ngapain?" Arsena sudah duduk di kursi kerjanya. Semua terlihat dengan jelas di ponsel Andini.


"Aku sama Oma dan Mama menikmati pemandangan, suamiku."


"Baguslah, aku sudah sampai."


"Iya suamiku, selamat bekerja" Andini melambaikan tangannya.


"Jaga diri baik baik sayang," ucap Arsena lagi.


"Iya, ini juga sudah jaga diri." Jawab Andini dengan wajahnya sengaja di buat seimut mungkin.


"Sayang aku pengen lihat si kecil."


"Dia pasti lagi tidur," Andini mengarahkan kamera ke perutnya.


"Sayang, aku sudah belikan banyak buku untuk dibaca. Biar nggak bosen. Semuanya ada di atas nakas.


"Terimakasih, Suamiku."


" Cuma terimakasih?"


"Lalu minta apa."


"Cium jauh, dan jangan lupa siapkan dirimu, aku pulang nanti aku langsung tengokin."


"Uhuk, uhuk." Oma tersedak mendengar cucunya yang tak tahu malu


"Suamiku sudah ya, aku ambil minum buat oma dulu. Kamu sih bicara asal nyeplos. Bikin malu." Andini mengerucutkan bibirnya.


"Apa yang terjadi dengan Oma?"


" Oma tersedak, kamunya bicaranya ngaco sih." Andiniengjadapkan layar gawainya di depan Oma.


" Maaf Oma, arsen minta maaf." Arsena terlihat bersalah.


Clik! telepon dimatikan.


 


Cie cie, yang mau diajak jalan jalan ke surga, buruan go persiapkan diri.


"Oma, sama saja deh. Arsena juga suka membuat aku malu."


"Arsena ternyata romantis ya."


Andini senyum-senyum. "Banget Oma."


 


Pagi Oma, pria yang makin hari makin tampan itu menghampiri Oma, setiap pagi Miko selalu mendekati Oma dan mencuri kecupan di pipi Oma sebelum berangkat bekerja.


Miko bagaimana Dara apa sudah ada tanda tanda hamil.


"Dara sudah telat mens seminggu ini Oma, tapi kita belum mencoba test. Takut kecewa seperti sebelumnya"


"Miko, sabar ya, saya yakin kamu akan cepat memiliki momongan." Andini yang disebelah Oma pun ikut bicara.


"Makasi ya. Ndin" Miko menatap Andini, dibibirnya mengukir senyum.


"Aku juga sudah nggak sabar pengen lihat keponakanku lahir. Kamu jaga kesehatan ya." Kata Miko lagi


Andini mengangguk. Dia hanya tersenyum kepada Miko.


Miko terlihat memandang Andini dengan kagum, entah apa yang sedang dipikirkan adik iparnya itu. Untuk menghilangkan kecanggungan diantara berdua, Miko memilih segera berangkat kerja.


Setelah kepergian Miko. Tiba tiba Andini merasakan sakit di perutnya. " aaa ... Sakit Oma."


"Oma segera menaruh teh kembali ke meja. Melihat Andini kesakitan, Oma segera memanggil manggil minta tolong.

__ADS_1


Dara dan Zara segera keluar.


"Andini mau lahiran, Dara." kata mama panik.


"Ya Tuhan, kenapa harus lahir sekarang. Bang Arsena lagi keluar kota."


"Telepon dia, nanti dia marah kalau tidak tau istrinya mau lahiran." Perintah mama pada Dara


"Baiklah kalau begitu, Zara tolong telepon Tuan, kita harus bawa mbak Andini kerumah sakit sekarang." Kata Dara panik.


" Aaaaaaa, sakit Ma, Oma, Dara," erang Andini.


Di bilang mau lahiran Andini ikut panik. Apalagi dia juga sering melihat orang melahirkan secara langsung saat kerja.


Arsena yang baru keluar dari kantor utama menuju kantor cabang yang ada di Sidoarjo. Begitu ponselnya berdering dia segera mengangkatnya. Davit mengurangi kecepatannya dalam mengemudi


"Vit, kita pulang lagi "


" Tuan, Anda yakin?" Davit terkejut tiba tiba tuannya minta pulang.


"Tentu aku yakin." istriku akan melahirkan." Binar kebahagiaan sudah terpancar begitu jelas di wajah Arsena.


Arsena meremas tangannya yang terasa dingin menautkan jemarinya wujut selain senang dia juga panik. Dia sudah sangat siap menerima hadiah dari Tuhan berupa kedua bayi mungilnya.


Sayang, Papa akan pulang lagi untuk menggendongmu, putraku.


Davit akhirnya memasang handset di telinganya yang sudah tersambung dengan ponsel secara otomatis. Menghubungi para staf dan karyawan untuk segera memulai acara peresmian cabang sekarang juga tanpa menunggu Presdir. Karena Presdir harus kembali pulang.


Sedangkan Arsena menghubungi Arini yang sudah berada di rumah bersalin mengantar Andini. Arini juga panik, karena Andini terus saja mengeluh kalau pinggangnya sakit. Akhirnya Arini memberikan ponselnya pada Mama.


"Mama, bagaimana Andini?"


"Tenang Ars, Andini sudah ditangani Dokter. Mama tadi berada di koridor bersama Andini, kami sedang bercanda seperti biasa, tapi tiba-tiba Andini merasakan perutnya sakit, sebentar lagi anak kamu pasti lahir."


"Ma aku akan jadi papa ... Ma." Arsena sangat bahagia. Untung saja Davit selalu memakai handset di satu telinganya, hingga suara Arsena tak terlalu banyak yang masuk ke gendang.


" Iya, Ars. Mama juga akan jadi Oma."


Johan dan Mita yang baru kembali dari tempat kerja pun segera memberi ucapan selamat pada Arsena dan Rena.


"Ma akhirnya Andini mewujudkan mimpiku jadi Opa beneran," Kata Johan bahagia


Johan memeluk Rena dan mencium keningnya. Lalu giliran Mitha juga memberi selamat. Mereka semua sudah nggak sabar ingin masuk ke ruangan Andini. Namun sejak tadi dokter belum juga selesai memeriksa.


"Dokter Namira, bagaimana kondisi menantuku? Apa cucuku sudah lahir?"


"Em semuanya mohon tenang sebentar ya! Dr Andini tadi hanya kontraksi. Memang rasanya sangat sakit sekali seperti mau lahiran karena mengingat perut sang ibu yang kecil sudah sangat penuh oleh kedua bayinya. Apalagi bayi didalam perut sangat aktif jadi pergerakan bayi juga bisa mengakibatkan kontraksi palsu seperti tadi.


"Jadi harap kalian bersabar lagi menunggu sang buah hati lahir. Karena si kecil belum waktunya lahir hari ini."


"Oalahhh, Ndin kukira sudah mau lahiran, semua orang sudah terlanjur kasih ucapan selamat." Rena duduk dengan wajah cemberut dan malu.


"Sabar to Mbak, lha, memang belum waktunya kan. Usia kehamilan Andini juga baru tujuh bulan."


"Iya sih Mit, tapi banyak juga ibu yang melahirkan di usia tujuh bulan. Ya aku tadi mengira dia udah bener mau ngelahirin."


Ini gimana hadiahnya, apa kamu simpan lagi Berikan pada Andini pas lahiran saja." tanya Rena.


"Iya kalau begitu. Bayinya juga belum lahir. Aku ambil lagi ya mbak." Mita mengambil lagi kadonya.


Arsena yang baru datang dia langsung mendatangi mamanya dengan wajah bahagia yang sudah tak terkira. " Ma dimana Andini? Apa bayiku sehat."


"Maaf Ars, kata Dokter Andini cuma kontraksi." ujar Rena sedih.


Arsena berulang kali menggaruk tengkuknya.


Ini pasti si kecil sengaja ngerjain saya, dia pasti ngambek karena nggak di bolehin jalan jalan. Gerutu Arsena. Bermonolog sendiri.


Andini keluar dari ruang bersalin ditemani Namira. Dia berjalan keluar sambil memegangi perutnya yang besar.


"Oma, Mama, maaf ya sudah buat kalian semua panik. Andini cuma kontraksi." Kata Andini tak tega membuat orang orang kecewa.


"Iya sayang, jangan sedih donk." Rena berusaha menghibur Andini.


"Suamiku, maaf ya acara kamu harus batal."

__ADS_1


" Nggak masalah Sayang, yang penting sekarang aku sudah tau kau dan bayi kita baik-baik saja.


Arsena menggandeng Andini mengajaknya pulang. Semua acara yang sudah disusun rapi oleh Vina untuk hari ini terpaksa harus di cancel.


__ADS_2