
Setelah satu minggu tinggal di rumah sakit, hari ini Davit sudah diizinkan pulang. Kepulangan Davit membuat keluarga Arsena lega. Sopir pribadi keluarga Atmaja sudah membaik tinggal menunggu betul-betul sehat saja.
Arini sudah kembali kuliah seperti biasa, Willy dan kawan-kawan sudah tak mungkin mengusiknya lagi, karena mereka semua sudah ada di dalam sel. Willy tak akan pernah bisa keluar dari tahanan kecuali atas keinginan Arsena. Karena kekuasaan yang sangat besar hukuman untuk Willy pun ada di genggamannya.
Pulang kuliah Arini langsung mandi dan bersantai di koridor. Menyusul Excel dan Cello yang kebetulan disana, ditemani Oma dan Rena, sedangkan Andini sedang mandi bersiap siap menyambut suaminya pulang.
"Haiii cucu Oma yang paling cantik baru pulang," Sapa Oma yang kagum melihat cucunya cantik berseri karena usai mandi.
"Cantik, kan Arini memang cucu perempuan Oma satu-satunya," jawab Arini padahal dia senang dipuji Oma baru saja.
Arini mengambil duduk disebelah Oma, dia melihat Cello dan Excel senyum-senyum sendiri karena melihat Arini yang bicara sambil senyum seolah sedang mengajaknya bercanda.
"Dedek bayi, kamu ngegemesin banget sih. Tante makin sayang sama kamu," ucapan Arini hanya dibalas senyum dari bibir Excel dan Cello. Arini tak bisa menahan diri untuk tersenyum
Iya Tante, Excel dan Cello harus cepet gede biar bisa cepet jalan-jalan ke mal sendiri," ujar Oma sambil tertawa terkekeh, menggantikan Si Kecil bicara. Tak mungkin kan bayi seusia mereka berdua bisa bicara.
Saat Arini sedang bercengkrama di koridor yang ada di lantai dua tak sengaja netranya melihat ke arah mess Davit. Davit rupanya sedang santai di teras juga. Arini bisa leluasa melihat Davit yang sedang bertelepon. Dia terlihat bahagia.
Timbul pertanyaan besar dibenak Arini, melihat Davit begitu bahagia, penasaran dengan siapa orang diseberang sana yang mampu membuat Davit tertawa selepas itu.
Arini melihat Davit hingga tanpa berkedip membuat Oma curiga. "Kamu suka sama Davit?"
"Apa? Tidak mungkin Oma. Arini suka sama Kak Davit. Dia kan hanya sopir di rumah ini," jawab Arini berbohong. Padahal kenyataan memang iya. Arini mulai mengagumi sosok Davit sejak pria itu berhasil menyelamatkan dirinya waktu itu. Hanya saja dia masih menyimpan gengsi untuk menunjukkan jati dirinya yang mencintai seorang sopir.
"Kamu berbohong sama Oma, mulut itu bisa berkata bohong. Tapi tidak dengan tatapan mata Arini," kata Oma.
" Tapi Oma, Arini takut papa dan mama akan malu sama rekan kerjanya, jika tau ternyata anak perempuannya mencintai seorang sopir."
"Emang ada yang salah dengan sopir? Bukankah itu bukan pekerjaan yang dilarang," kata Oma bijak.
"Andini dulu juga anak penjual kelontong, tapi dia sekarang seorang dokter bedah yang ahli," ucap Oma lagi.
"Jadi Oma tidak melarang Arini mencinyai kak Davit?"
" Tidak, Oma setuju saja kamu sama Davit. Sudah tampan, santun dan dia juga baik."
Arini tersenyum lebar, ternyata Oma pikirannya tak sepicik dan sempit seperti Oma yang ada di sinetron. Selalu mengutamakan bibit bebet dan bobot.
"Oma, kalau begitu Arini pergi dulu ya." Arini kembali mencium Excel dan Cello juga Oma sebelum kepergiannya.
__ADS_1
"Oma makin lama makin cantik deh," ucap Arini bahagia. Sambil mencubit pipi Oma yang mulai keriput.
"Kalau soal itu, Oma nggak percaya, Oma ini sudah tua Arini." Oma tau Arini sedang ingin membuat Oma senang saja.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Oma, Arini segera turun lewat pintu lift. Hanya beberapa menit saja dia sudah sampai di mess Davit.
Davit sekarang sedang menghabiskan waktu dengan olahraga ringan saja seperti lari ditempat. Tadi mencoba sit up dan angkat barbel, ternyata luka bekas tusuk di lempeng perutnya masih terasa nyeri.
"Nona, Anda kemari?" Davit segera menghentikan aktifitasnya ketika melihat Arini datang.
Davit segera meraih kaos polo warna putih di sandaran kursi, yang tadi sengaja dilepas, pria itu segera memakainya lagi.
Arini kagum melihat dada sikpack milik pria yang dikaguminya itu, ini pertama kalinya dia melihat pahatan indah selain milik kakaknya.
Davit membuka kulkas kecil yang ada di sudut ruang tamu, mengambil dua kaleng minum untuk Arini. Kemudian mereka duduk di kursi yang ada di serambi. Arini dan Davit duduk berhadapan. Dipisahkan oleh meja kecil terbuat dari kayu jati.
Baru sebentar duduk menikmati minum yang di suguhkan Davit. Mendung datang berbondong dari arah selatan. Angin yang berhembus menjadi dingin.
"Sepertinya akan hujan." ujar Davit membuka percakapan. Davit bingung harus mulai berbicara dari mana. Yang jelas berdua saja dengan Arini membuatnya sangat gugup.
"Iya, semoga hujan hari ini tak membawa petir." ujar Arini. Mulai menyesap minuman dalam kaleng yang terasa dingin.
" Aku buatkan cemilan hangat, mau?" Kata Davit. Tanpa persetujuan dari Arini Davit ke dapur minimalis miliknya. Pria itu memang suka masak. Walaupun makanan setiap hari dikirim dari rumah Arsena. Namun kebiasaan buat camilan adalah kesenangan tersendiri bagi Davit.
"Bisalah, aku suka bantu nenek buat gorengan. Biasanya kalau berangkat sekolah dulu, aku suka bawa banyak, sekalian dijual ke teman-teman. Lalu uangnya suka aku habiskan lagi tapi buat bayar sekolah," ujar Davit sambil terkekeh
" Hebat ya?" Arini senang mendengar.
"Apanya yang hebat? itu sangat buruk Nona. tapi aku bersyukur ada Nenek yang selalu menjagaku."
Davit segera membuka kulkas dia melihat ada sepotong tempe. Davit memotong satu papan tempe dengan lihai.
Lalu Davit mengambil bumbu dapur ada bawang putih kemiri dan kunyit. Davit menghaluskan dengan tenaganya yang super. Hanya hitungan detik semua bumbu sudah lebur, tinggal di pindah ke dalam mangkuk, lalu menambahkan tepung, air, sedikit garam, dan perasa sambil diaduk hingga rata
"Kak Davit hebat. Aku nanti yang goreng ya?" Arini mencoba memasukkan irisan tempe ke dalam adonan."
Davit tersenyum melihat Arini memegangnya dengan aneh, terlihat sekali dia takut kotor. atau mungkin dia sangat menjaga kutek nya.
"Kenapa pegangnya seperti itu? Padahal wanita terkena noda saat masak itu, dia hebat lho. Sudah memasak sendiri untuk suaminya. Dan tentunya suami juga akan senang memakan masakan istri."
__ADS_1
" Apa termasuk Kak Davit? Bukankah suami akan senang kalau istrinya selalu cantik dan perveck." elak Arini.
Davit mengulum senyum. "Cantik dan perveck juga penting tapi kalau bagiku, aku asal dia bisa menerima aku apa adanya, sudah cukup. Pandai memasak mungkin bonusnya."
Deg. Arini menghentikan aktifitasnya sesaat,mencerna ucapan Davit. Tak menyangka kriteria pria itu tidaklah muluk. Namun memasak, selama ini dia tidak bisa, dia hanya pandai makan saja dan berkomentar saat masakan kurang enak dilidahnya.
"Nona biar aku sendiri, kasian kutek cantik itu baru dipasang tadi pagi masa harus rusak." Davit ingin mengambil alih pekerjaan Arini.
Arini menjauhkan adonan dari Davit. " Oh, nggak apa apa. Aku akan belajar memasak mulai hari ini. belajar pelan-pelan dulu, nanti aku akan lihai juga."
Davit dan Arini hari ini terlihat begitu dekat, Arini yang manja dan kekanakan, Davit yang dewasa dan pengertian membuat Arini nyaman di dekat Davit.
Arini sudah tak sabar ingin mengutarakan isi hatinya pada pria yang beberapa hari membuatnya susah tidur itu. Namun ia ragu setelah syarat terakhir untuk menjadi wanita impian Davit. Yaitu dia harus bisa memasak. Yeah Arini akan sering sering turun ke dapur mulai detik ini supaya bisa menjadi wanita impian Davit.
"Nona Anda bengong, ayo masukkan adonan kedalam penggorengan"
Sreeng!l!
"Aaaaaa!!" Reflek, Arini memeluk Davit dengan kuat dan membenamkan wajahnya di dada pria yang menjadi dambaan hatinya itu. " Kakak Arini takut."
Jantung Davit berdegup kencang, merasakan pipi Arini menempel ketat di dadanya. Davit tak mau suasana menjadi canggung, dia berusaha membuat suasana kembali hidup. "Nona, sudahlah jangan takut, perhatikan cara saya memasak. Kalau sudah nggak takut nanti boleh coba lagi."
Arini mengangguk, melepaskan pelukannya di tubuh kekar Davit. Sekarang dia bersembunyi di belakang tubuh Davit.
"Memasak ternyata mengerikan juga, kenapa jadi berat begini sih syaratnya untuk jadi wanita pujaan kak Davit," lirih Arini yang masih bisa di dengar Davit.
"Maksud Nona?" Davit menghentikan aktifitasnya.
Arini yang tak bisa mengelak dari kata katanya, dia hanya menundukkan wajah tersipu. Jantungnya berdetak kencang.
"Nona benarkah yang saya dengar baru saja? Nona ingin jadi ...." Suara Davit tertahan di tenggorokan.
Arini masih menundukkan wajah, tanpa berani memandang Davit, gadis penyuka baju warna biru itu berkata dengan bibir bergetar. " Apakah wanita impian itu sudah ada? Jika belum, aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hati Kak Davit," ujarnya tulus.
"Nona apa ini sebuah gurauan?" Davit terkejut.
"Tidak, ini bukan gurauan, entah kenapa akhir-akhir ini aku hanya memikirkan Kak Davit. Aku sudah berusaha menepis bayangan ini. Aku ... Apakah aku tak pantas untukmu Kak?" Arini mendongakkan wajahnya. Memandang manik mata hitam milik Davit. Entah kenapa Davit terlihat tak bahagia.
"Ini tak mungkin, Nona. Pasti itu hanya perasaan sementara. Kau tak akan bahagia jika bersamaku. Aku tak bisa memberikan kebahagiaan untuk Nona. Apa yang nona harapkan dari seorang sopir seperti saya.
__ADS_1
"Kak Davit apa itu artinya kau menolakku? Apa aku tak pantas untuk dicintai olehmu?" Netra Arini berkaca kaca dia berlari keluar mess milik Davit, ingin segera pulang dan bersembunyi dari rasa malunya. Setiap tarikan nafasnya terasa sesak. Arini takut Davit menolaknya. dan yang lebih memalukan lagi dia mengutarakan perasaannya lebih dulu pada seorang pria.
Arini tak pernah merasakan cinta sebelah seperti ini. Di kampus dia adalah idola cowok keren, banyak cowok yang diam-diam naksir. Adapula yang terang terangan mengucapkan cinta. Namun sejak putus dengan Willy entah kenapa hanya di dekat sopir itu yang membuatnya nyaman.