Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 211. Langkah awal.


__ADS_3

"Ada musuh berkedok kawan, mereka mengira kita sudah berhasil dikelabuhi, kita pura-pura saja tetap bodoh dengan semuanya." Arsena memberi pengertian pada botak dan Gondrong.


" Benar sekali tuan, aku mulai merasa Ken tidak berpihak pada kita, dia selalu mempersulit jalan kita, saat kita sedang bergerak dan akan mencapai keberhasilan," ujar botak.


"Aku sependapat, Tuan. Apalagi saat pergerakan kita menuju villa yang ada di hutan, sepertinya dia sengaja membuat pelaku sebenarnya memiliki banyak ruang gerak untuk kabur, sedangkan kita terjebak pada rumah kosong. Bahkan beberapa perangkap telah disiapkan untuk kita disana," ujar gondrong menimpali.


"Iya, aku setuju dengan pemikiran kalian berdua. Demi untuk menyelesaikan semuanya aku harus berpisah dengan cintaku."


"Aku ingin kau telusuri siapa sebenarnya Andrew dan Vanes, informasi yang akurat dan sebuah bukti tertulis sangat aku butuhkan. Apa benar dia adalah anak seorang pengusaha dari Skotlandia seperti identitasnya saat ini."


"Berhasil menguak dengan cara hebat tanpa dicurigai akan mendapat bonus gaji sepuluh kali lipat,ujar Arsena sambil berdiri dan berjalan dengan dada membusung menatap luar jendela.


Gondrong dan botak saling berpandangan jika gajinya dua puluh lima juta tinggal mengalikan sepuluh.


"Kalian siap?"


"Kami siap, Bos."


"Pergilah, aku tunggu kabar terbaik dari kalian."


Gondrong dan Botak keluar kamar hotel yang kini hanya Arsena sendiri yang tinggal di dalamnya.


Arsena sudah siap menjalankan misi selanjutnya. Jika Dev alias Andrew masih berada di rumah sakit, artinya Lili sedang sendirian.


Dan jika Ken berkhianat seperti dugaannya mereka pasti sesekali mengatur pertemuan untuk bertemu.


Senyum smirk tersungging dari bibir Arsena. Waktunya menunjukkan pada Ken betapa ruginya telah berkhianat demi wanita murahan yang pernah menjadi kekasihnya itu.


Arsena mengirim sebuah pesan ke nomor Vanes. Mengajaknya untuk bertemu di sebuah cave mewah, tentu dengan alasan untuk membahas soal pekerjaan.


Tak menunggu lama, pesan dari Arsena rupanya langsung dibaca oleh Vanes. Terbukti tanda centang disudut kanan sudah berwarna biru.


Arsena segera keluar hotel dan mengemudikan mobil mewahnya menuju Cafe Xx yang terkenal dengan suasana romantis dan makanan yang serba mahal.


Senyum bahagia segera terukir di bibir Vanes. Bukan sebuah mimpi dia kembali bisa menikmati makanan lezat dan mahal seperti dulu lagi.


Cave Xx yang akan menjadi sasarannya itu tak lain adalah cave yang dulu sering ia datangi berdua.


Ken telah pergi, dengan leluasa Vanes bisa pergi dan meninggalkan Rara dengan seorang asistennya.


Vanes lupa diri kalau dia berperan sebagai istri dari Andrew yang tak lain adalah kakaknya. Dia memakai tangtop dan rok berbentuk balon panjang diatas lutut. Penampilan yang tak mencerminkan kalau dia sudah menikah.


Segera ia melenggangkan kakinya keluar dari hotel menuju Cave dengan memesan taxi online.


Melihat Vanes sudah berangkat Arsena segera membuntuti dari belakang. Rasanya Arsena ingin tertawa melihat penampilan Vanes yang tak pernah berubah. Mungkin untuk pria lain penampilan itu sangat menggoda, tetapi bagi Arsena penampilan seperti itu sangat pantas untuk dipakai ke cleb saja.


"Lili lili, menjadi Vanes sekalipun kau tak pernah berubah, kamu pikir dengan penampilan seperti itu aku akan tergoda. Haha Andiniku lebih menarik dibandingkan wanita manapun." Arsena bergumam sendiri sambil membuntuti taxi yang hanya berjarak beberapa meter di depannya.

__ADS_1


Ketika taksi menyalakan lampu sein, Arsena memelankan mobilnya, pertanda mereka sudah sampai. Tak lama Vanes turun dan membayar taxi dengan selembar uang lima puluh ribu.


"Nona ini kurang!"


"Kurang!" Lili memeriksa kembali handbag nya rupanya benar dompetnya tertinggal. Hanya uang lima puluh ribu itu yang ia bawa karena terselip di dalam tasnya.


" Apa? Kok bisa kurang? Bukannya tadi dekat? Anda mau peras saya karena saya dandan cantik seperti ini?"


"Maaf Nona tambahin lagi dua puluh rebu aja" kata sopir taxi.


" Tidak ada uang dua puluh ribu, dompet saya tertinggal," ujar Lili ketus.


"Pak, ini saya bayar." Arsena menyodorkan uang dua lembar dua ratus ribuan.


"Tuan Ars, aku jadi merepotkan Anda."


"Sudahlah Nona, nggak perlu sungkan. Bukankah kita sudah menjadi patner kerja. Patner kerja sama dengan seorang sahabat bukan?"


Vanes senyum malu malu sesekali menundukkan kepalanya, sok polos. Sungguh Arsena muak melihat acting murahan. Sungguh dia mengerutuki nasib sialnya dimasa lalu.


"Selain tampan, anda juga sangat baik, beruntung sekali wanita yang menjadi istri Anda."


"Anda juga sangat cantik, apalagi malam ini anda terlihat begitu mempesona, sungguh Nona. Kau bahkan mirip dengan mantan kekasihku."


Deg, jantung Vanes seketika ingin meloncat dari sarangnya, tak percaya Arsena masih mengingatnya.


"Iya, wanita yang pernah aku sayangi, ah tak pantas aku bercerita seperti ini pada anda. Mari .... " Arsena menggandeng Vanes masuk.


Wanita itu kembali merasakan getaran cinta yang sangat hebat. Merasakan lengan kekar itu menyentuh punggungnya.


'Ars, kau rupanya masih ingat aku, kau lili Ars, aku wanita yang kau maksut.'


Sampai di ruangan yang ia pesan khusus untuk berdua, Arsena segera menarik kursi, memperlakukan Vanes layaknya seorang putri. "Silahkan duduk Nona cantik."


"Terima kasih Tuan, Anda sangat baik."


"Untuk wanita secantik anda, aku bahkan bisa lebih baik lagi. Tak akan ada pria yang mampu berpaling dari wanita secantik anda, Nona," rayu Arsena.


"Tuan, aku pikir anda pria yang pandai merayu pada istri saja, rupanya Anda juga pintar merayu istri rekan anda." ujar Lili makin tersanjung.


"Haha Anda jangan salah, aku memang pria setia, bahkan aku sampai sekarang masih setia pada wanita, suka mampir di Cave ini, karena aku masih ingat seseorang. Aku menyesal melepasnya.


'Ars, itu aku, aku yang kau maksut. Kita dulu sangat sering nongkrong disini.'


"Apakah anda masih sangat menyayangi wanita itu?"


Arsena menyugar rambutnya dengan jemarinya, dia makin terlihat tampan saat rambutnya di arahkan ke belakang. " Seperti yang kau dengar, aku masih mengagungkan dia."

__ADS_1


Vanes terlihat bahagia, mengira Arsena masih mengharapkan sosok Lili. Tapi sayangnya wajahnya sudah berubah, dia sudah terlanjur bersandiwara.


'Ini gara gara kamu Ken, kamu harus bertanggung jawab telah membuat aku seperti ini, aku kehilangan wajah yang sangat disukai'


" Sangat, dia mirip sekali dengan Anda, jemari lentik ini mengingatkanku padanya." Arsena menggenggam tangan Van den


"Ahhh, Tuan," Vanes salah tingkah.


"Maaf, jika aku lancang, tolong anda jangan marah" Arsena segera menarik tangannya yang sejak tadi di atas tangan Vanya.


"Ah tidak, aku mengerti Anda pasti sangat sedih."


"Iya aku sedih dia keluar dari tahanan yang aku buat, sesungguhnya aku hanya ingin melindungi dia dari polisi, karena telah menembak Miko hingga koma. Andaikan keluarga tahu pelakunya adalah kekasihku itu pasti keluargaku tak akan memaafkannya." Arsena pura pura menyesal. Sungguh dia tak percaya dengan kemampuannya berakting. Rupanya dia sangat pantas menjadi aktor protagonis pria dalam sebuah film yang romantis.


...'Kena kau haha ... Andini sayang, maafkan aku, jika kau tai aku menyentuh jari Lili pasti aku sudah kau timpuk dengan highellsmu itu.'...


"Nona ... oh iya bagaimana perkembangan perusahaan anda? Apa ada yang signifikan?"


"Nona anda kenapa melamun?" Arsena bisa tau Lili sedang kehilangan konsentrasinya.


"Oh perusahaan? Em iya ada ada, terima kasih sudah memberi kepercayaan pada perusahaan kecil seperti milik kami."


"Tuan menu special yang anda minta sudah siap untuk dihidangkan." Dua waithres cantik dengan ramah membuyarkan obrolan mereka.


"Oh, iya silahkan" Arsena mempersilahkan mereka menata di depannya dengan rapi.


"Terima kasih.". ucap Arsena ramah pada pelayan.


"Jika tuan membutuhkan sesuatu lagi, anda tinggal pencet tombol yang ada di samping meja, kami akan melayani dinner anda bagaikan ratu dan raja."


"Ya terima kasih, sekarang pergilah!" Arsena pura-pura terganggu dengan kedatangan dua pelayan tadi. Membuat Vanes makin melambung.


"Nona mari kita nikmati malam ini, apa anda senang?"


"Tentu sangat senang sekali." Lili mulai menyendok makanan ke mulutnya. Rupanya masakan hari ini masih sama nikmatnya dengan yang pernah ia nikmati waktu dulu.


Lili segera meneguk minuman segar berwarna ungu yang ada di depannya. Dia pura pura tersedak hingga sebagian minumannya tumpah ke ke dada yang terekpose separuh itu.


"Hati hati Nona," Arsena segera berdiri hendak membantu memberinya tisu, namun ia kembali teringat kalau Andini tahu pasti dia akan cemburu. Meskipun ini hanya akting sekalipun. Sebagai suami, ada atau tidak Andini didekatnya, dia harus tetap menjaga perasaan istri tercintanya itu.


"Teeet!" Arsena memencet tombol panggilan perawat.


"Pelayan! tolong bantu Nona Vanes membersihkan diri, karena setelah ini aku ingin melanjutkan serangakaian dinner di malam ini."


"Siap Tuan," jawab pelayan itu dengan singkat.


Dua pelayan tadi segera mengajak Lili pergi ke tempat make up. untuk membersihkan tubuhnya. setelah semua selesai Lili segera keluar dengan penampilan yang berbeda dengan baju yang dikenakan tadi.

__ADS_1


__ADS_2