Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 201. Semua karena cinta.


__ADS_3

Arsena membersihkan luka Andini dengan telaten, jika ada wanita lain yang melihat sikap lembutnya sekarang, pasti akan membuat hatinya iri.


"Ars, perih, jangan keras keras dong." Rengek manja Andini.


" Ini sudah pelan, makanya diam dulu, namanya juga dokter cinta, jelas nggak bisa ngobatin luka, tapi untuk istri sendiri, okelah ini masih belajar dulu. Aku akan berusaha keras," ujar Arsena merayu.


Andini tersenyum sambil meremas tangan Arsena kuat, ketika Arsena menempelkan kain yang sudah dicelup air hangat di pipinya.


"Sayang, Ken adalah penghianat. Kau harus berhati hati dengannya. Dia bekerja untuk Dev. Pantas Dev dan Lili bisa keluar dari penjara di bawah kastil dengan mudah, sudah kuduga dia yang membantu, tapi apa yang membuat dia demikian, dia adalah pengawal ayah yang setia semenjak usianya masih delapan belas tahun, dia melindungi ku dengan sangat baik."


" Pasti ada yang menarik sekali dari pihak Dev dan Lili, hingga Ken harus berpaling darimu, memilih berkhianat."


"Kira kira apa alasannya." Arsena terlihat berfikir.


"Bukankah pria itu mudah tergoda dengan harta, tahta, dan wanita. Pasti tiga diantara itu, ada salah satunya, Ars." ujar Andini sambil menahan sakitnya.


"Jika harta dan tahta, dia bisa membunuhku sejak dulu sebagai pewaris pertama, dan Miko sebagai pewaris kedua, tapi dia tidak melakukan itu padaku. Dan jika cinta? Apa mungkin dia mencintai Lili? Hingga memilih membantunya kabur dan berkhianat?"


"Bisa saja, dia mencintai Lili. Bukankah cinta memang gila. Tapi menurutku apakah Lili sang wanita berselera sultan itu mau dengan Ken yang hanya seorang bodyguard. Rasanya aku aneh membayangkannya."


"Aku akan selidiki, tapi dimana wanita itu sekarang? Keberadaan Lili sama sekali tak terdeteksi."


Membahas soal Lili tiba-tiba Andini ingat dengan Lili wanita cantik yang amat Arsena sayangi.


"Ars, sudah cukup, aku lebih baik sekarang. Terimakasih."


Arsena melihat Andini yang mimik mukanya tiba tiba berubah." Kenapa? Kok jadi cemberut."


"E-enggak. Aku lagi kangen anak-anak."ujar Andini jujur, dia memang sedang kangen anak anak, tapi entah kenapa dia tiba-tiba cemburu dengan hubungan Arsena dimasa lalu. Memiliki suami yang lebih dulu dicintai wanita lain.


"Ars, kalian sudah sangat lama menjalin cinta dengan Lili, andaikan dia dulu tak melepas kegadisannya dengan Miko, apa kamu akan tetap mencintainya? Em maksut aku, apakah dihatimu masih ada sedikit cinta untuknya. Bukankah cinta memang tak mudah dihapus begitu saja."


"Pertanyaan macam apa ini? Sayang kau salah minum obat ya? Tiba tiba bertanya sangat aneh?"


"Mana yang aneh?itu wajar Ars, istri cemburu dengan mantan pacar suaminya," tegas Andini.


" Jika aku sekarang bertanya, apakah Miko masih kau simpan dihatimu sini?" Arsena menyentuh dada sebelah kiri Andini dengan telunjuknya. "Sekarang dia adalah adik ipar mu, tapi masalalu kalian begitu indah, dia selalu datang laksana dewa disaat orang terkasihnya dalam sedikit saja masalah. Andini, Miko masih mencintaimu, aku tahu itu."

__ADS_1


"Kamu gila ya Ars, kau menuduhku dan juga Miko." Andini mendorong Arsena hingga terdorong ke belakang menempel pada sandaran sofa.


Ya, berarti jika kamu masih cemburu dengan aku dan Lili, maka kau juga gila, kau sudah tau dan tentunya bisa merasakan, kalau aku hanya mencintai mama dari anak anakku saja."


Pipi Andini seketika merona, jawaban suaminya begitu mengena di hatinya. Melihat istrinya tersipu, Arsena segera menarik lengan Andini dan mendekapnya ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, Ars." ujar Andini masih dalam pelukan Arsena.


Sambil memeluk Andini, Arsena menghubungi pihak hotel untuk mengambil rekaman di waktu Andini sedang mengalami pelecehan, dan segera mengirim rekaman ke ponselnya untuk dijadikan barang bukti. Sedangkan masih bergelung nyaman dipelukannya.


Arsena menggendong Andini di ranjang. Setelah seharian mengikuti permainan Ken, tubuh Arsena terasa lelah, dia tidur di dekat istrinya, mengamati luka luka ditubuhnya yang lumayan banyak, walau setelah dikompres dengan air hangat sudah sedikit lebih baik tapi untuk hilang masih butuh waktu beberapa hari. Arsena mengelus pipi Andini dengan ibu jarinya. "Aku antar ke dokter, ya?"


"Nggak perlu, selagi kamu ada disisi ku seperti ini, aku akan cepat sembuh."


"Emang bisa ya? Sembuh lebih cepat ketika dikelonin begini?"


" Bisa, kalau kita senang, maka tubuh kita juga akan merespon hal positif juga. Kita akan cepat sembuh."


Arsena tersenyum lalu mengecup Andini, setengah jam kemudian mereka berdua telah tidur amat pulas.


Andini dan Arsena tak mendengar panggilan dari Arini hingga berulang kali. Terpaksa dia meminta kekasihnya untuk mengantarkan dirinya ke Hotel Rosella.


Diperjalanan mereka sedang terjebak macet, hujan turun begitu lebat dan kilatan petir terus saja menggelegar bersahutan.


Davit turun dari mobil segera memeriksa penyebab macet, rupanya disebabkan oleh jembatan yang runtuh, jika ingin memaksa tetap bisa sampai tujuan, mau tidak mau harus putar balik dan melewati jalur lain.


"Hujan sangat lebat, Nona," ujar Davit saat kembali dari memeriksa situasi.


"Tapi aku khawatir dengan Mbak Andini, bagaimana kalau terjadi apa apa."


"Iya, kita semua memang menghkawatirkan Nona," ujar Davit sambil menggosokkan kedua telapak tangannya yang dingin. Tubuhnya basah, dia segera menutup pintu kembali.


"Baiklah, apa itu artinya kita harus lewat jalur lain, tapi jalur itu melintasi hutan yang panjang."


"Iya, yang penting kita sampai disana." Arini tersenyum manis pada Davit yang sekarang sudah resmi jadi pacar rahasianya. Karena hubungan mereka belum diketahui oleh siapapun kecuali Nathan.


Tanpa diduga oleh Davit, Arini ternyata mengeluarkan handuk kecil dari tas selempang yang hampir tak pernah lepas dari pundaknya saat bepergian jauh itu, Arini mengelap tangan dan wajah Davit dengan sentuhan kelembutan. Membuat Davit merasakan kasih sayang yang amat besar.

__ADS_1


"Kak Davit bisa sedikit mendekat, Arini akan membersihkan air hujan di wajah Kakak."


"Nona, berikan handuknya, biar aku bersihkan sendiri."


" Tidak boleh, biar aku saja." ujar Arini, menggengam tangan kekasihnya yang hendak meraih handuk dari tangannya.


Davit menurut, dia membiarkan Arini membersihkan titik-titik hujan ditubuhnya hingga kering.


Davit menatap Arini tanpa berkedip, hatinya mempertanyakan keseriusan gadis di depannya itu. Benarkah Arini sudah memantapkan hati dan cintanya untuk sopir miskin seperti dirinya.


"Nona apakah kau sudah yakin dengan keputusan untuk menikah denganku?"


"Iya, aku tentu sudah yakin Kak. Aku tak pernah bermain main dengan perasaan. Jika Kak Davit tak yakin. Kakak bisa katakan apa yang bisa membuat percaya? Katakan padaku?" Ujar Arini bijaksana.


Davit menarik nafas panjang, mendengar jawaban Arini yang sudah lama ingin ia dengarkan. Akhirnya dia mendengar sendiri pengakuan gadis yang menurutnya masih sangat muda itu.


"Nona, aku ...."


"Kak Davit bisa mengkhitbah Arini dulu. Ke Papah, atau Kak Arsena. Biasanya kalau Kak Arsen setuju, papah akan setuju."


"Jujur aku belum siap, Non."


" Sampai kapan Kak? Aku ingin selalu bersama dengan Kak Davit, aku ingin Kakak, hanya kakak yang ada di sampingku siang ataupun malam."


Davit mengelus rambut Arini yang tergerai lembut, Davit tau Arini sekarang sedang cinta mati dengannya, begitu juga dirinya. " Baiklah, setelah semua tenang aku akan segera mengkhitbah dirimu, Sayang."


Arini tersenyum bahagia. Davit mengecup keningnya yang menghangat.


Tin! Tin!


Mobil lain memencet klakson dengan tak sabar, rupanya mobil Davit menghalangi mobil lain yang hendak putar balik, terlalu asyik dengan Arini membuat dia tak sadar sudah mendapat giliran keluar dari kemacetan.


Melalui perjalanan panjang. Akhirnya Arini dan Davit sudah sampai di hotel Rosella. Davit segera memarkirkan mobilnya, mereka berdua menuju lift, dia sudah tahu nomor kamar yang menjadi tempat tinggal sementara kakaknya itu.


Sedangkan Andini dan Arsena masih lelap dalam tidurnya setelah mereka berdua melakukan pergulatan panjang. Tadinya Arsena tak ingin meminta haknya, Namun Andini menyadari sendiri saat memeluknya, benda keras itu ikut bangkit dan membuat Arsena tak nyenyak di dalam tidur siangnya.


*happy reading.

__ADS_1


__ADS_2