
"Sayang, harusnya acara terakhir ini tidak perlu, aku malu."
" Kenapa harus malu, foto yang aku kirim pada kameramen semuanya sudah aku sortir lebih dulu, kak David nggak usah khawatir, semuanya terlihat tampan kok."
"Sayangku, ada aja idenya."
" Semoga Kak Davit suka." Tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
" Aku pasti suka." Davit menarik pundak Arini dan memeluknya.
Kata kata Davit yang selalu lemah lembut pada Arini tentu membuat banyak orang dibelakang kursi yang ia duduki ikut meleleh.
Proyektor mulai menyala sorotnya menerpa layar, satu persatu koleksi foto Arini dan Davit mulai tertampil, semua mata melihat dengan antusias tanpa berkedip.
Ada foto saat mereka berdua kehujanan memakai satu payung untuk berdua, foto saat mereka sedang makan bersama, saat Arini ngambek Davit berusaha menenangkannya, dan saat Davit memberinya bunga.
"Sayang, kapan kau mengambil ini semua?" Tanya Davit pada Arini.
"Kasih tau nggak ya? Emm rahasia," ujar Arini dengan tawa bahagia.
Davit lagi-lagi bisa melihat tawa Arini yang menggemaskan. Apalagi saat tayangan terakhir berisi rekaman saat Davit sedang merayu Arini dengan jurus mautnya dan Arini sedang tersipu.
"Ya Tuhan, sayang! Kamu punya rekaman ini semua."
"Iya Kak Davit, aku sengaja menjadikan moment lucu kita kenang kenangan, awal pertemuan kita hingga aku jatuh cinta pada kakak, semua sudah ada buktinya, jadi kakak bertanggung jawab untuk menikahi diriku secepatnya."
"Apa mau nikah sekarang juga? Okeee. Akak siap " Tantang Davit. Menatap Arini serius kemudian tersenyum.
"Kak tapi ... foto ini?" Pandangan Arini lurus ke depan menatap layar, matanya hampir membulat sempurna hingga tanpa berkedip ia heran dengan foto yang kini terlihat di layar proyeksi.
Davit pun menatap serius dengan bibir terbuka, ia terkejut ada foto dirinya dengan Zara dilayar itu.
Belum apa apa Arini sudah pias, terlihat mendung sudah menggunung di pelupuk matanya.
__ADS_1
Davit tak memberi penjelasan apa-apa dia hanya menggelengkan kepala pelan. "Kakak tidak tahu soal ini, Sayang."
Arini segera berlari menuju kameramen, mengangkat gaunnya sendiri dan berlari tanpa takut jatuh, karena gugup Arini beberapa kali terkilir namun ia abaikan, kali ini rasa cemburunya lebih besar daripada apapun.
"Om apa apa'an ini bukankah aku tidak mengirim pada Anda foto itu, kenapa ada Kak Davit bersama gadis lain. Ini palsu kan om?" Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya tumpah juga.
" Om katakan ini rekayasa kan? Arini mengguncang pundak pria yang ia percaya untuk menjadi kameramen malam itu.
"Nona ini asli, nggak mungkin aku ceroboh, aku tahu ini hari bahagia Nona, mana mungkin aku berani main main." ujar Om itu penuh pembelaan diri, karena merasa tak bersalah.
"Mungkin ini petunjuk, Nona akhirnya tahu siapa pria yang anda cintai."
"Kak Davit benarkah kakak telah selinggkuh dengan Zara? Sejak kapan kakak selingkuh? Kakak sudah mengkhianati Arini dan Amert.
"Arini, tidak seperti ini ceritanya." David bingung darimana dulu dia ingin menjelaskan pada Arini. Sedangkan tatapan tak suka dan cacian para tamu undangan, semua hanya tertuju padanya seorang. Membuat dada Arini Semakin sesak menerima kenyataan pahit saat ini.
Zara dan Amert yang melihat masalalunya terkuak kembali, derdiri dari kursinya. Zara mencoba mendekati Arini, berharap bisa membantu menjelaskan pada gadis yang sudah dilanda cemburu berat itu dengan berjalan bertatih-tatih karena hati-hati.
"Lepaskan Mas, aku harus membantu Kak David menjelaskan pada orang-orang." Zara memohon pada suaminya untuk tetap menjelaskan sekarang juga.
Setelah menatap pada Davit tatapan orang-orang kini tertuju pada Zara, senyum sinis terlihat dari sudut bibir mereka, ada beberapa yang mengumpat dan mengejek,meragukan bayi dikandungan Zara bukan anak dari Amert. Dia menuduh sesukanya tanpa ada bukti.
" Nona seharusnya anda bersyukur, Anda bisa melihat kelakuan buruk suami anda sebelum menikah." Kameramen itu yakin Davit merupakan salah satu pria matre yang mengincar gadis kaya untuk dinikahi.
Arsena dan Andini mencoba menenangkan para tamu, ada sebagian dari mereka yang makan-makan dulu cuek dengan keadaan, ada juga yang langsung pulang karena kecewa.
Sedangkan Arini masih terisak sambil duduk di sebuah kursi, riasan di wajahnya terlihat berantakan air mata tak berhenti menetes di pipinya.
"Arini," panggil Davit lirih. Davit hendak menyentuh dagu wanita yang satu jam lalu tersenyum untuknya dengan sangat manis.
"Pergi, Kak," lirih Arini. Bibirnya bergetar, terlihat sekali dia sedang merasakan luka yang mendalam.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum Arini mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya," Mohon Davit.
__ADS_1
" Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah tahu semuanya. Kakak mencintai Zara, dan kakak sengaja mencintai Arini yang tak tahu apa apa untuk balas dendam" Arini berkata tanpa berkedip, matanya memerah pandangannya kosong.
"Pergi! Kakak nggak dengar, Arini bilang apa?" Gadis itu mulai menyeka air matanya.
"Arini tolong mengertilah, semua itu karena ada orang yang nggak suka dengan hubungan kita, dia ingin kita berpisah?"
"Siapa? Kakak mau menuduh Nathan?"
Enggak, kakak nggak menuduh dia, cuma aku bilang ada orang yang nggak suka dengan hubungan kita, itu aja. Nggak mungkin kan foto itu ada disitu, tanpa ada yang diam dia mengganti flashdisknya.
Iya, aku tahu ada yang ngganti flashdisk itu, tapi nggak mungkin kan foto itu ada di muka bumi ini, jika kalian tak ada hubungan. Sakit Akak, di bohongi." Arini mengepalkan tangannya dan memukul dadanya pelan. Davit tau betapa terpukul gadisnya saat ini.
"Aku melihat sorot mata kakak sangat bahagia, saat sedang menggenggam jemari Zara." Arini menunjuk netra Davit dengan dua jarinya. Sama seperti yang kakak lakukan padaku. Kakak menangkupkan tangannya di dagu Zara dan menatapnya begitu dekat, sedekat ini kan kak." Zara menatap bola mata Davit amat dekat. Semakin jelas kepedihan Arini terlihat dari bola mata Davit.
Davit memaksa memeluk Arini. Ia berkata di dekat telinganya dengan lirih.
" Kakak tidak selingkuh, semua terjadi jauh sebelum aku mengenalmu Nona." ujar Davit lagi masih memeluk Arini.
Luka lama yang ia pendam selama setahun itu ia pikir tak akan terkuak lagi, nyatanya angan Davit tak sesuai realita, justru saat ini menjadi bom waktu yang meledak disaat yang tepat.
Mama terlihat kasihan sama Arini, dia ingin ikut menjelaskan semua yang terjadi. Namun Arsena melarangnya. " Ma, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, dia sebentar lagi akan menikah, Mereka akan menemui banyak kemungkinan yang lebih buruk dari saat ini, aku ingin lihat seberapa kokoh cinta mereka."
"Tapi Ars adik kamu ...."
" Sudah, Ma mending mama temani Excel dan Cello di kamarnya. Kamu juga Sayang," perintah Arsena yang berlaku untuk Mama dan Andini.
Arsena, Andini dan Mama juga meninggalkan Arini dan Davit. Mereka kini giliran mengerubuti Zara yang merasakan sakit luar biasa di perutnya.
Davit melepaskan pelukan di tubuh Arini. Dia meraih jemari Arini yang terasa dingin. Tatapannya lurus kepada gadisnya. " Sekarang tidurlah, Akak akan menjelaskan semuanya besok. Dan yakinlah kalau cinta kakak saat ini hanya untukmu, dan Zara hanya masalalu dan
kenangan itu harus aku kubur dalam dalam."
"
__ADS_1