Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 275. Hasil pemeriksaan.


__ADS_3

Triing!


Triiing!


"Siapa?" Arsena segera menoleh ke arah istrinya bunyi ponsel Andini selalu membuat dirinya tak tenang, Arsena sangat takut kehilangan Andini yang masih tetap seperti anak perawan walau sudah beranak dua, dia sangat pandai merawat diri dan hanya aroma harum yang selalu tercium saat berada di dekatnya.


"Hallo, Sayang!" Andini sangat girang saat nama penelepon di ponsel itu atas nama mama mertuanya, sudah bisa dipastikan itu kedua anaknya yang meminta pada Mama Rena untuk menghubunginya.


"Hallo mommy!"


"Heyo mommy!" Cello masih cadel akut.


"Hallo Sayang! Kapan kalian pulang Mommy kangen, Daddy juga. Ini Mommy lagi temanain Daddy di kantor." Andini menunjukkan Arsena yang sedang fokus pada labtopnya.


Arsena terlihat tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Hallo Sayang, ummmch ... cium jauh dari Daddy, Daddy kangen kapan kalian kembali ke rumah."


"Maaf Daddy, Kami mau libulan sama Oma dan opa ke Bali, lama cekali." Excello tersenyum di depan kamera.


"Apa liburan lagi? Kok Mommy sama Daddy nggak diajak." Andini mengerutkan keningnya. Dia sudah rindu sekali dengan dua putranya yang sudah beberapa hari tinggal di rumah orang tuanya. Kata Mama sih biar anak anak tidak manja.


"Tata Oma Daddy Ama mommy dilumah aja."


"Kalian kok gitu sih, tinggalin Mommy dan Daddy sendirian."


"Please Mommy, Cello ingin jalan, bocan di lumah."


"Ya tapi nggak boleh nakal ya? Harus nurut sama Oma dan Opa."


"Ocey mommy, Daddy Daaaaa." Anak-anak lalu pergi meninggalkan ponsel begitu saja. setelah Asisten mama memanggilnya untuk siap siap.


Terlihat dari kamera, mama mengambil ponsel dari Cello.


"Hallo Andini, Arsena. Anak-anak sekarang mau ikut mama dulu, kalian nggak usah susul kita, kami memang sengaja merencanakan semua ini, biar kalian enak honeymoonnya." Mama di seberang terlihat tersenyum menggoda Andini dan Arsena hanya bisa membalas ucapan Mama dengan senyum.


"Tapi Ma, Andini juga kangen kalian semua ...." Andini terlihat keberatan.


"Udah, mama janji akan setiap hari hubungi kalian, pesen mama kalian yang rajin ya minum jamu dan vitamin, biar cepet hamil lagi. Mama pengen punya cucu yang banyak dari kalian berdua dan Arini."


"Oke Ma, siap." Arsena menyahut dari arah belakang. " Cucu ketiga akan segera kita proses."


Andini hanya diam dan tersipu. Pria tinggi berotot segera merangkul istrinya, kemesraan yang ditunjukkan Arsena membuat Andini merasakan kehangatan. Dan membuat Johan bahagia di hari tuanya.


"Nah gitu, mama suka kalian akur." Mama terlihat bahagia. Melihat anak, anak cucunya bahagia


"Makasi Ma."


" Sama-sama, Andini."


Setelah panggilan dari Mama berakhir. Arsena memalukan ini dengan sangat erat. "Mama sudah sangat berbeda dengan yang dulu."


Kita periksakan dia yang ada di perut ini ke dokter, siapa tahu memang ada baby yang tumbuh, mama akan sangat senang."


Andini mengangguk. "Yakin cuma Mama yang akan bahagia?"

__ADS_1


"Enggak sih, aku yang paling bahagia."


Tapi rencana, pembebasan Ken." Tanya Andini mengingatkan.


"Oke, oke akan aku laksananakan sekarang, demi istriku yang paliiiing cantik." Arsena berdiri dari duduknya dan kembali memakai jas.


"Jangan berani bohong ya, aku pasti akan marah, tau kan marah tidak baik untuk wanita hamil."


"Sipp, janji." Arsena mengangkat dua telunjuknya. Sebagai tanda setuju.


*****


Pria jangkung, wajahnya blesteran Indo-Turki itu berjalan menuju parkir ditemani wanita yang wajahnya khas Jawa, Melayu. Mereka tetap saja serasi karena ada cinta diantaranya yang sulit untuk dipisahkan..


"Hati hati." Kata Arsena saat Andini masuk di mobil, jiwa prosesifnya kembali muncul saat wanita disampingnya mengabarkan dirinya tengah telat mens.


"Nggak usah parno, aku sudah pernah hamil kan." Andini mengingatkan pada Arsena.


"Ya tetep aja, harus hati hati." ujar Arsena tak setuju Andini teledor.


"Kita kemana dulu?" Tanya Andini lagi.


Terserah kamu Sayang, mau ke Vanya? No problem, periksa kehamilan dulu aku malah suka. Arsena membelai rambut Andini.


Andini tersenyum, mengecup pipi Arsena dengan bibirnya yang lembut. Pria itu lalu menyalakan mesin mobilnya.


Arsena keluar dari parkir perusahaan. Dia akan ke rutan untuk mencabut tuntutan Ken dan pulangnya memeriksakan kondisi Andini. Perkiraan sampai rumah akan larut malam.


"Nona, Tuan selamat sore. Pasti ingin menemui tuan Ken ya?"


"Iya, apa kendra sudah sembuh? Dan dipindahkan di ruang tahanan?" Tanya Andini.


"Belum, dia masih berada di ruang perawatan rutan Nona. Ruang perawatan ada di pojok belakang sendiri."


"Baiklah izinkan aku masuk." ujar Arsena dengan gayanya yang khas, memasukkan dua zangannya disaku sambil sesekali melipat tangannya di dada.


"Baik Tuan." Penjaga pintu jeruji mengangguk sopan, kalau membuka pintu pertama untuk pengunjung, setelah Andini dan Arsena masuk mereka menguncinya kembali dari luar.


Andini sekalian menghubungi Vanya, dia ingin tahu hasil yang keluar berdasarkan sampel darah yang diambil olehnya beberapa hari lalu. Sayangnya hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar, Andini berharap akan cepat keluar.


Melihat ada orang yang ia sayangi datang, Ken segera duduk, Arsena mendekat tanpa sepatah kata, wajahnya acuh. Hanya Andini yang terlihat baik pada Ken, tersenyum ramah dan manis sekali.


Tuan, Nona, terima kasih Anda sudah datang.


"Aku bukan tuan dan Andini bukan Nyonya kamu lagi." tukas Arsena. Aura diwajahnya belum juga mencair, Andini tau kalau doaasih sakit hati dengan keputusan Ken mbebaskan Lili, tapi kenjuga sudah menyadari itu kesalahan terbesarnya.


"Ken apa kamu sudah baikan?" Tanya Andini lembut yang mendapat tatapan tajam dari Arsena. Andini hanya membalas senyum pada suaminya sambil berbisik. "Kalau istri hamil, Sang suami biasanya nggak boleh emosian."


"Emm Ken, apa kamu sudah baikan?"


"Sudah, Nona. Terimakasih sudah datang." Ken bersikap sopan dengan Andini.


Ken, semoga kamu cepat sembuh."

__ADS_1


"Makasi Nona," ujar Ken.


Arsena muak dengan Ken yang basa basi dengan istrinya, ingin sekali dia langsung pulang saja, tapi tak mungkin itu bisa ia lakukan, sedangkan dia hari ini sudah berjanji akan menuruti Andini.


"Ken apa benar kamu jatuh cinta lagi?"


"Iya Nona, aku jatuh cinta pada sahabat anda," ujar Ken malu malu meong.


"Lalu Liliana?" Andini mencoba ingin tahu bagaimana reaksi Ken saat dia menyebut nama Lili.


"Sama semua wanita Ken pasti mau, kambing saja kalau dikasih bedak Ken pasti juga mau." Kata Arsena yang alhasil mendapat gelengan kepala dari Andini dan tatapan melotot. "Can speak the correct language? Ars!"


Ken bahagia mendapat pembelaan dari Andini. Dia menyembunyikan rasa bahagianya, supaya Tuan Muda di depannya tak makin marah


Arsena mendesah kesal. Tak ada pilihan selain harus minta maaf pada istrinya. "l am sorry, honey."


"Ya, maaf Ken kami mengganggu waktu istirahat kamu, semoga kamu cepat sembuh, itu aja harapanku padamu. Semoga setelah ini kamu bisa benar benar menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus."


"Terimakasih Nona." Ken sekalipun tak berani menatap Andini. dia berbicara dengan wajah menunduk.


Ruangan mendadak menjadi sunyi. Masih banyak sekali yang ingin Ken katakan pada Arsena, selain terima kasih juga ribuan maaf. Tapi semua bukan waktu yang tepat.


"Tuan, aku ...." Ken belum selesai bicara Arsena sudah mengangkat kedua tangannya.


"Semua takkan pernah sama seperti dulu Ken. Tak ada yang aku lakukan untukmu, ini semua karena permintaan Istriku." Arsena sama sekali tak menatap Ken.


Ken menatap Andini dan Arsena bergantian, lalu dia menarik nafasnya yang terasa menghimpit paru-parunya.


"Aku akan membuat anda kembali percaya."


"Tak perlu," potong Arsena.


"Meski anda menolak." Ken Kekeuh.


"Terserah." Arsena tersenyum smirk.


"Selamat malam." Suara dari luar membuyarkan ketegangan yang ada di ruang rawat Ken.


"Andini maaf aku agak lama, Rara hari ini rewel, dan aku harus tidurkan dia dulu."


"Nggak apa apa." Andini menarik Vanya agak menjauh dari dua pria yang tak akur itu. "Gimana Van? Negatif kan?"


Vania mengangguk, dia berkata dengan berbisik. "Negatif, Ken belum tertular, Virus itu. dugaan kamu benar, Lili tertular setelah berhubungan badan dengan Jack"


"Syukurlah, itu artinya? you can get married." Andini dan Vanya berpelukan. Ada rasa bahagia di hati Andini. Dua orang yang dekat dengannya akan kembali bersatu.


Vanya meregangkan pelukannya, ada kebimbangan di lubuk hatinya yang secara tidak langsung tersirat di wajahnya.


"Kenapa?" Andini bertanya.


"Nggak yakin aja."


"Harus yakin dong, Ken adalah calon suami yang baik. you sure. pokoknya aku akan mendukung."

__ADS_1


__ADS_2