
Akad nikah sudah usai, ibu Ana dibawa Doni ke rumahnya, perumahan sederhana yang terletak tak jauh dari rumah makan ibu Ana.
Doni berencana membawa nenek untuk tinggal bersamanya, dan Arsena meminta agar nenek diawasi oleh seorang asistent karena kondisinya makin tua.
Sedangkan rumah yang ditinggali Ana rencananya akan di bongkar dan dijadikan sebuah restaurant.
Arsena meminta agar nenek tinggal bersamanya, namun Andini keberatan, Andini khawatir kalau ada salah satu keluarganya yang tak bisa menerima kehadiran Nenek Sumi.
Andini masih trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya waktu itu.
Doni membawa Ana dengan mobil Arsena, sedangkan Arsena dan Andini pulang ikut mobil Miko.
"Daaa ibu, selamat berbahagia ya!" Andini dan Dara melambaikan tangannya bersamaan, saat roda mobil yang dinaiki ibunya mulai berputar pelan.
Sedangkan dari kejauhan Antoni menatap penuh kecewa, pupus sudah harapan, hilanglah mimpi indah yang baru saja akan ia rangkai dengan Ana kembali.
Ana, aku juga mengucapkan selamat menempuh hidup baru, tapi aku tak bisa membohongi diriku, jika hati ini sakit, aku masih berat merelakan dirimu dimiliki orang lain.
Antoni memejamkan mata, tak terasa air mata lolos dari sudut mata tuanya.
"Papa!!"
Mendengar namanya ada yang memanggil, Antoni segera menyalakan mobilnya dan pergi dengan buru-buru.
"Papa ! Tunggu!" Andini berusaha mengejar mobil Antoni yang sudah melaju ke jalanan hitam dengan kecepatan semakin bertambah.
"Sayang! Sayang ! Sudah!" Arsena mengejar Andini dan meraih lengannya.
"Ars, papa pasti sedih banget lihat ibu sudah menikah. Papa masih sayang sama ibu." Andini hanya bermaksud ingin menguatkan hati papanya.
"Andini, percuma! Papa Antoni sudah pergi." Arsena berusaha menghibur Andini. Menarik tubuh Andini ke dalam pelukannya.
"Aku nggak suka kamu lari seperti tadi, lupa sama yang dikatakan Namira, hah?" Kata Arsena di dekat telinga Andini.
"Maaf Ars," cicit Andini menunduk bersalah, Namun, bagi Arsena bahkan ia terlihat semakin imut
" Apa coba? Kalau memang masih ingat"
"Tak boleh kelelahan, Ars." Kata Andini lirih saat kepalanya berada pada dekapan suami.
"Nah itu, paham."
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Arsena pada Miko.
Miko menanggapi perintah kakak dengan serius ia segera mengeluarkan kunci dari sakunya dan memutar mobil menghadap arah jalan pulang.
Dara duduk di depan di sebelah Miko. Sedangkan Andini dan Arsena duduk di kursi penumpang. Mereka langsung pulang menuju mansion.
"Little kamu nggak marah kan?" Tanya Miko disela-sela kesibukannya mengemudi.
"Nggak, aku mengerti kakak sudah berusaha tepat waktu, tapi kalau macet, bisa apa?" kata Dara memahami.
Miko mengacak rambut Dara dengan gemas. "Makasi pengertiannya, Little." Kata Miko sebelum kembali melihat ke jalanan.
__ADS_1
"Huff dasar lebay." Gerutu Arsena. memalingkan wajahnya, menatap ke luar kaca.
"Kalau mengemudi, mengemudi aja, bawa nyawa orang banyak ini, seenaknya." Arsena yang ada dibelakang jadi urung-uringan.
"Ars, jaga bicara sedikit, kenapa sih, tetep aja kalau ketemu seperti ikan dan kucing." Andini meremas bibir Arsena. Membuat Zara yang duduk paling belakang ikut tertawa.
"Kenapa dia harus sensitif begitu, yang aku sentuh juga istriku sendiri." Monolog Miko di dalam hati.
Mobil yang dikendarai Miko sudah masuk kawasan mansion, Andini dan Arsena segera turun, ketika mobil berhenti di lingkaran berpaving, dekat air mancur.
Andini dan Arsena segera naik lift menuju lantai dua. Mereka berdua ingin segera istirahat setelah beberapa hari kelelahan karena ikut andil menyiapkan pernikahan ibu Ana dan asistent Doni.
Sedangkan Miko istirahat di ruang tengah bersama Oma, dan Dara langsung menuju dapur karena Miko sedang ingin makan puding hasil masakan istri.
"Oma, menurutmu Dara itu cantik nggak sih?" Tanya Miko saat bermanja dengan Oma. Di ruang tengah. Miko kangen tiduran dipangkuan Oma.
"Menurut Oma, dia cantik, malah kamu terlalu beruntung dapat dia yang pandai memasak, rajin merawat kamu, sedangkan kamu? Apa yang kamu lakukan untuknya?"
"Andini sudah hamil, Arsena sebentar lagi jadi Papa, kamu kapan buat dia mengandung anakmu? Jangan-jangan kamu ....?" Kata Oma sambil mencubit hidung runcing Miko.
"Tidak mungkin, Oma jangan meremehkan Miko, Miko ini pria sehat, Oma. Enak aja." Kata Miko memajukan bibirnya.
"Ya, tapi belum ada bukti, sekarang ini fakta yang berbicara, Oma terus mencoba menyudutkan Miko.
"Taraaaa !! Puding durian kesukaan Kak Miko sudah jadi!" Dara membawa nampan berisi puding
"Em, baunya enak sekali, sepertinya aku akan menghabiskan banyak ini." Miko bersemangat, ia segera bangkit dari pangkuan Oma. Segera memotong puding dan menyuapkan ke mulut Oma.
"Ini puding paling lezat yang pernah Oma rasakan," kata Oma memuji masakan Dara.
"Makasi, Oma." Dara mengecup pipi Oma sebagai tanda terima kasih.
"Andini ayo gabung sini, kita makan puding sama-sama," ajak Oma.
"Hm, boleh, aromanya harum aku jadi ingin mencicipi ..." Kata Andini ketika turun dari lantai dua, kakinya menapaki anak tangga satu per satu dengan hati-hati.
Andini duduk di dekat Oma. Miko segera mengambilkan piring kecil dan menaruh beberapa puding ke dalamnya, lalu memberikan kepada Andini. " Ambillah, kamu hamil kan, mungkin ini akan baik untuk calon bayimu?"
"Makasi Mik." Andini mengambil piring dari tangan Miko dan pergi menuju taman belakang. sebelum pergi ia berpamitan pada Oma dan yang lainnya. dengan alasan mencari angin segar di belakang.
"Iya. silahkan." Miko menatap kepergian Andini sesaat lalu kembali memakan puding hingga beberapa suap.
"Kak, aku mandi dulu ya, tubuhku asem banget habis masak." Kata Dara mencium aroma tubuhnya.
"Iya nie, asem banget, buruan mandi sana," ujar Miko menggoda istri kecilnya.
"Aaaa ... Kak Miko jahat banget sih." Dara pergi setelah Miko mendorong-dorong tubuhnya pelan. Nenek melihat pasangan suami istri itu tertawa bahagia.
__ADS_1
"Kalian berdua, ya, Oma jadi awet muda kalau selalu bersama kalian seperti ini." Oma tertawa bahagia.
Di taman belakang.
Andini duduk di ayunan, menahan kakinya di lantai agar ayunan diam di tempat tak memantulkan bobot tubuhnya. sambil memakan puding segar pemberian Miko. Lumayan enak di lidahnya, dia juga tak merasakan mual saat mencium aromanya.
"Emm ... Sayangku, kamu suka ya puding buatan tante Dara." Kata Andini sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Besok- besok kalau kamu suka, minta bikinin tante lagi ya."
"Mama, juga bisa buat, tapi nggak seenak ini."
"Andini, bicara sama siapa?" Suara dari arah belakang mengejutkan Andini. Andini seketika langsung menoleh kearah datangnya suara.
Sosok pria bertubuh atletis datang menghampirinya. "Em ... Aku sedang mencoba mengajak bicara calon anakku." Kata Andini dengan wajah menunduk. Masih memegangi perutnya. "Sayangnya dia belum bisa mendengar, menurut ilmu kedokteran dia baru bisa dengar ketika usianya tiga bulan," jelas Andini semangat.
"Oh, begitu, selamat ya." Miko mengulurkan tangannya.
"Terima kasih." Andini menjabat tangan Miko yang menggantung di udara.
"Andini semoga si kecil selalu sehat sampai lahir." Miko mendekati Andini dan duduk di ayunan yang satunya, tepat disebelah Andini.
" Dia kembar, cuma kita juga belum tau jenis kelaminnya."
"Wah, hebat donk, sekali hamil, lahirnya langsung dua. ini yang dinamakan Rezeki Andini." Miko terkejut sekaligus takjub. pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Andini.
"Terima kasih Miko." Andini merasa canggung berdua dengan Miko seperti ini, bukan masalah diantara berdua pernah menyimpan rasa di masa lampau. Namun kini ada hati yang harus dijaga.
"Miko, aku masuk dulu, mau ambil minum." Andini mencoba menghindari Miko.
"Aku ambilkan, Miko meraih satu air minum kemasan berbentuk gelas plus sedotannya di meja yang tak jauh darinya.
"Oh, makasi." Andini menerima air minum dari Miko dan meminumnya hingga setengah. Sebenarnya ia bingung beralasan apa lagi untuk pergi, agar tak berdua saja seperti ini.
Zara sedang tidur siang, Arsena juga. Ia tadi meninggalkan suaminya yang sedang lelap, karena matanya susah terpejam.
Andini akhirnya memutuskan untuk menikmati angin sejuk di taman belakang sambil menikmati pemandangan laut yang tampak dari kejauhan.
"Kok makasi terus sih. Seperti sama orang lain saja."
"Iya, kamu kan orang lain, mengucap terima kasih, belum dilarang, kan?"
Miko terhibur dengan jawaban Andini, membuat senyum tipis terukir di bibir pria tanpa kumis itu. " Kamu ini, bisa aja."
"Miko, terima kasih untuk semua pengorbanan yang kau berikan selama ini. Hingga aku bisa bersatu dengan Arsena seperti yang terjadi saat ini."
"Andini, aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia. Aku tak mungkin bisa melihat dirimu bersedih lagi," kata Miko tulus.
"Kamu memang baik, kau sahabat terbaik, dan sekarang kau menjadi adik terbaik?"
"Tak ada yang lebih berarti, selain melihat kamu selalu tersenyum bahagia, seperti sekarang ini. Tak ada yang bisa membuatmu sedih, Andini, jika ada, dia harus berhadapan dengan ...."
" Kamu bisa aja Miko." Andini tertawa terhibur.
"Kakak!"
__ADS_1
"Dara, udah selesai mandinya?" Miko segera berdiri dari ayunan. ia khawatir Dara salah paham.
* Happy reading.