Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 239. Acara tukar cincin.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Davit sudah memantapkan tekadnya untuk melamar Arini hari ini.


Acara lamaran diadakan di rumah Arsena, tepatnya di halaman yang luas di dekat air mancur.


Acara tunangan diadakan pada malam hari, lampu kerlab-kerlib sudah dipasang memutari seluruh pohon yang berjajar menuju gerbang. Musik-musik romantis sejak sore tadi sudah mengalun merdu. Meja dan kursi sudah dihias seindah mungkin, ratusan lilin kecil mengapung diatas kolam menambah kesan mewah.


Arsena dan keluarga yang lainnya sudah siap menunggu kedatangan Davit dan neneknya.


Sedangkan arini berada di kamarnya nya sedang merias diri, yang dibantu oleh make up artis. Arini terlihat sangat bahagia. Gaun putih dengan model rok lebar, dengan bagian atas berbentuk kemben, serta hiasan beberapa butir mutiara menggantung di belahan dadanya. Kulitnya yang bersih dan rambutnya diikat tinggi-tinggi mirip sanggul ada beberapa helai yang sengaja di biarkan terurai. Makeup yang dibuat alami saja, sesuai usianya yang masih muda.


"Cieee ...." Andini berdecak kagum. "Cantiknya Adik ku yang satu ini, Ayang Davit pasti akan langsung nggak bisa tidur lihat calon mempelainya, belum apa apa udah cantik begini.


"Aaaaa! Arini jadi malu Mbak, Arini menutup wajahnya dengan telapaknya. " Jangan memuji terus nanti kepala Arini jadi berat, kalau jalan jadinya nyungsep."


Andini membantu menata gaun Arini. "Udah nggak usah malu, cantik beneran kok." Andini terus memuji Arini membuat gadis itu makin percaya diri.


Dara dan Zara sudah stanby di depan, berdampingan dengan suami masing masing. Miko tampak tampan sekali, memakai seragam keluarga hari ini. Andini sempat meliriknya sekali tadi.


Sedangkan Zara dan Dara cukup gamis sederhana, diserasikan dengan perutnya yang besar. Dan Andini memilih memakai gamis panjang dengan hijab persegi yang di bentuk sesuai selera sendiri dilengkapi aksesoris di tengkuknya.


Mama Mita dan Mama Rena sibuk memeriksa konsumsi untuk tamu undangan dan kolega papa. Mereka ingin makanan yang tersaji nanti adalah makanan spesial selain dari menunya juga dari kualitas rasanya.


Keluarga Nathan juga hadir, Nathan tampak murung disebelah papanya yang ada di sebelah Papa Johan.


Beberapa puntung rokok sudah dihabiskan dengan cepat. Pria itu sedang dalam mode galau akut. Kekecewaan di wajahnya terlihat begitu jelas.


"Nathan kamu sudah pacar belum?" ujar Arsena yang memilih duduk didekat Nathan. Kedatangan Arsena membuat khalayak wanita membuka matanya lebar lebar, Oma yang terlihat paling kagum, selain Arsena mirip dengan Johan, dia juga cucu pertama kebanggaannya.


Entah sihir apa yang selalu membuat sosok tampan itu selalu berhasil tampak memesona di hadapan khalayak perempuan. Selain ketampanannya, aroma tubuhnya juga wangi, tak heran saat hamil pun Andini suka sekali tidur di bawah ketiaknya.


" Belum Kak." Jawab Nathan dengan senyum yang dipaksakan.


" Arini jatuh cinta pada Davit, dia memutuskan untuk melabuhkan bahtera rumah tangganya dengan pria pilihannya sendiri." Terlihat Arsena mendesah tak percaya. " Aku sebagai kakaknya hanya bisa mendukung selama itu baik untuk dirinya.


"Kak Arsen, Anda memang kakak terbaik buat Arini." Nathan kembali tersenyum. Sebisa mungkin ia sembunyikan sesak di dadanya.

__ADS_1


" Aku tahu kamu berusaha tegar, tapi takdir itu memang aneh kan? Mereka beralih terkadang pada hati yang tiada pernah disangka." Arsena pengajian berkata demikian untuk menyemangati Nathan.


"Iya, contohnya kakak sendiri, iya kan? Meninggalkan Lily seorang model terkenal dan lebih memilih Nona Andini yang orang kampung."


Arsena tersenyum. " Gadis kampung lebih mempesona, aku sudah terperangkap oleh cintanya."


' Aneh keluarga Sultan ini, dia orang kaya, tapi seleranya amat rendah, sudah pasti yang pantas bersanding dengan Arini itu adalah aku. Aku keluarga terhormat, Paman Johan adalah kolega Papa. Aku lebih tampan dibanding sopir kampung itu. Ini pasti ada yang aneh, pria kampung itu pasti sudah bermain curang dengan keluarga Atmaja.'


"Nathan!" Panggil Arsena. Dia pasti sengaja melakukannya.


"Oh, iya." Nathan terkejut dari lamunannya.


"Kita sambut kedatangan Davit, kita hormati mempelai pria yang baru datang." Perintah Arsena. Pria itu berdiri mendekati mobil yang baru saja berhenti di dekat air mancur. Mobil mewah yang dipakai Davit tentu itu mobil milik Arsena.


Papa, Miko dan Amert pun berdiri dari kursi yang mereka duduki. Menghambur ke arah mobil Davit berhenti.


Rupanya Davit ditemani oleh Neneknya beserta paman dan bibinya yang diundang oleh Davit sendiri. Davit segera memeluk tubuh calon mertuanya. Setelah puas pelukan mereka pun terlepas juga.


Arsena menyalami Davit layaknya calon adik ipar, bukan seorang sopir lagi.


"Kak Arsena, terimakasih." Davit berterima kasih dan mencium tangan telapak tangan Arsena.


"Untuk semuanya, Saya tak menyangka acaranya akan semeriah ini." Davit menatap yang hadir satu persatu, tangannya terus saja menangkup di dadanya menghormati seluruh keluarga.


Davit menyapa Andini dan yang lainnya masih dengan telapak tangan menangkup di dadanya.


Nenek yang sejak tadi tiba-tiba lidahnya kelu, kata-katanya akan diucapkan untuk calon besan hilanglah sudah dari kepalanya.


Vit kamu yakin akan menikahi anak konglomerat ini?" Lirih nenek sambil menyenggol nyenggol lengan cucunya.


"Iya nek." Ujar Davit singkat takut didengar keluarga Atmaja.


Oma dan yang lainya menatap kehadiran nenek tua dengan senyuman.


"Neneknya Davit, Oma," Andini memperkenalkan neneknya Davit dan mengikuti dibelakangnya, membantu berkenalan dengan Oma dan yang lainnya.

__ADS_1


Oma tersenyum ramah, " semoga ikatan yang akan dijalin oleh cucu cucu kita makin memperkuat silaturahmi diantara kita ya Jeng.


Nenek mengangguk tak bisa berkata kata lagi, selain rasa haru yang ia rasakan saat ini. sambil menggenggam jemari calon besannya.


Suasana pesta menjadi gegap gempita. Tamu undangan mulai berbicara dengan kawan yang ada di sampingnya.


Mereka ada yang menggunjing ada yang ikut bahagia, ada yang mulai terbakar api cemburu dan menghasut yang lainnya.


Arsena hanya tersenyum begitu juga yang lainnya. "Nathan sini, kenalkan calon suami Arini, kamu sahabat Arini sudah pasti dia akan menjadi sahabatmu juga"


Mendengar namanya dipanggil, Nathan segera menghentikan obrolannya. Dia menerima uluran tangan Davit yang menggantung di udara.


"Hidupmu beruntung Bro," ucap Nathan.


"Semoga kau juga akan beruntung sepertiku suatu hari nanti." Doa tulus dari Davit.


Senyum tertampil dari bibir keduanya, Nathan berusaha mengatasi cemburu yang ada di dada. Setelah berkenalan nathan berdiri disebelah pria yang lebih tinggi darinya itu.


Ma, Arini mana? Acara sebentar lagi akan dimulai," tanya Papa yang belum melihat putri semata wayangnya itu.


Mama segera menghampiri putri semata wayangnya. Yang masih menunggu di dalam.


"Arini! Keluar, acara akan dimulai." Panggil Mama yang menyembulkan kepalanya di balik pintu.


Andini ikut menyusul di belakang mama, dia hendak membantu Arini yang kesulitan berjalan karena memakai hak tinggi.


Mama takjub akan keanggunan gadisnya, putri kecilnya sebentar lagi akan dimiliki oleh pangeran tampan tanpa kuda itu. Andaikan Davit bukan pria yang menyelamatkan anak gadisnya dari pria yang menjelma menjadi kekasihnya waktu itu mungkin dia tak akan merestui hubungan ini.


Senyum Andini terus mengembang sepanjang tangannya menggamit lengan adiknya. Arini berjalan pelan bak putri raja. Mama juga sangat bahagia.


Papa Johan dari arah luar segera mengulurkan tangannya mengambil alih peran Andini.


Davit tak henti hentinya berdoa dalam hatinya bermunajat pada Tuhan. Ternyata rahasia Allah sungguh indah, luka yang ia jalani selama ini kini telah berganti dengan nikmat yang tiada tara.


Oma mememeluk Arini sesaat, kini berganti dengan nenek Davit yang memeluknya sangat lama, air mata lolos dari mata tuanya.

__ADS_1


Nenek Davit tak habis pikir, bagaimana bisa keluarga Sultan nenerima cucunya yang hanya seorang pesuruh keluarganya.


* Seyengku, mumpung hari Senin bagi vote buat emak ya.


__ADS_2