Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 238. Tinggal bersama Nenek.


__ADS_3

"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya David.


"Aku mau minta maaf. Aku sudah menuduh kak David yang tidak-tidak." Arini kini menempelkan kepalanya di dada Davit.


"Sudah dimaafin." Davit mengelus anak rambut Arini. Mengecup puncak kepalanya lagi, entah berapa kali Davit melakukannya di hari ini. Yang jelas Arini suka sekali setiap kali Davit memanjakannya.


Arini mengalungkan lengannya di tengkuk Davit. Membuat Davit harus sedikit membungkuk agar kedua tangan Arini bisa menggapainya.


"Tolong Sayang, jangan dekat dekat Kakak seperti ini," Davit menahan deru nafasnya yang mulai kembali bergemuruh, malu jika Arini sampai menyadari kegelisahannya.


"Kakak serius sudah maafin Arini?" Tanya Arini terlihat polos.


Davit menatap kedua bola mata hitam dengan bulu mata lentik itu dengan penuh kekaguman. David tak sabar kapan pernikahan ini berlangsung. Andaikan tubuh Arini tidak terlarang untuk dijamah Davit pasti sudah menggendong pemilik kulit seputih susu dan sintal ini dan membaringkannya diatas ranjang cintanya.


"Kak Davit!" Arini memanggil Davit yang sedang terpesona dengan kecantikannya, seolah di depannya adalah seorang bidadari.


" Arini untuk sementara waktu tolong jauhi Kakak dulu. Tubuh Kakak sangat sensitif oleh sentuhan darimu."


" Benarkah seorang Davit serapuh itu? Kok Arini nggak yakin Kak Davit bisa melakukannya pada Arini. " Tantang gadis belia itu.


" Bisa Arini, kakak manusia biasa yang juga punya nafsu." Suara Davit terdengar serak, ular kobra di dalam celananya sudah bangkit sejak tadi. Davit bingung menyembunyikan nya. Sedangkan bibir Arini merekah merah di depannya dan tubuhnya menempel begitu ketat.


Pertahanan Davit mulai goyah, dia mendekatkan bibinya ke bibir Arini, Arini memejamkan mata. Melihat netra Arini terpejam sepenuhnya, dengan berlahan Davit memasukkan lidahnya ke bibir Arini, bibir mereka berdua kembali bertautan satu sama lain, tubuhnya menghangat dengan mata keduanya saling terpejam.


Arini mendorong tubuh Davit setelah dia kehabisan nafas. Arini tak berani menatap Davit saat pagutan mereka terlepas. Arini menatap kearah lain dengan kepala menempel di dada bidang Davit yang terlihat bulu halus di dalam hemnya. Semua terlihat jelas karena ada dua kancing Davit yang sengaja terlepas.


Karena pesona Davit yang maskulin, Arini ingin menikah cepat, gadis berusia 19 tahun telah terpesona dengan bodyguard sekaligus sopir di keluarganya itu.


"Sayang, kamu sudah tahu kan? Kakak ini normal. Tolong jangan goda kakak sampai pernikahan kita berlangsung, aku tak mau melakukannya sebelum kita menikah." Nafas Davit memburu, berusaha menolak shahwat yang terus menggodanya.


Arini mengangguk, Davit mengecup keningnya, ciuman yang baru saja ia lakukan membuat mereka berdua salah tingkah.


Arini akhirnya memilih kembali bergabung dengan nenek di ruang tamu, sambil membantu Davit membawa satu minuman dan dua minuman lagi dibawa oleh Davit sendiri.


"Hayo kalian berdua tadi ngapain? Bikin minuman kok jadi lama banget," selidik nenek.


Arini dan Davit saling memandang, senyum tipis dan malu-malu keluar dari bibir keduanya.


" Ngapain sih Nek, tadi cuma bikin minum aja kok, kita nggak aneh aneh suerrr."


"Tapi kenapa aku lihat hidung kamu membesar Davit? Nenek nggak mungkin bisa kamu bohongi."


Davit reflek, menyentuh hidungnya. Membuat Nenek terpingkal pingkal. Davit benar-benar takut hidungnya akan terlihat besar di depan Arini, sedangkan hal itu tentu saja tidak terjadi.


Arini yang melihat kekasih dan neneknya terus bertengkar kecil hanya geleng kepala dan memilih menjadi penikmat.

__ADS_1


" Awas kalau kamu buat Arini hamil sebelum menikah." ancam Nenek kemudian kepada Davit sebelum memulai meneguk minuman buatan cucunya. " Nenek nggak mau kamu nggak bisa jadi wali untuk anakmu nanti, jika anakmu nanti lahir perempuan.


" Kak Davit pria yang baik, Nek."Arini menatap nenek dengan tatapan sendu.


" Cu, kamu nggak bohong kan? Kamu jangan sampai mau diajak kerja sama, sama dia kalau soal begituan."


" Tentu tidak nek." Arini mengangguk pelan.


" Oma, bahas apa sih, enggak, ya enggak. Lagian kami sebentar lagi sudah nikah, Davit kan pengennya setelah akad baru belah melonnya."


"Hei, setelah akad tamu undangan masih banyak, Arini akan kelelahan," ujar Nenek lagi.


Davit menggaruk tengkuknya, bingung bagaimana cara menjelaskan pada nenek. Sedangkan dia sudah tahu kekasihnya terlihat canggung.


Arini hanya bisa tersenyum, dia sesekali melihat jarum jam di arloji warna silfer yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Mau aku antar pulang?"


" Iya sudah malam, aku sebenarnya juga pengen nginep disini Kak," pinta Arini setengah memohon pada Davit.


"Aku juga sudah kabari Kak Arsen, katanya kalau tidurnya sama nenek diizinin."


"Kakak kamu pasti tampan sekali ya Cu! Dia kelihatannya baik."


"Dia sama nyebelin ya sama Kak Davit, tapi Arini sayang sama dia, Kak Arsen juga menyayangi mbak Andini istrinya."


"Nenek pasti akan bertemu suatu hari nanti. Saat bekerja dia nggak suka ada yang ganggu. Dia pekerja keras dan profesional." Arini membanggakan kakaknya.


"Pantesan usianya muda, tapi sudah makin sukses aja."


"Sayang gimana? Jadi pulang nggak?" Davit mengingatkan Arini lagi.


"Arini bawa lebtop Kak, tolong ambilin saja biar Arini nginep disini sekalian kerjain tugasnya."


"Baiklah kalau mau nginep, biar aku belikan baju tidur dan selimut untuk kalian berdua." Davit beranjak menuruni lift menuju mobil. Dia keluar sebentar membeli keperluan untuk Arini, baju tidur piyama setelan, dan juga selimut, tak lupa cemilan untuk teman Arini saat mengerjakan tugas.


Dua puluh menit David sudah kembali ya, dia membawa laptop Arini dan juga kantong kresek berwarna hitam dengan ukuran besar.


Saat masuk David melihat Arini sudah sangat akrab dengan nenek.


"Kak Davit kata Nenek Arini lucu dan imut. Apa Kakak juga melihat seperti itu."


"Imut? Biar aku lihat." Davit menghampiri Arini, menaruh barang belanjaan di meja tamu


Davit duduk de sebelah Arini dan menatapnya dengan tatapan menyelidiki. " Aku nggak sependapat dengan nenek, kau sudah tak imut lagi, tapi amit amit."

__ADS_1


Kak Davit, Arini memukul Dada bidang Davit dengan kepalan tangan mungilnya. Davit merebutnya dan mengecup jemari Arini. "Jemari ini untuk memeluk bukan untuk memukul."


" Davit menggeser lebtop yang ada di depannya. "Kapan mulai belajarnya, nanti keburu ngantuk."


"Hoammm." Suara Nenek sedang menguap. "Nenek sudah ngantuk Cu. Mata tua nenek sudah nggak bisa diajak begadang lagi."


Ya udah Nenek tidur aja kalau begitu, nanti biar Arini kerjakan tugas dulu baru susul Nenek ke kamar.


Nenek setuju, dia akhirnya mulai tidur di kamar, nenek sebenarnya kurang nyaman tidur di kasur yang terlalu empuk. Tidur diatas ranjang rotan dilapisi dengan tikar daun pandan, bantal dari buah pohon randu kering sungguh memanjakan tidur wanita hampir usia tujuh puluhan itu. tapi diatas spring bed tubuhnya terayun ayun bikin kepalanya tambah pusing.


Arini mulai membuka laptopnya, mulai mengerjakan tugas kuliah yang belum ia pahami sama sekali. Karena tadi siang dia tak fokus dengan pelajaran, dia hanya fokus dengan rasa cemburunya yang membabi buta.


"Bisa nggak?"


" Kak Davit, Arini belum mengerti," Arini menggeser duduknya berharap Davit mau membantunya.


"Harusnya ini mudah, kok nggak bisa." Davit duduk mendekati Arini. Tak sengaja telapak mereka saling menyentuh. Arini dan Davit saling tatap sebentar dan tersenyum.


Davit mencoba menjelaskan panjang lebar tentang permasalahan yang Arini hadapi, Arini mengangguk setuju ketika dia mulai paham, sambil sesekali jemarinya mencicipi cemilan ringan pembelian Davit tadi.


Arini tak menyangka Davit ternyata hebat soal pelajaran matematika dan statistika yang sering membuat kepalanya keliyengan.


"Kak Davit hebat kenapa harus menjadi sopir?"


" Supaya bisa selalu di dekat Arini," jawab Davit asal dan singkat.


" Bohong banget, Kak Davit kan bekerja sama Kak Arsen. Waktu Arini masih tinggal di Asrama."


"Iya, awalnya serius kerja, sekarang biar bisa dekat dengan tulang rusuk," jawab Davit dengan senyum manisnya.


" Kak jika kita menikah nanti apa yang paling Kak Davit inginkan dariku?" Tanya Arini.


" Setia," jawab Davit. " Cukup setia dan yang lainnya biar aku yang akan melengkapi.


"Kak Davit ..." Arini tersenyum bahagia. memeluk lengan Davit yang sibuk menggerakkan kursor.


Arini kini mulai konsentrasi mengerjakan tugas kuliahnya, Davit sesekali menyuapi Arini dengan keripik kentang renyah.


"Sayang," panggil Davit lemah lembut.


" Arini menoleh, dia melihat di bibir Davit ada keripik singkong. Mata Davit mengisyaratkan supaya Arini menggigit dari bibir Davit.


"Hmm." Davit mengisyaratkan agar Arini mendekatkan wajahnya hingga hidung runcing mereka bersentuhan.


Saat mengunyah snack sehat rendah kalori itu, Arini menyempatkan mengecup pipi Davit. Suara tawa dan canda sayup sayup terdengar di ruang tamu hingga larut.

__ADS_1


*Happy reading.


__ADS_2