
Bagaimana setelah ini aku menghadapi pria itu, kenapa aku ceroboh sekali hingga lupa mengunci pintu.
Yang paling salah sebenarnya Dia, kenapa masuk kamar mandi tanpa mengetuk dulu. harusnya dia sudah tau kalau pintu tertutup itu pasti ada orangnya.
Kata Andini dalam hati, sambil melirik ke arah Arsena yang keluar dari kamar mandi dengan wajah lega, sakit perutnya sudah reda. lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu lapar?" Tanya Sena. Ia khawatir kalau diam Andini karena lapar.
"Apa kamu mau makan baso? Di depan kantor ada penjual bakso enak banget," Arsena mencoba mencairkan suasana, agar tak semakin canggung. Namun wajah dan jarinya tetap fokus pada laptop di depannya.
"Enggak aku mau pulang saja." Jawab Andini tanpa melihat Arsena.
"Kamu kenapa? Diam aja, apa kamu sakit?" Arsena mencoba mencari tau perubahan sikap Andini.
Aku malu, tau. Kau tadi sudah melihat seluruhnya, bahkan kau tadi tak berkedip dan memelototiku terus.
Andini beranjak dari duduknya dan hendak pulang. Semakin jauh, atau tak bertemu lagi dengan Arsena menurut Andini akan semakin bagus.
"Tunggu, ditanya nggak dijawab malah pergi aja." Arsena meraih tangan Andini dan menahan lengan itu. Karena Andini memaksa terus memberontak, akhirnya Arsena menarik dan mendudukkan Andini di pangkuannya.
"Ars, aku mau pulang." kesal Andini.
"Bentar lagi." Arsena melihat jam di lengannya. Masih kurang satu jam lagi baru masuk waktu pulang.
"Biarkan aku naik taxi." Mohon Andini.
"Tidak, temani aku."Arsena melingkarkan tangannya di perut Andini, menahan agar tak pergi. tangan yang satunya mempermainkan keibord di meja kerjanya. "Sebelum satu jam berlalu, pekerjaan hari ini harus selesai."
"Ars ... Aku ingin duduk di sofa saja"
"Sudah diam, kalau kamu terus bergerak apa kamu mau tanggung jawab kalau ada yang berdiri meminta pertanggung jawaban."
Andini menuruti Arsena. Gadis itu memilih diam di pangkuan Arsena. Sambil mengamati prianya menyelesaikan tugas.
Sesaat Andini teringat bagaimana ia telah memergoki Arsena akan mencium Lili waktu itu. Bagaimana ia berkata dengan yakin hanya mencintai Lili seorang, dan selama ini ia hanya dianggap ART olehnya. Andini memberontak dengan paksa.
"Lepaskan ... " Melihat wajah Andini yang serius tak ada aura bercanda. Akhirnya Arsena melepaskan tangannya.
"Baiklah kita pulang sekarang." Arsena menutup laptop nya dan memasukkan ke dalam tasnya lalu meraih jas yang berada di sandaran sofa. Mereka berdua keluar dari ruang kerja Arsena sambil beriringan.
Saat keluar ternyata beberapa bola mata sedang mengawasi gerak gerik mereka dengan teliti.
"Siapa dia?" Tanya salah satu karyawan pada teman lainnya.
"Entahlah, mungkin wanita penggoda." Teman yang lain menimpali.
"Hahaha ... Pak Ars kan pacarnya Lili. Mana tergoda dia dengan model begitu. Kemaren aku lihat waktu di kantin dia juga sama Pangeran ke dua. "
"Siapa? siapa?"
"Pak Miko Atmaja, Anak pemilik perusahaan ini juga."
"Wah keren ya dia, wajahnya lugu tapi berhasil membuat dua pangeran di perusahaan ini dekat dirinya. Aku mau juga dong berpenampilan lugu tapi jadi idola para pangeran. Heran jadinya, gue yang setiap hari cantik gini nggak pernah dilirik." Kata Vina. Asisten Arsena.
"Iya betul, kita sebaiknya bersikap polos dan sederhana aja waktu ke kantor biar bisa deket dengan para pangeran tampan, keren nggak ide gua."
"Keren-keren!" Mereka bertiga menempelkan jempolnya tanda kekompakan mereka sebagai ratu bigos.
"Ngobrolin apa kalian?"
"Hehehe... Enggak Pak, cuma membahas kerjaan aja."
"Membahas kerjaan apa kurang kerjaan?"
Kata-kata Arsena sontak membuat trio ngerumpi jadi diam. Dan bubar menuju ruang masing masing.
****
Sampai di rumah Andini segera masuk ke kamarnya, Andini banyak diam sejak di mobil, ia sangat malu dengan kejadian di kantor tadi.
Walaupun sekarang Arsena sudah menjadi suaminya tapi ia tahu lelaki itu akan menceraikan ketika tujuannya telah tercapai. Oleh sebab itu selama perjanjian ini berlangsung Andini harus bisa menjaga dirinya dari pria yang diam-diam telah singgah di singgasana hatinya itu.
Greeeet ....
__ADS_1
Suara derit pintu pagar dibuka oleh penjaga rumah mereka.
"Siang Den, siang Nona." Sapaan yang biasa Pak Karman berikan untuk menyambut majikannya datang. Dan ini pertama kalinya mereka bersama dan terlihat akur.
"Andini, bawa ini dan siapkan mandi untukku." Arsena memberikan jas, tas dan sepatunya seperti biasa.
Andini menerima dengan kedua tangannya.
"Tumben, kebiasaan melempar sudah hilang." Batin Andini.
"Ngomong apa?"
"Enggak ada apa- apa."
Andini segera menaruh barang barang Arsena pada tempatnya, kini ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Arsena. Andini mengisi bathub, mengatur volume air dan suhunya. Setelah selesai ia keluar.
Saat keluar Andini begitu terkejut, pria itu sudah membuka bajunya di depan pintu kamar mandi dan memakai handuk saja
"Aaaars." Pekik Andini terkejut.
"Kenapa berteriak terkejut ya, lihat orang ganteng." Tanya Sena yang melihat Andini sejak tadi menunduk. Menyembunyikan wajahnya.
"Tidak aku cuma kaget, semua sudah siap, aku keluar." Kata Andini.
Andini segera meninggalkan Arsena sendiri di kamarnya. Ia lebih memilih menghindar dari pria itu daripada terus bersamanya membuat senam jantung.
"Andini habis ini kamu mau ngapain?" Tanya Arsena.
Andini berhenti sejenak menjawab tanya dari Arsena. "Aku akan memasak, bukannya kalau habis mandi nanti anda akan lapar" kata Andini lalu jalan lagi meninggalkan kamar.
"Oh, iya. Masak yang enak ya ...." Andini keluar kamar ia belok haluan menuju kulkas, melihat isi kulkas sudah hampir habis. Andini berinisiatif besok akan belanja bahan-bahan makanan usai pulang kuliah.
Andini membawa cumi dan lobster serta wortel ke dapur pagi ini ia ingin membuat Kentucky udang, cumi goreng, serta sayur SOP.
Menu ini favoritnya sejak tinggal di rumah mewah ini, tapi Arsena juga suka.
Belum selesai memasak, Andini mendengar ada orang menekan bel berulang kali.
Selang beberapa menit Bi Uma datang lagi pada Andini dengan wajah sumringah." Non ada paket untuk anda.
"Untuk saya, tapi saya sedang tak pesan barang secara online, Bi." Kata Andini sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Mungkin Den Sena, yang belikan untuk Non Andini."
"Oh, apa mungkin ya Bi?" Andini segera mematikan kompor dan meniriskan udangnya. Buru buru keluar ditemani Bibi lagi.
Andini segera menghampiri pegawai pria seusianya yang memakai seragam.
"Apa anda Nona Andini?"
"Iya benar saya sendiri, Mas."
"Nona ini ada pembelian satu unit motor dan minta ditujukan alamat ini.
"Tapi saya sedang tak membeli Motor, Mas. Mungkin ada kekeliruan menulis alamat atau namanya saja yang sama."
Pegawai itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ucapan Andini seakan hal konyol yang pernah terjadi semasa ia bekerja. "Mana mungkin saya melakukan kesalahan sefatal itu, bisa dipecat saya Mbak. Coba Anda lihat apakah ini nama dan alamat ini? Dan ini surat-surat sepeda baru anda, jadi sebaiknya Nona cepat tanda tangan dibawah ini, sebagai bukti kalau barang sudah di terima." Jelas pria itu panjang lebar tak mengurangi ke sopanannya.
Andini menerima dan mencocokkan berulang kali alamat yang tertera di depan rumah ini dengan yang tertulis di kertas memang semua sudah benar. Andini yang masih dalam mode bingung menandatangani kertas tersebut karena Motor itu ternyata sudah di beli dengan cash oleh pengirimnya.
Setelah menandatangani Andini menyerahkan secarik kertas yang berisi tanda terima itu "Terima kasih pak, tapi jika ada kekeliruan pengiriman anda bisa ambil kembali, karena saya sedang tak membeli motor dan tidak minta seseorang untuk membelikan."
Baiklah, Nona. Semua saya rasa sudah cukup jelas. Kalau pembelinya mungkin pengagum rahasia Anda. Karena disini namanya minta dirahasiakan.
Petugas Dealer itupun pergi setelah berjabat tangan dengan Andini dengan Bi Uma. Bi Uma sejak tadi juga ikut menyimak obrolan mereka di sebelah Andini.
"Non, mungkin dari Tuan Johan. Sengaja belikan Non sepeda karena sering ditinggal sama Den Sena." Terang bibi.
Andini berfikir sejenak lalu menjawab kata Bibi. "Mana dia tau kalau Arsena pernah meninggalkan aku di lampu merah."
"Non ini gimana, Tuan itu bisa tau apa yang tak pernah dilihat, mata-matanya ada dimana mana."
"Mungkin benar kata, Bibi. Ayo masuk Bi, kita terusin yang tadi." Andini dan Bi Uma beranjak masuk soal mencoba sepeda nanti aja setelah masak selesai. Andini khawatir Sena akan kelaparan sebelum usai memasak.
__ADS_1
-
"Motor dari mana?" Tanya Sena dengan pandangan fokus ke arah Motor matic yang masih kinclong karena masih baru dan terbungkus itu."
"Andini menggelengkan kepala." Sambil mengangkat dua pundaknya, tanda ia juga tak tau.
"Mungkin tuan yang belikan, Den supaya bisa buat pulang pergi kerja, kan Non Andini sebentar lagi juga sudah mau lulus."
"Oh mungkin, gimana masaknya dah selesai belum? lapar Nie tadi siang sudah nggak makan soalnya" Tanya Sena pada dua wanita beda usia di depannya.
Belum jawab Andini dengan cepat, ia segera menuju dapur untuk menyelesaikan masaknya, karena siang tadi Sena memang tak makan karena tragedi tadi siang dan Andini meminta buru-buru pulang.
Selesai memasak Andini segera menata masakan di meja makan dan Sena sudah menunggunya di salah satu kursi. Saat Andini membawa makanan terakhir dari dapur Arsena menarik satu kursi di dekatnya. "Duduk, temani aku makan."
"Makan sendiri, aku mau mandi habis masak pasti bau bawang semua ni badan." Sambil menciumi kedua lengannya yang tak tercium apa-apa, bahkan cenderung masih wangi.
"Sudah, ayo makan bersama, mandinya nanti aja." Kata Sena lagi menahan lengan Andini."
Wah gimana ini bisa terjadi, ART makan bersama majikannya." Andini tersenyum tapi tak menolak lagi permintaan suaminya. Sedangkan Arsena sudah mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Makan siang yang berganti sore itu makan pertama Andini dan Arsena di dalam sejarah pertemuan mereka di rumah ini. Ketika hatinya tak saling membenci lagi.
Namun Andini masih memikirkan Si pengirim motor, kalau papa mertuanya kenapa harus menyembunyikan identitasnya.
"Arsena terlihat menambahkan beberapa lobster renyah kedalam piringnya dan mengambilkan kepada Andini juga."
"Udah Ars, aku kebanyakan."
"Udah makan yang banyak, biar gemuk."
Enak aja siapa yang mau gemuk, Andini mencebikkan bibirnya. Lalu tersenyum ke arah Arsena.
"Kenapa dia kalau tersenyum jadi manis sekali seperti ini, ah. Apa'an sih gua, Liliana jauh lebih cantik dibanding dia."
Arsena membohongi dirinya, berusaha menepis semua bayangan di otak yang sedang berputar putar. Tubuhnya kembali menghangat bila ingat kejadian siang tadi dimana ia melihat semuanya dengan jelas dengan jarak yang begitu dekat.
Tring! tring! tring!
"Handpone kamu bunyi tuh."
"Iya aku juga dengar," kata Andini sambil mendorong kursi sedikit kebelakang dan melangkahkan kakinya menuju keberadaan handponenya yang sedang menancap charger, tergeletak di atas nakas di ruang tengah.
Andini membaca beberapa pesan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan si pengirim motor tadi.
Girl, untuk beberapa hari ini kita tak bisa berangkat ke kampus bareng, karena papa tiba-tiba mengirimkan aku ke paris, untuk beberapa hari, aku ingin kamu gunakan motor itu dan aku akan usahakan akan pulang saat kamu wisuda nanti.
Tolong dipake pemberianku yang tak berharga itu. Dan semoga kamu akan suka. Oh iya, kamu pasti belum pernah lihat Eiffel, aku sekarang ada dibawah menara ini tapi sayangnya aku sendiri. Kamu mau kan suatu saat aku ajak kesini.
Girl, apakah saat jauh seperti ini kamu merindukanku. Aku merindukanmu. Hehehe .... Bodoh sekali ya aku, mana mungkin kamu merindukan pria sepertiku, jelas disisi mu ada seseorang yang lebih segalanya dariku.
Andini membaca isi pesan panjang itu. Semua pertanyaan terjawab lah sudah siapa pengirim motor itu.
"Dari siapa kok bacanya sambil tegang begitu?" Sena mulai curiga, kalau itu pasti kekasih lama Andini.
"Teman." kata Andini singkat. Karena pria itu tadi juga berpesan agar merahasiakan namanya.
"Dari pacar juga nggak apa-apa, aku juga nggak akan cemburu." kata Arsena sambil mendekati Andini. Arsena menatap wajah Andini sangat dekat, semakin dekat bahkan tak ada jarak Antara mereka.
Andini memejamkan mata, ia siap jika Arsena akan mengecup pipinya, namun belum siap jika Arsena akan mencium bibirnya, buru buru ia menutup bibir merah muda itu dengan telapak tangan.
Andini bisa merasakan nafas Arsena menerpa pipi dan rambutnya, hingga bulu romanya berdiri.
"kamu ingin di kecup olehku? maaf aku tak tertarik." Arsena menjauh dari Andini, ia urung menciumnya karena ia bisa mendengar bunyi jantung Andini begitu bergemuruh di dadanya.
"Aku juga tak ingin dicium oleh lelaki angkuh sepertimu ...!" Maki Andini kesal.
Arsena pergi ke kamarnya, Andini juga ke kamarnya sendiri melanjutkan berkirim pesan dengan pria humoris penuh kejutan itu.
*thanks for readers
* happy reading.
*don't forget, Like, coment, Vote & flowers.
__ADS_1