Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 216. Perjuangan Davit.


__ADS_3

Lili dan Jack cek in di hotel yang sama, hanya kamar saja yang berbeda. Namun, kamar mereka masih bersebelahan.


Lili dan Jack segera naik lift menuju nomor kamar yang ia pesan, sepanjang perjalanan mereka terus saja bercerita dan tertawa. Tak terasa mereka kini sudah didepan pintu.


"Jack," lirih Lili. wanita itu merengkuh tengkuk jack kembali. Menatapnya dengan mata yang berbinar.


"Kau sangat merindukanku?" Tanya Lili. bibirnya terukir sebuah senyum.


"Iya, bagaimana aku tak rindu pada bidadari secantik kamu?" Jack kembali menarik tubuh Lili dipelukannya.


Jack membuka kamar yang menjadi miliknya untuk beberapa malam ini, dan menarik tubuh Lili masuk.


"Aku belum lihat kamarku." ujar Lili manja.


"Tidak perlu, tinggallah di kamarku. Aku akan kesepian jika tanpamu, Aku memiliki banyak cerita yang harus kau dengarkan."


Jack merengkuh tubuh Lili dan menggendongnya masuk, pria itu segera mengunci dengan tangan kirinya. Merebahkan Lili di ranjang dan Jack segera mengungkungnya. " Apa kau ingin aku melakukan pekerjaan penting Baby?"


"Kau tadi bilang istri Arsena sangat cantik bukan? Aku ingin kau menghancurkan kehormatannya, buat hidupnya sehancur mungkin hingga dia malu dan jijik menatap dirinya sendiri, jika itu terjadi, Arsena pasti tak akan sudi menyentuhnya. penderitaan itu cukup sepadan dengan yang kurasakan dulu bagaimana dia mengambil Arsena dariku."


"Wow kau ternyata jahat sekali, Baby!" Pekik jack. Sambil membuka hemnya dan menampilkan otot otot lengannya yang lebar.


"Ya, aku harus menyingkirkan dia, aku membutuhkan bantuanmu, kau tahu kau bisa memiliki dia dan menjadikan pelayanmu di negara asing bukan." Lili berbicara dengan nafas tersengal karena Jack sudah menindih tubuhnya dan mencium wajahnya tiada henti.


"Resiko yang besar, aku butuh imbalan yang besar untuk pekerjaan besok. Apa kau siap membayar ku, Baby?" Nafas Jack sudah memburu dia segera membuka blazer yang dikenakan Lili. Hingga tinggal menyisakan tangtop warna hitam yang tipis mencetak dua bukit menjulang.


" Harusnya kau bekerja dulu dan kau akan dapat bayarannya." Lili berusaha meronta. Mendorong tubuh jack yang sudah diliputi gairah dengan tenaganya.


Penolakan Lili sama sekali tak berpengaruh. Jack tetap saja menciumi leher dan dada Lili sambil tersenyum, akhirnya mimpinya selama ini menjadi nyata, dia bisa menikmati tubuh yang selama ini ia inginkan. Tangannya yang lebar menurunkan tali tangtop yang dikenakan dan mulai meremas dua bukit menjulang dengan tak sabar.


Malam ini Lili terpaksa menjadi budak Jack, dia harus melayani kebringasan pria yang selalu haus belaian wanita itu. Jack berhasil membuat Lili hampir pingsan. Entah beberapa kali dia meledakkan nuklir ke dalam rahim Lili tanpa pengaman.


"Kau gila Jack kau ingin membuat aku tak bisa berjalan?" Lili merasakan Jack juga memanfaatkannya. Rupanya pria itu menggunakan obat kuat untuk bisa menikmati tubuhnya sepuasnya hingga berulang kali.


"Jangan munafik, baby. Bukankah kau juga merindukan sentuhan lelaki perkasa seperti ku, kau sangat suka kan." Jack tersenyum didepan Lili dan meraih hemnya lalu memakai tanpa mengancingkan. Setelah badannya puas mengerjai tubuh Lili. Jack lalu duduk di sofa sambil menyesap nikmatnya cerutu dari negara asing.


"Sialan kau!" Umpat lili sambil menggeliat yang dagingnya serasa remuk dilolosi dari tulangnya. Dia juga melihat banyak tanda kepemilikan di sekitar tubuhnya.


Jack mengamati lili dengan senyum tipis dibibirnya. Sesekali menyesap rokok di tangannya dan meniup asapnya yang melambung ke udara. Hari ini dia telah menang banyak. Penasaran dengan tubuh Lili yang selama ini hanya sebatas mimpi akhirnya bisa dia rasakan juga.


"Buruan mandi biar segar, lihatlah tubuhmu sudah seperti cumi kurang air aja," ledek Jack saat melihat Lili masih setia meringkuk di bawah selimut. " Jangan jangan kamu emang mau aku bikin lelah lagi?"


"Udah, udah Jack gue nyerah. Sakit banget tau, kamu udah kaya kuda kelaparan tau nggak. Yang harusnya Lo gini'in itu si Andini bukan gue."


Lili merasakan sakit luar biasa di organ intinya, biasanya juga tak sesakit ini, dia bahkan melihat ada noda darah segar di seprei.


Lili berjalan bertatih tatih ke kamar mandi, ingin segera merendam tubuhnya di bathup dengan air hangat.


Gila, salah besar gue minta tolong sama Jack, kalau akhirnya gue yang dihajar kayak gini. Ah, semoga pria brengsek bisa mewujudkan mimpi gue.

__ADS_1


Lili membersihkan tubuhnya yang penuh dengan cupangan. Setelah tubuhnya tak lengket lagi dia segera keluar kamar mandi, dengan memakai handuk kimono.


Jack menatap Lili demgan senyum mesumnya.


Lili jengah dilihat seperti itu oleh Jack.


"Ngapain lihat gue mesum seperti itu? Gue ogah ngelayanin elo lagi"


Jack tersenyum lalu mematikan rokoknya dan menghampiri Lili yang menyisir rambutnya di depan meja rias. "Apa kamu bilang tadi?" Jack memeluk tubuh Lili dan menciumi tengkuknya.


"Gue ogah ngelayanin Elo, mending buruan sekarang kerja, upahnya udah elo ambil semalam, hiper banget sih."


Jack menancapkan dagunya di pundak Lili. "Kenapa sih nafsu banget menghancurkan rumah tangga mantan? Mending sama aku aja, bukankah baru saja sudah merasakan kemampuan ku dalam bermain, Baby." Jack menggigit telinga Lili membuat wanita itu geli dan menepis bibir Jack.


" Kalau elo sekaya Arsena Atmaja, pemilik PT Wilmart, pengusaha terkaya di kota Surabaya. Gue pasti mau, sayangnya nasib elo nggak sebaik dia." Lili berdiri meninggalkan Jack yang selalu mengekorinya. Lili segera masuk kamar dan ganti baju, dia segera ingin keluar melakukan penyelidikan keberadaan Andini.


"Aku mau keluar, cari udara segar, sekalian kita cari Andini kamu tahu sendiri kan? Aku nggak punya banyak waktu." ujar Lili usai ganti baju.


"Oke baby, hoaammmmm. Saatnya bekerja, Jack." Jack menyemangati dirinya sendiri. Membebaskan Lili dari dekapannya.


Jack juga merasakan tubuhnya sangat lelah. Tak menyangka obat yang diminum efeknya begitu kuat. Jack segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Usai mandi tubuh mereka berdua terasa lebih baik. Lili segera menyeret lengan Jack keluar kamar menuju tempat wisata yang tak jauh dari hotel.


Lili yakin Andini dan keluarganya pasti sedang ada disana menghabiskan waktu untuk bersenang senang dengan keluarga dan anak anaknya.


Benar dugaan Lili. Andini sedang berbahagia. Dia naik kapal bersama Arini yang ditemani oleh banyak lumba-lumba disekitarnya.


"Kak Andini, lihatlah lumba lumba itu!"


Arini menunjuk lumba lumba yang sedang berlompatan. Andini tertawa girang seperti anak kecil.


"Arini kakak takut." memeluk Arini.


" Tenang Kak, lumba lumba disini sudah terbiasa mendapat tamu seperti kita." Arini menenangkan Andini. Andini terlihat lebih relaks.


Pagi hari pukul enam sampai pukul sembilan di pantai pulau Weh, lumba lumba memang terlihat lebih banyak. Wisatawan yang datang kesana, mereka senang melihat lumba lumba bergerombol mencari santapan ikan-ikan kecil.


_____


Tanpa diduga bahaya besar sedang mengintai Andini dan Arini. Jack dan Lili yang sedang jalan jalan diatas bangunan tua rupanya akan segera meluncurkan serangan. Jack sudah mengeluarkan pistol dari sakunya siap membidik tepat di kepala Andini.


"Duarrrrr." Peluru melesat secepat kilat, tetapi sasaran mereka kali ini melesat ke udara bebas. Tiba tiba ada batu seukuran kepalan tangan menghantam lengan Jack disaat dia melepas tuas pistolnya.


Jack segera menyembunyikan pistolnya dan berlari, lili juga ikut berlari, tetapi wanita itu terlihat kesusahan menuruni tangga. Sedangkan pria muda bertubuh proporsional mirip atlit itu tak berhenti mengejarnya.


"Berhenti! Pengecut!"


Lili menoleh ke belakang melihat pria yang mengejarnya semakin mendekat dia segera mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Sreeet! lengan kekar menarik tubuh Lili masuk ke dalam mobil, sedangkan Jack harus menghadapi Davit yang sudah siap melumpuhkannya.


Para pengunjung pantai berlari tunggang langgang menyelamatkan diri, mereka tak mau menemui bahaya disaat sedang berlibur.


Andini dan Arini segera meminta nahkoda kapal kecil itu untuk menepikan kapalnya. Dia masih belum tau apa sebenarnya yang terjadi. Andini ikut panik saat semua orang berlari. Saat sampai di daratan, Andini melihat Davit sedang bertarung dengan pria yang tak dikenal.


"Kak Davit!!" Arini histeris melihat Davit tiba tiba memiliki musuh.


"Kak Andini cepat hubungi Kak Arsen, kita tidak aman disini. Aku akan hubungi Papa supaya segera menyembunyikan Excello."


Andini menuruti perintah Arini, dia segera menghubungi Arsena yang sedang bersama Gondrong dan Botak menyusuri jalanan. Dia mengira Ken dan Lili masih tinggal di Kota Surabaya. Nyatanya dia lebih dulu tiba di Pulau.


Arsena segera menghubungi Miko. Dia berharap Miko bisa mengemudikan pesawat yang satunya lagi. Karena beberapa hari yang lalu Miko terlihat rajin berlatih.


Miko yang sedang berada di kantor segera meninggalkan pekerjaannya tanpa pamit, apalagi berita kekacauan di pulau itu sudah menyebar di seluruh media massa. Karyawan banyak membicarakan Andini, sang istri pemilik perusahaan dalam bahaya.


Miko dan Arsena sudah berangkat disaat waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Diperkirakan mereka akan sampai paling lambat pukul sepuluh lebih tiga puluh.


Davit dan Jack masih terus saja menunjukkan kekuatan satu sama lain, Jack terlihat kuwalahan menghadapi ketangkasan Davit. Jangankan duel satu lawan satu. Satu lawan tiga pun Davit pernah mengalami.


Bugg!! Akhirnya tubuh Jack terjerembab jatuh. Dia menoleh ke kanan dan kekiri sudah tak melihat Lili. Lili rupanya sudah menyelamatkan dirinya sendiri.


Jack sudah terpojok, Davit masih setia menghajarnya hingga babak belur. Jack segera mengeluarkan senjata pamungkasnya. Pistol yang sempat ia selipkan dipinggang kini ia keluarkan lagi.


Tubuh Jack yang sudah tergeletak berusaha bangkit. Dia menjatuhkan Davit dengan kakinya. Davit tersungkur. Jack segera bangkit dan menindih tubuh Davit, sambil menodongkan pistolnya.


Arini sudah histeris melihat kekasihnya dalam bahaya.


"Kak Davit!! jangan tembak Kak Davit ku!"


Jack dan Davit sama-sama menoleh ke arah Arini. Davit yang melihat lawan lengah dia segera merebut pistol dari tangan Jack. Sekuat tenaga Davit menggulingkan tubuh Jack yang sama besar dengan ukuran badannya. Posisi menjadi terbalik, Davit diatas dan Jack berada di bawah.


Duarrrrr !


Satu tembakan terlepas tepat mengenai kepala Jack. Davit melakukan demi menyelamatkan diri. Davit segera menjatuhkan pistolnya disamping tubuh Jack yang terkapar.


Tubuh Davit gemetar. Ini pertama kalinya dia membunuh seseorang.


"Kak Davit!" Arini menghampiri Davit dan memeluk kekasihnya. Airmata membashi pipinya.


" Sayang, kakak sudah membunuh orang." Davit memeluk tubuh kekasihnya dengan erat walau darah bercampur keringat telah membasahi wajahnya. tubuh Davit juga gemetar.


Andini menatap mereka berdua dengan senyum yang tertahan. Ada rasa haru dan bahagia memiliki calon adik ipar yang hebat. Tentunya dia akan menjadi pelindung yang tangguh untuk Arini nantinya.


"Arini kamu!!" Mama mendadak bengong melihat Arini memeluk sopir pribadinya. Tanpa tahu kalau Arsena sudah memberi tugas tambahan menjadi Bodiguard .


Papa Johan tak kalah terkejut. Dua suami istri itu hanya bisa membuka mulutnya membentuk O kecil.


"Sayang, lepaskan pelukanmu." Lirih Davit. "Ada Papa dan Mama kamu melihat kita."

__ADS_1


"Biarkan, biar mereka tahu kalau aku sayang kamu, Kak," ujar Arini masih terisak.


*happy reading.


__ADS_2