
Melihat semua orang sedang tenggelam dalam kesedihan, Arsena memilih menjauh dari keluarga. Ia duduk sendiri di tempat yang sepi, menyendiri membuat ia dapat berfikir jernih, meraba setiap kesalahan yang telah di lakukan selama ini.
Betapa ia telah buta oleh cinta, menghabiskan waktu dua tahun hanya untuk mencintai wanita semacam Lili.
Wanita yang hanya memberi harapan kebahagiaan semu, sedangkan tujuan utamanya bukanlah membina mahligai seperti yang di mimpikan Arsena. Ia hanya ingin tahta yang ia sendiri mulai ragu, Apakah sanggup mengelola perusahaan besar itu sehebat ayahnya?
Arsena kini menelepon orang-orang yang sedang mengamankan Devan di penjara bawah tanah. Ia ingin agar Devan mendapat hukuman yang mengerikan. Memberi rantai besar pada tangan dan kakinya, sekali kali hukuman cambuk layak juga di berikan. Atas kelancangannya telah memberi Andini racun tulang dan mencoba melecehkan di saat dia tak berdaya.
Arsena juga mengirim Ken, sebagai pimpinan gondrong dan teman teman, untuk mencari Lili, Arsena tak akan mengampuni Lili begitu saja, ia telah bekerja sama dengan kakaknya, lili juga layak diberi hukuman yang berat.
"Aku tak mau engkau gagal dalam pekerjaan ini, mencari satu orang wanita bukanlah hal yang sulit." Kata Arsena di akhir pembicaraannya dengan Ken di telepon.
"Aku akan segera menemukan wanita itu dan membawanya khusus untuk anda, Tuan." ujar Ken penuh percaya diri.
"Bagus."
Setelah selesai menghubungi Ken, Arsena segera menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang di duduki, Angannya menerawang jauh. Membayangkan betapa tersiksanya Andini selama berada disampingnya.
-
Lamunan Arsena tiba-tiba terganggu oleh langkah kaki pria ber sepatu hitam dan kemeja biru.
" Ars, aku ikut prihatin dengan musibah yang menimpa Miko dan istrimu." ujar Galang. Pria itu datang ke RS usai pulang kerja. Galang pulang saat hari sudah larut, dia harus lembur lagi bersama Vina.
Arsena menoleh ke arah galang. "Duduklah," pria itu memaksa senyumnya.
Galang menurut, ia duduk di sebelah Arsena. Setidaknya Galang sedikit lega, melihat atasannya baik baik saja. "Syukurlah kau tak seburuk yang aku kira."
" Apa itu artinya kau mendoakan aku terluka parah?"
"Tidak Ars, setidaknya besok aku sudah tak memikul beban berat lagi di kantor sendirian, aku nggak mampu jadi CEO walaupun sehari," kata Galang jujur."
Galang tak sanggup menghandle pekerjaan di perusahaan tanpa didampingi atasannya. Perusahaan sedang mengalami goncangan hebat khususnya di bagian produksi makanan. Penarikan prodak palsu tak sepenuhnya berhasil, karena sebagian besar ada yang sudah jatuh ke tangan konsumen.
__ADS_1
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahan berbahaya yang juga di ikut sertakan di dalam jajanan anak-anak, jika itu berdampak pada mereka. Masalah besar pasti akan menimpa perusahaan Wilmar group.
"Ars, kamu besok sudah bisa bekerja lagi kan?"Galang mengulas kalimatnya.
"Iya, aku akan masuk kerja, jangan khawatir lagi, lagian rumah sakit dan kantor sangat dekat, saat istirahat aku akan mengunjungi istriku."
Syukur kalau begitu, aku berharap, Miko cepat sembuh dan istrimu pulih.
"Makasi Lang. Miko masih di ruang operasi, sebaiknya besok aja kamu besuk dia. Dia belum sadar dari koma.
"Baiklah, aku pulang dulu, Riska lagi hamil, dia manja banget." Eluh Galang tentang kehamilan Riska istrinya sambil melihat ke jam tangannya. "Salam buat istri kamu, Andini," usap Galang sembari beranjak dari duduknya. Bahkan Arsena lupa memesankan Miko minuman.
Setelah Galang pergi Arsena kembali sendiri. Malam semakin larut, embusan angin di luar ruangan begitu dingin, Isak tangis terdengar dari beberapa sudut kamar, membuat hati Arsena semakin kerdil akan harapan kesembuhan Miko.
Arsena ingin kembali melihat keadaan Miko, berharap dokter sudah mengizinkan keluarga untuk membesuknya.
Arsena kembali mengintip dari jendela. Mita ada di dalam ruangan, Andini juga ada di dalam. Arsena melihat di tangan Andini sudah tak ada selang infus lagi. Entah kapan dokter melepas selang itu.
Andini duduk di dekat Miko. Di sebuah kursi kecil yang sengaja ia tarik lebih dekat dengan ranjang tempat Miko berbaring. Air mata Andini keluar sangat deras, baru kali ini Arsena melihat Andini menangis hingga sesak seperti itu.
Ndin, kamu sangat mengkhawatirkan Miko, bahkan kau terlihat sangat putus asa.
"Ars, masuklah, tengoklah adikmu walau sebentar, dokter bilang dia ... Semoga ada keajaiban untuk Dia." Jelas Johan yang terlihat juga menitikkan air matanya.
Arsena masuk dengan langkah pelan di belakang papa, ia khawatir Mita akan kembali labil, jika melihat dirinya.
Arsena berdiri disebelah Andini. Andini mengangkat kepalanya, begitu ada tubuh yang tiba-tiba mengusik tangisnya.
Arsena melihat Miko dengan tatapan sendu, membayangkan dirinya ada di posisi pria itu, tapi karena kebodohan Miko, dia kini masih berdiri tegap dengan sehat.
"Miko, bertahanlah, aku berjanji jika kau sembuh, aku akan sangat menyayangimu, kita akan menjadi kakak adik yang hebat, mengelola perusahaan bersama, dan apapun yang kau inginkan pasti akan terwujud, Aku berterima kasih sekali kau sudah mengorbankan nyawa untuk diriku dan Andini. Tak ada harga yang pantas untuk itu semua. Aku hanya ingin kamu kembali seperti sediakala, Kamu kembali membuka mata dan tertawa bahagia." Arsena berbicara panjang lebar berharap Miko bisa mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
Arsena kini melirik ke arah Andini. "Lihatlah! Dia sekarang sangat bersedih, dia menangis tak berhenti, bukankah kamu tak ingin dia bersedih seperti saat ini. Jika kamu pergi dia pasti tak akan bisa memaafkan dirinya."
__ADS_1
Andini mendongakkan kepala menatap Arsena. Prianya hari ini berbicara seakan tanpa beban, Andini mengusap air matanya kasar.
Arsena menatapnya sekilas ke arah Andini. Lalu pergi.
" Ars,"panggil Andini. "Apakah ini sisi baik Arsena Atmaja suamiku?"
"Iya, yang aku katakan sudah aku pikirkan, aku tak asal bicara." Arsena berhenti tepat di depan pintu. Andini memeluknya dari belakang. " Terima kasih Ars,kau sudah memberi Miko harapan kebahagiaan. Kau dan Miko akan menjadi kakak adik yang akur, kan?
Arsena mengangguk. "Sudahlah, malam sudah larut, mari kita pulang?"
"Ars apakah kau mengizinkan jika aku menginap disini, aku ingin menemani Mama Mita dan Papa."
"Baiklah, aku juga akan ikut disini."
"Jangan! besok harus bekerja. Dan kamu selalu bilang suka flu mendadak jika tidur tidak di kamarmu."
Arsena memegang kedua lengan Andini dan menatapnya dengan kelembutan. "Andini, apa kamu pikir aku akan tidur nyenyak? Sedangkan istriku disini kedinginan"
Andini menatap Arsena balik. Lalu melihat Mita yang menelungkup kan wajahnya di telapak Miko yang tak bergerak, satu tangannya merangkul di perut Miko. Wanita itu sedang mengalami goncangan berat, ia tak mau kehilangan sedikitpun moments di dekat putranya. sedangkan Johan sedang konsultasi dengan dokter.
"Ars, tolong untuk hari ini turuti aku, pulanglah, dan aku akan menginap disini." Andini memohon pada Arsena dengan menangkupkan kedua telapaknya.
"Baiklah, aku akan pulang." kata Arsena berbohong. Arsena pura-pura turun lift dan menuju parkir. Andini melambaikan tangan saat melihat Arsena sampai di dekat mobilnya.
Andini segera berbalik masuk ruangan Miko, namun tak lama Arsena kembali dengan membawa selimut untuk Andini.
"Ars, kamu nggak jadi pulang?"
"Apa aku bisa melakukan itu semua, sedangkan adik ku dalam keadaan koma dan istriku sedang berada disini?"
Andini kini pasrah ia mengambil selimut dari tangan Arsena.
Akhirnya mereka berdua menunggu Miko di sofa panjang sambil tiduran.
__ADS_1
Walaupun mereka sama-sama susah tidur. Arsena memikirkan Miko dan nasib perusahaannya. Andini tak henti membaca do'a untuk kesembuhan Miko.
*Happy reading.