Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 13. Suamiku Si Sombong.


__ADS_3

"Non kenapa teriak."


"Bibi," Andini mendekati Bibi dengan wajah ketakutan. "Bi malam ini tidur disini yah? Temani Andini. Please?"


"Nggak bisa Non, bagaimana kalau tengah malam nanti Non Arsena datang kemari. Ini kan malam pertama non Andini."


"Tenang aja Bi. Nggak bakalan datang. Dia nggak menginginkan pernikahan ini."


"Siapa tau entar malam berubah pikiran?" celetuk Bibi sambil menggoda. menyenggol lengan Andini sambil tersenyum genit.


"Enggak mungkin, udah Bibi tidur sini aja ya?" mohon Andini lagi.


"Baiklah."


Akhirnya malam ini Andini tidur bersama Bibi, malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya malah menjadi moment curhat yang asyik dengan Bibi. Entah jam berapa mereka terlelap. Kini posisi tidurnya sudah saling membelakangi dan masing masing mengeluarkan dengkuran halus .


-


-


Kumandang Adzan membangunkan Andini dari tidurnya. Ia segera ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah menunaikan sholat subuh ia hendak ke dapur membuat teh.


Tiba tiba handphone Andini berdering, setelah dilihat ternyata sebuah notifikasi pesan dari Johan.


"Papa." Andini terperanjat. Ia segera mengambil handphonenya, dan membaca pesan dari papanya. Saat pesan itu melayang di handphonenya, Andini mengerti kalau Johan sudah berada dirumah istri mudanya.


Johan: "Selamat pagi Andini?"


Andini: "Pagi pah ...."


Johan: "gimana apa kamu suka kamarnya?"


Andini bingung apa yang harus dikatakan pada Johan, kamar yang mana? Putranya sudah mengusirnya semalam. Akhirnya ia memilih untuk membalas yang sekiranya membuat papa mertuanya tenang.


Andini: "suka, Pah."


Johan: "Syukurlah, papa lega dengarnya, Andini aku akan pergi satu bulan ke depan. Putriku, yang ku minta selama kepergian papa, kamu menjaga Arsena dengan baik, lakukan tugasmu sebagai istri, cintai dia setulus yang kau bisa. Dan gunakan kekuasaan mu untuk menaklukkan hatinya."


Andini: " Andini akan berusaha menjadi istri yang terbaik buat Ars.


-


Setelah selesai berkirim pesan, Andini segera menyusul Bi Um ke dapur.


Dapur masih gelap pasti Bi Um masih sibuk dengan pekerjaan yang lainnya. Kesempatan buat Andini membuatkan minuman hangat dan sarapan untuk suaminya.


Andini segera membuat teh hangat, dan roti tawar di olesi selai lalu dibakar sebentar. Setelah selesai membuat beberapa roti bakar ia membawanya ke meja makan, dan sebagian diantarnya ke kamar Arsena.


Tok ! tok!


Andini mengetuk pintu. Namun tak mendengar jawaban dari dalam.


Andini memutar handle, akhirnya terbuka, ternyata Arsena lagi-lagi tak menguncinya.


Andini segera masuk dan menaruh nampan yang ia bawa tadi diatas nakas.


"Ars ! Ars !"panggilnya, Andini celingukan melihat ranjang besar itu kosong, seprei dan selimutnya berantakan


Andini merapikan seprei dan selimut setelah selesai ia duduk sebentar, menunggu sang pemilik kamar datang, netranya melihat foto yang terpajang di sebelah night lamp.


Wanita cantik berambut pirang memiliki iris berwarna coklat, kulitnya putih pakaiannya begitu modern dan trendy. Sungguh cantik dan kekinian.

__ADS_1


Andini mengambil foto berbingkai itu dan mengamatinya dalam-dalam.


"Cantiknya. Siapa dia?" batin Andini.


Andini meletakkan foto itu ditempat semula, ia kembali duduk di tepi ranjang, netranya terus mengarah ke foto itu, penasaran bergelayut di ulu hati, Andini masih setia menunggu Arsena yang ia pikir ada di kamar mandi, kalau tak sedang buang ampas, mungkin sedang mandi.


"Apakah wanita cantik itu pacar Arsena? atau ... Kalau punya kekasih, kenapa papa menikahkan denganku?"


Perasaan Andini menjadi gundah gulana, entah kenapa ia tiba-tiba sedih jika tau kenyataan suaminya telah memiliki wanita lain dihatinya.


"Ars ...." Andini menatap kearah Arsena yang baru keluar dari kamar mandi. Andini bersikap setenang mungkin, senyumnya mengembang kala langkah kaki pria itu menghampirinya.


Arsena ternyata selesai mandi, ia memakai handuk kecil berwarna putih, yang panjangnya hanya menutupi area sensitifnya saja. Aroma blonsom memenuhi ruangan. Andini bisa merasakan keharuman itu. Andini memejamkan mata ia masih sangat canggung melihat tubuh sixpack suaminya. Ini juga pertama kalinya ia melihat seorang pria setengah t*lnjang


Andini memejamkan mata ketika netranya mengamati sedikit ke bawah, lalu berbalik memunggunginya, ia masih sangat canggung melihat tubuh sixpack suaminya.


"Kenapa kesini?" Tanyanya dingin. Wajahnya menunjukkan ia sedang tak menyukai hal yang ada di depannya.


"Aku menyiapkan sarapan." jelasnya, dengan posisi masih membelakanginya.


Arsena segera memakai baju ketika Andini masih dalam posisinya. Setelah selesai ia kembali mencecar Andini dengan pertanyaan.


"Aku ingin tau sarapan seperti apa yang bisa disiapkan gadis kampung sepertimu?" ujar Arsena mengejek. Sambil mengibaskan rambutnya yang basah. "Berhenti bersikap manis, Ndin, aku bukan pria bodoh yang tak tau bagaimana wanita sepertimu."


Arsena melempar handuk ke pundak Andini. "Jemur!"


"Kenapa masih disitu? Bukannya aku sudah ingatkan, jangan masuk kamar ini tanpa persetujuanku."


" Iya aku akan pergi ... aku sudah buatkan sarapan untukmu, sarapannya ada di meja." Kata Andini menjelaskan. Sambil memegangi handuk bekas dipakai Arsena.


Arsen mendekat ke arah nampan yang berisi sarapan seperti yang di maksud Andini. "Maaf, aku tak ingin makan masakanmu, bahkan aku ingin muntah dengan mencium aromanya saja!" Kata Arsena terus mengejek.


"Tapi aku sudah buatkan, kata Bibi itu makanan kesukaanmu ...." sanggah Andini.


Andini segera pergi dari kamarnya, menuruti kemauan Arsena, ia juga tak mengerti kenapa Arsena terlihat sangat membencinya.


"Baiklah." Andini membawa nampan itu kembali. "Aku menaruhnya di meja makan. Jika kamu ingin sarapan, kamu bisa mengambil sendiri, maaf kalau aku mengganggumu."


Kecewa, sedih, itulah yang Andini rasakan. Walaupun Andini menikah karena terpaksa, tapi entah? menerima Arsena di hatinya itu bukan paksaan baginya. Gadis itu belum pernah jatuh cinta dan melihat Arsena entah kenapa ia sangat bahagia. Mungkin ini yang di sebut cinta hadir setelah pernikahan.


Andini pergi dengan bulir kristal menggenang di pelupuk mata. "Andini jangan bersedih, jangan menangis. Kamu harus sadar siapa dirimu, dan derajatmu di mata suami. Kamu melamar jadi pembantu saja dia masih mikir lho, Ndin katanya tadi." Batin Andini menghibur diri sendiri.


Andini segera ke kamar setelah selesai menaruh nampan tadi, ia bersiap-siap berangkat kuliah. Andini tak mau jika Arsena nanti meninggalkan dirinya karena terlalu lama menyiapkan diri.


Andini segera mengambil kaos, celana jeans dan cardigan dari tas ranselnya. Ia akan memakai baju itu untuk kuliah hari ini.


Selesai bersiap siap ia turun kelantai bawah, ternyata di bawah sudah ada Mama yang sudah berdandan rapi, entah sejak kapan datangnya wanita yang suka sekali berdandan glamour itu, Andini menyapa mama Rena terlebih dahulu sambil menunggu Arsena di bawah.


"Mama. Kapan Mama datang?"


" Nggak usah basa-basi" Jawab mama dingin.


Andini mengulurkan tangannya hendak berpamitan, namun mama mengabaikan, membiarkan tangan Andini menggantung di udara.


"Andin pamit, Ma." Andini memaksa menyentuh tangan Rena dan menciumnya.


Rena terlihat keberatan namun ia membiarkan gadis yang tak pernah di impikan menjadi menantu itu melakukannya. Setelah mencium tangan Andini kini memberanikan diri mencium dua pipinya layaknya ibu kandungnya.


"Apa apa'an sih ini?" Rena risih dengan kelakuan Andini, ia membersihkan pipinya bekas sentuhan sayang menantunya dengan tisu yang ada di meja, Andini melihatnya, namun ia tak mengambil hati dengan sikap mama.


"Tunggu Andini, kamu pintar sekali beradaptasi rupanya? Berapa uang yang kamu terima dari suami saya dengan sandiwara ini hah?"

__ADS_1


"Sandiwara apa, Ma?" Andiri terlihat seperti orang bodoh. Johan juga meminta agar Andini merahasiakan semuanya.


"Andini, Andini. Kamu masih saja pura pura polos, sok imut. Kamu mau memeras harta kami kan? Agar kamu bisa bersenang-senang. ada ya wanita kecil licik sepertimu"


"Tidak Ma."


"Ngaku aja lah. Lagian kamu tau kan, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa kalau suami saya sudah berkehendak." Kata Rena sambil menatap Andini dengan tatapan tak suka.


"Oh iya tapi kamu bisa bantu kami untuk tetap berpura pura bahagia dalam pernikahan ini, supaya Arsena secepatnya bisa diangkat jadi Dirut di perusahaan papahnya, gimana? Kamu setuju?"


"I-iya Ma." Andini mengangguk setuju.


"Bagus" Rena menepuk nepuk pundak Andini dengan senyum merekah di bibir merahnya. Rena menganggap ternyata menantunya selain polos ia juga sangat penurut.


****


Lima menit berlalu, derap langkah kaki Arsena mulai terdengar menuruni tangga.


"Ma, Ars kekantor dulu." ucap Arsena.


Putra kesayangan Mama Rena sudah turun, ia segera memeluk hangat dan mencium tangan mamanya.


"Ini dia gantengnya mama, hati-hati sayang, kalau di jalan." Mama mengantar Arsena sampai depan pintu


"Oke Ma " Ars menunjukkan jempolnya.


Arsena mengeluarkan mobil merah favoritnya dari garasi, setelah sampai di halaman ia berhenti sebentar, memberi kesempatan agar Andini naik ke mobil terlebih dulu.


"Buruan masuk! Lelet amat," Perintahnya


Andini dengan senang hati membuka pintu depan. Namun Arsena menguncinya.


"Hey ... !! Siapa suruh duduk di depan? Belakang! Kata katanya sangat pedas, melebihi pedasnya merica. Bahkan ia sudah mulai menyalakan mobilnya.


"I-iya."


"Berapa lama aku akan bertahan hidup, jika terus bersama dengan maklum paling menjengkelkan ini, Tuhan." Keluh Andini dalam hati.


Andini kini duduk di belakang. Sepanjang perjalanan ia hanya diam saja, tak ada sepatah kata yang ingin ia bicarakan, hanya saja Andini sesekali melirik punggung lebar dan tengkuk si beku dari belakang.


Sikap dingin Arsena dan Mama Rena menghilangkan senyum manisnya di pagi ini. Namun Andini bukanlah gadis lemah, ia kuat, ia kebanggaan keluarganya. Ia akan terus berjuang seperti permintaan Johan. Papanya pernah bilang kalau putranya sangat menyenangkan dan baik. Mungkin saja saat ini Arsena lagi kemasukan roh jahat.


Detik hingga berganti menit Andini terus saja diam, andaikan pria di depannya sedikit saja mengajak bicara, pasti gadis itu sudah senang sekali. Tapi rasanya memang mustahil Arsena hanya konsentrasi menyetir sambil sesekali melirik ke arah arlojinya.


Tiba-tiba Arsena membuka kunci otomatis pada pintu belakang.


"Turun ... !" Arsena meminta Andini turun di pertigaan. Ketika mobil sedang berhenti dibawah lampu merah.


"Ars, kampus kan masih jauh. Kalau turun disini aku bisa terlambat." Andini panik.


"Turun aku bilang!" Kata Arsena lagi, tanpa menoleh.


"Nggak mau, kalau pada akhirnya kamu turunkan aku disini kenapa kamu nggak tinggalin aku di rumah saja tadi. Aku bisa naik angkot aja. Mana sekarang angkot lagi sepi?" Andini mengamati sekeliling.


"Mending udah gue kasih tumpangan sampai sini, naik ojol sana!" Arsena melempar uang dua puluh ribu ke wajah Andini.


Andini hanya bisa menghela nafas sedih melihat sikap Arsena yang sengaja selalu menyakiti hatinya.


Andini turun dari mobil dengan kesal dan sengaja menutup pintu dengan keras. Sungguh ia tak habis pikir kalau Arsena tega menurunkan nya di tengah jalan, disaat kondisinya sudah hampir terlambat.


Arsena tersenyum puas lalu kembali menjalankan mobilnya saat lampu berubah hijau.

__ADS_1


" Dasar kau pria sombong, kenapa aku harus menikah dengan pria sombong sepertimu !!!" Teriak Andini biar hatinya puas. Namun Andini yakin suaranya pasti aman dari pendengaran Arsena.


"Gimana nie gue pasti terlambat ... Aaa." Andini meremas rambutnya frustasi.


__ADS_2