
Baju yang dipakai oleh Vanes sekarang tak terlalu seksi, hanya bagian punggung saja yang terbuka. Semua tak luput dari rencana Arsena yang sudah kong kalikong dengan pelayan restaurant. Demi mulusnya rencana Arsena pura pura mengagumi penampilan Vanes yang sekarang. Arsena tersenyum menatap Vanes tanpa berkedip, hati Vanes seketika melambung kembali diatas awan, mendapat perhatian sedemikian rupa dari orang yang ia cintai.
"Anda memang seorang bidadari, apapun yang anda kenakan tampak cantik sekali." Arsena harus meyakinkan Vanes kalau dia tidak bercanda.
Arsena mengulurkan tangan dan mengajaknya berdansa. Mereka berdansa dengan mahir, karena memang dulunya dia adalah pasangan dansa yang hebat. Vanes melenggak lenggokkan tubuhnya di depan Arsena. Membuat Arsena makin yakin hanya Lili yang bisa mengimbangi gerakannya dengan baik. Arsena memutar mutar tubuh Lili berulang kali demi bisa melihat tato kupu kupu yang dikatakan Andini.
Arsena melihat tato itu, tato yang sama persis dengan milik Lili. Arsena tak mungkin lupa. Lili sebenarnya memiliki dua tato di paha dan punggungnya, tetapi melihat di punggung saja dia sudah yakin kalau dia benar benar Lili yang sudah melakukan oplas besar besaran diwajahnya.
Arsena sebenarnya salut dengan usaha Lili merubah wajahnya dengan begitu sempurna, andaikan dia tak lagi mengusik rumah tangganya, mungkin Arsena akan memaafkannya. Membiarkan menjalani kehidupan masing masing. Tapi sayangnya lili serakah, dia masih ingin mengusik kehidupan Arsena. Rumah tangga dan keselamatan andini jadi terancam.
"Anda sangat hebat, aku belum pernah menemukan partner dansa sehebat Anda." puji Arsena.
"Terima kasih, Tuan. Aku senang sekali bisa berdansa dengan pria hebat seperti Anda, bolehkah kapan-kapan kita berdansa seperti ini lagi." Vanes mulai ngelunjak. Dia mulai bermain main dengan kancing hem Arsena.
" Tentu, asal suami anda tidak mengusik kita."
"Aku akan mengaturnya."
"Nona, sayang sekali kita tidak dipertemukan dulu sebelum aku menikah, andaikan kita bertemu lebih awal aku ingin menjadikan anda bidadari ku."
"Tuan Anda sangat romantis, bukankah sekarang saja kita sudah menikmati hari ini bersama." Vanes mulai terlihat semakin mirip dengan Lili. Hanya Lili yang bisa merayu pria dengan tak tahu malu. Andaikan bukan sandiwara Arsena sudah ingin mendorong tubuhnya, tak perduli dia jatuh atau tidak tapi Arsena mencoba lebih bersabar sedikit saja.
Vanes menggigiti bibir bawahnya, masih setia memutar mutar kancing hem Arsena, dan tatapan menggodanya.
"Nona jika kita semesra ini, suami anda akan marah, dan resikonya hubungan kerja kita akan berantakan, aku tak mau dia memawamu pergi Nona, aku akan sangat kehilanganmu nanti."
Vanes semakin yakin kalau Arsena masih mencintainya, Arsena berkata demikian pasti karena dia melihat Lili yang asli ada pada dirinya. " Tidak Tuan, aku tak akan kemana mana. Aku akan menemani anda kapanpun. Jika anda mau."
'Kau sudah terperangkap olehku, rupanya mudah sekali menjebak wanita sepertimu, tapi aku tak mau gegabah, aku ingin kau sendiri yang mengungkap jati dirimu sendiri, dari bibir manis mu. Dan lebih lama bermain main akan membuat Ken sadar siapa wanita yang sudah ia pilih hingga berkhianat dariku.
Permainan akan sangat menarik saat melihat pengkhianat menderita sebelum dia meratapi sisa hidupnya.' Arsena tersenyum smirk.
"Nona istriku kembali ke rumah kami, aku hanya sendiri di hotel itu. Bisakah anda menemaniku semalaman" Arsena mencoba memancing reaksi Vanes.
"Kenapa semua menjadi lebih mudah seperti ini, suamiku juga sedang pulang kerumah ibunya," dusta Vanes.
"Jadi apa artinya anda setuju." Tanya Arsena mendesak.
"Tentu, wanita mana yang bisa menolak Anda." Vanes tak keberatan.
"Kalau begitu mari kita rayakan hari yang indah ini Nona."
Arsena menyudahi dansanya, kini mereka berdua mendekati bartender dan meminta banyak minuman. Lili segera meneguk satu gelas alkohol lebih dulu. Sedangkan Arsena menaruh kembali gelasnya dan pura pura mengangkat telepon.
Kepala Lili mulai berputar putar dan dia mulai merancau setelah kembali meneguk hingga beberapa gelas. Sedangkan Arsena hanya pura pura mencecap lalu membuangnya di tempat sampah.
Melihat kondisi Lili sudah tak terkontrol Arsena menghubungi Vina sekretarisnya untuk membantu rencananya. Dia butuh pelayan wanita untuk mengerjai Lili, agar rencana lebih meyakinkan.
Vina segera meluncur menuju alamat yang sudah di kirim oleh Arsena. Vina tak asing dengan nama tempat mewah itu, tak sampai setengah jam, Vina sudah sampai.
"Pak, tumben anda memanggil saya kesini, saat diluar jam kerja?"
" Ya aku ada kerjaan tambahan untukmu."
"Pekerjaan apa pak?"
"Bawa wanita ini ke dalam kamar hotel yang aku tinggali dan selanjutnya lakukan apa saja sesuai perintahku."
Arsena mendekatkan wajahnya di telinga Vani lalu membisikkan sesuatu yang sangat rahasia.
__ADS_1
Vani menganggukkan kepalanya " Baik Pak, aku akan melakukannya sesuai perintah Bapak."
Vani lalu membawa Lili yang sudah minum hingga teler, apalagi Arsena menambahkan bubuk yang membuat pandangannya menjadi kabur.
Tuan, anda bisa percayakan semua pada saya, saya berjanji tak akan mengecewakan anda."
"Bagus." Arsena keluar cave dengan gayanya yang angkuh. Sedangkan Vani susah payah menggandeng Lili yang mabuk dan pandangannya mulai gelap. Hanya bibirnya saja yang masih merancau memanggil Arsena.
" Gue sayang sama elo Ars, gue sayang sama elo sampai kapanpun." Rancau Lili.
Arsena sama sekali tak menggubris dia hanya ingin cepat sampai hotel dan istirahat. Namun, Arsena hari ini menginap di hotel lain, karena hotel miliknya akan ditempati Lili.
Dia tiba di hotel kecil dan sederhana, Arsena segera merobohkan diri di kasur. Bayangannya kembali pada dua putranya yang makin menggemaskan. Saat dicium suka menjilat hidung Arsena, mungkin dikiranya itu sumber mata air miliknya.
Arsena mencari nomor ponsel yang ia beri nama Honey. Dia tersenyum melihat foto wallpaper Andini sudah baru. Andini menggendong kedua putranya depan dan belakang sambil berpose sangat cantik.
Rupanya Andini dan keluarganya sudah sampai di Pulau Weh. Mereka semua terlihat bahagia. Arini yang paling lebar senyumnya. Semua itu pasti karena Davit ada bersama dia.
Arsena tak sabar ingin segera melakukan video call, dia segera memencet panggil pada kontak Andini.
" Sayang, kalian bahagia banget sih?"
" Ars, iya aku lagi sama anak-anak dan yang lainnya, nie kita sudah sampai di hotel dan anak anak sepertinya happy banget."
" Sayang, papah jadi pengen kesana juga, habis kalian happy banget walau tanpa aku."
" Ya disini indah banget Ars, siang tadi aku sempat jalan jalan sama Arini dan Davit, terus mama sama papa memilih treatment message.
" Ya berbahagialah kalian semua. Jangan ingat aku." Arsena merajuk.
" Maaf, hubby. Kami memang lagi bahagia, bukankah kau selalu ingin bahagiakan kami. Seandainya Dara dan Zara ikut pasti lebih seru.
"Dia kan hamil sayang. Orang hamil kan nggak boleh ikut. Oma juga nggak tega ninggalin Dara dan Zara."
"Iya, Sayang!"
" Hai Kak? Makasi ya Kak liburan gratisnya, kita semua bahagia disini. Kakak nggak usah sering sering telepon, mbak Andini aman kok." Arini tiba-tiba aja langsung nyamber dari arah belakang.
" Emang kenapa? Yang aku telepon istri dan anakku, lagi kangen. Kenapa situ sewot ...."
"Kakak ganggu tau, aku dengan mbak Andini malam ini mau ke ballroom disana sedang ada konser hebat. Udah ya teleponnya, nanti acaranya keburu selesai."
"Aku belum selesai bicara, dasaar .... "
"Daaaa, Kakak."
Klik! Arini mematikan ponsel yang ada di genggamannya.
"Arini kasihan kakak kamu, dia udah makan apa belum tadi, aku belum sempat tanya."
"Pasti sudah, Mbak Andini ini kenapa sih? Kak Arsena itu bukan bayi lagi. Dia udah biasa sendiri. Ayo mbak kita lihat konsernya keburu selesai." Arini segera menggendong Excel dan Andini menggendong Cello. Mereka berdua buru buru ke ballrom untuk menyaksikan konser band ternama yang berasal dari Inggris, dan sementara tinggal di sumatera itu.
" Mereka berdua segera beranjak keluar, tiba tiba Mama sudah ada di depan pintu."
"Lhoh lhoh ini anak anak mau dibawa kemana?"
" Ini lho Ma, Arini minta lihat konser, katanya sekarang lagi ada." ujar Andini jujur.
"Enggak, kalau kalian mau lihat lihat aja, tapi Excel dan Cello nggak boleh dibawa, biar dia sama Mama dan Papa aja," ujar Mama keberatan.
__ADS_1
Andini terpaksa mengalah, kedua putranya memang sudah dalam kekuasaan mertuanya.
Mereka berdua akhirnya merelakan Excel dan Cello, lalu beranjak menuju ballroom untuk menikmati hiburan yang di gelar setiap malam di hotel Pulau Weh paradise.
Kebetulan masih ada beberapa kursi VVIP yang kosong, Arini dan Andini walau sedikit terlambat, dia masih bisa duduk di urutan paling depan.
Arini sangat Antusias menikmati musik, duduk sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu, sedangkan Andini hanya fokus mendengar saja.
Tiba-tiba tangan panjang dan lebar terulur ke arahnya. Salah satu penyanyi bule itu mendekati Andini dan Arini yang baru duduk. Dibibirnya terukir senyum.
Andini bingung dengan apa yang harus dilakukan.
"Hi brautiful girl, accompany me to sing for a while."
"No no I Can Not." Andini malu sambil menggelengkan kepalanya.
"Please girl." Penyanyi band itu terus mendesak, dia akhirnya memaksa meraih tangan Andini dan menggandengnya di panggung. Tepuk tangan dan sorak meriah dari penonton menggema memenuhi ballrom. Mereka terus saja bernyanyi bersama menirukan penyanyi Aslinya dalam suasana bahagia.
"Arini tak menyia nyiakan moment ini. Dia merekam Andini yang ada diatas panggung. Terlihat sekali Andini malu malu, dia hanya tersenyum sambil mengikuti keinginan si penyanyi yang sesekali memutar tubuhnya dan mendekatkan mikrofon di bibirnya.
"Thank, Girl, let you sit back, Saat satu lagu sudah selesai dan penyanyi pria itu mengantarkan Andini duduk.
"Wow kak, ini kesempatan emas kakak berdansa dengan dia."
"Arini kakak malu banget. Kalau kak Arsen tau bisa gawat, pasti dikira kakak yang ganjen saat dia nggak ada."
" Tenang Kak. Kak Arsen nggak bakal marah."
" Nggak marah? Dia itu prosesif, dia nggak akan marah saat ada kalian, tapi kakak akan habis saat di ...."
" Saat di ranjang?" Arini menyela.
" Masih kecil, nggak usah tanua." Andini berhenti berbicara.
" Arini sudah besar, Kak." Arini menempelkan kepalanya di leher Andini.
Cling!
"Sukses, kak Arsena akan lihat Kak Andini saat di panggung tadi, cantik lho kak, sayang kalau Kak Arsena nggak tau moment ini."
"Ariniiii!"
"Maaf, sudah di read," Arini menjepit kedua telinganya dengan jari lentiknya.
Arsena yang membaca pesan dari Arini seketika langsung membelalakkan matanya. " Hai, wanitamu sangat cantik, jika kau lepas sebentar saja maka dia akan diambil cowok lain." Isi pesan Arini sambil diberi emoji foto kepala menjulurkan lidah.
"Sialan, Andini harus dihukum. Beraninya dia duet sama penyanyi Inggris itu." Arsena kesal dia melemparkan gulingnya hingga jatuh ke lantai, dan melipat bantalnya lalu merebahkan kepalanya diatasnya hingga posisi kepalanya lebih tinggi dari tubuhnya. "Aku harus segera selesaikan semua ini secepatnya, jika lama lama jauh seperti ini bisa bisa istriku akan diambil pria lain, bagaimana kalau dia lebih kaya dariku apa Andini akan mau ya?"
****
Vina yang mendapat pesan dari arsena segera melakukan tugasnya. Vina sudah berada di kamar hotel Arsena yang lama, dia membimbing Vanes untuk tidur di ranjang Arsena, Vanes membuka baju Lili yang beraroma alkohol dan membuangnya sembarangan, Vina lalu menyelimuti tubuh Lili yang polos.
'Nona maafkan aku, Anda sangat cantik, tapi sayang sekali anda pelakor, dan aku tak akan biatkan pelakor untuk menang.'
"Ars, aku merindukanmu, Ars, ini aku kekasihmu," rancau Lili yang tidak bisa mengondisikan tubuh dan mulutnya sendiri.
"Sudah tidur sana, dasar pelakor!" Vina yang kelelahan menggandeng Lili dia makin kesal dengan Lili"
Vina lalu menaruh baju dan celana Arsena di sebelah baju Lili. Sementara rencana awal sudah berhasil, tinggal menghubungi Ken untuk datang.
__ADS_1
Ken harus membayar semua pengkhianatan yang ia lakukan selama ini. Keluarga Arsena sudah memberi kebahagiaan yang melimpah, memungutnya dari jalanan ketika dia berada dalam kesulitan. Namun apa balasan yang diberikan.
*happy reading.