
"Handuknya ada di lemari kak. Yang warna biru, kalau yang kuning itu sudah sering aku pakai."ujar Arini memberi tahu.
"Mau pakai yang dah sering dipakai aja."
"Jangan!" Arini mengejar Davit dan menahan lengannya.
"Kenapa nggak boleh? Aku sudah suami kamu kan, bukan orang lain lagi?" Davit berkata dengan lembut.
"Tadi udah di kasih tau, ini udah bekas aku Kaka, sering dipake sama aku." Arini bersikeras.
Davit tersenyum, "okelah aku pake yang sudah sering kamu pake aja. Bukankah sebentar lagi kita juga akan menjadi satu."
Arini mengalah, Davit juga tersenyum mereka masih canggung diantara satu sama lain.
Melihat Arini tersenyum seperti sekarang di depannya ini membuat Davit tak bisa untuk menahan dirinya untuk tak menatap wajah seterang bulan purnama ini.
Kak, ya udah pake handuk terserah yang mana, aku minum dulu, jahe madu dari mama."
"Yap, setelah itu mandi, aku siapkan air hangat di bathup, dan aku mandi di kamar mandi satunya, pakai shower aja."
"Makasi," tersenyum lagi. Arin menggigit bibir bawahnya membuat Davit makin tak sabar untuk merasakan lembut dan manisnya.
Usai meneguk minuman buatan Mama, Arini memutuskan untuk mandi seperti yang di inginkan oleh David. Badan terasa lengket tulangnya juga pegal, mandi air hangat di malam hari sebenarnya kurang bagus untuk kesehatannya, tapi bagaimana lagi ini hari pertama dia menikah. Dia tidak mau Davit tahu kebiasaannya di awal pernikahan, dia memang memiliki kebiasaan males mandi.
Davit keluar lebih dulu, dia segera menuju meja rias, dengan handuk melilit di pinggangnya, benda persegi panjang itu semakin mungil melilit di pinggang Davit hanya menutup area inti dan sebagian pahanya.
Davit melihat bedak berjajar di depannya, ada aneka farfum juga, dan semuanya tentunya bukan merk murah. Namun yang ia cari hanya sebatas sisir saja.
"Baby, sisirnya dimana?" Tanya Davit setengah berteriak.
Arini menghentikan aktifitasnya sejenak lalu segera menjawab,"Ada di situ Kak."
" Aku tak menemukannya."
"Baiklah aku ambilkan." Arini buru buru menyelesaikan mandinya. Sedangkan Davit mengusap usap rambutnya dengan handuk kecil biar cepat kering.
Arini keluar menggunakan bathdrope warna merah muda. Davit terpana melihat keelokan bidadari di depannya.
Bathdrope pink dengan kulit lembutnya yang putih, bibirnya yang berwarna merah jambu kembali membuat jiwa kelakian Davit bangkit.
"A-ku belum menemukannya." Davit tergagap begitu sadar kalau wanita di depannya sedang salah tingkah ditatap olehnya.
"Kak, ini." Tangan Arini gemetar. Malam pertama yang menjadi momok menakutkan bagi wanita dan menyenangkan bagi pria sepertinya akan segera terjadi. Davit terlihat bugar, dan netranya mulai berani menatap tonjolan-tonjolan yang ada di dadanya . Arini semakin malu setelah mengingat tak ada apapun di balik bathrobe yang dikenakan.
" Makasi." Kecanggungan kembali menghampiri. Apalagi ini pertama kalinya mereka berada satu kamar, Arini menelan salivanya saat tonjolan mirip roti sobek itu terlihat jelas di depannya. Sungguh pemandangan yang mampu membuat darahnya mengalir makin kencang. Membayangkan urat lengan Davit dan dada sikpack itu memeluknya tanpa sehelai benang yang menjadi pembatas lagi.
"Aku bisa bantu keringkan."
" Tidak perlu, aku sudah mengeringkan pake handuk tadi." ujar Davit jujur.
"Rin, apa kamu sudah baikan setelah mandi. Maksudku apa aku jadi memijat tubuhmu." Kata Davit kaku. Obrolan mereka berdua semakin canggung.
"Boleh, nanti kalau Kak Davit capek, Arini akan pijitin," ujarnya enteng. Kak, kok belum pake baju."
"Baju. Oh iya, aku belum bawa kesini, masih di Mess." terang Davit.
Arini mengambil ponselnya. Menyuruh mang Karman untuk mengambil beberapa setel baju Davit. Arini juga meminta membawa barang-barang penting milik David
"Barang-barang Kakak sebentar lagi akan dibawa ke sini oleh mang Karman kakak tunggu dulu ya."
"Em, di luar hujan, aku akan pake baju tadi aja. Aku akan bantu Mang karman pindahin ke sini.
" Nggak Kak, disini aja, Arini takut kalau ada petir." Arini meraih jemari Arini.
__ADS_1
Davit duduk kembali di sofa sedangkan Arini duduk di meja kecil di depan Davit.
Davit makin gelisah, apa lagi yang harus dilakukan. Ingin memulai merayu, bagaimana bisa sedangkan dia bukan perayu ulung.
Davit mulai menarik pelan lengan Arini yang sejak tadi bertautan dengan jemarinya. Menjatuhkan tubuh Arini kepangkuan dengan hati hati.
Arini nampak gugup, setelah menikah, berdekatan dengan suami mendadak jadi spot jantung. "Arini pake baju dulu. Kak."
"Sayang, sepertinya kamu dan aku tak membutuhkan baju lagi. Ini malam pengantin kita, Bagaimana kalau Papa dan Mama besok pagi bertanya, gimana semalam Arin?"
"Kalau ternyata kita nggak melakukan apa-apa di malam ini, Aku khawatir mereka akan berpikir kamu telah salah pilih suami." Davit mulai modus
"Kok bisa begitu," Arini mulai mengubah ubah posisi duduknya dipangkuan Davit, tak bisa tenang. Merasakan gerakan pinggul Arini, membuat ular David mulai bangun.
Arini terkejut merasakan ada benda yang tiba-tiba keras dan panjang di bawah sana. Membayangkan saja bulu kuduknya meremang.
"Kak, Arini harus mengerjakan tugas kuliah." Kata katanya justru terdengar bodoh di telinga Davit.
"Nanti saja, aku ingin kita seperti ini dulu." Davit menahan tubuh Arini. Ingin menghilangkan kecanggungan yang menjadi, malam ini dia ingin ada sesuatu yang berbeda.
"Sayang, aku mau meminta sesuatu boleh?"
"Apa Kak?"
"Meminta hak sebagai suami apa boleh?"
Arini terlihat gugup, dia tak lagi berani membalas tatapan Davit. "Aku belum siap Kak."
"Ya udah kalau begitu besok aja, malam ini kita lakukan pemanasan dulu."
Davit mengubah posisi duduk Arini, kini Arini tengah menghadapnya. Davit menatap wajah Arini seakan tak ingin ada yang terlewat sedikitpun. Ia amati lekat lekat setiap lekuk bibinya lekuk hidungnya dan mata.
Davit pelan pelan menarik Dagu Arini. Arini memejamkan matanya, begitu pula dengan David.
Wajah mereka kian lama kian mendekat. Aroma mint dari bibir keduanya mulai tercium semerbak. Nafas hangat mulai menerpa wajah keduanya, oksigen pun silih ganti menghirup.
Bibir Davit mulai menyentuh bibir merah dan manis semanis Lollipop itu, Davit berusaha menerobos dan membuka bibir Arini dengan lidahnya.
Berlahan Arini mulai terbawa suasana. Bibirnya terbuka berlahan dan mengizinkan Davit untuk mengabsen setiap inci dari rongga hangat miliknya. Lidah mereka kini bermain dengan gesit, saling membelit hingga pertukaran Saliva tak terelakkan lagi.
Arini berlahan mulai terbawa arus deras yang dimainkan Davit, entah berapa lama dia melakukan peraduan bibir, tubuh Arini sudah menghangat.
Davit melepaskan pelukannya, dalam hati Arini terlihat kecewa. Namun, rupanya salah sangka Davit bukan melepaskan cumbuan nya. Kini Davit mengangkat tubuh mungil Arini ke atas ranjang.
Tubuh Arini mendarat di atas ranjang dengan sempurna, dia sangat malu mengingat hanya ada batrobe ditubuhnya. Davit membungkukkan badannya diatas Arini. Menatap gadisnya yang tengah salah tingkah.
"This ia our happy day. Baby"
"Yes, My Husband." Tatapan Arini meredup. Davit mengusap kening Arini yang mulai berkeringat dingin. Tak lupa ia kecup mesra keningnya.
"I'm so nervous, Honey," kata Arini dengan bibir bergetar.
"Must be calm, enjoy what i give." Davit mengecup bibirnya sesaat lalu kembali tersenyum.
Davit kembali turun dari ranjang, ia matikan lampu utama dan menyalakan night lamp cukup dengan remote yang tergeletak diatas nakas, Tak lupa ia nyalakan musik romantis dari laptopnya, berharap yang ia lakukan akan mendukung untuk malam pertamanya.
Davit menghampiri Arini lagi, kini ia kecup bibirnya kembali tanpa peringatan.
Arini sekarang tahu Davit sangat menyukai bibirnya, terbukti ia tak bosan melakukan ciuman hingga beberapa kali.
"Pejamkan mata, dan rasakan sentuhanku, Baby. Aku akan melakukannya sangat lembut. Tahan, jika kau mulai tak nyaman dengan yang aku berikan."
Arini mengangguk. "Hu'um. Janji pelan-pelan ya?"
__ADS_1
Davit hanya tersenyum. Kalaupun bicara suaranya akan tertahan di tenggorokan. Belum apa-apa detak jantung yang sudah seperti genderang tak mampu lagi dikendalikan.
Davit mengecup pipi Arini, kecupannya turun ke leher dan dan Dada. Merasakan ada yang menjadi pengganggu, Davit ingin segera menyingkirkan. Dia tarik tali bathrobe yang melilit pinggang Arini.
Setelah berhasil mengurai tali bathrobe Davit segera membuka. Merasa tubuh atasnya dingin oleh semilirnya AC, Arini segera meraba dadanya. Betapa terkejut langkah Davit telah sampai pada step ini.
Arini menutup dadanya buru buru dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang, kok ditutup sih!" Davit kembali mengelus rambut Arini yang tergerai.
"Malu Kak."
"Aku suamimu, sampai kapan akan malu seperti ini?"
" Davit menyingkirkan tangan Arini berlahan. Ia angkat dan turunkan ke samping kanan dan kiri. Arini tak mampu menolak. Ia sudah merasakan tangannya terkunci oleh lengan Davit.
Davit yang ia kenal kini berbeda, sudah tak seperti Davit yang biasanya lagi yang selalu menolak saat Arini mendekati dan ingin sekedar memeluknya.
Kini Davit sudah berubah menjadi pria yang agresif. Tangannya menelusuri dada Arini hingga menemukan dua gunung yang sudah menegang dengan ujung mencuat. Ukurannya tak terlalu besar, tetapi Davit sangat senang memainkan dan memerasnya.
Arini menggelinjang, titik sensitifnya mendapat perlakuan yang belum pernah ia rasakan. Tubuhnya seakan ringan, ia menggeliat ke kanan dan kekiri tak mampu menahan gejolak.
"Uh ... Em ... Suara ******* keluar dari bibirnya. Dia tak mampu menahan suaranya untuk tak keluar.
Davit tersenyum melihat istrinya sudah terbawa oleh arus samudra cinta yang ia tawarkan, ketegangan dan ketakutan tak terlihat di wajahnya.
Suara Arini terdengar amat sahdu memantul dari dinding dinding yang menjadi saksi betapa panasnya percintaan mereka malam ini.
"Ini baru awal Sayang, aku akan memberikan sesuatu yang lebih indah lagi," ujar Davit dengan nafas memburu.
"I don't refuse, but do it gently, don't hurt, Honey." Arini semakin larut dalam gelora cinta.
"Do not Love." Davit setuju.
"Aaaa." Arini makin menggelinjang kala bibir Davit mulai menyesap puncak gunung yang semakin menegang dan keras. Davit mulai menyesap bergantian kanan dan kiri sedangkan tangannya mulai ikut bergerilya.
Davit kini melepas bathrobe Arini dari atas hingga bawah, tak ada selembar kain yang menutupi tubuh polos istrinya, Arini tergolek seperti bayi yang baru lahir.
Sebelum puncak permainan dilakukan Davit masih ingin membuat Arini melayang lagi lebih tinggi dia bergerak aktif naik turun dengan bibir terus mengecup dan menyesap seperti bayi yang kelaparan. Tangannya mengabsen setiap sudut dan lekuk tanpa ada yang terlewati.
Arini merasakan titik sensitifnya telah basah, dia tak bisa lagi berkata apa apa, sesuatu yang besar telah terjadi pada dirinya. Sebentar lagi Davit akan merenggut mahkotanya. Dia akan kehilangan gelar perawan.
Arini memejamkan mata sangat rapat, saat tangan Davit mulai menyentuh titik sensitifnya, dia sangat malu pada Sang Suami yang berhasil mendapatkan segalanya di permainan pertama.
Ah, seperti inikah malam pertama yang dinantikan semua orang, sungguh aku malu, Kak Davit melihat semua yang ada pada diriku, dan kenapa tubuh ini justru tak bisa berbohong sedikit saja untuk menutupi rasa malu ini, kenapa justru tubuh ini begitu mengharapkan sesuatu itu segera terjadi.
Jemari Davit mulai bermain main dititik sensitif, sedangkan bibirnya terus merayap di bagian atas, sungguh Arini tak berdaya merasakan serangan di segala arah seperti ini.
Davit membuka handuk yang melilit tubuhnya, ia singkirkan satu satunya penutup tubuh yang menutupi aset berharganya itu.
Davit membuka kaki Arini lebar lebar, dia arahkan senjatanya yang sudah menegang seperti tombak itu ke dalam milik Arini yang masih sangat sempit, sempat ada keraguan dihati Davit akan bagaimana reaksi Arini saat miliknya yang besar mulai memasukinya. Namun dia yakin, Arini jodohnya Arini pasangannya.
Sebelum penyatuan dilakukan, Davit sengaja mengecup bibir Arini, dia berharap saat merasakan miliknya memasuki dirinya, Arini tak berteriak hingga suaranya akan terdengar hingga seantero mansion.
"So sick honey, No! this hurst!" Arini meronta bibir Davit tak mampu membekap bibir Arini. ketika Davit mulai menghujamkan miliknya. walau sudah sangat pelan tetapi Arini tetap saja mengeluh sakit.
"Aku sudah sangat pelan, Baby." karena Arini kesakitan Davit menghentikan permainannya, Namun kepalang tanggung Arini menahan tubuh Davit, dia ingin Davit mencobanya lagi.
mendapat lampu hijau, Davit kembali berjuang untuk meruntuhkan mahkota perawan yang selama ini disandang oleh sang kekasih.
"Akkk !!" Arini mencengkeram leher Davit dan tengkuknya. Kukunya yang runcing membuat beberapa luka di sana.
Davit dan Arini sama-sama mengambil nafas lega. perjuangan yang ia lakukan hari ini tak sia sia.
__ADS_1
"Got in Baby. Has managed to break trought." ujar Davit sambil terengah-engah. Andini mengangguk, Air mata meleleh dari sudut kanan dan kiri.
Kini Davit mulai majumundurkan tubuhnya berlahan, Arini yang merasakan sakit luar biasa, lama kelamaan sakit itu berubah jadi nikmat. rintihan sakit kini berubah jadi erangan kenikmatan. Saat Arini memeluk tubuhnya kuat, Davit mengurangi tempo kecepatannya. Sambil sesekali mengusap tetes embun bahagia yang menetes dari pelupuk mata Arini.