
Warning !! 18+
Arsena kini mulai menurunkan tangannya. Yang sejak tadi menahan dagu Andini agar tak bisa berpaling, menolak ciuman yang baru saja ia berikan pada Andini.
Ciuman Arsena begitu memabukkan, ia sangat lihai karena memang bukan yang pertama kalinya. Sedangkan Andini yang baru pertama, ia terlihat begitu kaku, merasakan bibir pria itu menyusup di sela-sela bibirnya dan menjelajah di dalamnya. Andini terlihat bodoh di depan prianya, ia tak bisa mengimbangi kemahiran Arsena dalam berciuman. Pasrah, diam. Menolak juga tak mungkin lagi.
Wajah Andini merona karena malu, tak bisa dipungkiri. Sentuhan Arsena sesungguhnya lama ia damba, tapi konsekuensi yang ia ambil menciptakan jarak diantaranya. sedangkan selama ini pria satu-satunya yang singgah di hati hanyalah suaminya.
Tangan Arsena turun berlahan, menyusuri jalannya aliran sungai menuju bukit kembar yang berselimut kabut tebal, Arsena menelusupkan tangannya di balik b*a warna hitam yang menjadi pengganggu.
Sang pemilik menahan tangan nakal itu untuk melanjutkan aksinya, Namun Arsena tak kekurangan ide, ia kembali mel*mat bibir merah tanpa memberi jeda.
Pertahanan Andini mulai goyah, ini pertama kali ia berciuman dengan seorang pria dengan waktu sangat lama.
Ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. Rasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Rumah yang sepi tak akan ada orang yang mampu menghentikan keinginan Arsena.
" Ummppp ..." Suara desahan Andini terdengar lirih.
"Ars lepaskan ... Kau tak mencintaiku" Andini berusaha meronta dan terus berusaha berpaling, meski sesungguhnya tubuh tak sejalan dengan pikirannya.
Arsena tak memberi izin Andini untuk memalingkan wajah. Arsena terus membanjiri Andini dengan kecupan dan cupangan di lehernya.
"Ars ....uhhh." Desahan Andini kembali terdengar dari bibir mungilnya
"Tolong jangan lakukan, kau harus mencintaiku dulu" kata Andini, bibirnya mulai bergetar, suaranya parau. Andini merasakan ada yang bangun, benda besar itu menempel menekan perutnya.
Arsena menghentikan aktifitasnya mengecupi bibir Andini. "Apa kah kau perlu cinta? Kau tak perlu cinta bukan? untuk tidur dengan pria." Kata Arsena dengan nada suara mulai serak. Menarik nafasnya dalam dan menempelkan hidungnya pada leher jenjang Andini dan sesekali menambah cupangan di lehernya.
"Apa maksudmu?" Tanya Andini yang menahan tangan Arsena agar tak bertindak berlebihan. Merasa terhina dengan yang baru saja ia dengar.
" Jangan pura pura tak mengerti." Arsena semakin menghimpit tubuh Andini berusaha menolak.
"Kamu bisa tidur dengan siapapun tanpa cinta, Andini. Semalam kamu menggoda Devan, dan tadi siang kau bercinta dengan Miko di kolam. sekarang kau juga harus melayani aku di kolam ini, kau sangat senang kan? bercinta di dalam air seperti sekarang ini."
Arsena terus saja mengecup rambut leher dan bibir Andini mengunci tubuh mungil Andini dengan tubuhnya yang jauh lebih besar, tangan yang satu menempel pada dinding kolam dan yang satunya sibuk menjelajah.
"Andini, kau makin cantik, sayang sekali aku terlambat menyadarinya, sekarang ayo puaskan aku, seperti kau melayani mereka-mereka."
Arsena kembali menciumi bibir Andini dengan intens, Arsena mengabaikan bibir Andini yang mulai berdarah. ia mulai memperlembut kecupannya. Tangan yang satunya mulai menelusup di balik kacamata perisai dan meremas bukit kenyal dengan penuh nafsu.
Andini yang sempat merasakan kenikmatan oleh buaian Arsena, seketika rasa itu lenyap. Ia berfikir laki-laki itu menginginkan karena mulai menyukainya. Ternyata ia hanya menganggap dirinya jal*ng yang bisa dipakai bergantian.
Andini menepis tangan Arsena. Hingga pria itu melepas tangannya yang sejak tadi meremas d*da kencang dan kenyal milik Andini.
Kata-kata Arsena bagaikan bilah pedang yang menggorok leher Andini. Bagaimana bisa Arsena mengungkapkan dirinya layaknya wanita penghibur, bisa berganti ganti pria dalam sehari semalam. Bahkan ciuman pertamanya saja baru ia renggut.
"Menjauh dariku Arsena ! Jangan sentuh aku. Harusnya kamu jijik menyentuh wanita seperti ku, bekas banyak lelaki hidung belang, apa kamu tak takut jika nanti akan ada penyakit menular bersarang di tubuhmu!"
__ADS_1
Andini mendorong Arsena, entah darimana ia punya kekuatan besar seperti itu. Andini berlari menuju undakan kolam ia segera pergi sambil terus menangis.
Arsena yang tadinya berharap bisa menyentuh Andini lebih dari mencium dan meremas buah ranumnya harus kandas.
"Andini tunggu !" Arsena yang hanya memakai bokser nekat naik ke atas menyusul Andini. Lalu meraih handuk kecil di jemuran dan kaos untuk ia kenakan.
Andini berlari ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Arsena segera mengejarnya. "Andini ! Buka!"
"Tidak! Aku benci kamu Ars!" Andini berkata sambil terisak menahan tangisnya. Wanita mana yang tak sakit ketika suaminya sendiri mengatainya wanita penghibur, menyamakan dengan seorang wanita murahan.
"Buka! Aku bilang cepat buka ! Atau aku akan mendobrak pintunya!" Arsena makin geram dengan Andini.
"Dobrak saja, ini rumahmu, kau bisa lakukan semaumu!" kata Andini dari dalam.
"Benar-benar berani melawanku dia" Gumam Arsena mulai mendobrak pintunya.
Andini segera melepas bikini basah dan melemparnya pada keranjang kosong. Dengan tergesa-gesa ia memakai kaos dan celana jeans. Lalu ia memasukkan bajunya ke dalam koper.
Andini bisa melakukan semua dengan singkat, karena tak terlalu banyak barang Andini di kamarnya.
Andini sudah bosan selalu tak dihargai, dianggap murahan dan di duakan. Mungkin jika ia pergi dari rumah ini Arsena akan sedikit berfikir.
Brak Arsena berhasil merusak kunci kamar Andini. Arsena terbelalak karena Andini sudah berpakaian lengkap dan menenteng koper di tangannya.
"Andini ... Kamu akan pergi ....!"
"Tapi Andini, kamu tak bisa pergi seperti ini."
"Kenapa tak bisa? Aku pel*cur, aku mur*han, aku jal*ang, tak pantas wanita sepertiku untuk pria malaikat seperti dirimu Arsena." Kata Andini dengan mata yang sudah mengembun.
Andini menyeret kopernya melewati Arsena. Bahkan andini menjauh saat melewatinya, menghindari bersentuhan pundak dengan Arsena, membuat pria itu segera memutar tubuhnya mengamati kepergian Andini.
"Andini ... !" Arsena hendak meraih bahu Andini.
Namun Andini sudah mengangkat telapak tangannya lebih dulu, sebagai isyarat kalau, jangan menyentuh nya lagi walau sedikitpun.
Maafkan aku Papa, aku menyerah, aku tak sanggup jika Arsena terus merendahkan ku, Papa aku pergi, Ars maafkan aku, aku pergi, aku tak bisa terus diam selalu tak dianggap berharga, kau terus menerus mengataiku wanita rendahan. Bukan pernikahan seperti ini yang ku harapkan.
Andini menuruni tangga, tanpa sekalipun menoleh kearah Arsena, tak ada lagi yang Andini harapkan dari pernikahan ini. Tak ada cinta, tak ada kepercayaan, apa lagi yang perlu dipertahankan.
Mungkin, ketika saling jauh akan lebih baik, akan ada introspeksi diri, mencoba melupakan kenangan yang tercipta ketika bersama.
"Andini ! Berhenti !"
Andini sudah mantap dengan keputusannya, ia tetap tak bergeming mendengar panggilan Arsena. Andini kini sudah sampai di pintu utama.
Arsena mengejar, ketika Andini membuka pintu utama.
__ADS_1
Greett !
"Andini kumohon berhentilah! Maafkan aku jika aku salah!"
"Jika kau pergi, apa yang harus aku katakan pada papa!?" kata Arsena membujuk.
Andini terus berlalu, ia tak goyah oleh apapun.
Pintu utama tiba-tiba terbuka lebar. Ada orang lain yang kebetulan akan masuk, dan dua sudah memiliki kunci duplikatnya.
Andini berjalan keluar dengan langkah yang sudah ia pikirkan matang sebelumnya. Mengabaikan wanita tak asing yang berdiri tepat di depannya.
________
"Sayaaaaaang!"
"Sayang! aku sudah pulang, kamu merindukan aku, kan?"
Lili tiba-tiba sudah di depan pintu saat Andini membukanya. Kehadiran Lili semakin memantapkan langkah Andini untuk pergi.
Lili melihat Andini memiliki banyak tanda merah di lehernya. namun ia tak ingin berprasangka buruk dulu, ia baru datang. tak ingin merusak suasana hati Arsena.
"Sayang!" Kata Lili sambil menahan Arsena yang hendak mengejar Andini. Lili kecewa melihat Arsena yang nampak biasa saja.
Tak seperti biasanya saat menyambut ketika baru pulang dari luar negeri. Biasanya pria itu akan langsung memeluknya, menciumi wajahnya dan menggendong berputar putar karena bahagia bercampur rindu. Namun hari ini ekspresi wajahnya datar saja, bahkan ia terlihat terkejut.
"Sayang, kamu nggak kangen ya sama aku?" Lili menatap kedua bola mata Aesena. Ia tak lagi menemukan kerinduan yang besar seperti dulu lagi.
" Emm maaf aku ... " Arsena meremas rambutnya frustasi. bingung mengejar Andini yang pergi darinya atau menyambut kedatangan Lili.
"Sayang apa kamu mulai jatuh cinta sama dia?" Tanya Lili to the point.
"Emm duduk dulu, kamu baru datang, pasti capek."
"Jawab dulu sayang, apa kamu mulai suka dengan pembantu kampungan itu? Dan kenapa rumahnya tadi dikunci, dimana Pak Karman, dimana Bibi?"
"Mereka sedang sibuk dirumah Papa dan Mama disana ada hajatan." kata Arsena bohong.
"Sayang kamu nggak bohong kan? Kenapa pembantu tadi menangis?" Tanya Lili lagi menyelidik. Lili malas memanggil Andini dengan nama walaupun mereka sudah saling kenal. Menyebut pembantu akan lebih puas baginya apalagi saat di depan Arsena.
"Sudah kamu duduk aja. Aku masih ada urusan sama dia."
"Sayang ... kenapa lehernya tadi banyak sekali merah-merah?"
"Mungkin digigit serangga." kata Arsena singkat.
Arsena berlari keluar mengejar Andini. Mencari ke kanan dan ke kiri berharap akan menemukan Andini di depan gerbang.
Andini dan bayangannya sudah raib, Arsena tak tahu Angkot jurusan mana yang dinaiki Andini. Bahkan gadis itu juga meninggalkan motornya di garasi.
__ADS_1
"Andini, pergi kemana kamu"