
Arsena marah bukan tanpa alasan, sebenarnya ia berencana untuk pergi beberapa hari mengunjungi Devan di pulau, dan sepertinya ia juga harus turun tangan sendiri untuk mencari Lili, karena selama Lili belum ditangkap dia akan menjadi ancaman untuk Andini.
Karena rencana semalam gagal terpaksa ia harus menunda. Kini rencana harus berubah total.
Andini mengejar Arsena hingga bawah. Ia tak rela suaminya berangkat ke kantor dengan keadaan marah.
"Ars, jangan pergi." Andini memeluk tubuhnya dari belakang. Membuat langkahnya tertahan. Arsena membiarkan tubuh hangat istrinya menempel di punggungnya.
"Aku akan terus memelukmu sampai kau tak marah lagi."
Arsena sebenarnya tak tega melihat Andini mengiba, ia melakukannya selain mengerjainya, ia juga ingin tau seberapa besar usaha istrinya untuk meluluhkannya.
Arsena kini duduk di sofa, menunggu Andini.
Ia memerhatikan gelas yang isinya tinggal setengah. Jika diperhatikan dengan jeli ada semacam endapan putih. Arsena tau apa yang telah terjadi dengan istrinya semalam, dan siapa pelakunya.
Baiklah siapkan dirimu, aku akan menunggu.
"Kita akan kemana?" Andini semakin bingung.
"Kita akan berbulan madu. Aku sudah buatkan cuti seminggu untuk dirimu."
"Tapi bagaimana dengan Miko."
"Kau sangat memikirkan pria itu tanpa memikirkan aku yang sudah ingin memiliki bayi. Banyak sekali dokter bedah disana. Ada Vano, ada Vanya."
"Bukan begitu, aku khawatir dia akan kecewa jika aku tak mengunjunginya."
"Baiklah kita akan kunjungi dia lalu kita berangkat."
Rena yang melihat Arsena akan berbulan madu ia nampak kesal.
Pyar !
Tak sengaja tangannya menjatuhkan piring yang ada di tangannya.
Arsena tersenyum mengetahui mamanya sudah mendengar semua. Jika ia tahu akan semakin bagus. Siapa suruh menggagalkan rencananya semalam.
****
"Andini ...."
"Andini ...."
"Aku mau Andini!"
"Miko, sudah ada Mama disini."
"Andini kenapa hari ini belum datang."
"Cukup Miko !! Andini itu milik orang lain." bentak Mita yang mulai kesal. Miko nampak murung.
"Sebentar lagi pasti datang," kata Mita menyesal telah membentak putranya.
"Miko, sebaiknya lupakan Andini, dia bukan jodohmu. Jika kamu masih terus memikirkan Andini, papa dan mama terpaksa akan jodohkan dengan gadis pilihan papa.
"Kenapa dengan Andini? Miko sudah terlanjur menyukai Andini." Miko memiringkan tubuhnya membelakangi Mita. Membuat wanita itu tak tega.
"Andini sudah menikah, Nak." Mita makin iba melihat Miko sedih sedemikian rupa.
Mita segera mengirimkan pesan untuk Andini ia tak mampu berbuat banyak, karena Miko hanya mau makan dari tangan Andini.
Andini kini datang ditemani Arsena. Ia melihat Miko sudah ada perkembangan badan Miko terlihat tidak lemah lagi. Hanya jika untuk berjalan ia masih sedikit pusing. Andini dengan telaten menyuapi Miko. Hari ini Miko makan banyak sekali. Tatapan Miko sesekali tertuju pada pria yang berdiri di belakang Andini.
Miko tak suka Arsena selalu bersama Andini. Membuat Miko sangat membenci kakaknya.
Miko menatap Arsena dengan tatapan tajam dan permusuhan.
"Kenapa pria itu selalu bersama denganmu?" Tanya Miko
"Apa hubunganmu dengan dia? Kau selingkuh Andini?" Tanya Miko lagi.
"Emm dia, dia bodyguard, iya Bodiguard, jadi dia harus ada bersamaku, sekarang makanlah biar kesehatanmu cepet pulih." Kata Andini mengalihkan pembicaraan.
"Apa? dia bilang aku bodi guard nya.
__ADS_1
wajah Arsena kini yang berubah menjadi kesal
"Jujur saja Andini, dia suami barumu kan?"
"Andini aku ingin berbicara empat mata denganmu?"
"Denganku, sial apa Ma?"
"Sudahlah sini ikut Mama." Mita menarik lengan Andini menuju luar ruangan.
"Bagaimana kalau kita dekatkan Miko dengan Dara?"
"Tapi Ma, Dara masih harus kuliah, dia masih kecil. Ada wanita lain yang menyukai Miko Ma. Vanya."
"Vanya?"
"Iya Vanya, teman Andini. Dokter di RS ini.
Mita mencoba mengingat ingat, ingatannya segera ketemu dengan gadis cantik yang bernama Vanya itu.
"Tidak aku suka Dara, gadis itu manis dan lugu. Wajahnya sangat manis. Miko pasti akan suka dengan dia."
Andini terlihat keberatan ia tidak suka dengan perjodohan tanpa cinta, apalagi hal mengerikan itu pernah terjadi pada dirinya, jika sekarang Arsena mencintainya itu pasti sebuah keberuntungan saja. Bagaimana jika Miko tak mencintai Dara.
"Entahlah, terserah Mama," ujar Andini bingung.
"Gitu dong. Kuliah sambil menikah kan bisa. Mama dan papa semalam sudah bicarakan hal ini."
Andini sekalian pamit pada Mita, perihal rencananya berbulan madu. Dia meminta maaf beberapa hari ini mungkin tak akan datang menjenguk Miko.
Mita ikut senang." Pergilah, Andini. Hadirnya bayi di sebuah rumah tangga memang sangat penting. Aku akan berdo' a semoga secepat mungkin dia hadir di rahimmu.
Andini memeluk Mita, ia sangat senang memiliki ibu pengertian seperti dia.
Arsena ternyata sejak tadi berdiri di ambang pintu ikut mendengarkan semuanya. "Andini, kita berangkat sekarang."
Dibalas anggukan oleh Andini. " Sampaikan kepergian kami pada papa juga, Ma."
Andini dan Arsena segera menuju mobil, Arsena menggandeng Andini hingga luar rumah sakit.
Doni sudah stanby di dalam mobil. Melihat tuannya datang, ia segera membukakan pintu belakang.
"Kemudikan mobil menuju pelabuhan." Perintah Arsena.
"Baik, Den"
Doni segera menjalankan mobil dengan pelan dan hati-hati, karena jarak laut sangatlah dekat hanya sekitar satu kilo.
Andini dan Arsena sudah sampai di tanjung perak, Andini melihat ada satu kapal yang besar dan masih baru.
" Wow kapal itu bagus sekali tapi kenapa tak ada penumpangnya." Andini memandang dengan takjub.
"Siapa bilang, kita adalah penumpang kapal itu."
"Kita berdua" Andini tak percaya.
"Yah kita berdua, kita akan tinggal disana selama beberapa hari." Kata Arsena sambil berjalan mendekati kapal. Doni berjalan di belakang, mengekor kemanapun tuannya pergi. Sambil membawakan koper.
"Tuan, kapal sudah selesai diperiksa, semua keadaan aman terkendali." ucap seorang pelayan. Yang ditugaskan memeriksa kapal.
Andini sangat senang mimpinya naik kapal pesiar kini sudah terkabul, Andini segera menuju kemudi kapal. Kali ini ia berubah provesi menjadi nahkoda kapal.
"Ars, ini semua seperti mimpi" Andini memandang takjub lautan lepas, merentangkan kedua tangannya melawan arah angin.
Arsena memeluk dari belakang ala Rose dan Jack. "Apa kau suka?"
"Sangat suka, aku suka sekali, Ars."
Yah aku melakukan semua ini agar tak ada yang mengganggu hari-hari indah kita, Arsena putramu sudah besar, Ma. Rencanamu sungguh kampungan. Jika kau punya rencana buruk dengan pernikahan kami maka kau adalah musuhku.
"Sayang, sebaiknya kita masuk jika terlalu lama disini aku khawatir nanti masuk angin."
"Baiklah, mari." Andini membalikkan badan dan melangkahkan kaki beberapa langkah.
__ADS_1
Arsena langsung membopong tubuh Andini menuju ke sebuah kamar.
Doni memilih rute yang sepi dari kapal besar lainnya, supaya kenyamanan tuannya tak terganggu. Kapal baru itu sudah dibeli Arsena tiga bulan yang lalu. Rencananya akan dijadikan tempat melangsungkan pernikahan dengan Lili.
Tapi mimpi itu ternyata adalah sebuah mimpi buruk. Lili bukanlah jodohnya.
Di dalam kapal sudah didesain seindah mungkin. Sejauh mata memandang hanya keindahan yang terlihat.
Banyak penumpang dari kapal lain yang ternganga, takjub oleh pesona kapal yang dinaiki Andini dan Arsena. Warnanya yang putih bersih dan catnya masih baru dan mengkilat.
Sayang, ini kamar kita, kita akan menghabiskan banyak malam disini.
Arsena membaringkan Andini pada sebuah ranjang besar. Ukurannya hanya sedikit lebih kecil dari ranjang yang ada di rumahnya.
Arsena juga berbaring disebelah Andini. " Apa kita bisa mulai ritualnya."
"Tuan mesum, ini masih pagi, aku nggak mau pagi pagi sudah lelah."
"Kau nggak akan lelah, aku hanya akan minta pagi satu kali, siang dua kali dan malamtiga kali."
"Apa? Jika kau minta enam kali sehari, dalam seminggu aku pasti nggak bisa jalan, percayalah aku akan pulang menggunakan kursi roda, Tuan Ars," kata Andini dengan gemas.
"Nggak usah pake kursi roda aku siap menggendongmu sayang."
Cup! Arsena memiringkan tubuhnya dan mengecup pipi Andini.
Arsena mulai membuka kaosnya. Ia kembali merebahkan diri disebelah Andini. "step selanjutnya adalah tugas istriku."
"Apa ? geli tau" Andini menutup wajahnya ia suka geli melihat bulu di dada Arsena.
"Sayang harusnya bulu bulu ini membuat dirimu sangat bergairah, aku jadi heran sama istriku, Banyak lho wanita diluar sana menginginkan prianya memiliki bulu dada sepertiku.
"Jadi ini asli?"
"Iyalah Asli, mana ada wig ditaruh di sini."Arsena makin mengeratkan pelukannya. Ia mulai menanggalkan satu persatu pakaian Andini pelan pelan.
Olahraga pagi sudah dimulai, Arsena dengan segala kerinduan yang sudah membuncah ia curahkan seluruhnya pagi ini, Andini kewalahan dengan kelincahan prianya.
"Ars, pelan."
"Apa masih sakit bukankah jika kita sering melakukannya sudah tak sakit." Jawab Sena dengan suara beratnya.
"Entahlah,"
"Rileks baby, jangan tegang. Milik suamimu ini memang langka"
"Apa'an sih." Andini tersipu. Mungkin yang dikatakan Arsena benar adanya
Arsena kini membalik tubuh Andini, Andini diatas dan Arsena di bawah, ia ingin istrinya belajar memegang kemudi. Andini berusaha menggoyangkan tubuhnya. Walau terkesan amatir, Arsena sudah cukup menikmati goyangan istrinya.
Satu jam sudah berlangsung, peluh sudah menetes membasahi seprei, Namun, diantara mereka berdua belum ada tanda-tanda ingin mengakhiri permainan.
"Sayang ayo kita tuntaskan bersama."
Dibalas Anggukan oleh Andini, tubuh mereka berdua akhirnya mengejang kaku di temani oleh lenguhan panjang.
"Aaaars."
Arsena segera membekap bibir Andini dengan bibirnya sebelum tubuhnya benar-benar ambruk.
"Wow, amazing. Baby." senyum puas tersungging dibibir Arsena.
Tiba-tiba salah satu ponsel di atas meja berdering
"Ars, ponselmu berdering." kata Andini sambil memandang tubuh Arsena yang kelelahan.
"Angkat saja," perintah Arsena.
Andini segera mengangkat ponsel Arsena yang tak mau berhenti berdering.
"Hallo, Siapa?"
"Hai Andini ... Masih ingat saya?"
"Siapa kamu?"
__ADS_1