
Direktur pemasaran mencoba menjelaskan secara terperinci. Namun Arsena malah tertarik dengan kotak warna gold yang baru diantar oleh sopir pribadinya.
Dia menaruh pada meja tepat di depannya dan memikirkan kira-kira apakah yang ada di dalamnya. Apa ada hubungannya dengan keberatan Andini soal kerja lembur hari ini? hingga susah payah mengirimkan sebuah kotak yang entah apa isinya?
"Bagaimana, Pak Direktur?" Tanya direktur pemasaran, berharap mendapat tepuk tangan karena prestasinya, telah berhasil meredakan gejolak di pasar dagang yang sempat membuat citra perusahaan memburuk.
"Hah, apa? Sampai mana tadi? maaf aku .... Aku aku sedang memikirkan hal lain.
Arsena mulai terlihat bodoh di depan para bawahannya. Otaknya tak bisa memikirkan pekerjaan lagi selain kotak yang dikirim oleh istrinya.
Baru kali ini seorang wanita bisa masuk di hidupnya begitu dalam, Andini tidak hanya mempengaruhi hati dan perasaannya saja, tapi dia bisa berpengaruh pada perusahaan. Buktinya satu kotak berwarna gold mampu membuat sebuah meeting besar kacau balau.
"Meeting ditunda setelah jam istirahat." Keputusan mutlak yang tak bisa diganggu lagi. Arsena melenggang pergi menuju ruang pribadinya.
"Lihatlah! Dirut kita saja bisa mencintai istrinya sangat besar. Dia bahkan menunda meeting untuk membuka kado dari wanitanya." Salah seorang tersenyum kearah Dirut utama yang sedang berjalan meninggalkan ruang meting, lalu berbisik kepada temannya.
"Tentu, kita harus mencintai istri kita dengan benar, jika mau banyak rezeki."Salah seorang yang tak sengaja pernah bertemu istri dirut nya. Pria itu menyadari, Arsena pantas untuk mencintai istrinya karena dia seorang dokter yang baik dan sangat manis.
"Benarkah, ini gila sepanjang sejarah. Dirut yang kita segani, terdengar angkuh dan cuek, ternyata dia sangat menjaga hati wanitanya." Bisik-bisik dari ruang meeting terus terdengar setelah Arsena pergi.
Arsena kini sudah berada di ruang pribadi, dia duduk sendirian tanpa ada orang lain disampingnya.
Arsena menarik pita dengan pelan, dan membuka bungkusnya. Tak sabar lagi ingin segera tahu isinya.
Saat membuka pertama kali, Arsena mendapati sebuah surat yang terlipat rapi dengan kertas warna merah jambu. Arsena segera membacanya.
Terima kasih telah mencintaiku, Mencurahi dengan kasih sayang dan cinta yang begitu besar. Maafkan aku yang manja, aku yang selalu ingin didekatmu. Semua itu karena apa yang kau inginkan dalam setiap do'a dan usaha, semua sudah terjawab olehNya.
Kata-kata yang lumayan, ternyata dia bisa juga merangkai kata romantos. Tapi apa maksudnya.
Arsena kembali mengorek isi di dalam kotak tersebut, Dia mendapatkan sebuah mainan anak berbentuk mobil mobilan kecil, dan satu setel sarung tangan bayi, serta satu setel kaus kaki bayi.
Arsena diam sejenak, menyeruput kopi yang mulai dingin. Otaknya mulai berfikir keras dengan hadiah dari istrinya, yang entah apa artinya.
Arsena berfikir kalau hadiah itu mungkin untuk Galang yang istrinya sedang hamil besar, tapi suratnya begitu romantis, tidak mungkin Andini mengirimkan surat untuk Galang. Layaknya pacar sedangkan mereka juga tak begitu akrab.
"Galang tolong datang ke ruangan ku. Aku ingin bertanya satu hal." Pesan suara segera tersambung pada Galang sang manager. Yang di depannya terdapat tumpukan lusinan kertas kerja yang harus ia periksa sebelum sampai ke meja Direktur.
Demi panggilan Dirut utama Galang segera berjalan menuju ruang kerja Arsena dan mengabaikan tumpukan kertas.
Sambil mondar-mandir Arsena kembali membaca ulang surat cintanya, Setelah yang kedua kali, dia mulai memahami maksud yang tersimpan di dalamnya.
Do,a yang terkabul? Sarung tangan bayi? Mainan anak kecil, Andini hamil? ini pertanda Andini hamil.
Arsena tersenyum bahagia, ia berharap tak salah lagi menafsirkan isi surat dari istrinya.
"Andini hamil,"
"Aku akan jadi papa,"
"Aku akan memiliki seorang anak,"
"Andini wanita sehat dia tak mandul"
Kaki Arsena mendadak lemas, jantungnya berdetak bertalu-talu layaknya genderang. Surat di tangannya bergetar hebat. Arsena duduk kembali di kursi kebesarannya. Menetralkan aliran darah yang berdesir kencang.
Galang sampai di ruang Dirut, ia membuka handle pintu tanpa mengetuk, karena kedatangannya pasti sudah ditunggu.
"Bos, kau memanggilku kesini?"
__ADS_1
"Yah, tutup pintunya, ini sangat penting." Arsena mengangguk.
Galang segera mengunci kembali, semakin penasaran dengan hal penting yang akan dibicarakan.
Arsena yang memakai hem putih dengan dasi hitam segera menyongsong kedatangan Galang dan memeluknya erat.
Galang yang baru datang langsung mendapat pelukan erat, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
"Bos ingat bos, kita ini sesama pria. Ini tidak benar."
Arsena mendengar ucapan yang keluar dari bibir Galang mendadak langsung mendorong tubuh Galang hingga mundur beberapa langkah dan merapikan dasinya.
"Kamu gila, bisanya berfikir aku suka sesama pria." Kata Arsena yang kembali berjalan menuju kursinya.
"Habis tak seperti biasa, Bos memelukku sangat erat, biasanya kalau disuruh datang, pasti akan mendapat omelan yang tak kunjung berkahir."
"Sikap bos baru saja mengingatkan istriku ketika menyambutku saat baru pulang kerja."
Berani menuduhku seperti tadi aku pastikan kamu akan kehilangan pekerjaan. Bikin mood hancur saja." Mendengkus kesal.
"Untung lagi bahagia, kalau nggak sudah kau pasti akan kehilangan jabatan manager di perusahaan ini."
"Yah, aku minta maaf, Bos tadi memanggilku, ada apa?" Galang dan Arsena kembali bersikap normal.
"Aku akan jadi papa!" Arsena kembali dengan wajah berbinar-binar.
"Benarkah ini aku akan jadi papa! Lihatlah istriku mengirim hadiah ini! Apa artinya coba? Kalau bukan dia sedang hamil."
Galang mengamati isi kotak, membaca tulisan tangan Andini hingga beberapa kali.
Galang tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya, hal yang pernah ia rasakan saat tau Riska hamil. Namun penantian Arsena lebih lama, kebahagiaan yang dirasakan pasti semakin besar.
Galang kini mendekat hendak memeluk Arsena erat, sebagai ucapan selamat.
"Eitss ... jangan peluk aku, aku masih waras, kalau mau sesama jangan denganku." Arsena membalas kata-kata Galang dengan nada bercanda.
Mereka Akhirnya berpelukan sebentar saling memberi selamat.
Aku pulang sekarang, meeting setelah istirahat akan aku lakukan secara video conference, aku ingin kau tetap hadir disana dan aku akan memimpin dari rumah.
"Baik Bos."
Arsena dengan langkah lebar segera meninggalkan kantor, menelepon Doni agar mempersiapkan mobil di depan pintu gerbang, dia tak mau membuang waktu walau satu menit untuk segera menemui sang istri di rumah.
Doni sopir terbaik sepanjang sejarah hidupnya, sudah membukakan pintu. Dan membiarkan pintu penumpang terbuka.
Arsena segera masuk, mengunci pintu, dan mengenakan sealt belt. " Antarkan aku pulang."
"Baik Den." Doni mulai mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. hatinya bertanya namun tak sampai keluar kata.
"Tolong kemudikan mobil lebih cepat, aku ingin cepat sampai rumah."
Apa ini karena hadiah tadi, apa yang sedang terjadi di rumah.
Arsena ikut mengamati jalanan dengan fokus, seakan dia tak sabar ingin melihat mansion ada di depan matanya.
Persetan dengan rapat conference yang tertunda, yang ia inginkan saat ini hanya ingin memeluk istrinya dengan menghujani ribuan ciuman di wajahnya, menyapa sang buah hati yang mungkin sudah lama menemani hari-harinya.
Bodohnya ia tak menyadari hal itu, Andini yang selalu mual dan minta makan dari tangannya, suka sekali dengan aroma tubuhnya, bahkan terlihat wanita itu tak bosan memandang wajahnya lebih lama dari biasanya, itu semua ternyata pertanda wanitanya telah hamil.
__ADS_1
"Andini i love you, i love you." Kalimat sakral bagi Arsena bahkan terdengar sangat membosankan bagi orang lain yang mendengar itu terus keluar dari bibir Arsena.
Arsena sudah sampai di halaman mansion, dia heran dengan orang-orang yang terlihat biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Mama duduk di ruang tamu bersama Anita dua wanita itu sedang membaca majalah bulanan yang baru datang.
Dara dan Mita sedang memotong buah untuk puding. Mereka asyik dengan dunianya sendiri.
Bahkan tatapan dari mereka terlihat heran, kenapa pulang sepagi ini, bukankah dua jam yang lalu baru berangkat. Namun, mereka hanya diam, bukankah Dirut perusahaan memang bisa melakukan semua yang di inginkan.
Ini hari bahagia ku, kenapa kalian terlihat acuh, tak taukah kau, aku akan menjadi seorang papa. Atau apakah aku tadi sedang bermimpi, apakah hadiah Andini tadi hanya mimpiku saja.
Arsena berlari menaiki tangga, nafasnya terengah-engah, paru-parunya seakan telah kehabisan simpanan Oksigen, ia tak bisa mengontrol nafasnya yang keluar masuk dengan ritme cepat.
"Andini! Andini!" Arsena mengetuk pintu tak sabar.
Zara membukakakan pintu dengan mengibarkan senyum pada tuannya. "Dimana Andini Zara? Katakan padaku!"
Zara tidak menjawab pertanyaan Arsena walau sepatah kata, dia hanya menoleh ke arah meja rias. Memberi tahu tuannya dengan bahasa isyarat, kalau kekasihnya sedang duduk disana.
Andini baru usai mandi, badannya terlihat segar. Memakai baju santai berwarna merah jambu.
Arsena segera menghampiri Andini. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, lidahnya terasa kelu.
Arsena menatap wajah cantik dengan mata yang basah, Andini menangis, ia juga terharu. Ternyata apa yang ditakutkan tak terjadi, Tuhan bermurah hati telah mengabulkan doa-doanya.
Arsena segera mencium bibir basah berwarna merah muda itu. Mencium dengan lembut tanpa ada ***** di dalamnya. Melepaskan kecupan di bibir berpindah di kening. Bibir Arsena seakan menancap di kening Andini. Tanpa sadar air mata lolos dari pelupuk mata pria itu.
"Tuhan terimakasih, Andini terimakasih." Bibir Arsena mulai bergetar mengeluarkan suara baritonnya. Hem putih yang dikenakan terlihat basah, keringat membasahi punggung dan dadanya.
"Andini aku akan menjadi Papa, dan kamu akan dipanggil Mama." Kata Arsena sambil mengusap air matanya.
Mendengar suaminya berkata demikian, air mata Andini mengalir semakin deras memeluk tubuh tegap sang suami sekali lagi.
Zara yang menjadi saksi kebahagiaan Andini dan Arsena, ia melangkahkan kakinya mundur secara berlahan. Setelah sampai di belakang pintu, ia segera pergi ke ruangan lain.
Setelah lama dalam posisi berpelukan, Andini melepaskan lengannya terlebih dulu. "Ars aku ingin menunjukkan sesuatu."
"Apa, sayang?" Arsena enggan melepas tubuh istrinya.
Andini berjalan mendekati nakas, ia mengambil sesuatu dari dalamnya. " Ars, lihatlah ini, ini bukti akurat kalau aku sudah hamil anak kita.
Arsena melihat benda asing yang pernah dilihat di apotek, namun seumur hidup belum pernah memegangnya. Arsena memandang dengan wajah bingung. Namun otak cerdasnya segera mengerti "Garis dua, berarti positif."
Arsena kembali dibuat terharu oleh benda kecil berbentuk stik dan ada yang panjang hampir menyerupai bolpoint, ada yang persegi.
"Andini, jaga anak kita dengan baik." Arsena menggenggam testpeck beda jenis itu. Dan kembali memeluk erat Andini.
Arsena mengangkat tubuh Andini membaringkan di atas ranjang. Ia ingin lebih leluasa memeluk dan mencium perut istrinya yang masih datar, sesekali mengajaknya bicara.
"Andini, apa dia sudah bisa mendengar suaraku."
"Dia masih sangat kecil Ars." Kata Andini sambil tersenyum.
"Kapan dia bisa mendengar suaraku?"
Andini mengelus rambut suaminya sentuhan itu membuat Arsena memejamkan mata. "Ketika dia berusia tiga bulan. Suamiku."
*happy reading.
__ADS_1
*jangan lupa Like, Komen, dan Vote.