Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 104. Berbagi kebahagiaan.


__ADS_3

Arsena melakukan video conference melalui laptop yang ada di ruang kerjanya. Andini memperhatikan dengan seksama hingga jarang berkedip.


Arsena sesekali melirik kearah istri, memberikan senyumnya pada Andini yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan serius, dari kursi yang berbeda berjauhan.


Satu jam rapat telah selesai, walaupun tak berjalan dengan normal. Namun Arsena sudah tau perihal laporan bulan ini dengan detail.


Setelah rapat selesai Arsena segera berselancar menuju google. Ia sibuk mengetik di kolom pencarian tentang hal yang harus diperhatikan tentang wanita hamil. Arsena mencari tentang banyak hal


Perubahan sifat wanita saat hamil muda.


Cara berhubungan yang baik dan benar saat hamil muda.


Makanan yang baik dikonsumsi untuk wanita hamil.


Bagaimana mengurangi rasa mual, terutama( morning sicknes).


Vitamin dan nutrisi yang baik untuk bayi dan ibu.


Bagaimana menjaga bayi agar tetap sehat di dalam kandungan.


Ciri ciri wanita sedang ngidam


Senam khusus untuk kehamilan.


Nama nama bayi laki laki dan perempuan yang memiliki makna terindah.


Semua data diatas sudah ada di kolom pencarian Arsena. Dia harus tau tentang hal yang mungkin diperlukan Andini dan bayinya.


"Sini sayang!" Arsena menepuk sofa disebelahnya. Meminta Andini untuk mendekat.


Andini yang melihat suaminya sedang sibuk dengan hal mengenai kehamilannya, ia tersenyum bahagia. Dalam hati bersyukur memiliki suami yang begitu mencintainya.


Saat di samping suaminya, Andini tiba-tiba menginginkan sesuatu, mengelus perutnya yang mulai ingin makan.


"Ars," panggil Andini dengan lembut.


"Hm, apa ingin sesuatu?"


"Aku ingin makan jeruk."


"Jeruk? baiklah."


Arsena mengakhiri pencarian tentang semuanya, dia menutup laptopnya dan beranjak pergi.


" Ars mau kemana?" Tanya Andini lagi.


Arsena yang sudah meninggalkan beberapa langkah terpaksa berhenti.


"Katanya mau jeruk, aku akan mengambilkan untukmu di lantai bawah," jawab Arsena kembali melangkah keluar ruang kerja menuju lantai bawah.


"Baiklah. Aku menunggu, jangan lama ya?"


Arsena hanya tersenyum, kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke lantai bawah, menghampiri meja makan, Arsena menemukan piring berisi jeruk yang dicari, ternyata tinggal beberapa butir

__ADS_1


Saat menemukan jeruk masih ada, bahagianya luar biasa seakan menemukan harta karun. Arsena segera membawa semua jeruk- jeruk itu pada permaisuri.


"Ars, kapan kamu memaafkan aku?" Arsena dikejutkan suara dari kamar sebelah ruang makan.


"Entahlah, aku terlanjur kecewa, Nit."


"Ars, aku berharap persahabatan kita akan terjalin seperti yang dulu."


"Maaf, Nit, aku sudah menikah, aku tak bisa terlalu dekat dengan wanita lain selain istriku, aku harus menjaga perasaannya."


"Tapi Ars, kita sudah saling mengenal jauh sebelum kamu menikah dengan Andini. Andini akan mengerti."


"Jika kau tulus bersahabat denganku, kau tak akan menyakiti Andini, kau juga akan menerima kehadirannya di hidupku. Jadi aku mohon sekarang pulanglah, aku sudah memaafkan kesalahanmu. Jika kau meminta direkomendasikan untuk bekerja di perusahaan, kau bisa mengajukan diri seperti calon karyawan yang lainnya. membawa surat lamaran, dan memulai semua dari nol."


"Baiklah Ars, aku akan pulang, aku besok akan membawa surat lamaran kerja ke perusahaan."


Anita kembali lagi ke kamar, ia merapikan baju bajunya dan memasukkan ke dalam koper. wajahnya terlihat kecewa.


Sedangkan Arsena kembali naik ke lantai atas. Sebelumnya tadi dia sudah mengirim pesan pada Doni agar mengantar Anita sampai rumah dengan selamat.


"Sayang aku sudah membawakan jeruk yang kamu inginkan," Arsena segera mengupas dan membuang serabutnya lalu menyerahkan pada Andini.


"Makasi Ars, maaf aku terlalu merepotkan."


"Sudah ku bilang aku tak akan repot, aku justru bahagia. Dibutuhkan seperti ini."


Arsena menyuapi Andini buah jeruk hingga habis dua butir. " Sudah dua, apa masih mau lagi."


"Nggak, lainnya kamu aja yang makan."


"Ya Tuhan ini asam banget, kenapa Andini tak bilang sebelumnya."


"Ndin apa kamu baik baik saja?"


"Aku baik baik saja, bahkan sekarang aku masih lapar sepertinya aku harus makan dengan kadar karbohidrat tinggi."


Baiklah ayo kita turun. Arsena turun bersama Andini berjalan beriringan menapaki tangga. Arsena didepan Andini dibelakang, sesekali Arsena menoleh kebelakang merelakan tangannya di genggam Andini.


Keluarga sudah kembali berkumpul untuk makan siang. Hanya Miko dan Mert yang tidak ada di rumah, karena dia juga bekerja. Mert ikut magang di perusahaan Miko.


Anita rupanya juga sudah pergi. Kamar tamu yang ditempati kembali terkunci.


Maafkan aku Anita, satu kesalahan yang kamu lakukan membuat aku sulit untuk percaya lagi, aku tak bisa mempertaruhkan keselamatan bayiku, dengan membiarkan kau selalu dekat Mama, Kau sudah merusak nama persahabatan diantara kita.


Ars, sebelum acara makan siang, katanya ada yang ingin dikatakan? Apa itu?


"Oh iya, Pa, Ma, ada kabar baik untuk kalian." Arsena berkata sambil tersenyum bahagia, wajahnya bersinar. Sesekali menoleh ke arah Andini dan menggenggam jemarinya dengan erat.


"Kabar baik apa? Ayo cepat katakan? Papa jadi nggak sabar." ujar Johan yang kebetulan duduknya tepat di depan Arsena, di kanan dan kiri diapit oleh kedua istrinya.


Dara yang di sebelah Oma sepertinya sudah bisa menebak kabar baiknya, karena Oma tadi sudah keceplosan mengatakan saat bicara dengan Dara di dapur.


"Papa, akan menjadi Opa, dan Mama, akan menjadi Oma."

__ADS_1


"Benarkah?" Mata Papa membulat sempurna. "Ini bukan lagi kabar gembira, ini namanya luar biasa, kita harus membuat syukuran besar besaran atas kehamilan Andini. Ini calon cucu pertama kita, lho"


" Ma, Gimana rencana, Papa?" Tanya Johan pada istri-istrinya.


"Setuju, Pa. Mama ingin kita adakan pesta yang meriah." Rena menimpali.


"Aku tak setuju! Aku ingin kehamilan ini hanya keluarga saja yang tahu," sanggah Oma.


"Kenapa Oma? Bukankah kabar gembira ini harus kita rayakan. Ini cucu pertama kita." Mita heran dengan keputusan Rena.


"Ya, Oma mengerti itu, tapi saran Oma, kita rayakan cukup dengan keluarga saja, jika ingin berbagi rezeki, banyak sekali panti asuhan, yang siap menerima berapapun uang yang ingin kita sedekahkan. Arsena memiliki banyak musuh, Andini mengalami banyak penderitaan sebelumnya karena musuh yang berkedok teman. Miko ingatannya baru pulih, aku tak mau hal seperti itu terjadi, bayi yang ada di rahim Andini, dia adalah pewaris Wilmar Group. Kita harus ekstra hati hati dalam menjaganya. Musuh selalu mencari kelemahan kita.


"Oma benar, aku setuju dengan Oma." Arsena mengambil keputusan setelah Andini memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.


"Ibu memang paling hebat, aku tak pernah benar, jika ibu adalah lawan bicaraku."


"Ingat Johan, aku melahirkan dirimu, kau tak akan bisa menang melawan ibumu ini."


Johan tertawa diikuti semua anggota keluarga.


"Ars, sebaiknya kamu segera periksakan Andini ke Dokter, untuk memastikan semuanya, biar lebih yakin."


"Baik Oma."


"Dan untuk cucuku yang satunya, semoga cepat nyusul ya." Miko juga sudah banyak berubah, dia sekarang terlihat setia dengan satu wanita saja. Dia sepertinya juga pantas mendapat hadiah istimewa seperti Arsena.


"I-i-iya, Oma."


"Baiklah kita mulai mulai saja makan siang hari ini, aku sudah lapar. Sejak tadi semur jengkol ini sudah memanggil ku."


Dara kemudian berdiri mengambil piring satu demi satu dan mengisi dengan secentong nasi. Sudah menjadi tradisi menantu termuda harus mengambilkan nasi untuk anggota keluarga. Walau kadang tradisi itu sirna. Namun jika ada Oma tradisi itu harus dihidupkan lagi.


"Terimakasih Dara, kata Andini menerima nasi dari adiknya. Setelah Dara selesai menyerahkan piring pada anggota yang lebih tua lainnya.


"Sama-sama kak. Selamat ya Kak, ibu pasti senang sekali dengar kakak hamil."


"Tenang saja, Dara. Ibu akan segera tahu, karena sepulang dari periksa kandungan kakak nanti, kita akan mampir ke rumah ibu, selain Andini juga sudah kangen. Kita harus segera membagi kabar bahagia ini." Arsena menjelaskan pada Dara.


"Iya, Kakak Ipar." Dara mengangguk dan kembali duduk.


Andini memakan habis semua menu di piringnya, sesekali saja Arsena menyuapi Andini dengan menu yang berbeda dari piringnya. Papa dan Mama melihat kemesraan mereka berdua hatinya ikut bahagia.


"Menu hari ini sangat nikmat, aku makan banyak sekali." Andini berkata dengan malu malu.


Arsena mengelap noda kuah yang ada di bibir istrinya dengan tisu. " Makannya harus lebih banyak, biar anakku juga sehat. Mamanya juga."


Andaikan Kak Miko juga seperti kak Arsena, romantis di setiap saat. Aku pasti akan lebih bahagia lagi. Kak Miko romantisnya saat minta jatah doang. Mungkin aku harus hamil seperti kak Andini kali ya? Biar Kak Miko lebih romantis lagi.


Acara makan sudah selesai, Bi Um segera merapikan piring kotor. sedangkan Zara membantu.


"Untuk semuanya, Arsena pamit ya? Kita ingin periksakan kandungan Andini dulu, takut Oma keluar tanduknya kalau kita nggak segera berangkat," canda Arsena. Padahal dia sendiri juga tak sabar ingin segera tahu keadaan bayinya diperut Andini.


"Ars, Oma benar," kata Johan.

__ADS_1


"Dia bengal seperti itu karena putramu, Johan. Kau dan dia itu sama saja." kata Oma sembari tersenyum. Oma bahagia berada di tengah menantu dan cucunya.


*happy reading.


__ADS_2