
"Buka penutup wajahnya. Berani sekali dia menggantikan posisi adikku di pernikahan ini." Arsena keluar dari deretan kursi. Kali ini amarahnya sudah tak bisa diredam oleh apapun. Semua orang kini justru khawatir apa yang akan dilakukan oleh Pria pemilik tatapan elang itu kepada pengganti adiknya.
Andini membuka cadar yang menutupi wajah wanita itu, tak menyangka pelakunya tak lain adalah Salsa sahabatnya sendiri.
"Arini meminta aku menggantikan posisi ini, dia tidak siap menikah, dia baru sadar kalau menjadi gadis bebas lebih menyenangkan daripada menjadi seorang istri dari seorang pria." Salsa berkata dengan wajahnya menunduk. Dia tak berani mendongakkan kepalanya batu sebentar. Dia tak bisa membayangkan Bagaimana tatapan keluarga Arini padanya.
"Pembohong, kamu kira kami semua bodoh hingga mudah kau bohongi seperti itu. Arini sangat bahagia dengan pernikahan ini tak mungkin dia melakukan drama seperti hari ini."
Andini maju ke depan, menarik penutup kepala Salsa dengan keras, ada beberapa helai rambutnya yang ikut ketarik oleh jemari Andini membuat dia mengaduh kesakitan. Tidak cukup sampai disitu Andini memukul keras keras pipi Salsa kanan dan kiri.
Semua yang melihatnya tercengang dengan Andini yang terkenal baik ternyata bisa melakukan kekerasan juga ketika marah.
"Kak, Andini jangan kotori tangan kakak dengan menyakiti bibit pelakor ini." Dara menahan kakaknya. Dia sengaja melakukan untuk melindungi kakaknya dari sorot proyektor yang tentunya akan tayang secara Live di stasiun televisi.
Sekurity segera mengapit tangan Salsa kanan dan kiri.
Arsena mendekati Salsa. "Katakan dimana Arini? Jika kamu berkata, mungkin hukuman untukmu akan sedikit ringan."
"Aku tidak tau, Sungguh Tuan." Salsa menangkupkan tangannya di depan muka dia sangat takut pada Arsena yang sudah terlihat pias. "Aku tadi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku, karena perutku mual aku sedikit lama disana, setelah keluar aku tak melihat Arini lagi.
Oke, aku terima pembelaan darimu, tapi aku masih akan membuat perhitungan denganmu dengan kau berani memakai gaun pernikahan adikku.
Salsa, aku kecewa padamu, inilah balasan yang kau berikan setelah aku dan Arini membantumu."
"Kak Davit aku ingin kau yang menjadi ayah anakku ini, aku mencintaimu Kak."
"Kamu sudah gila," ujar Davit melepas tuxedo dan keris yang digunakan.
__ADS_1
Davit lalu pergi setelah meninggalkan tatapan kebencian pada Salsa. Dia yakin Arini membawa ponselnya. Davit cukup melacak keberadaan Arini melalui salah satu aplikasi di benda pintar miliknya.
"Ars, lalu dimana Arini. Cepat selamatkan dia." Mama mendekati Arsena berharap anak pertamanya akan ikut pergi bersama Davit.
"Tenang Ma, Davit akan segera membawa Arini kembali. Aku percaya Davit mampu melindungi Arini seperti yang sudah sudah.
"Oke, semoga kamu berhasil Davit." Doa mama ketika melihat Davit pergi dari gedung. Arsena dan kedua tangan kanannya pun segera meninggalkan gedung dengan membawa senjata api di pinggangnya.
Davit dengan keahliannya mengemudi di jalanan hitam, dia melenggak lenggokkan roda mobil seperti kesetanan. Dia tak perduli dengan nyawanya. Yang ada di angannya hanyalah bagaimana nasip kekasihnya.
Davit terus mengikuti petunjuk dari ponselnya, kemanapun Willy dan Nathan dibantu security gadungan itu pergi, semua tak luput dari pantauan Davit.
Sesuai tebakan, ternyata Nathan dan Willy membawa Arini ke rumah Nathan. Davit terus saja mengejar mobil Nathan hingga kini jarak mereka tinggal berapa puluh meter lagi. Davit sengaja menghentikan mobilnya dekat gang masuk, ia biarkan Nathan dan Willy merasa aman tanpa tahu rencananya ternyata sudah berada dalam genggaman Davit.
Davit membuka sebuah tempat rahasia yang ada di dasboard mobilnya dengan kunci kecil, ia keluarkan pistol ilegal yang selalu menjadi temannya saat dirinya dalam bahaya.
Nathan dan Willy segera membawa Arini turun dari mobil. Ia biarkan Sista tetap di mobil. Setelah Arini aman di kamar Nathan, mereka berdua segera mengunci pintu dari luar, hingga tak ada lagi kemungkinan Arini akan kabur saat sadar nanti.
Nathan Dan Willy kini menenangkan diri di sebuah ruang khusus yang biasa ia buat untuk pertemuan dengan kawan kawan untuk bersenang senang. Di lemari kaca terdapat banyak minuman memabukkan yang ia jadikan untuk penghilang stress saat mengingat Arini tak lagi tergapai olehnya. Menyakitkan bagi Nathan saat tahu Arini lebih memilih Davit.
"Aman bro, Akhirnya kita bisa gagalkan Arini nikah dengan sopir kampung itu." ujar Nathan lega.
"Ya, untung saja gue punya rencana culik dia, kalau enggak pasti sekarang mereka sudah resmi jadi pasangan suami istri. Nggak rela gue." Willy berkata sambil menggelengkan kepalanya berulang kali lalu mereka menuang minuman yang ia ambil dari lemari.
Mata Nathan dan Willy mulai berkunang-kunang Mereka sesaat menjadi gila, bersulang, tertawa dan bernyanyi bersama. Dunia mereka terlalu sempit, Seolah wanita sempurna di dunia ini hanyalah Arini
__ADS_1
"Arini pasti akan jadi milik gue, Bro." Nathan berbicara di sisa daya ingatnya.
"Itu nggak mungkin terjadi, Arini hanya akan jadi milik gue." Willy mulai tak mau kalah.
Mereka berdua tak memiliki rasa takut lagi setelah dipengaruhi oleh banyaknya alkohol yang diminum.
Ketegangan terjadi antara Nathan dan Willy, memperebutkan siapa yang berhak memiliki Arini.
Davit masih diluar gerbang, Dia sengaja mencari cara supaya bisa masuk tanpa sebuah keributan, waktu Davit tak banyak dia harus tetap melanjutkan prosesi akad nikah di malam ini.
Davit memanjat sebuah pagar besi setinggi satu meter setengah dengan sangat hati hati. Dia juga harus memastikan tak ada orang yang sedang lewat, takut diteriaki maling. Jika hal itu terjadi urusannya pasti akan makin berabe.
Davit juga tak lupa mengabarkan berita pada orang-orang di dalam gedung resepsi, kalau dirinya sudah menemukan Arini, dia juga melarang siapapun untuk datang mengikutinya, termasuk Arsena. Khawatir kedatangan orang yang membantunya malah mengusik Nathan dan Willy yang sedang berpesta miras.
Bug! Suara kaki Nathan saat turun dari pagar yang ujungnya dipenuhi pecahan kaca.
"Siapa itu?" Penjaga gerbang menoleh ke kanan dan kekiri, yakin yang didengar baru saja bukanlah halusinasinya belaka.
"Kucing apa orang?" Tanya penjaga itu lagi.
" Kucing," jawab Davit reflek yang bersembunyi di belakang tong besar di depan pintu dapur.
" Berisik banget kucing, kamu pasti lagi kawin ya?" Penjaga itu segera kembali lagi dari samping rumah menuju pos ronda untuk menonton acara televisi.
Setelah dirasa semua kembali aman, Davit segera melempar seutas tali yang sudah di ikat ujungnya ke lantai dua. Tali tepat tersangkut di pagar besi teralis.
Setelah beberapa kali melakukan uji coba pada tali itu Davit segera merambat naik dengan hati hati. Davit akhirnya berhasil melakukan rencana pertama dalam misi menyelamatkan Arini.
__ADS_1
"Lho tadi katanya kucing tapi kok bisa ngomong menirukan manusia." Penjaga gerbang baru tersadar kalau yang namanya kucing tak mungkin bisa menjawab tanyanya. dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Wah ada yang gak bener nih, jangan-jangan ada maling masuk."