
"Vit, bisa lebih cepat nggak?" Pinta Miko yang melihat Dara mulai gelisah
" Bisa, tapi benar nie nggak apa apa? Kalau aku ngebut. Soalnya nanti goncangan nya pasti lebih kuat lho ya."
"Iya nie Kak Miko, nggak kasian apa sama Dara." Arini ikut bicara.
"Ya udah kalau gitu, pelan aja nggak apa apa." kata Miko lagi.
Akhirnya Davit memilih langkah aman dia mengemudikan mobil dengan pelan dan hati-hati.
Sampai di parkiran seorang penjemput pasien segera menghampiri keberadaan keluarga Arsena.
Davit turun paling awal dia segera memerintahkan perawat untuk mengambil satu brankar. Segera meminta satu lagi. "Kenapa cuma satu? Yang mau melahirkan dua, antarkan pada kami dua brankar."
"Bawa satu lagi brankar nya, mobil ini mengangkut rombongan melahirkan." Perintah seorang perawat pada temannya.
Seorang perawat yang mendapat perintah dari temannya, tak lama dia sudah datang dengan membawa brangkar dan mendorongnya dengan cepat.
Miko terlihat panik melihat Dara yang terus memegangi perutnya, keningnya mengernyit dan melipat bibirnya ke dalam.
"Sakit banget ya," tanya Miko.
"Iya Kak, entah ada banyak rasa bercampur aduk, seperti mau buang puf, buang air kecil dan sakit banget disini." Dara menunjuk bawah perutnya.
"Tenang Sayang, nanti kita konsultasikan dengan dokter Namira." ujar Miko lemah lembut dibalas anggukan oleh Dara.
Brangkar sudah datang, Miko segera menggendong Dara dan membaringkan diatasnya, mengecup keningnya sekilas untuk menenangkan hatinya, sambil menggengam jemari Dara. "Sayang tenang aku akan selalu di sampingmu menemani sampai bayi kita lahir," ucapnya penuh cinta.
Dara tersenyum dan mengangguk pelan, perawat segera mendorong brankar menuju ruangan bersalin.
Miko ikut kemanapun Dara dibawa, dengan berjalan tergesa gesa di samping brankar. Jemari mereka terus bertautan. Miko saat ini adalah kekuatan Dara yang utama.
Hal yang sama dialami oleh Amert. Dia juga mendampingi Zara turun, Zara terlihat lebih tenang daripada Dara, Zara sudah sangat siap dan menantikan kelahiran bayinya sejak lama.
"Zara, semoga kamu bisa melewati semuanya, yang kuat," ujar Davit saat Amert turun bersama Zara. Zara melihat ke arah Davit sekilas, mengangguk dan tersenyum.
Masih sama, pekerjaan Davit sebagai pembuka pintu dan layaknya sopir untuk mereka seperti hari biasanya. Namun sekarang statusnya berbeda, bukan sopir lagi , melainkan kakak dan sepupu.
"Makasi Vit." Amert ikut menjawab. Segera dia menggandeng Zara dan mengajaknya menjauh dari Davit.
Arini melihat mimik Amert yang berubah, kala Davit menyapa istrinya, Amert tak suka kalau Davit memberi perhatian sekecil apapun pada Zara.
"Kak Davit sini." Arini turun dan menyeret lengan Davit.
"Sayang, ada apa? Kok main tarik aja."
"Kak Davit, jangan bilang kakak masih cinta Zara." ujar Arini lirih
"Mana mungkin, itu ngaco namanya. Apa iya aku harus diam aja, kita kan sudah kenal lama."
Arini merajuk dia masuk ke mobil dengan segera dan menutup pintu kencang.
"Hai, kok marah sih?"
"Karena Arini tidak tau seperti apa masalalu Kak Davit."
"Kalau sudah tau, janji nggak marah lagi?" Davit membuat konsekuensi.
__ADS_1
"Iya, janji." Arini mengangguk siap mendengarkan.
Arini mengajak Davit masuk mobil, ia ceritakan kisah yang pernah terjadi, Arini siap mendengarkan dengan serius.
"Ini permintaan kamu lho Sayang. Janji nggak marah." Davit sekali lagi meyakinkan Arini.
"Aku dulu mencintai Zara karena dia memang baik, menjaga auratnya, mungkin bisa dibilang sebuah rasa kagum. Bener ya nggak boleh marah?" Davit mencubit hidung istrinya.
Arini mengangguk cepat.
Davit mulai menjelaskan lagi. "Tapi aku tahu Zara ragu denganku, karena dia juga mencintai Amert. Aku berusaha ngeyakinkan dia dan dia tetap nggak bisa jawab memilih antara siapa? Dan hingga akhirnya Amert melakukan perbuatan yang bisa mendapatkan Zara seutuhnya, dan aku berusaha move-on, tapi jangan pernah berfikir aku masih sayang dia donk, hati orang ketika menemukan jodohnya yang memang ditakdirkan untuk sehidup semati itu sreg nya berbeda." Terang Davit dengan sungguh sungguh.
"Kakak suka cium bibir dia?"
"Jawabannya enggak, aku suka cium bibir Arini. Cuma bibir ini yang selalu membuat aku ketagihan," jawab Davit nakal. Sambil mengelus bibir istrinya dan mengecup kilat.
"Aku hanya suka apa yang ada pada diri Arini, Sungguh Zara adalah masalalu, dan kamu adalah sekarang dan selamanya.
Aku bukan pria yang bisa menyukai banyak wanita sekaligus, kalau aku sudah jatuh cinta sama satu wanita, dan aku harus fokus pada wanita itu, ya aku lakukan, dan itu kamu sayang. Dan aku minta jangan pernah usik masalalu yang sudah terkubur, nggak ada gunanya. Semuanya terjadi jauh sebelum aku mengenal dirimu? Tapi semenjak kamu datang, aku hanya sayangnya sama kamu, cuma satu yaitu kamu!" Davit menyentuhkan telunjuknya di dada Arini
"Aku sayang kamu. Entahlah gimana lagi aku jelasin biar kamu mengerti." Davit memeluk istrinya dengan kuat. Mengecup keningnya lama sekali hingga bibir Davit seolah menempel di sana.
Arini mulai menurunkan egonya, mencoba menerima masalalu Davit yang ia katakan memang benar pernah menyukai sosok Zara.
"Kak kenapa waktu itu Zara memilih Amert? Apa karena dia lebih kaya?"
"Bukan karena kaya, tapi Amert waktu waktu itu memang lebih nyaman saja buatnya, dan Zara tau Amert sangat menyayangi dirinya lebih dari aku." Amert berusaha mengambil sisi baik masalalunya.
"Sekarang kamu dah tau semuanya, aku boleh donk cemburu sama Willy yang dulu kamu cintai setengah mati itu, Nathan juga?" Davit berusaha mengingat pria-pria yang dekat dengan Arini.
"Aku dan Willy, nggak usah cemburu, Arini memang sayang sama dia, tapi semenjak tau sifat aslinya sudah nggak ada cinta lagi untuk dia, sumpah." Arini menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Siapa yang mulai, kamu kan masih cemburu aja dengan masalalu?" Davit membela dirinya.
Davit mendorong tubuh Arini lalu mereka melakukan ciuman yang sangat panas di dalam mobil setelah memastikan pintu kaca tertutup rapat.
"Kak lapar belum sarapan."
"Sarapan bukannya sudah?" ujar Davit bercanda.
"Belum, tadi kan Kak Davit suruh Arini mandi dulu."
"Udah, yang dikamar mandi tadi?" Davit tertawa terkekeh.
Arini ikut tertawa."Bukan sarapan itu, sarapan yang Arini butuhin yang pake nasi."
"Oke kita cari sarapan, tapi janji ya, setelah sarapan nasi kita lanjutkan sarapan yang tertunda tadi."
"Iya iya,"
"Oke oke, setelah sarapan aku akan makan kamu sampai habis," ancam Davit sambil mengemudikan mobilnya keluar parkiran.
Arini dan Davit sarapan di sebuah restaurant besar yang ramai pengunjung. Ada banyak menu ditawarkan disana, tapi Arini memilih menu sederhana, Arini tahu Davit baru selesai mengeluarkan uang sangat banyak untuk biaya prewedding sampai wedding itu sendiri, sedangkan jadi Dirut belum dapat gaji karena baru beberapa hari kerja.
"Mas nasi pecel aja deh dua, sama minumnya teh hangat dua."
"Yang, kenapa pesen itu? Aku masih ada uang lho? Aku nggak mau ya kamu melewatkan menu kesukaan kamu? Ingat kebahagiaan kamu membuka pintu rezeki buat aku, jadi wajib aku bahagiain kamu lho." Davit keberatan Arini memilih menu termurah di restauran mewah yang ia datangi.
__ADS_1
"Em mbak sini, sini?" Panggil Davit.
Waiters kembali mendekati Davit."
"Em tolong nasi pecel tapi ditambahin ikan yang paling enak, daging bistik atau daging ikan salmon, boleh."
"Siap Tuan." Waiters lalu pergi tak lama diapun datang membawa pesanan Arini dan Davit. Mereka makan dengan lahap karena Davit dan Arini memang lapar setelah olahraga yang dia lakukan berkali kali semalam.
Sambil makan Arini berbicara. " Kak habis ini kita kembali ke rumah sakit, kita lihat apakah Dara dan Zara sudah lahiran apa belum."
"Ok, setuju." ujar Davit sambil menikmati sarapannya.
Setelah sarapan selesai mereka segera keluar dengan perut kenyang, Davit dan Arini terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, tak jarang orang bergumam memuji keserasiannya, ada yang tersenyum malu saat kepergok sedang memandangnya tanpa berkedip.
Arini dan Davit kembali masuk ke mobil mewahnya, seperti rencana semula dia ingin kembali ke rumah sakit.
"Sayang!"
"Kok gini ya perutku rasanya usai sarapan?" Davit memegangi perutnya.
"Kenapa? Kakak sakit perut?" Arini sudah gundah, dia segera menghadap Davit dan ikut memegang perutnya.
"Nggak sakit, Sayang. Tapi kenyang." Davit tertawa.
"Aaaaaa, kebiasaan deh, jahil. Aku tadi sudah khawatir banget lho, Kak."
"Hahahaha, Ampe segitunya, ummmm." Davit mengecup bibir Arini, dan memperdalam ciumannya hingga kedua mata mereka terpejam hanya ingin menikmati ciuman saja tak ingin yang lainnya.
Ciuman yang ia lakukan berkali kali begitu mudahnya memancing hasrat yang bergelora, Arini dan Davit kini merasakan tubuhnya sangat tegang. Mungkin efek dari tadi pagi yang tertunda.
Arini mulai berani membuka kancing hem Davit, dan Davit tau apa yang diinginkan istrinya. Pria itu segera memastikan kalau kaca mereka sudah tertutup rapat.
"Yang jangan disini, banyak orang." Davit berusaha menahan kekonyolan istrinya, sepertinya Arini ingin meminta haknya di dalam mobil.
Davit segera meluncurkan mobilnya di Apartment lamanya yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah sakit, kebetulan kontraknya masih ada, baru akan habis beberapa minggu lagi.
Davit dan Arini segera naik ke lift dan hanya hitungan menit dia sudah sampai di ranjang yang sudah ia kenal, Arini pernah tidur disana saat masih ada nenek.
Mereka melakukannya di apartemen hingga beberapa kali, hingga tubuh mereka kelelahan, berbagai gaya mulai ia peragakan dengan ditemani alunan musik romantis yang membuat suasana semakin hangat.
Sementara di tempat lain Zara dan Dara sedang berjuang antara hidup dan mati ingin melahirkan buah hatinya.
Dara dan Zara mereka sama sama masih berada di ruang VVIP, tetapi masih bersebelahan.
Andini yang mendengar adik-adiknya mau melahirkan dia segera meninggalkan ruang kerjanya, karena dia bukan Dokter Obgin dia hanya memastikan kondisi calon ibu sehat dan bayinya selamat.
Andini juga meminta pada Namira untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Vanya dan pengasuh Rara juga ikut menemani Andini menemui Zara dan Dara.
"Sayang kamu pasti kuat, berdoa pada Allah dan minta diberi kelancaran."
"Iya mbak makasi Mbak. Masa aku kalah dengan Mbak yang bisa melahirkan dua bayi sekaligus." Senyum mengembang dari bibir pucat Dara. Miko disebelahnya hanya menatap Andini sekilas saja, setelah itu dia kembali fokus pada Dara, mengelus perut Dara yang besar dan menempelkan bibirnya di kening istrinya sangat lama.
"Miko, kamu semangat ya jaga Dara? udah sarapan belum tadi?"
" Sudah, makasi Mbak." Miko tersenyum sekilas. Lalu menatap Dara kembali.
Wanita berseragam dokter lengkap itu akhirnya memutuskan untuk keluar, dia satu jam lagi juga ada jadwal operasi yang akan dilakukan berkolaborasi dengan Vanya. Andini mendatangi ruangan Namira, wanita itu terlihat sedang membaca hasil pemeriksaannya pada pasien. "Namira mereka sudah pembukaan berapa?" Tanya Andini.
__ADS_1
"Setelah aku lihat tadi pembukaan Zara bagus tiap jamnya sudah bertambah, tapi untuk Dara, tensinya agak tinggi mungkin dia tegang ya."
"Dia memang pobhia dengan darah dan lainnya. Pantas saja dia tegang," ujar Andini.