
Miko dan Dara segera mengakhiri permainannya, Miko segera tumbang di sebelah Dara dengan sejuta kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata- kata.
"Thanks Little."
Dibalas anggukan oleh Dara, dengan rambutnya yang acak-acakan. Dara segera memejamkan mata, berharap lelahnya akan segera terusir. Tubuhnya lemas, tulang belulangnya seakan dilolosi dari kulitnya. Miko benar-benar membuktikan kata-katanya. Dia tak mau hanya satu kali dalam semalam, sedangkan Dara tak memiliki keberanian walau hanya sekedar menolak.
--------------
Pagi sudah menyapa, cahaya matahari mulai menerobos celah-celah dinding. Dua insan yang dimabuk cinta itu masih nyenyak diatas ranjang kebesarannya. Mereka terlalu lelah, hingga tak tahu kalau jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Bukan Miko namanya kalau tak keterlaluan, semalam dia hampir tak membiarkan Dara istirahat. Untung saja hari ini hari Minggu, hingga dia bangun siang pun tak ada msalah.
Mereka baru terbangun ketika ponselnya
berdering berulang kali.
Dara mengerjabkan matanya ketika ada suara mengganggu indera pendengarannya. Dia yang menyadari tubuhnya telah polos seperti bayi baru lahir, segera menutupi tubuhnya dengan selimut yang sudah awut awutan di bawah kakinya.
Dara mencoba memiringkaan tubuhnya, tangannya meraih ponsel Miko yang terus bergetar dimeja sebelah ranjang.
"Akhhh, kenapa sakit sekali. Bahkan hanya untuk bergerak sedikit saja kenapa aku sangat kesakitan."
Miko yang mendengar istrinya mengaduh dia juga ikut terbangun.
"Little, kenapa kamu berteriak."
"Ponsel kakak berdering sejak tadi,aku ingin melihatnya, siapa gerangan si penelepon, tapi aku tak bisa mengambilnya?" Dara terlihat sudah payah untuk menggerakkan tubuhnya. Miliknya terasa perih dan kakinya kram.
"Siapa sih? ganggu aja gerutu Miko yang tubuhnya juga terasa pegal.
Sebelum bangun Miko menyempatkan mengecup wajah bantal istrinya. "Cupp"
Dara memejamkan mata sebentar saat merasakan kehangatan itu. Bibirnya mengukir senyum hingga melengkung.
Miko segera menggeser tombol hijau setelah melihat nama yang tertera di ponselnya, ia segera ingat kalau hari ini ada janji.
"Maaf aku ...." Suara Miko tergagap ketika si penelepon adalah Kakaknya.
" Hey, dasar pemalas, kamu baru bangun ya? Cepat mandi! Aku sudah menunggu." Suara dari seberang terdengar marah.
"Maaf, aku akan segera kesana."
__ADS_1
"Siapa Kak?" Dara ingin tahu, siapa orang yang sudah berhasil membuat suaminya demikian patuh. Semenjak mendapat telepon Miko segera turun dari ranjang dan mencari handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
"Siapa lagi kalau bukan suami Andini paling menyebalkan di dunia. Nggak ada pengertiannya."
" Miko berkata dengan kesal. Mendekati istrinya, tidak segera mandi ia malah membaringkan tubuhnya kembali dan memeluknya erat.
"Harusnya dia pengertian, adiknya pengantin baru, biarkan saja menikmati hari-harinya dengan tenang. Pagi buta sudah mengganggu," Gerutu Miko sambil membelai rambut Dara.
Dara tersenyum." Kakak, Arsena itu sudah pengertian, lihat sekarang jam berapa? Sedangkan perjanjian meeting jam berapa?"
"Oh, God. Rupanya aku kesiangan."
Dara, aku harus segera mandi. Kamu sebaiknya juga segera mandi? ujar Miko sambil bangkit dari tidurnya.
"Aku mandi sendiri di kamar mandi yang satunya," tolak Dara.
"Yakin bisa?" Miko tersenyum menggoda.
"Kenapa tidak bisa, aku bukan seorang pesakitan." Dara turun dengan percaya diri, namun gerakannya terhenti ketika rasa sakit di ************ semakin mendominasi.
"Kubilang apa, dasar keras kepala!"
Miko segera mengangkat tubuh Dara ke kamar mandi. Membantu Dara mbersihkan sisa-sisa kenikmatan yang ada di tubuhnya.
Miko tak ingin kenangan hari ini kabur dan menghilang begitu saja dari ingatannya. Miko berharap dengan menyimpan kenangan ini, cintanya pada Dara akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.
Selesai memandikan Dara Miko mandi sendiri, tak lupa dia juga membeli makanan secara take away.
Miko bingung, disatu sisi dia tak mungkin bisa meninggalkan Dara dalam kondisinya sekarang. Di sisi lain di sebuah kedai sudah ada Arsena yang menunggu.
--------
Arsena dan Galang yang sudah menunggu sampai lumutan, akhirnya mereka memesan kopi terlebih dahulu.
Kopi telah tandas di perut mereka berdua. Miko belum juga muncul.
"Gila, dia lagi ngapain sih di rumah, apa iya jam sebelas belum kelar aja main kuda kuda'an," gerutu Arsena kesal.
"Entahlah bos, bisa juga iya, dia mantan Casanova. Sudah pasti dia kuat dalam urusan begituan." Galang menimpali.
"Kita pulang sekarang, acara hari ini batal!" Kata Arsena meninggalkan kursi kedai sambil meninggalkan selembar uang seratus ribu di bawah cangkir.
__ADS_1
"Bos, yakin?" Galang mengekor di belakang.
"Biar tau rasa dia kita tinggalin, lagian siapa suruh datang terlambat." Sisi buruk Arsena mulai muncul.
Galang dan Arsena meninggalkan kedai. Sesungguhnya dia hari ini ingin membahas tentang penanaman saham yang diberikan Arsena pada CV baru yang dipegang Miko.
Berhubung perusahaan Miko baru berdiri, penanaman saham dari perusahaan besar seperti miliknya sangat membantu.
Satu jam Arsena sudah sampai di mansion. Mobil berhenti tepat di dekat air mancur. setelah Arsena keluar Doni segera memarkirkan ke dalam garasi bersama mobil lainnya. Sosok jangkung dengan wajah lesu segera masuk.
Aroma masakan begitu sedap dari dapur, aroma itu sudah menusuk hidung Arsena sejak pria itu melewati ruang tamu.
"Tuan, Nona Andini tak mau makan." Lapor Zara dengan segera begitu mendapati tuan mudanya sudah datang.
"Apakah dia sedang sakit, Zara. Apakah ada yang menyakiti hatinya, dimana Mama?"
Nyonya sedang ke Mall bersama nona Anita. Sejak usai sarapan tadi, Nona dan Nyonya bahkan belum bertemu sama sekali.
"Baiklah, terima kasih Zara." Arsena segera melepas jas dan memberikan tas kepada Zara. Pengawal istrinya itu wanita yang bersedia kerja apa saja. Dia bisa menerima pekerjaan dari tuannya dengan senang hati, karena gaji yang diberikan memang melampui batas.
"Ndin?"
Panggil Arsena ketika mendapati sosok istri sedang menunggunya.
"Ars! Kamu sudah pulang?"
"Iya, Zara bilang kamu tak mau makan. Kenapa? Apa sedang sakit?" Arsena memeriksa kening istrinya dengan kecupan bibir, pipinya juga tak luput dari pemeriksaan Arsena.
"Aku hanya sedang tak berselera. Entahlah semua makanan terasa seperti membosankan." Kata Andini sambil melirik banyak makanan yang terhidang di meja.
"Bi Um, akan membuatkan sesuai keinginanmu, cepat katakan apa yang kau inginkan."
"Aku hanya ingin kamu, Ars. Kamu tetap ada disisiku seperti ini. Mungkin jika makan bersama denganmu rasanya akan berbeda.
"Arsena tersenyum, Dokter Andini Javarani sejak kapan kau jadi manja seperti ini. Biasanya kau mengusirku jika aku mengganggumu. Sekarang makan saja minta ditemani. Bagaimana jika sewaktu waktu aku pergi ke luar kota."
Arsena menuruti Andini. Ia mulai mengambil piring dan mengisi nasi sedikit lebih banyak dari biasanya, rencananya mereka ingin makan sepiring berdua. Arsena hanya mengambil lauk yang disukai Andini saja.
Sambil menyuapi Andini pelan-pelan, Arsena memperhatikan istrinya yang sedikit berubah. Dia sangat manja dan malas makan. Sudah dua hari ini dia hanya makan dari tangannya saja. Arsena tak ambil pusing untuk Andini apapun akan dilakukan.
"Apakah makanan dari tanganku lebih nikmat sekarang?"
__ADS_1
Andini tersenyum. " Maaf Ars, aku merepotkan."
"Untuk istriku tak ada kata merepotkan, bahkan jika semua waktuku kau minta, aku akan memberikan untukmu sayang."