Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 210. Akan Rindu.


__ADS_3

Arsena keluar dari Hotel Rosella mengantarkan Andini hingga parkiran basement, dimana mobil mobil mewah sudah berjajar rapi.


"Ars, apa kau yakin akan disini sendiri tanpa kita? Apa yang kau lakukan untuk menghabiskan waktumu?" Ujar Andini


Wanita cantik tanpa bedak tebal itu tak menginginkan perpisahan ini. Dia khawatir Arsena akan membutuhkan dirinya. Andini tahu Arsena terlihat dingin dan acuh jika diluaran sana, tapi bersamanya dia sangat mirip bayi raksasa yang tak mandiri sama sekali. Arsena begitu menggemaskan membuat Andini merasa berarti saat didekatnya.


Arsena mengangguk, "iya, demi kalian aku bisa mandiri, ada banyak asisten yang bersamaku, hati-hati." ucap Arsena. Kembali mengecup kening istrinya, lalu beralih memeluk Arini yang ada disampingnya.


" Mama dan anak-anak sudah menunggu, sebaiknya segera berangkat akan lebih naik" Arsena mengingatkan.


Andini mengangguk setuju, segera menghapus kelopak matanya yang basah." Jaga dirimu Ars, Awas sampai tergoda oleh mantan kekasihmu yang cantik itu." Andini kembali memeluk Arsena dengan sangat erat.


" Tenang kau yang paling berharga, hanya dirimu yang akan aku cari selama nyawa ini masih bersatu dengan ragaku." Arsena mengusap air mata Andini yang tak mau berhenti menetes.


David membuka pintu belakang dan Arsena duduk di depan, dia ingin mengantarkan orang yang disayangi sampai halipad dimana helikopter pribadinya sudah stanby di sebelah rumah sakit di dekat perusahaannya.


Perjalanan menuju halipad memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Mobil sudah sampai dan segera masuk setelah pintu gerbang dibuka oleh Mang Karman.


Mang Karman menundukkan kepalanya, hingga mobil yang dinaiki Arsena melewatinya. Dia segera menutup kembali.


Arsena segera turun lebih dulu hampir bersama dengan Davit. Davit segera membuka pintu sebelah kiri dan Arini segera keluar. Sedangkan Arsena membuka pintu sebelah kanan, Andini turun dengan anggun dari atas mobil menyambut uluran tangan Arsena.


Lagi lagi kemesraan Arsena jadi sorotan keluarga. Mama Rena dan Papa Johan menatap dengan sebuah senyuman. "Arsena memang putraku yang sangat berbakti, dia mencintai istri pilihanku dengan sangat baik."


"Iya, Andini memang berhak mendapat kasih sayang Arsena, dia sudah kasih kita cucu yang tampan. Dua duanya mirip Arsen."


"Pah pah, katanya kalau wajahnya mirip papanya itu pas bikin yang paling semangat pasti papahnya, Arsen pasti sejak awal memang sudah sayang sama Andini. Buktinya nie cucu kita?"


"Mama ngomong apa sih ngelantur, dia sedang berjalan kesini, nanti Andini dengar. Malu sama menantu" Johan Dan Rena sama sama menatap Andini dan Arsena yang melangkahkan kaki ke arahnya. Sedangkan Davit menyeret koper milik dua wanita sekaligus.


Saat berjalan beriringan seperti ini. Arsena dan Davit lebih mirip menjadi adik dan kakak. Terlalu lama bergaul dengan orang kaya membuat stylist Davit sedikit banyak telah berubah.


"Ma Pa! Arsen kangen kalian semua." Arsen mencium tangan Papa dan Mamanya bergantian tak lupa memeluknya untuk melepas rindu.

__ADS_1


Setelah menyapa kedua orang tuanya, Arsena langsung mendekati Excel dan Cello. Arsena duduk setengah jongkok menjadikan satu kakiuntuk tumpuan pantatnya.


"Excel, Cello, apa kabar? papah sayang kalian berdua. Walau tanpa papah disana. Papah selalu berharap kalian akan sehat dan nggak rewel, ada Mama ada Eyang putri dan Kakung yang selalu ada saat Kalian membutuhkan papah, biarkan mereka semua yang gantiin peran papah untuk sementara waktu, dan jika ada yang goda mama disana, langsung telpon papah ya. Papa akan bunuh orang jahat itu."


"Ars." Andini ingin berbicara.


"Diamlah dulu sayang, biarkan aku berkata dengan anak anak dulu. Kamu nanti akan dapat giliran untuk bicara denganku."


"Tapi Ars, kenapa bicara pada Excel dan Cello seperti itu. Emang aku tipe wanita yang gampang digoda apa!" Andini bersungut, mengerucutkan bibirnya.


"Iya Kak Arsen paranoid, masa Mbak Andini akan selingkuh, sedangkan ada kita semua, Mama dan Papa juga ikut, yang paling bisa selingkuh itu Kak Arsen karena kita tinggal sendiri di Surabaya." Arini membela Andini.


"Sudah sudah, kita jadi berangkat nggak? Kalau terlalu lama berdiri kepala mama pusing nie, lagian kasian Excel dan Cello kepanasan nanti dia. Cucu Eyang yang tampan ini item nanti." Mama mengingatkan kalau matahari semakin meninggi, panas makin menyengat.


"Sayang, sering telepon aku, kabari keadaan anak-anak kalau bisa satu jam sekali."


"Oke Ars, kamu jaga diri dengan baik ya, aku akan sangat merindukanmu." Andini membenarkan kerah hem Arsena. Arsena mengecup bibir Andini didepan keluarganya.


Lalu mengangkat tubuh Excel dan Cello bergantian dari kereta bayi dan menciuminya dengan penuh kehangatan.


"Ars, papah berangkat dulu, semua ini perintah darimu tuan Muda." Johan menepuk pundak Arsena. Arsena memejamkan matanya sesaat.


"Okeh, Pa." Memaksa senyumnya.


Andini, Arini, Excel dan Cello serta Mama dan Papa. Mereka berjalan meninggalkan Arsena sendiri, hanya Davit yang masih ada didekatnya.


"Vit, kamu jangan pernah kecewakan aku, yang kau jaga adalah berlian ku. Sedikit saja dia terluka karena keteledoran mu, aku akan ...."


"Jangan diteruskan Tuan." Davit memotong ucapan Arsena. Dia tak senang diragukan seperti itu. " Leherku akan menjadi taruhan kesetiaan ku jika sampai terjadi apa apa dengan calon tuan muda dan Nona Andini serta Nona Arini."


"Bagus, sekarang berangkat dan hati hati."


"Ars!" Andini memanggil suaminya melambaikan tangan saat dia sudah berhasil melewati tangga dan sampai di pintu helicopter.

__ADS_1


"Pergilah." Arsena menginginkan Davit segera mengemudikan helicopter nya.


Arsena membalas lambaian tangan istrinya. Andini tersenyum tegar, Arsena bisa tau kalau Andini terlalu memaksakan senyumnya.


Davit segera mengambil posisi menjadi pilot, ini bukan yang pertama bagi Davit.


Bodiguard merangkap sopir itu sudah sering mengemudikan helicopter saat Arsena mengadakan pertemuan beda provinsi atau saat beda pulau.


Baling baling helicopter mulai bergerak semakin lama semakin kencang hingga roda helicopter tak lagi menginjak pada halipad.


"Papah sayang kalian!!"


" Tunggu kedatangan Papah, Excel Cello."


" Andini mengintip dari kaca, perpisahan ini begitu menyakitkan baginya, Andini tak suka berjauhan seperti ini, andaikan bukan demi anak anak, Andini sudah pasti akan menolak berpisah seperti ini.


"Ndin, sudahlah jangan menangis. Dia akan senang saat kau beri semangat. Arsena pasti bisa menyelesaikan masalah kalian," hibur Mama. Wanita berusia setengah abad itu bisa melihat kalau Arsena duduk di kap mobil sambil mengamati halicopter yang terbang kian menjauh darinya.


Arsena masih melambaikan tangannya. Hingga halicopter itu terlihat makin kecil hingga hilang ditelan oleh awan dan cakrawala.


****


Arsena segera kembali mengendarai mobil yang tadi di pakai Davit, langsung meluncur menuju hotel Rosella. Tak lupa dia memerintahkan Gondrong dan Botak untuk berkumpul sesegera mungkin. Arsena sengaja tidak mengundang Ken dalam misi ini, bagi Arsena orang yang berkhianat dia adalah musuh, bahkan musuh di kandang sendiri sangat berpotensi menghancurkan. Dan Arsena tak segan untuk membinasakan.


Baru lima menit duduk di ruang tamu sambil membuka file di laptopnya yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya.


Mendadak Arsena mendengar pintu diketuk. Arsena sudah tau siapa yang datang.


Arsena memencet remote yang tergeletak di sebelah laptopnya, pintu otomatis terbuka.


Tidak salah lagi yang datang adalah Gondrong dan Botak. Yang sudah sejak tadi ditunggu kehadirannya.


"Apa kabar bos, senang berjumpa langsung dengan Anda." Gondrong terlihat amat segan dengan Arsena. Usai berjabatan tangan, Gondrong segera menarik satu kursi dan duduk di depan Arsena. Botak mengikuti tingkah laku gondrong

__ADS_1


"Sudah mengerti kenapa aku memanggil kalian berdua tanpa melalui pimpinan kalian terlebih dahulu?"


"Tidak, Tuan!" Botak dan gondrong menjawab dengan serempak.


__ADS_2